kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 29 September 2002 tarukan valas
 

POTRET


Liku-liku Gay di Bali

Transaksi di Puputan, ''Main'' di Sungai

Diakui atau tidak, kelompok gay memang ada. Di Bali, kelompok ini diperkirakan 6.000 orang. Jumlah yang tidak sedikit. Namun dari jumlah ini, masih banyak yang ''bersembunyi'' dan tak berani coming out atau menyatakan secara terbuka bahwa dirinya gay. Dari catatan Gaya Dewata -- organisasi yang dibentuk oleh komunitas gay -- hanya sekitar 400 orang yang coming out. Sisanya sembunyi-sembunyi. Lantas bagaimana mereka berinteraksi? Di sinilah menariknya. Ada tempat-tempat yang dipergunakannya. Selain itu, mereka memiliki banyak aktivitas seperti olah raga, party, fashion show di kafe-kafe, atau nangkring di sebuah tempat. Di samping berbagi rasa, tentu saja momen itu dipergunakan mencari ''jodoh''. Nah, seperti apa liku-likunya?

ANDA pernah malam-malam di Lapangan Puputan Badung, Denpasar? Bila Anda seorang laki-laki datang seorang diri berkisar pukul 21.00 - 01.00 dini hari, lalu duduk di sebelah barat atau utara lapangan, jangan kaget bila tiba-tiba didatangi seorang laki-laki. Ada saja yang mereka tanyakan, seperti minta korek, menanyakan waktu (jam), atau basa-basi lainnya.

Siapa itu? Jangan kaget. Mereka, kemungkinan besar, adalah seorang gay yang sedang mencari mangsa. Jika dilayani, ia akan duduk ramah di sebelah Anda, lalu bercerita-cerita. Ada saja yang diceritakan. Berawal dari ngobrol santai, lama-kelamaan, makin menjurus pada kehidupan gay. Ketika pembicaraannya makin mendalam dan ia mempunyai peluang untuk "masuk", maka mulailah aksi rayu-merayu dilakukan -- persis sebagaimana layaknya laki-laki merayu perempuan. Begitulah, di Lapangan Puputan Badung, suasana seperti itu nyaris terjadi tiap malam. "Apalagi malam minggu, ramai sekali di lapangan ini, terutama di sebelah barat," kata seorang ibu pedagang kelontong yang berjualan di sana. Tiap malam, terutama di lapangan sebelah barat dan utara, banyak kaum gay menggunakan tempat itu bertemu rekannya sesama gay, bercanda, ngobrol-ngobrol, bahkan banyak di antaranya yang melakukan transaksi.

Transaksi? Ya... mereka kerap kali melakukan transaksi di sana. Beberapa orang di antaranya, ada yang sengaja "menjual diri" untuk melakukan hubungan seks sesama laki-laki. Mereka ada yang dari kelompok gay, waria, dan juga laki-laki normal. Adrian misalnya, lelaki asal Banyuwangi itu tak merasa canggung "menawarkan" rekannya kepada pengunjung di sana. "Mas, teman saya itu biasa di sini. Ia siap dan sudah biasa melayani homo. Sempat juga diboking. Waktu itu ia dibayar Rp 270 ribu. Tetapi, kalau sekadar kencan paling bayarnya Rp 70 ribu. Biasa kok dia dibayar segitu," katanya kepada Bali Post yang sengaja malam itu duduk sendiri di bangku sebelah barat lapangan guna "merekam" kedidupan kaum gay di sana.

Adrian yang mengaku mencari uang rokok itu lantas menceritakan, gay yang menggunakan sepeda motor duitnya tak terlalu banyak. "Kalau yang menggunakan sepeda motor, biasanya mereka bayar Rp 30 ribu atau Rp 40 ribu. Tetapi kalau yang pakai mobil, bayarnya tentu lebih gede," katanya. Selain untuk gay lokal, ada juga di antaranya menjual diri untuk orang asing yang gay. Bayarannya tentu dolar. "Berapa bayarannya itu sangat tergantung, tetapi biasanya lebih mahal karena dibayar dengan dolar," jelasnya.

Lalu di mana mereka "main"? "Di sini (Lapangan Puputan-red) enggak bisa dong, mas. Ramai. Biasanya mereka 'main' di sungai di wilayah Gatot Subroto. Di sana ada tempat. Kecil tetapi bagus. Mereka sering menggunakannya untuk 'main' di sana,'' katanya. Sementara gay yang berduit, "main"-nya tak mau di sembarang tempat. Ada yang menggunakan rumahnya sendiri, tempat kosnya, atau di hotel. Tentu saja bayarnya menjadi lebih tinggi. "Yang berkelas, biasanya bayarnya tinggi juga."

Selain orang normal -- sebutan laki-laki tulen -- yang menjadi sasarannya, waria juga diembat. Karena itulah, banyak waria yang menjual diri. Pantauan Bali Post di seputar Denpasar, tempat mangkal waria terdapat di Jalan Tukad Yeh Gangga I, Renon, dan di beberapa tempat di sekitar itu. Juga ada di Jalan Gatot Subroto Barat, Ubung. Jika malam-malam sekitar pukul 22.00 lewat di jalan itu, Anda jangan kaget bila tiba-tiba menemui sejumlah waria berpakaian minim dengan gaya menantang. Bila berhenti, mereka tak segan-segan mendekat, atau bahkan memanggil-manggil. Pangsanya adalah kelompok gay. "Tetapi ada juga lho mas, laki-laki tulen yang suka sama waria," kata seorang gay. Setelah didesak, laki-laki tulen model apa menyukai waria? Laki-laki yang tampang dan kehidupan sosialnya normal -- punya istri dan sebagainya, tetapi sebenarnya berpotensi menyukai sejenis.

Kelompok gay juga memiliki aktivitas olah raga. Tiap sore, kecuali Jumat dan Minggu, mereka bisa bertemu di lapangan parkir Gereja Katedral di Renon. Di sana juga disediakan lapangan voli. Selain bermain bola voli, mereka juga bisa saling kenal sesama gay. Sejumlah waria juga terlihat di sana, termasuk orang normal.

Sangat Berisiko
Kelompok gay sangat berisiko terkena PMS (penyakit menular seksual), terutama HIV/AIDS. Kenapa? Dalam melakukan aktivitas seksual, kelompok gay kerap melakukan anal sex --melalui dubur dan oral sex (mulut). "Dalam melakukan anal sex, jika tidak berhati-hati akan mengalami lecet-lecet. Karena itu, kami sering kali menyarankan agar menggunakan kondom," kata Aktivis Kelompok Dukungan Bali+ (plus) Christian Supriyadinata, S.Pd. Hal senada juga dikemukakan Direktur Kelompok Dukungan Bali+ Putu Utami Dewi, S.E.

"Sebenarnya sih tak hanya gay yang berisiko, semua yang tak berhati-hati juga berisiko. Cuma kebetulan saja, HIV/AIDS sebagai sesuatu yang kotor dan dikait-kaitkan dengan gay. Orang yang normal juga bisa kena, bahkan ibu rumah tangga yang diam di rumah saja bisa kena kok," kata Christian yang tak canggung-canggung menyatakan dirinya gay. Oleh karena berisiko terhadap HIV/AIDS, ia lantas membuat LSM di bidang peningkatan kualitas dukungan bagi orang yang terinfeksi HIV/AIDS tanpa membedakan jenis kelamin, ras, kepercayaan, status sosial, ekonomi serta pendidikan. Khusus menyangkut gay, juga ada Gaya Dewata -- yayasan sosial yang bergerak di bidang kesehatan khususnya dalam program penanggulangan risiko penularan HIV/AIDS dan PMS. Sasarannya gay, waria, biseks dan lesbian.

Khusus mengenai adanya gay dan waria yang menjajakkan dirinya di pinggir-pinggir jalan, Ketua Gaya Dewata Ketut Yasa dan beberapa aktivisnya seperti Didik, Kristopo, Riko maupun Vivi, memakluminya. Sebenarnya, jika mereka dibina dan memiliki keterampilan sehingga bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, maka kemungkinnan "turun" ke jalan tak lagi mereka lakukan. "Mereka terpaksa melakukan hal itu, karena mereka tak bisa mendapatkan pekerjaan lain. Selain itu, masyarakat juga sering diskriminasi dengan keberadaannya. Padahal, mereka juga punya potensi. Jika mereka mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa memenuhi kehidupannya, mereka tak akan menjual diri," kata Yasa. Oleh karena itulah, upaya pembinaan terus dilakukan. Bekerja sama dengan Dinas Sosial, potensi yang dimiliki gay dan waria terus digali. "Mudah-mudahan mereka bisa hidup berbahagia dan mendapatkan pekerjaan yang layak, seperti menjadi penari, pegawai salon, dan potensi lainnya," ujar Ketut Yasa. (yad)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com