kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Pon, 15 Agustus 2002

 EKONOMI


Rendah, Respon Masyarakat Gunakan LPG

Denpasar (Bali Post) -
Pencanangan program langit biru oleh Pemerintah Propinsi Bali yang mewajibkan penggunaan bahan bakar LPG (Liquified Petrolium Gas) untuk kendaraan bermotor sejak tahun 1997 sampai sekarang tidak direspon masyarakat. Untuk menggalakkan lagi ide tersebut, Pemerintah Kota Denpasar menggandeng Program Studi Teknik Mesin Unud mengadakan sosialisasi tentang pentingnya penggunaan LPG bagi kendaraan bermotor, di Gedung Praja Utama Kantor Walikota, Rabu (14/8) kemarin.

Tingkat pencemaran udara akibat emisi gas buang dari kendaraan bermotor di Kota Denpasar menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Denpasar Gusti Agung Suardana Wetan, S.Sos cukup tinggi. Apalagi, menurutnya laju pertambahan kendaraan bermotor di Denpasar mencapai 14-16 persen per tahun. Jika tidak diambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah pencemaran udara tersebut menurut Suardana Wetan akan berdampak terhadap lingkungan yang akhirnya akan berpengaruh terhadap kesehatan masyarkat. ''Selain itu perawatan kendaraan bermotor yang sering kali diabaikan oleh para pengguna juga menjadi sebab lain yang memperburuk kualitas udara di Kota Denpasar,'' tandasnya.

Sementara itu, Ir. AA. Adhi Suryawan MT. dari Program Studi Teknik Mesin Unud mengatakan salah satu pola pelaksanaan pengendalian pencemaran udara dari kegiatan sumber bergerak (transportasi) adalah diversifikasi energi berupa penggunaan LPG sebagai bahan bakar alternatif untuk kendaraan bermotor. Penggunaan LPG untuk kendaraan bermotor menurut Adhi Suryawan memberikan keuntungan baik bagi segi ekonomis maupun dari segi dampak lingkungan dan kesehatan, karena emisi gas buang kendaraan berbahan bakar LPG jauh lebih rendah dibandingkan bensin. Namun untuk dapat memakai LPG pada kendaraan bermotor harus memasang alat tambahan yang disebut dengan Conveter Kit yang harganya per unit mencapai 4,7 juta. Beberapa permasalahan yang dihadapi untuk memasyarakatkan penggunaan LPG untuk ranmor seperti dipaparkan Adhi Suryawan adanya image buruk tentang keamanan penggunaan LPG, tidak adanya outlet Conveter Kit serta terbatasnya Stasiun Pengisian Bahan LPG (SPB-LPG). Untuk saat ini di Bali baru ada tiga SPB-LPG yaitu di jalan Cok Agung Tresna, Jl. Imam Bonjol dan di Jl. By Pass Ngurah Rai Jimbaran. Hal ini sempat disoroti oleh Sekretaris Komisi D DPRD Kota Denpasar Wayan Purna yang mengikuti sosialisasi tersebut. Purna mempertanyakan kesiapan Pemerintah dalam hal ini Pertamina untuk menyiapkan SPB-LPG di setiap SPBU. ''Kan tidak mungkin kalau kita kehabisan gas di luar kota seperti Singaraja harus balik lagi ke Denpasar untuk membeli gas. Pihak pertamina harus berani mewajibkan agar disetiap SPBU harus tersedia SPB-LPG'', katanya. Kalau tidak begitu meurut Purna program ini akan sulit terealisasi. Selaion itu beberapa peserta juga mengusulkan kepada pemerintah dapat bekerja sama dengan pabrik mobil agar mobil yang baru dipasarkan sudah langsung berisi alat yang dapat dipakai untuk bahan bakar gas.

Dari hasil paparan PS Teknik Mesin Unud disebutkan beberapa keuntungan pemakaian LPG seperti tamah lingkungan, memperpanjang penggunaan pelumas, memperpanjang umur mesin serta irit biaya. Sosialisasi yang dilakukan sehari itu diikuti oleh DPRD Kota Denpasar, LSM, Hiswanamigas, Pertamina serta instansi terkait dilingkungan Pemerintah Kota Denpasar. (044)

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)