Daya
Pikat Wisata Pura dan Program Otonomi
SALAH
satu kekhawatiran yang sempat terlontar ke permukaan
mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Bali adalah
pemkab-pemkab akan mengeruk PAD melalui segala potensi
yang ada di wilayahnya. Termasuk situs-situs berupa
tampat-tempat suci atau pura di wilayahnya. Dilemanya,
Pura-pura tersebut banyak menghadirkan nilai-nilai yang
memang memikat bagi wisatawan. Sebut misalnya, nilai
arsitektur, arkeologis, kesejarahan, mitologis, atau
beraneka ritualnya. Karena itulah situs-situs berupa pura
di Bali, selain menjadi tempat persembahyangan umat Hindu,
juga didatangi wisatawan. Lalu bagaimana pemkab menghadapi
dilema antara menjaga nilai kesucian pura dan program
menggenjot potensi PAD di era otonomi? Laporan utama
Kultur kali ini dari Biro-biro Bali Post di Bali: Adnyana
Ole, Budana, Asmara Putra, Pujawan, Sumatika, Subagiadnya.
------------------------------------------------------------
Buleleng memiliki
sejumlah situs pura di sekitar Danau Tamblingan, Kecamatan
Banjar. Selain Pura Tamblingan yang diempon masyarakat
Buleleng dan masyarakat Tabanan, di lereng bukit yang
mengitari danau terdapat beberapa pura kecil yang
menyimpan sejarah peradaban sejak zaman pemerintahan Raja
Ugrasena pada abad ke-11. Melihat lingkungannya yang
alami, hutan hijau dan air yang jernih, Pemkab Buleleng
mulai melirik kawasan pura ini sebagai kawasan wisata
spiritual dan sejarah.
Untuk persiapan
menjadikan Tamblingan sebagai kawasan wisata suci dalam
hening, Pemkab Buleleng telah menyiapkan berbagai
perangkat keras maupun lunak. Wakil Bupati Buleleng Gede
Wardana mengatakan, awal tahun ini pihaknya menyiapkan
beberapa ekor kuda di tapal batas Danau Tamblingan.
Pengelolaan kuda-kuda itu bakal diserahkan kepada
masyarakat adat di sekitar danau sebagai langkah awal
perkenalan objek wisata alam ini. Nantinya, selain kuda,
alat transportasi apa pun tak boleh memasuki kawasan
danau. Menurutnya, prospek penataan Danau Tamblingan
menjadi objek wisata spiritual sekaligus wisata berkuda
sangat cerah.
Selain kegiatan
wisata secara umum, Danau Tamblingan juga akan difokuskan
menjadi pusat kegiatan-kegiatan spiritual seperti tapa
brata, yoga semadi. Penetapan Danau Tamblingan sebagai
pusat kegiatan spiritual diharapkan mampu menanamkan
konsep berpikir Tri Hita Karana di kalangan masyarakat
Buleleng. ''Selain menyimpan nilai-nilai sakral, sesuai
keyakinan masyarakat Bali, Danau Tamblingan juga disebut
Sunan Jagat Bali sebagai salah satu peninggalan leluhur,''
kata Wardana.
Harus
Menaati Aturan
Di kabupaten
Karangasem, baru Pura Besakih yang dikenal dan kerap
dikunjungi wisatawan karena daya tariknya, dari lima pura
besar (Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan)
yang ada di wilayah ujung timur Pulau Bali itu, seperti
Pura Silayukti, Andakasa, Lempuyang, Pasar Agung dan
Besakih sendiri.
Koordinasi antara
Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Dinas Pariwisata dengan
Kantor Kesos, serta Parsenibud Pemkab Karangasem tetap
berjalan. Saat banyak muncul keluhan soal oknum
pramuwisata liar beroperasi di Besakih yang dikhawatirkan
merusak citra Pura Besakih yang suci, digelar diklat
pramuwisata dengan peserta pramuwisata lokal Besakih.
Tampaknya, tak cuma
pemerintah, kalangan tokoh masyarakat pun sepakat tak
begitu saja melakukan promosi guna menjadikan pura sebagai
objek atau daya tarik pariwisata untuk tujuan komersial.
Klian Desa Adat Bugbug Karangasem IW Mas Suyasa, S.H.
secara tegas mengatakan, kalau pihaknya tak mengumbar
tempat suci (pura) sebagai objek atau pun daya tarik untuk
industri pariwisata.
Sebenarnya, kata Mas
Suyasa, beberapa waktu lalu di Bugbug, di wilayahnya, ada
pura yang potensial memiliki daya tarik wisata. Misalnya,
Pura Gumang di Bukit Gumang, terletak di kawasan hutan
wisata Desa Adat Bugbug. Di sana ada sekitar 300 kera
jinak yang kerap turun ke pinggir jalan ''menyapa''
pengunjung. ''Kami tak bakal mengumbar promosi tempat suci
untuk tujuan komersial, dengan iming-iming PAD. Kalau
semua tempat suci kita 'jual' nantinya kita bakal menerima
akibatnya,'' paparnya.
''Kalaupun ada pura
atau tempat suci menjadi daya tarik wisata dan didatangi
pengunjung, jangan sampai diberikan leluasa menjamah
kawasan suci,'' tegasnya.
Jembrana
belum Maksimal
Keberadaan objek
wisata dengan menampilkan keindahan alam, situs purbakala
atau lingkungan sekitar pura secara umum di Jembrana belum
tergarap secara maksimal. Dari 12 objek wisata itu,
kebanyakan menampilkan keindahan alam berupa pantai.
Sementara penetapan pura sebagai objek wisata memang tidak
ada. "Pura yang secara langsung menjadi objek wisata
di Jembrana memang tidak ada. Namun, kalau keindahan di
sekeliling pura, seperti di kawasan Rambut Siwi, bisa
dijadikan objek wisata," ujar Kepala Kantor
Pariwisata Jembrana Drs. I Wayan Yastawa.
Dikatakan, situs
berupa pura yang menjadi objek wisata secara langsung
tidak ada. Karena dari penetapan objek wisata, sebagian
besar merupakan kawasan pantai, serta keindahan alam
lainnya. Hanya terdapat satu objek wisata situs purbakala,
yakni museun manusia purba di Gilimanuk. Karena berupa
museum, pengelolanya jelas dari instansi terkait.
Kontribusi dari penetapan kawasan wisata kepada desa
adat/pakraman sampai saat ini belum dikelola secara baik.
Masalahnya, pendapatan dari sektor pariwisata masih sangat
minim. Hal ini mengakibatkan kontribusi ke desa adat belum
bisa dilakukan. Masalah lainnya, seperti yang terjadi di
kawasan wisata Rambut Siwi, pengempon pura menyerahkan
pengelolaan pura kepada panitia, sehingga Dinas Pariwisata
dalam melakukan koordinasi terkait hal-hal tertentu akan
dilakukan bersama panitia.
Untuk di Rambut
Siwi, retribusi masuk ke kawasan wisata ini hanya Rp
500/orang. Selama tahun 2001, jumlah retribusi dari
kunjungan wisatawan hanya sebanyak 215.000. Selama ini,
kata dia, memang pernah ada niat untuk melibatkan unsur
desa adat dalam mengelola suatu objek wisata. Namun karena
belum adanya pendapatan yang memuaskan dari sektor ini,
peran desa adat sampai kini belum terlihat semarak. Sangat
berbeda dengan daerah lain di Bali yang sektor
paiwisatanya sangat menjanjikan.
Bangli,
Sembilan Pura
Di Bangli sedikitnya
ada sembilan pura yang akan dan sudah menjadi daya tarik
wisatawan. Masing-masing memiliki keunikan dan sejarah
tersendiri, Pura Kehen, Ulun Danu Batur di Desa Batur,
Ulun Danu di Desa Songan, Puncak Penulisan, Dalem
Balingkang, Bukit Jati, Pura Jati, Pancering Jagat di
Trunyan dan Pura Nataran Agung Bangli. ''Kesembilan pura
tersebut kini sudah mulai ditata,'' ujar Bupati Bangli I
Nengah Arnawa, S.Sos.
Dalam
pengelolaannya, pemkab bekerja sama dengan desa adat
melalui koordinasi rutin dan terpadu. Sementara untuk
pendanaan, Pemkab Bangli sudah mengucurkan bagi paguyuban
pemangku se-Bangli yang tiap tahun terus dianggarkan.
Dari segi keamanan,
karena sangat erat kaitannya dengan adat pura yang
dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Bangli
mendapat penjagaan yang cukup ketat oleh pecalang, hansip
dengan sistem pakemitan. Di samping itu, pemeliharaan
sehari-hari pura yang dijadikan objek pariwisata ditangani
oleh beberapa orang tenaga kebersihan. ''Mereka
ditempatkan di masing-masing pura tersebut,'' ujarnya.
Karena menyangkut
pariwisata, kontribusi desa adat terhadap pemkab sekitar
20-40%. Dana tersebut berasal dari retribusi, sesari
canang dan wisatawan yang menyumbang.
Retribusi ke
Desa Pakraman
Khusus untuk
Gianyar, sejumlah situs purbakala berupa pura dari dulu
sudah dijadikan objek pariwisata. Seperti kawasan Goa
Gajah, Gunung Kawi dan beberapa tempat lainnya, sangat
diandalkan Pemkab Gianyar untuk dijadikan primadona tujuan
wisata. Tiap tahunnya tidak sedikit pemasukan yang
diberikan situs purbakala itu untuk mendongkrak Pendapatan
Asli Daerah.
Seperti kawasan
wisata Goa Gajah pengelolaannya menerapkan sistem
mutualisme. Berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya
dipastikan kecipratan pembagian retribusi. Mulai tahun
ini, Pemkab Gianyar telah mengalokasikan pembagian
retribusi secara adil. Pemangku mendapat bagian 25 persen,
desa pakraman 12,5 persen, Kantor Purbakala 2,5 persen dan
sisanya pemerintah.
Kadis Pariwisata
Gianyar Wayan Arthana, S.H. mengakui, sejumlah situs
purbakala tetap diandalkan untuk menarik para wisatawan.
Namun yang pasti, dalam pengelolaan termasuk rehabilitasi
situs-situs itu, pemerintah tidak pernah lepas tangan.
Pemerintah akan melakukan perbaikan hal-hal yang dipandang
perlu, dengan tetap mengedepankan desa pakraman setempat.
Menurutnya,
pembagian retribusi tersebut sudah sangat adil. Pembagian
25 persen yang diberikan kepada pemangku, dimaksudkan
untuk biaya pujawali tempat itu dan keperluan lainnya.
Begitu pula halnya pembagian kepada desa pakraman,
dimaksudkan bahwa desa pakraman itu juga diharuskan ikut
melestarikan situs purbakala tersebut. Pengelolaan
terhadap sejumlah situs itu, melibatkan semua instansi
terkait. Mulai Dinas Pariwisata, Bagian Purbakala dan
Kadis Kebudayaan, juga bersama-sama memikirkannya.
Termasuk desa pakraman yang mewilayahi situs itu, juga
ikut bersama-sama melestarikannya.
-------------------------------------
Pura-pura
yang Memikat Wisatawan
Buleleng : - Pura
Tamblingan
Karangasem : - Pura Besakih
- Pura Silayukti
- Andakasa
- Lempuyang
- Pasar Agung
Jembrana : - Rambut Siwi
Bangli
: - Pura Kehen
- Pura Ulun Danu Batur (Batur)
- Pura Ulun Danu (Songan)
- Pura Puncak Penulisan
- Pura Dalem Balingkang
- Pura Bukit Jati
- Pura Jati
- Pura Pancering Jagat
- Pura Nataran Agung
Klungkung : - Pura Kentel Gumi
- Pura Penataran Agung
- Pura Dasar
- Pura Watu Klotok
- Pura Goa Lawah
- Pura Dalem Ped
- Pura Bukit Mundi
- Pura Batu Medau
- Pura Goa Giri Putri
Gianyar : -
Pura Goa Gajah
- Pura Gunung Kawi
|