kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 18 Januari 2003

 Budaya


Daya Pikat Wisata Pura dan Program Otonomi

SALAH satu kekhawatiran yang sempat terlontar ke permukaan mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Bali adalah pemkab-pemkab akan mengeruk PAD melalui segala potensi yang ada di wilayahnya. Termasuk situs-situs berupa tampat-tempat suci atau pura di wilayahnya. Dilemanya, Pura-pura tersebut banyak menghadirkan nilai-nilai yang memang memikat bagi wisatawan. Sebut misalnya, nilai arsitektur, arkeologis, kesejarahan, mitologis, atau beraneka ritualnya. Karena itulah situs-situs berupa pura di Bali, selain menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, juga didatangi wisatawan. Lalu bagaimana pemkab menghadapi dilema antara menjaga nilai kesucian pura dan program menggenjot potensi PAD di era otonomi? Laporan utama Kultur kali ini dari Biro-biro Bali Post di Bali: Adnyana Ole, Budana, Asmara Putra, Pujawan, Sumatika, Subagiadnya.

------------------------------------------------------------

Buleleng memiliki sejumlah situs pura di sekitar Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar. Selain Pura Tamblingan yang diempon masyarakat Buleleng dan masyarakat Tabanan, di lereng bukit yang mengitari danau terdapat beberapa pura kecil yang menyimpan sejarah peradaban sejak zaman pemerintahan Raja Ugrasena pada abad ke-11. Melihat lingkungannya yang alami, hutan hijau dan air yang jernih, Pemkab Buleleng mulai melirik kawasan pura ini sebagai kawasan wisata spiritual dan sejarah.

Untuk persiapan menjadikan Tamblingan sebagai kawasan wisata suci dalam hening, Pemkab Buleleng telah menyiapkan berbagai perangkat keras maupun lunak. Wakil Bupati Buleleng Gede Wardana mengatakan, awal tahun ini pihaknya menyiapkan beberapa ekor kuda di tapal batas Danau Tamblingan. Pengelolaan kuda-kuda itu bakal diserahkan kepada masyarakat adat di sekitar danau sebagai langkah awal perkenalan objek wisata alam ini. Nantinya, selain kuda, alat transportasi apa pun tak boleh memasuki kawasan danau. Menurutnya, prospek penataan Danau Tamblingan menjadi objek wisata spiritual sekaligus wisata berkuda sangat cerah.

Selain kegiatan wisata secara umum, Danau Tamblingan juga akan difokuskan menjadi pusat kegiatan-kegiatan spiritual seperti tapa brata, yoga semadi. Penetapan Danau Tamblingan sebagai pusat kegiatan spiritual diharapkan mampu menanamkan konsep berpikir Tri Hita Karana di kalangan masyarakat Buleleng. ''Selain menyimpan nilai-nilai sakral, sesuai keyakinan masyarakat Bali, Danau Tamblingan juga disebut Sunan Jagat Bali sebagai salah satu peninggalan leluhur,'' kata Wardana.

Harus Menaati Aturan

Di kabupaten Karangasem, baru Pura Besakih yang dikenal dan kerap dikunjungi wisatawan karena daya tariknya, dari lima pura besar (Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan) yang ada di wilayah ujung timur Pulau Bali itu, seperti Pura Silayukti, Andakasa, Lempuyang, Pasar Agung dan Besakih sendiri.

Koordinasi antara Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Dinas Pariwisata dengan Kantor Kesos, serta Parsenibud Pemkab Karangasem tetap berjalan. Saat banyak muncul keluhan soal oknum pramuwisata liar beroperasi di Besakih yang dikhawatirkan merusak citra Pura Besakih yang suci, digelar diklat pramuwisata dengan peserta pramuwisata lokal Besakih.

Tampaknya, tak cuma pemerintah, kalangan tokoh masyarakat pun sepakat tak begitu saja melakukan promosi guna menjadikan pura sebagai objek atau daya tarik pariwisata untuk tujuan komersial. Klian Desa Adat Bugbug Karangasem IW Mas Suyasa, S.H. secara tegas mengatakan, kalau pihaknya tak mengumbar tempat suci (pura) sebagai objek atau pun daya tarik untuk industri pariwisata.

Sebenarnya, kata Mas Suyasa, beberapa waktu lalu di Bugbug, di wilayahnya, ada pura yang potensial memiliki daya tarik wisata. Misalnya, Pura Gumang di Bukit Gumang, terletak di kawasan hutan wisata Desa Adat Bugbug. Di sana ada sekitar 300 kera jinak yang kerap turun ke pinggir jalan ''menyapa'' pengunjung. ''Kami tak bakal mengumbar promosi tempat suci untuk tujuan komersial, dengan iming-iming PAD. Kalau semua tempat suci kita 'jual' nantinya kita bakal menerima akibatnya,'' paparnya.

''Kalaupun ada pura atau tempat suci menjadi daya tarik wisata dan didatangi pengunjung, jangan sampai diberikan leluasa menjamah kawasan suci,'' tegasnya.

Jembrana belum Maksimal

Keberadaan objek wisata dengan menampilkan keindahan alam, situs purbakala atau lingkungan sekitar pura secara umum di Jembrana belum tergarap secara maksimal. Dari 12 objek wisata itu, kebanyakan menampilkan keindahan alam berupa pantai. Sementara penetapan pura sebagai objek wisata memang tidak ada. "Pura yang secara langsung menjadi objek wisata di Jembrana memang tidak ada. Namun, kalau keindahan di sekeliling pura, seperti di kawasan Rambut Siwi, bisa dijadikan objek wisata," ujar Kepala Kantor Pariwisata Jembrana Drs. I Wayan Yastawa.

Dikatakan, situs berupa pura yang menjadi objek wisata secara langsung tidak ada. Karena dari penetapan objek wisata, sebagian besar merupakan kawasan pantai, serta keindahan alam lainnya. Hanya terdapat satu objek wisata situs purbakala, yakni museun manusia purba di Gilimanuk. Karena berupa museum, pengelolanya jelas dari instansi terkait. Kontribusi dari penetapan kawasan wisata kepada desa adat/pakraman sampai saat ini belum dikelola secara baik. Masalahnya, pendapatan dari sektor pariwisata masih sangat minim. Hal ini mengakibatkan kontribusi ke desa adat belum bisa dilakukan. Masalah lainnya, seperti yang terjadi di kawasan wisata Rambut Siwi, pengempon pura menyerahkan pengelolaan pura kepada panitia, sehingga Dinas Pariwisata dalam melakukan koordinasi terkait hal-hal tertentu akan dilakukan bersama panitia.

Untuk di Rambut Siwi, retribusi masuk ke kawasan wisata ini hanya Rp 500/orang. Selama tahun 2001, jumlah retribusi dari kunjungan wisatawan hanya sebanyak 215.000. Selama ini, kata dia, memang pernah ada niat untuk melibatkan unsur desa adat dalam mengelola suatu objek wisata. Namun karena belum adanya pendapatan yang memuaskan dari sektor ini, peran desa adat sampai kini belum terlihat semarak. Sangat berbeda dengan daerah lain di Bali yang sektor paiwisatanya sangat menjanjikan.

Bangli, Sembilan Pura

Di Bangli sedikitnya ada sembilan pura yang akan dan sudah menjadi daya tarik wisatawan. Masing-masing memiliki keunikan dan sejarah tersendiri, Pura Kehen, Ulun Danu Batur di Desa Batur, Ulun Danu di Desa Songan, Puncak Penulisan, Dalem Balingkang, Bukit Jati, Pura Jati, Pancering Jagat di Trunyan dan Pura Nataran Agung Bangli. ''Kesembilan pura tersebut kini sudah mulai ditata,'' ujar Bupati Bangli I Nengah Arnawa, S.Sos.

Dalam pengelolaannya, pemkab bekerja sama dengan desa adat melalui koordinasi rutin dan terpadu. Sementara untuk pendanaan, Pemkab Bangli sudah mengucurkan bagi paguyuban pemangku se-Bangli yang tiap tahun terus dianggarkan.

Dari segi keamanan, karena sangat erat kaitannya dengan adat pura yang dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Bangli mendapat penjagaan yang cukup ketat oleh pecalang, hansip dengan sistem pakemitan. Di samping itu, pemeliharaan sehari-hari pura yang dijadikan objek pariwisata ditangani oleh beberapa orang tenaga kebersihan. ''Mereka ditempatkan di masing-masing pura tersebut,'' ujarnya.

Karena menyangkut pariwisata, kontribusi desa adat terhadap pemkab sekitar 20-40%. Dana tersebut berasal dari retribusi, sesari canang dan wisatawan yang menyumbang.

Retribusi ke Desa Pakraman

Khusus untuk Gianyar, sejumlah situs purbakala berupa pura dari dulu sudah dijadikan objek pariwisata. Seperti kawasan Goa Gajah, Gunung Kawi dan beberapa tempat lainnya, sangat diandalkan Pemkab Gianyar untuk dijadikan primadona tujuan wisata. Tiap tahunnya tidak sedikit pemasukan yang diberikan situs purbakala itu untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah.

Seperti kawasan wisata Goa Gajah pengelolaannya menerapkan sistem mutualisme. Berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya dipastikan kecipratan pembagian retribusi. Mulai tahun ini, Pemkab Gianyar telah mengalokasikan pembagian retribusi secara adil. Pemangku mendapat bagian 25 persen, desa pakraman 12,5 persen, Kantor Purbakala 2,5 persen dan sisanya pemerintah.

Kadis Pariwisata Gianyar Wayan Arthana, S.H. mengakui, sejumlah situs purbakala tetap diandalkan untuk menarik para wisatawan. Namun yang pasti, dalam pengelolaan termasuk rehabilitasi situs-situs itu, pemerintah tidak pernah lepas tangan. Pemerintah akan melakukan perbaikan hal-hal yang dipandang perlu, dengan tetap mengedepankan desa pakraman setempat.

Menurutnya, pembagian retribusi tersebut sudah sangat adil. Pembagian 25 persen yang diberikan kepada pemangku, dimaksudkan untuk biaya pujawali tempat itu dan keperluan lainnya. Begitu pula halnya pembagian kepada desa pakraman, dimaksudkan bahwa desa pakraman itu juga diharuskan ikut melestarikan situs purbakala tersebut. Pengelolaan terhadap sejumlah situs itu, melibatkan semua instansi terkait. Mulai Dinas Pariwisata, Bagian Purbakala dan Kadis Kebudayaan, juga bersama-sama memikirkannya. Termasuk desa pakraman yang mewilayahi situs itu, juga ikut bersama-sama melestarikannya.

-------------------------------------

Pura-pura yang Memikat Wisatawan

Buleleng      : - Pura Tamblingan
Karangasem : - Pura Besakih
                     - Pura Silayukti
                     - Andakasa
                     - Lempuyang
                     - Pasar Agung
Jembrana    : - Rambut Siwi
Bangli          : - Pura Kehen
                     - Pura Ulun Danu Batur (Batur)
                     - Pura Ulun Danu (Songan)
                     - Pura Puncak Penulisan
                     - Pura Dalem Balingkang
                     - Pura Bukit Jati
                     - Pura Jati
                     - Pura Pancering Jagat
                     - Pura Nataran Agung
Klungkung    : - Pura Kentel Gumi
                     - Pura Penataran Agung
                     - Pura Dasar
                     - Pura Watu Klotok
                     - Pura Goa Lawah
                     - Pura Dalem Ped
                     - Pura Bukit Mundi
                     - Pura Batu Medau
                     - Pura Goa Giri Putri
Gianyar       : - Pura Goa Gajah
                    - Pura Gunung Kawi

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)