500 Hari Pemerintahan Megawati
Rachmawati dan
Bang Ali juga Kecewa
Setelah PBNU dan PKB,
kini giliran Rachmawati, Ketua Partai Pelopor, mengritik
pemerintahan Mega di akhir tahun 2002 ini. Tak hanya itu,
Ali Sadikin juga mengritiknya. Mengapa mereka kecewa?
---------------------------------------------------------
Rachmawati
Soekarnoputri memberi nilai merah pada pemerintahan Mega.
Alasannya, belum ada perbaikan yang signifikan terhadap
perekonomian terutama privatisasi, hukum dan penegakan
HAM, serta pencapaian politik dan keamanan.
Pemerintah tidak
memberi kesempatan bagi lahirnya partai baru dengan
mengesahkan UU Parpol yang dinilai Rachmawati
diskriminatif. Meski mengritik, Rachmawati menawarkan
solusi. ''Libatkan rakyat dalam mengambil keputusan
strategis, jangan patuh pada tekanan asing dan laksanakan
ajaran Trisaksi Bung Karno,'' tutur Rachma. Kritik juga
datang dari Kelompok Kerja (Pokja) Petisi 50. Kritik
mereka sangat pedas. Adalah Bang Ali, panggilan tokoh
nasionalis Ali Sadikin. Dalam evaluasi akhir tahunnya,
mantan Gubernur DKI ini menyebut Megawati adalah presiden
partai, bukan presiden bangsa dan negara Indonesia. ''Pengabdian
Mega hanya kepada partai, bukan bangsa dan negara,'' kata
Bang Ali dengan semangat muda. ''Saya sangat kecewa
terhadap pemerintahan ini,'' tegasnya mengulangi.
Penilaian serupa juga datang dari DPP PAN. Menurut PAN,
pemberantasan KKN, salah satu agenda penting bangsa ini
jika ingin bangkit kembali. Jika tidak, jangan harapkan
bangsa ini bisa keluar dari krisis multidimensional yang
tak kunjung usai ini.
Dari gedung DPP PAN
di Jalan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (30/12) kemarin,
PAN ingin menutup tahun ini dengan meniup terompet gerakan
antikorupsi. Gerakan ini harus menjadi prioritas agenda
bangsa Indonesia ke depan. Dan, hal ini tidak bisa
ditunda-tunda lagi. Tanpa keseriusan menjalankan gerakan
antikorupsi, bangsa ini akan terus tersandera oleh
berbagai masalah. Dari sisi ini, Mega telah gagal. ''Akibatnya,
krisis ekonomi akan terus mengepung bangsa ini ke depan,''
tandas Ketua DPP PAN Didik J.Rachbini, yang juga pengamat
ekonomi itu.
Banyak konglomerat
hitam dilepaskan oleh para hakim. Pengadilan HAM pun
sepertinya jalan di tempat. Sorotan asing pun tak kurang
negatifnya terhadap sistem peradilan di negeri ini.
Padahal, pemberantasan korupsi itu sejatinya linier dengan
penegakan hukum.
Lepasnya Sipadan dan
Ligitan adalah kegagalan paling besar pemerintahan ini.
Menjaga kedaulatan negara adalah menjadi tanggung jawab
dan amanah pemerintah. Namun sayang, amanah dan tanggung
jawab ini tak bisa dilaksanakan Mega. ''Ini menunjukkan,
pemerintahan ini gagal menjaga kedaulatan negara,''
katanya.
Empat
Program
Kalau elite politik
lebih gencar mengajukan kritik, Menko Polkam Susilo
Bambang Yudhoyono malah sebaliknya. Ia sudah memiliki
program prioritas penyelamatan bangsa. Prioritas ini
sengaja dibuat sebagai satu program yang harus bisa
diselesaikan setahun mendatang demi tetap terjaganya
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prioritas ini juga
diharapkan sebagai pedoman jajaran kementerian ini dalam
menyongsong tahun baru. Empat hal istimewa yang menjadi
prioritas itu, penyelesaian dan perjanjian damai di Aceh,
penyelesaian konflik Papua, perang terhadap terorisme,
pengelolaan kondisi dan situasi politik menjelang Pemilu
2004.
Empat hal ini
diharapkan bisa terwujud pada tahun 2003 mendatang dengan
hasil positif dan tetap terjaganya NKRI. Menko Polkam
optimis keempat hal tersebut dapat diwujudkan. Menko
Polkam Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, empat prioritas
ini amat penting bagi bangsa dan negara Indonesia ke depan.
Masa depan politik dan keamanan di Aceh dan Papua,
misalnya, menjadi target yang tak boleh disepelekan. ''Aceh
harus segera damai. Begitu juga masalah yang terjadi di
Papua. Kedaulatan negara harus dijaga dan tak bisa
ditawar-tawar lagi,'' tegas Yusdhoyono, di kantor Menko
Polkam, Senin (30/12) kemarin.
Mantan Kaster TNI
ini menilai pelaksanaan perdamaian di bumi Aceh mulai
menunjukkan hasil. Meski di sana-sini masih dinodai
pertikaian oleh oknum TNI-GAM, Yudhoyono tetap meyakini
kondisi damai bisa diwujudkan. Tentunya, ini bisa terjadi
jika syarat-syarat yang sudah disepakati dua belah pihak
bisa ditepati. Terutama, kinerja joint security committee
bisa maksimal, termasuk memberi sanksi bagi pihak yang
melanggar perjanjian. Di Papua pun demikian. Papua, kasus
gerakan separatis Papua, harus bisa diredam. Diajak
berunding dan dicari akar masalah di Papua. Jika memang
ada pelanggaran dan tindakan kriminal yang dilakukan oleh
siapa pun, seperti anggota TNI, itu pun harus diselesaikan.
Kasus Theys Hiyo
Eluay, misalnya, pemerintah pun akan berusaha serius
menyelesaikannya. ''Penyelesaian Papua tetap mengacu pada
otonomi khusus. Pemerintah akan menangani secara adil dan
menyentuh masyarakat bawah,'' tegas Yudhoyono, jenderal
empat bintang ini.
Ia juga yakin dunia
internasional mendukung sepenuhnya integritas Indonesia.
Karena itu, meski banyak negara tetangga yang ikut campur
dalam konflik politik di Papua, Yudhoyono tetap optimis
otonomi khusus bisa menjadi opsi pilihan yang baik dan
NKRI bisa ditegakkan.
Dari sisi
pemberantasan terorisme, Yudhoyono menyiapkan perangkatnya.
Dibentuknya desk khusus antiterorisme adalah salah satu
perangkat penting bagi pemberantasan terorisme. Ia juga
menyiapkan legal frame work dan peningkatan kinerja
intelijen negara, baik di dalam negeri maupun di luar ini.
Hal ini dilakukan sebagai upaya dini memantau gerakan
terorisme dan mencegah aksi-aksi terorisme, baik yang
dilakukan dari dalam negeri maupun teror dari luar negeri.
Jaringan dan kerja sama dengan pihak luar negeri pun
menjadi prioritas.
Yang tak kalah
pentingnya adalah persiapan dan manajemen politik guna
menjaga situasi keamanan menjelang Pemilu 2004. Kondisi
keamanan ini amat menguras tenaga Menko Polkam. Sebab,
setahun mendatang, kondisi politik diperkirakan akan
mencapai titik kulminasi. Jika tidak bisa dikelola dengan
baik, krisis bangsa ini tidak akan terselesaikan.
Indonesia akan terus meratapi dirinya sebagai negara yang
tak kunjung damai, tak kunjung usai dirundung malang.
Menghadapi hal ini, Menko Polkam menyiapkan sejumlah
strategi. ''Saya menyiapkan lima hal yang perlu saya
tindak lanjuti sebagai antisipasi,'' katanya.
Pertama, Indonesia
harus tetap eksis sebagai negara kestauan RI. Karena itu,
jajaran Polkam akan menjaga kepentingan dan agenda
nasional, seperti recovery ekonomi, reformasi, dan
rekonsiliasi. Pembangunan bangsa tidak bisa ditinggalkan
sebagai acuan dasar demi kebangkitan kembali bangsa dan
negara ini ke depan. Hal kedua, menjaga perkembangan
lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional.
Ketiga dan keempat adalah perkiraan keadaan Indonesia 2003
prioritas Polkam 2003. Kelima, faktor-faktor krisis. Lima
hal ini akan menjadi satu data penting dan strategi guna
menyongsong tahun 2003 secara lebih elegan dan terhormat.
(son/her)
|