kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

POTRET


I Nengah Sukama, Guru Teladan Nasional 2002
Dibanding Pegawai Lain, Gaji Guru Memang Rendah

PROFESI guru tidak diminati banyak orang. Kalau pun ada yang berminat bekerja sebagai guru, itu hanyalah karena keterpaksaan dengan segudang alasan. Namun tidak demikian halnya dengan I Nengah Sukama, S.Pd. Baginya, menjadi guru dilandasi ketulusan, keihklasan dan cinta kasih pada anak didik. Itulah sebabnya lulusan IKIP PGRI Bali, jurusan pendidikan jasmani dan kesehatan ini mampu bertahan sebagai guru honorer sejak tahun 1985. Ia hanya mendapat honor seadanya dari sekolah yang menggunakan jasa pendidikan yang diberikan, sebulan hanya digaji Rp 15 ribu atau semampu sekolah itu untuk memberikan upah. Walaupun begitu, bapak satu anak asal Pupuan Tabanan ini tetap gigih menjadi pengajar hingga akhirnya ia diangkat sebagai pegawai negeri sejak tahun 2000. Ia kini aktif mengajar di SLTP PGRI I Denpasar. I Nengah Sukama yang hobi pencak silat dan tinju ini berhasil memperoleh penghargaan sebagai guru teladan nasional yang berprestasi di bidang olah raga. Prestasi olah raganya memang tidak hanya sebatas tingkat lokal, namun pernah pula ikut kejuaraan ASEAN di Selangor, Kuala Lumpur, dan Trengganu, Malaysia. Guru dan pelatih pencak silat yang memiliki murid puluhan orang ini tidak memungut iuran untuk para anak didiknya yang dilatih di lahan kontrakan di sasana Kalimutu Denpasar. Ia punya sumber lain untuk membiayai pengelolaan olah raga bela diri itu. Berikut bincang-bincang Bali Post dengan I Nengah Sukama, dan wawancara ini juga disiarkan Radio Global FM dalam acara "Profil Global".

MENGAPA Anda memilih profesi sebagai guru?
Karena secara psikologis saya lihat dari perkembangan anak-anak untuk generasi sekarang ini belum mendapatkan pembinaan yang optimal. Saya pribadi memutuskan untuk terjun di bidang pendidikan karena cinta kasih saya pada anak-anak.

Banyak orang yang memilih profesi guru karena terpaksa, lalu Anda bagaimana?
Saya melihat profesi guru ini sebagai suatu keikhlasan hati nurani. Sebab dalam proses belajar mengajar yang kita transfer ilmu kita pada anak didik merupakan ketulusan. Kita sujudkan pada Beliau sesungguhnya, apa pun yang kita perbuat di alam mayapada ini.

Gaji guru kurang memadai, namun Anda tetap yakin memilih profesi guru, mengapa?
Memang kalau dilihat dari kondisi sekarang, dulu juga demikian. Contohnya saya sendiri, namun karena keinginan saya besar menjadi guru sampai gagal berulangkali. Saya sudah sering mengikuti seleksi penerimaan guru dan saya selipkan berbagai prestasi yang saya dapatkan di tingkat daerah maupun nasional, namun belum saatnya saya diterima. Mungkin itu karma saya. Jadinya saya terus berusaha maksimal. Saya sudah mengabdikan diri menjadi guru honorer sejak tahun 1985, baru tahun 2000 saya diangkat sebagai guru tetap. Tetapi kemauan saya untuk menjadi guru tidak putus di tengah jalan, saya tetap berjuang seoptimal mungkin. Saya tetap berusaha melatih anak dalam bidang olah raga sesuai dengan latar belakang pendidikan saya.

Lalu apa lagi yang membuat Anda setia berprofesi sebagai guru?
Saya tidak pernah berhenti untuk mendidik anak agar mengarah pada kematangan sikap mental. Sehingga pada suatu saat nanti, keberhasilan itu tergantung dari kepribadian anak. Yang kita perlukan adalah rasa memiliki terhadap anak itu sehingga nanti siap terjun di masyarakat dan di dunia pendidikan. Saya betul-betul membagi waktu dengan baik. Bukan waktu yang mengatur saya, tetapi saya yang mengatur waktu. Sehingga setiap hari dapat saya lakoni baik sebagai pendidik di sekolah secara formal maupun sebagai pelatih pencak silat yang saya geluti dengan penuh kasih sayang. Dari sana saya mendapatkan kebanggaan dan kebahagiaan bagi hati nurani.

Kepuasan dalam mengajar itu seperti apa?
Kalau bicara soal kepuasan mengajar, itu memang susah kita gambarkan dalam bentuk yang nyata. Tetapi saya lihat langsung, dalam proses pembinaan atau pendidikan yang kita berikan pada anak, itu minimal terjadi ada perubahan. Terutama dari sikap mentalnya, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Itulah letak kebahagiaan saya yang paling utama. Artinya, anak-anak itu juga bisa melihat kondisinya sendiri dan mengarah pada hal-hal yang positif. Selain itu, jika sudah diuji dengan proses disiplin yang tinggi, saya yakin anak itu suatu saat akan dapat berkiprah dalam ajang prestasi secara maksimal. Yang penting di sini adalah bagaimana ia menekuni proses pelatihan itu dengan disiplin sehingga mampu mengantarkan dirinya menjadi murid yang berprestasi.

Lalu apakah benar gaji guru kecil?
Guru memang gajinya sangat rendah jika dibandingkan dengan pegawai lain. Padahal tugas dan kewajiban guru sangat berat, karena kita mendidik anak. Jadi bukan hanya menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi mendidik sikap mental untuk bekal terjun di masyarakat. Itu perlu didasari kesanggupan pendidik. Karena, tanpa kesanggupan untuk mengarah pada profesionalisme, nanti tidak akan tercapai hal yang kita inginkan.

Kembali ke masa lalu, siapa yang mengilhami keingian Anda menjadi guru?
Saya punya kakak sebagai guru. Darah itu mengalir pula pada saya, orangtua saya banyak mengarahkan sikap mental yang selalu diberikannya sepulang saya sekolah. Saya diarahkan ke hal yang positif. Kakak saya sudah meninggal sebelum saya lahir. Orangtua saya selalu bercerita kalau kakak saya guru SD. Guru SD mampu menguasai semua bidang studi. Di samping itu ada dorongan internal dalam diri saya yang berkeinginan untuk mengembangkan profesi sebagai guru. Orangtua saya petani dan kakak-kakak saya yang sudah bekerja membiayai saya dari SD hingga IKIP.

Orangtua Anda petani, kenangan apa yang menarik dari keluarga ini?
Kenangan yang tak terlupakan saat saya melihat kondisi di desa Batungsel, Pupuan, Tabanan pada tahun 1970-an, keadaan ekonominya sangat memprihatinkan. Saat itu pas kemarau panjang, saya makan nasi yang dicampur sagu, pepaya, nangka atau kadang batang pohon pisang. Dengan peristiwa itu saya teringat apa yang dilakoni orangtua agar kita semua dapat hidup. Kami waktu itu hanya berjuang untuk hidup, belum berpikir bagaimana untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Semua keluarga saya petani, kecuali kakak saya yang tinggal di Denpasar bekerja di bengkel mobil milik orang Cina. Di sana kakak saya diajari bela diri Kungfu dan ia juga tertarik pencak silat. Saya diajari kakak berlatih bela diri. Tahun 1976 ada gempa hebat yang membuat keluarga kami semakin miskin. Namun dengan semangat tinggi seluruh keluarga saya menyekolahkan saya yang merupakan anak paling kecil. Orangtua saya berpikiran kalau keadaan begini terus tidak akan ada perubahan, maka saya diberi kesempatan untuk sekolah.

Soal hobi bela diri itu bagaimana?
Waktu SD, saya latihan bela diri di kampung. Setelah di Denpasar, saya diajak sama kakak dan mulai aktif ikut latihan bela diri. Namun karena kakak saya sangat sibuk, maka saya dititipkan pada pelatih Pencak Silat Bakti Negara, pak Made Suwena. Karena di sana jumlahnya hanya sedikit yang latihan, lalu saya pindah ke ranting Bima Sakti di Gemeh. Di tempat itu banyak atlet nasional dan internasional yang dihasilkan.

Apakah Anda akan membuat sekolah untuk mengembangkan olah raga bela diri?
Dari dulu memang saya berangan-angan untuk mewujudkan sekolah olah raga. Namun semuanya tergantung pada dana yang tersedia. Saya bahkan pernah membayangkan, bagaimana kalau saya sudah start tahun 2003 untuk membuat padepokan pencak silat. Saya berencana untuk mengumpulkan anak-anak yang memiliki potensi, ia berangkat dari padepokan itu untuk sekolah secara formal. Ia mampu melakoni hidupnya dalam dunia pencak silat sepanjang hari. Namun semuanya tergantung pada dana yang ada. Saya berharap bisa mendukung pemerintah daerah untuk mensuplai atlet dalam cabang pencak silat. Memang untuk mewujudkannya tidak mudah dan tidak segampang yang kita bicarakan dan butuh pengorbanan luar biasa, baik pikiran, perasaan, waktu dan dana. Saya yakin apa yang saya inginkan ini tidak berlebihan. Apa yang saya lakukan diiringi doa pastilah suatu saat ada jalan.

Apa pesan Anda untuk rekan guru?
Marilah bekerja sesuai dengan profesi kita. Didiklah anak-anak sebagai tunas bangsa yang suatu saat bisa menjadi generasi penerus agar kemampuan mereka lebih besar dibandingkan kita. Mudah-mudahan anak-anak juga lebih maju dan lebih baik dalam memikirkan bangsa dan negara dalam situasi dan kondisi sekarang.

* Pewawancara: Asti Musman

BIODATA
Nama : I Nengah Sukama, S.Pd
Tempat/tgl lahir : Pupuan, Tabanan, 18 Agustus 1966
Nama istri : Ni Putu Suriani
Nama anak : Putu Gede Satria Bayu
Pendidikan terakhir : IKIP PGRI Bali jurusan Penjaskes
Pekerjaan : - Guru dan Wakasek SLTP PGRI I Denpasar
- Dosen IKIP PGRI Denpasar
Kegiatan lain : - Pendiri Pencak Silat
Bakti Negara Ranting Kalimutu, Denpasar
- Pendiri Sasana Tinju Amatir Kalimutu, Denpasar
Prestasi : Pembina SLTP PGRI I Denpasar untuk:
- Gerak Jalan Puputan Badung,
Juara I (delapan kali berturut)
- Guru Teladan Nasional Bidang Olah Raga (2002)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com