kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 31 Desember 2002

 Nusatenggara


Rp 600 M untuk Bandara Palembang Picu Kecemburuan NTB

Mataram (Bali Post) -
Ketua DPD Asita NTB Ir. H. Misbach Mulyadi mengemukakan, kucuran dana pusat sebesar Rp 600 milyar untuk pengembangan Bandara Sultan Salahudin Mahmud di Palembang bisa memicu kecemburuan NTB. Pasalnya, NTB telah lama mendambakan pembangunan bandara internasional menyusul keunggulan di sektor pariwisata.

"Jika bandara internasional belum direalisasikan, kita sulit melepaskan ketergantungan dari Bali. NTB akan selalu menunggu limpahan wisatawan dari sana karena akses kita tidak ada," papar Misbach, Senin (30/12) kemarin. Setidaknya, 80 persen wisatawan yang datang ke NTB berasal dari Bali.

Ia mengatakan, NTB memiliki potensi yang cukup besar dalam mendukung pembangunan bandara internasional. Sebagaimana alasan petinggi di Palembang tentang faktor pendukungnya, kata Misbach, potensi NTB pun tidak kalah, meliputi tingginya jamaah haji, TKI/TKW dan aset periwisata. "Bahkan kami memiliki keunggulan lebih. Faktor pendukung itulah yang menjadi alasan bagaimana agar bandara internasional segera diwujudkan," tukasnya.

Perjuangan Setengah Hati

Menurut Misbach, belum terwujudnya cita-cita membangun bandara internasional yang diimpikan sejak hampir sepuluh tahun lalu disebabkan perjuangan setengah hati yang dilakukan elite NTB. "Permintaan perhatian hanya dilakukan secara lisan pada forum tertentu, tetapi tidak pernah secara all out ada permintaan serius dengan mendatangi langsung Dephub di Jakarta," kata Misbach.

Ketika bertemu mediator investor dari Prancis beberapa waktu lalu, kata Misbach, hal itu sempat menjadi keluhan. Khususnya DPRD NTB, ternyata tidak pernah secara khusus dan konseptual membicarakan masalah bandara kepada Dephub. "Kalaupun ada statemen di koran, itu secara temporal dan tidak digarap secara sungguh-sungguh. Di sisi lain, nampaknya kita tidak punya orang untuk melakukan bargaining," katanya.

Kendati lahan untuk bandara seluas 750 hektar telah ada di Lombok Tengah, akhirnya areal tersebut terbengkalai. Padahal dalam konsep awal, tahun 2004 sudah berada dalam tahap konstruksi. Namun demikian, krisis yang terjadi tidak boleh menjadi kambing hitam. Terbukti Palembang bisa melakukan pendekatan sehingga gubernur maupun DPRD agar lebih proaktif memperjuangkan pembangunan bandara internasional.

Misbach mengatakan, sektor pariwisata NTB akhirnya harus menunggu tanda-tanda pulihnya kepariwisataan Bali sebagai barometer pariwisata nasional. Peran Bali sangat menentukan nasib NTB dalam dunia pariwisata. Di samping itu, dibutuhkan sikap dalam memandang pariwisata sebagai penyelamat ekonomi. Sebab masih banyak yang perlu dibenahi untuk membangun pariwisata masa depan. (045)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)