kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 31 Desember 2002

 Bali


Dalam Peningkatan ''Sradha'' ....

Kebijakan Pembangunan belum Beri Pijakan Kuat

Denpasar (Bali Post) -
Implementasi kebijakan pembangunan Bali belum memberikan pijakan maupun topangan yang kuat terhadap upaya peningkatan sradha. Yang mengedepan adalah berbagai bentuk pembangunan fisik dan kesemarakan ritual, sehingga pemberdayaan dan pembertahanan cenderung menjadi statis.

Hal itu dikatakan Ketua Pusat Kajian Hindu Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus dalam acara refleksi akhir tahun 2002 bertemakan ''Quavadis Keindonesiaan Dewasa Ini dari Perspektif Dharma'' di Cafe Biru, Senin (30/12) kemarin. Acara yang digelar Yayasan Penyadaran Dharma -- Pusat Kajian Hindu -- itu menghadirkan dua narasumber yakni IDG Palguna, S.H., M.H. dan Drs. Nyoman Wijaya, M.Hum. dipandu Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si.

Ngurah Bagus menambahkan, sikap antisipatif dan proaktif masyarakat dalam kehidupan bangsa dan negara masih kurang. Jika lantas muncul hal-hal di luar dugaan, tidak saja masyarakat, akan tetapi pemerintah pun tampak kurang proaktif dan antisipatif.

Contohnya, kewenangan yang dimiliki DPRD Bali, kabupaten dan kota sesuai dengan semangat UU No. 22/1999 sangat kuat dan strategis untuk membuat berbagai bentuk perda. Namun ternyata peran politik ini tidak dilakukan secara maksimal. Bahkan, tindakannya cenderung kontradiktif searah dengan tujuan reformasi. Pertanggungjawaban gubernur, bupati dan wali kota cenderung rutinitas. Padahal sesungguhnya kualitas pengawasan dan pemberdayaan pemerintah maupun masyarakat berada pada posisi tersebut.

Pada bagian lain, kata guru besar Fakultas Sastra Unud itu, adanya pandangan bahwa konsep agama (dharma) dengan konsep negara (politik) bertolak belakang. Padahal sesungguhnya kedua konsep tersebut dapat berjalan bersama yakni dharma negara. ''Oleh karena pandangan semacam itu berkembang selama ini, akhirnya muncul sikap apatis masyarakat terhadap aktivitas politik,'' ujarnya.

Menyangkut pascabom Bali, kata Bagus, sudah dibentuk panitia pemulihan ekonomi Bali. Demikian juga berbagai kegiatan yang bertujuan merangsang perkembangan ekonomi Bali, tampaknya tak berjalan sesuai harapan karena potensi ekonomi Bali di luar pariwisata, seperti pertanian kurang digarap secara serius. Dalam memulihkan ekonomi Bali, tegasnya, hal yang sangat urgen dilakukan adalah penataan keamanan. Mendatangkan artis untuk pentas di Bali oke, tetapi hal itu harus didukung sistem pengamanan yang mantap. ''Jika perlu menggunakan sistem keamanan bertaraf internasional. Me-manage sistem keamanan dengan baik, dengan sendirinya masyarakat dunia tidak merasa waswas datang ke Bali,'' ujarnya.

Dana sumbangan yang katanya besar, kata Bagus, bisa digunakan untuk membeli peralatan canggih untuk memonitor orang-orang yang masuk ke Bali.

Sementara itu pemimpin Bali 2003 nanti, kata Bagus, mesti memiliki wawasan ke depan dan berani membuat terobosan. Ada loncatan untuk membenahi kekurangan masa lampau. Kebijakan yang dihasilkan mampu mengantarkan masyarakat Bali untuk menikmati kesejahteraan. ''Pemimpin 2003 nanti juga mesti memiliki kiat khusus -- kiat 'perekayasaan' untuk mengantarkan masyarakatnya ke arah lebih baik,'' ujarnya. (08)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)