Situs
Religius, Mutiara
Terpendam di Klungkung
DALAM
hal akselerasi atau percepatan perkembangan sektor
kepariwisataan, boleh jadi Kabupaten Klungkung
dikategorikan tertinggal jauh dibandingkan kabupaten/kota
lainnya di Bali. Bumi Serombotan ini tidak punya objek
wisata yang "secemerlang" pantai Kuta, pantai
Sanur, Tanah Lot, Lovina, Candidasa maupun kawasan eksotik
Nusa Dua. Dunia pariwisata Klungkung relatif sepi dari
ingar-bingar kehadiran wisatawan mancanegara maupun
domestik. Masih untung, kabupaten dengan luas wilayah
tersempit di Bali ini memiliki Kertha Gosa dan Taman Gili
yang mampu memikat wisatawan lewat kemegahan arsitektur
dan lukisan wayang stil Kamasan yang memenuhi
langit-langit bangunannya. Di luar itu, tidak ada lagi
objek wisata yang memikat. Sementara kawasan pantai
berpasir putih di Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa
Ceningan bak mutiara terpendam yang dipisahkan oleh Selat
Badung berarus garang. Belum bisa digosok secara optimal
akibat ketiadaan fasilitas penunjang seperti dermaga yang
representatif, air bersih yang mencukupi, hotel-hotel
maupun fasilitas penunjang kepariwisataan lainnya. Kondisi
ini memaksa sektor kepariwisataan Klungkung tetap
"merangkak" dalam mengejar ketertinggalannya
dari "saudara-saudara kandungnya" di Bali.
Namun, di balik
segala keminusan itu, Klungkung memiliki sejumlah
"mutiara terpendam" lain yang potensial diasah
menjadi objek wisata alternatif sekaligus untuk
mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. Mutiara
terpendam itu adalah Pura-pura besar yang berdiri megah di
wilayah Klungkung daratan maupun pulau tandus Nusa Penida.
Sejumlah pura yang bisa dimasukkan ke dalam
"barisan" itu adalah Pura Kentel Gumi (Desa
Tusan, Kecamatan Banjarangkan), Pura Penataran Agung
(Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung), Pura Dasar (Desa
Gelgel, Klungkung), Pura Watu Klotok (Desa Tojan,
Klungkung) dan Pura Goa Lawah (Desa Pesinggahan, Dawan),
Pura Dalem Ped (Desa Ped, Nusa Penida), Pura Bukit Mundi
(Desa Klumpu, Nusa Penida), Pura Batu Medau (Desa Suana,
Nusa Penida) dan Pura Goa Giri Putri (Desa Suana, Nusa
Penida).
"Pura-pura itu
setiap piodalan diluberi oleh umat Hindu dari seluruh Bali
untuk tujuan pedek tangkil. Dari segi arsitektur,
pura-pura itu juga menyiratkan kemegahan dan keunikan
tersendiri," kata Kasubdin Bina Objek Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Klungkung I Wayan Yudara, B.A.
Kendati memiliki
banyak mutiara terpendam, tambah Yudara, ternyata baru dua
lingkungan pura (bukan pura-red) yang dimasukkan sebagai
objek dan daya tarik wisata (ODTW) yakni lingkungan Pura
Goa Lawah dan Pura Watu Klotok oleh Pemkab Klungkung. Dari
dua pura Kahyangan Jagat tersebut, hanya Pura Goa Lawah
yang sudah dikelola secara profesional atau
"dijajakan" kepada wisatawan mancanegara dan
domestik. Sementara Pura Watu Klotok belum ada pengelolaan
khusus, mengingat kawasan suci belum banyak
"dilirik" wisatawan. Untuk bisa menikmati
kemegahan Pura Goa Lawah yang terkenal dengan koloni
kelelawarnya dari dekat, setiap wisatawan wajib membayar
retribusi atau bea masuk. Nilai retribusi itu adalah Rp
2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Khusus
untuk umat Hindu yang berpakaian sembahyang dengan tujuan
tangkil (bersembahyang), dibebaskan dari kewajiban
membayar retribusi. "Semua pendapatan dari retribusi
itu masuk ke kas daerah. Pemkab Klungkung punya sebuah tim
khusus untuk memungut retribusi atau pun mengelola objek
wisata pura tersebut," kata Yudara menambahkan,
pengelolaannya tetap melibatkan desa adat dan desa dinas
setempat.
Meskipun leading
sector pengelolaannya adalah Disbudpar Klungkung,
pihak-pihak yang ditugaskan untuk memungut retribusi,
memantau aktivitas wisatawan serta pengamanan wilayah
dipercayakan kepada sejumlah krama setempat. "Untuk
mempertahankan kesucian pura, tidak sembarang tamu bisa
masuk ke lingkungan pura. Wisatawan yang sedang
menstruasi, misalnya, jelas dilarang keras. Di pintu
masuk, kita telah pasang papan-papan peringatan. Mereka
juga diwajibkan mengenakan kain dan amed (selendang) yang
sudah dipersiapkan petugas," katanya seraya
menegaskan, dengan adanya kewajiban membayar retribusi itu
bukan berarti wisatawan bisa berbuat seenaknya.
Rambu-rambu yang ada wajib untuk ditaati.
Retribusi yang
ditangguk dari objek wisata Pura Goa Lawah tidak
sepenuhnya masuk ke kas daerah. Sebagian di antaranya
masuk ke kas Bendesa Adat Pesinggahan sebesar 8%, Desa
Dinas Pesinggahan (2%) dan 5% didistribusikan kepada
petugas sebagai upah pungut. "Kontribusi untuk desa
adat maupun desa dinas tetap ada, sebab itu hak mereka.
Biasanya, kontribusi dari retribusi itu dimanfaatkan untuk
menjaga kebersihan pura dan perbaikan-perbaikan fisik pura
yang sifatnya ringan. Pemanfaatan kontribusi sepenuhnya
wewenang bendesa adat dan krama-nya untuk mengaturnya.
Yang jelas, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan
intensif untuk menumbuhkan sadar wisata bagi petugas
maupun warga lainnya yang beraktivitas di lingkungan Pura
Goa Lawah. Di sana juga ada kios-kios yang menjual suvenir
dan makanan ringan sehingga para pedagang juga wajib
dibina agar tidak merusak citra kepariwisataan kita,"
katanya. Dia menambahkan, kunjungan wisatawan ke Pura Goa
Lawah termasuk tinggi. Pada 2001 lalu, angka kunjungan
wisatawan mencapai 30.913 orang. Sayang, angka itu anjlok
menjadi 19.796 orang pada 2002 lalu. Penurunan angka
kunjungan wisatawan secara drastis tentu berkaitan erat
dengan Tragedi Kuta 12 Oktober 2002.
Nusa Penida
Menurut Yudara,
potensi pengembangan wisata religius juga terbuka lebar di
Nusa Penida. Pulau tandus ini memang memiliki sejumlah
pura megah yang bisa "dijual" kepada wisatawan.
Pendapat Yudara itu dibenarkan pengelola Bungalo Nusa
Garden, Nusa Penida Dewa Koming Widartha. Ditegaskan, para
pelaku pariwisata di Nusa Penida belum ada yang melirik
potensi wisata religius ini. Padahal, ada sejumlah pura
atau bangunan suci yang sangat layak dikembangkan untuk
kepentingan tersebut seperti Pura Luhur Dalem Ped, Pura
Bukit Mundi, Pura Batu Medaung dan Pura Goa Giri Putri.
Pura-pura ini tidak hanya cocok untuk umat yang
mendambakan kedamaian rohani, bentuk arsitektur
bangunannya yang unik dengan ragam ukiran yang khas juga
diyakini mampu "membius" para wisatawan.
"Tujuan utama mereka datang ke sini memang untuk
ngaturang sembah (sembahyang-red). Tetapi, di sela-sela
kegiatan tirtayatra itu kan bisa diselingi dengan
melihat-lihat keindahan alam Nusa Penida yang lain. Dengan
begitu, masa tinggal wisatawan itu di Nusa Penida
bertambah panjang," ujarnya.
Widartha
menambahkan, dua pura yang sangat layak difavoritkan untuk
kepentingan ini adalah Pura Luhur Dalem Ped dan Pura Goa
Giri Putri. Pura Luhur Dalem Ped yang merupakan pura
kahyangan jagat, misalnya, memiliki beberapa pelinggih
pemujaan yang mencuatkan nuansa spiritualitas yang kental.
Di bagian utara kompleks pura ini juga berdiri megah Pura
Segara dengan arsitektur khas menyerupai ulam agung (ikan
besar). Di bagian lain juga ada taman yakni aelinggih yang
dikelilingi kolam, palinggih Ida Batara Ratu Gede Mas
Mecaling yang diyakini oleh krama Hindu sebagai penguasa
jagat dan sejumlah palinggih lainnya. Seluruh bangunan itu
memiliki arsitektur yang khas dengan ornamen atau ukiran
batu padas putih khas Nusa Penida. "Paling tidak, dua
kali dalam setahun krama Hindu di Bali pedek tangkil ke
Pura Luhur ini untuk memohon keselamatan. Jumlah pemedek
tidak hanya ratusan, tetapi mencapai ribuan,"
katanya.
Sementara di Pura
Goa Giri Putri, para wisatawan akan disuguhi keajaiban
alam yang memukau. Kompleks pura dengan arsitektur
sederhana ini "tersembunyi" di dalam perut bumi
(goa) yang sangat luas. Di dalam goa terdapat banyak
stalaktit dan stalakmit yang indah. Di sana juga terdapat
mata air sebagai sumber tirta yang dikeramatkan karena
diyakini mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan bagi
pemedek. Hanya, pada waktu masuk ke dalam goa agak sulit.
Para pemedek harus merangkak sekitar tiga meter melalui
celah bebatuan yang sempit, sebelum akhirnya mencapai
bagian goa yang cukup luas menyerupai terowongan bawah
tanah. Di bagian inilah didirikan sejumlah palinggih untuk
menggelar persembahnyangan. Di dinding goa bagian atas,
juga terdapat cerukan (goa kecil-red) dengan bebarapa
palinggih pemujaan. Namun, untuk sampai ke sana para
pemedek harus menaiki sebuah tangga yang terbuat dari
kayu. Pada areal ini juga terdapat sebuah ruangan
berdiameter sekitar satu meter yang beralaskan pasir
hitam. Konon, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat
meditasi dan ngalap (memohon) berkah. "Siapa pun yang
masuk ke dalam goa ini, pasti akan terperangkap dalam
suasana khusyuk. Tempat di sini sangat cocok untuk
menenangkan pikiran," kata Widartha. (ian)
|