kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 29 September 2002 tarukan valas
 

OPINI


Siapa Wayang, Siapa Dalang

CIA membantu secara gelap pemberontakan melawan pemerintahan Sulawesi. CIA juga memungkinkan pejabat yang diktatorial dan kadang-kadang korup untuk memerintah negara mereka di bawah payung Amerika atas nama antikomunisme. Chiang Kai-shek dan istri mendapat pendidikan di Amerika, kemudian jadi pemimpin Cina. Tiga milyar dolar AS dalam bantuan militer gagal untuk menyelamatkan pemerintahan Chiang yang korup dan demikianlah semua dianggap hilang, ketika Mao menang di tahun 1949. Perang di Vietnam Selatan adalah perang antara Amerika melawan Vietcong, yang berakhir dengan kekalahan AS. ("Dokumen-dokumen Pilihan Tentang Politik Luar Negeri Amerika Serikat dan Asia", William L. Bradley dan Mochtar Lubis).

''SEPTEMBER nyaris jadi bulan penuh bau darah yang membangkitkan ingatan seram dan rasa waswas. Setiap tahun masyarakat dunia akan bertanya dalam hati, peristiwa apa yang akan terjadi saat September tiba? Bali mencatat 20 September 1906 sebagai tanggal terjadinya Puputan Badung. Kemudian bangsa Indonesia juga mengenang gugurnya Tujuh Pahlawan Revolusi akibat peristiwa yang dilakukan Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S-PKI. Lalu 11 September 2001, tahun lalu, ribuan nyawa melayang ketika pencakar langit World Trade Center (WTC) di New York, luluh lantak ditabrak dua pesawat komersial berbadan lebar,'' ujar Rubag saat kawan-kawannya membahas peristiwa ledakan di depan mess kosong milik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jl. Teluk Betung, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 23 September lalu.

''Tapi Bung Karno menyebut peristiwa itu Gestok alias Gerakan Satu Oktober kok, bukan G-30-S! Mana yang benar ini?'' cegat Dewa Putu Ngurah.

''Anggap saja itu sebuah hipotesis, yang masih diuji kebenarannya. Maklum, sejarah kita sama dengan hukum kita, ekonomi kita, politik kita, budaya kita penuh bengkak-bengkok. Sebab, bukan hanya sejarah, hampir semua disiplin ilmu tidak otonom dan tidak steril dari beban politik. Kayaknya, setelah Orde Baru yang menganggap ekonomi atau kapitalisme sebagai panglima, kini giliran politik. Untuk sementara, anggap saja G-30-S sebagai istilah yang benar, karena orang yang lahir dan tumbuh besar sejak peristiwa berdarah itu terjadi, sudah terlanjur setuju pada istilah tersebut. Bagaimana mungkin menolak, nyaris di setiap jenjang pendidikan, para guru yang terkooptasi monoloyalitas terhadap mayoritas tunggal, harus mengucapkan istilah G-30- S-PKI kalau menyangkut tentang terbunuhnya Tujuh Pahlawan Revolusi itu''.

''OK! Saya tidak ingin berdebat dengan Anda, karena kita berdua dan kawan-kawan lain yang berkumpul di sini adalah korban dari pemilintiran sejarah. Setelah menyaksikan film semi dokumenter tentang peristiwa di Lubang Buaya 37 tahun silam di televisi selama belasan tahun, saya yakin para pelaku pembantaian tersebut adalah orang-orang PKI. Karena saya tidak ingin hanya jadi penonton yang baik, tapi juga ingin jadi pemerhati yang serius. Lambat laun karena kematangan jiwa dan kemampupan nalar yang lebih berkembang, beberapa tahun menjelang lengsernya Soeharto dari kekuasaan, otak saya sering terganggu setelah menyaksikan tayangan berdurasi dua jam di layar kaca itu. Timbul pertanyaan dalam benak saya, pelaku kekejaman tersebut jelasl-jelas PKI, tapi otaknya siapa?'' ulas Dewa Putu Ngurah sengaja tidak meneruskan ucapannya agar mendapat responS dari kawan-kawannya.

''DN Aidit dong! Dia kan gembong dan pimpinan puncak PKI saat itu? Kemudian Untung, LaTief, Soepardjo, Syam yang misterius, Nyoto, Nyono, seperti yang saya baca di buku 'Gerakan 30 September - Pemberontakan Partai Komunis Indonesia' yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia tahun 1994, adalah para dedengkot komunis yang merancang pembunuhan para jenderal TNI-AD itu,'' celetuk Landung tanpa henti-henti mencabut jenggotnya.

''Sayang, kau tidak bisa membedakan antara wayang dan dalang! Wayang tidak bisa bergerak, apalagi berperang kalau dalangnya tidak ada. Nama-nama yang kau sebut hanyalah wayang yang melakoni skenario dalang. Kalau baca buku, tidak cukup satu. Apa kau sempat Baca 'Mendung di Atas Istana Merdeka' tulisan Atmadji Sumarkidjo, atau 'Militer & Politik di Indonesia' karya Harold Crouch atau 'Subversi sebagai Politik Luar Negeri' buah tangan Audrey R. Kahin dan George Mc Tk.Tahin? Buku terbitan 1994 yang kau baca itu akan terkesan berat sebelah tanpa membaca keempat buku yang kusebutkan tadi, sebagai penyeimbang. Bahkan kau akan memiliki pendapat berbeda dibanding pendapatmu sekarang, bila sempat membaca, 'Kesaksianku' tulisan Dr. H. Soebandrio yang dulu sering diumpat para mahasiswa-pelajar dengan sebutan Dorna, menjelang runtuhnya Presiden Soekarno,'' papar Dewa Putu Ngurah membuat kawan-kawannya melongo.

''Lalu, siapa dalangnya? Tidak usah diceritakan panjang lebar, sebut saja nama dan alasan mengapa tokoh itu dikatakan dalang!'' desak Sutama.

''Nama tidak perlu, tapi oknum tersebut menjadi orang paling menakutkan selama 32 tahun di republik ini, meskipun dalam penampilannya di publik selalu tampak tersenyum. Konon untuk mencapai singgasana, kakinya menapak hampir sejuta jazad manusia yang kehilangan nafas gara-gara dituduh PKI. Bahkan atas instruksinya, jutaan lain kehilangan kesempatan hidup sebagai warganegara karena dalam KTP-nya tercantum huruf ET, sehingga sulit mengembangkan kapasitasnya sebagai manusia. Mereka jadi lost generation atau generasi yang hilang,''.

''Pantes! Kalau dugaan saya tak meleset, orang ini benar-benar lebih licin dari belut. Jangankan mendakwanya melanggar HAM, yang tentunya banyuak memerlukan saksi dan bukti, untuk menyeretnya ke pengadilan atas tuduhan KKN yang dilengkapi saksi dan bukti saja sulitnya setengah mati. Ironisnya, aparat hukum pun seakan-akan keder walaupun macan tersebut sudah ompong. Malah seperti tersihir ketika mendengar alasan sakit permanen, yang dianggap istilah aneh bagi telinga pemerhati bahasa Indonesia. Mungkin kukunya masih runcing-runcing!'' kilah Sutama sembari mencibir.

''Dia bukan dalang, tapi wayang juga, namun wayang paling gede! Buktinya, ketika ribuan mahasiswa tanpa senjata menyerbu gedung rakyat di Senayan empat tahun silam, dia lengser juga, meski kala itu taring dan kukunya masih tajam. Sebab dalang yang memainkan wayang tersebut, sudah menghendaki dia turun pentas. Sejak tahun 1949, kalau kalian jeli membaca buku-buku yang disebut Dewa Ngurah tadi, negeri dan rakyat Indonesia sudah dijadikan semacam kelir dan wayang oleh Amerika. Skenario kian meningkat ketika Perang Dingin berkecamuk saat pemerintahan Dwight D. Eisenhower, yang punya dua kaki tangan handal, yang juga dua. bersaudara. John Foster Duller sebagai menteri luar negeri dan Allen Dullen sebagai Direktur CIA. PRRI-Permesta, DI-TII, LOGIS adalah kelompok-kelompok pemberontak yang disokongnya. Ini terus berlanjut, mungkin hingga sekarang,'' ular Rubag.
* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com