I Nengah
Sukama, Guru Teladan Nasional 2002
Dibanding Pegawai
Lain, Gaji Guru Memang Rendah
PROFESI guru
tidak diminati banyak orang. Kalau pun ada yang berminat bekerja
sebagai guru, itu hanyalah karena keterpaksaan dengan segudang
alasan. Namun tidak demikian halnya dengan I Nengah Sukama, S.Pd.
Baginya, menjadi guru dilandasi ketulusan, keihklasan dan cinta
kasih pada anak didik. Itulah sebabnya lulusan IKIP PGRI Bali,
jurusan pendidikan jasmani dan kesehatan ini mampu bertahan
sebagai guru honorer sejak tahun 1985. Ia hanya mendapat honor
seadanya dari sekolah yang menggunakan jasa pendidikan yang
diberikan, sebulan hanya digaji Rp 15 ribu atau semampu sekolah
itu untuk memberikan upah. Walaupun begitu, bapak satu anak asal
Pupuan Tabanan ini tetap gigih menjadi pengajar hingga akhirnya
ia diangkat sebagai pegawai negeri sejak tahun 2000. Ia kini
aktif mengajar di SLTP PGRI I Denpasar. I Nengah Sukama yang
hobi pencak silat dan tinju ini berhasil memperoleh penghargaan
sebagai guru teladan nasional yang berprestasi di bidang olah
raga. Prestasi olah raganya memang tidak hanya sebatas tingkat
lokal, namun pernah pula ikut kejuaraan ASEAN di Selangor, Kuala
Lumpur, dan Trengganu, Malaysia. Guru dan pelatih pencak silat
yang memiliki murid puluhan orang ini tidak memungut iuran untuk
para anak didiknya yang dilatih di lahan kontrakan di sasana
Kalimutu Denpasar. Ia punya sumber lain untuk membiayai
pengelolaan olah raga bela diri itu. Berikut bincang-bincang
Bali Post dengan I Nengah Sukama, dan wawancara ini juga
disiarkan Radio Global FM dalam acara "Profil Global".
MENGAPA
Anda memilih profesi sebagai guru?
Karena secara psikologis saya lihat dari perkembangan anak-anak
untuk generasi sekarang ini belum mendapatkan pembinaan yang
optimal. Saya pribadi memutuskan untuk terjun di bidang
pendidikan karena cinta kasih saya pada anak-anak.
Banyak orang yang memilih
profesi guru karena terpaksa, lalu Anda bagaimana?
Saya melihat profesi guru ini sebagai suatu keikhlasan hati
nurani. Sebab dalam proses belajar mengajar yang kita transfer
ilmu kita pada anak didik merupakan ketulusan. Kita sujudkan
pada Beliau sesungguhnya, apa pun yang kita perbuat di alam
mayapada ini.
Gaji guru kurang memadai,
namun Anda tetap yakin memilih profesi guru, mengapa?
Memang kalau dilihat dari kondisi sekarang, dulu juga demikian.
Contohnya saya sendiri, namun karena keinginan saya besar
menjadi guru sampai gagal berulangkali. Saya sudah sering
mengikuti seleksi penerimaan guru dan saya selipkan berbagai
prestasi yang saya dapatkan di tingkat daerah maupun nasional,
namun belum saatnya saya diterima. Mungkin itu karma saya.
Jadinya saya terus berusaha maksimal. Saya sudah mengabdikan
diri menjadi guru honorer sejak tahun 1985, baru tahun 2000 saya
diangkat sebagai guru tetap. Tetapi kemauan saya untuk menjadi
guru tidak putus di tengah jalan, saya tetap berjuang seoptimal
mungkin. Saya tetap berusaha melatih anak dalam bidang olah raga
sesuai dengan latar belakang pendidikan saya.
Lalu apa lagi yang
membuat Anda setia berprofesi sebagai guru?
Saya tidak pernah berhenti untuk mendidik anak agar mengarah
pada kematangan sikap mental. Sehingga pada suatu saat nanti,
keberhasilan itu tergantung dari kepribadian anak. Yang kita
perlukan adalah rasa memiliki terhadap anak itu sehingga nanti
siap terjun di masyarakat dan di dunia pendidikan. Saya
betul-betul membagi waktu dengan baik. Bukan waktu yang mengatur
saya, tetapi saya yang mengatur waktu. Sehingga setiap hari
dapat saya lakoni baik sebagai pendidik di sekolah secara formal
maupun sebagai pelatih pencak silat yang saya geluti dengan
penuh kasih sayang. Dari sana saya mendapatkan kebanggaan dan
kebahagiaan bagi hati nurani.
Kepuasan dalam mengajar
itu seperti apa?
Kalau bicara soal kepuasan mengajar, itu memang susah kita
gambarkan dalam bentuk yang nyata. Tetapi saya lihat langsung,
dalam proses pembinaan atau pendidikan yang kita berikan pada
anak, itu minimal terjadi ada perubahan. Terutama dari sikap
mentalnya, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Dari yang
tidak tahu menjadi tahu. Itulah letak kebahagiaan saya yang
paling utama. Artinya, anak-anak itu juga bisa melihat
kondisinya sendiri dan mengarah pada hal-hal yang positif.
Selain itu, jika sudah diuji dengan proses disiplin yang tinggi,
saya yakin anak itu suatu saat akan dapat berkiprah dalam ajang
prestasi secara maksimal. Yang penting di sini adalah bagaimana
ia menekuni proses pelatihan itu dengan disiplin sehingga mampu
mengantarkan dirinya menjadi murid yang berprestasi.
Lalu apakah benar gaji
guru kecil?
Guru memang gajinya sangat rendah jika dibandingkan dengan
pegawai lain. Padahal tugas dan kewajiban guru sangat berat,
karena kita mendidik anak. Jadi bukan hanya menyampaikan materi
pelajaran saja, tetapi mendidik sikap mental untuk bekal terjun
di masyarakat. Itu perlu didasari kesanggupan pendidik. Karena,
tanpa kesanggupan untuk mengarah pada profesionalisme, nanti
tidak akan tercapai hal yang kita inginkan.
Kembali ke masa lalu,
siapa yang mengilhami keingian Anda menjadi guru?
Saya punya kakak sebagai guru. Darah itu mengalir pula pada saya,
orangtua saya banyak mengarahkan sikap mental yang selalu
diberikannya sepulang saya sekolah. Saya diarahkan ke hal yang
positif. Kakak saya sudah meninggal sebelum saya lahir. Orangtua
saya selalu bercerita kalau kakak saya guru SD. Guru SD mampu
menguasai semua bidang studi. Di samping itu ada dorongan
internal dalam diri saya yang berkeinginan untuk mengembangkan
profesi sebagai guru. Orangtua saya petani dan kakak-kakak saya
yang sudah bekerja membiayai saya dari SD hingga IKIP.
Orangtua Anda petani,
kenangan apa yang menarik dari keluarga ini?
Kenangan yang tak terlupakan saat saya melihat kondisi di desa
Batungsel, Pupuan, Tabanan pada tahun 1970-an, keadaan
ekonominya sangat memprihatinkan. Saat itu pas kemarau panjang,
saya makan nasi yang dicampur sagu, pepaya, nangka atau kadang
batang pohon pisang. Dengan peristiwa itu saya teringat apa yang
dilakoni orangtua agar kita semua dapat hidup. Kami waktu itu
hanya berjuang untuk hidup, belum berpikir bagaimana untuk
mendapatkan pendidikan yang baik. Semua keluarga saya petani,
kecuali kakak saya yang tinggal di Denpasar bekerja di bengkel
mobil milik orang Cina. Di sana kakak saya diajari bela diri
Kungfu dan ia juga tertarik pencak silat. Saya diajari kakak
berlatih bela diri. Tahun 1976 ada gempa hebat yang membuat
keluarga kami semakin miskin. Namun dengan semangat tinggi
seluruh keluarga saya menyekolahkan saya yang merupakan anak
paling kecil. Orangtua saya berpikiran kalau keadaan begini
terus tidak akan ada perubahan, maka saya diberi kesempatan
untuk sekolah.
Soal hobi bela diri itu
bagaimana?
Waktu SD, saya latihan bela diri di kampung. Setelah di Denpasar,
saya diajak sama kakak dan mulai aktif ikut latihan bela diri.
Namun karena kakak saya sangat sibuk, maka saya dititipkan pada
pelatih Pencak Silat Bakti Negara, pak Made Suwena. Karena di
sana jumlahnya hanya sedikit yang latihan, lalu saya pindah ke
ranting Bima Sakti di Gemeh. Di tempat itu banyak atlet nasional
dan internasional yang dihasilkan.
Apakah Anda akan membuat
sekolah untuk mengembangkan olah raga bela diri?
Dari dulu memang saya berangan-angan untuk mewujudkan sekolah
olah raga. Namun semuanya tergantung pada dana yang tersedia.
Saya bahkan pernah membayangkan, bagaimana kalau saya sudah
start tahun 2003 untuk membuat padepokan pencak silat. Saya
berencana untuk mengumpulkan anak-anak yang memiliki potensi, ia
berangkat dari padepokan itu untuk sekolah secara formal. Ia
mampu melakoni hidupnya dalam dunia pencak silat sepanjang hari.
Namun semuanya tergantung pada dana yang ada. Saya berharap bisa
mendukung pemerintah daerah untuk mensuplai atlet dalam cabang
pencak silat. Memang untuk mewujudkannya tidak mudah dan tidak
segampang yang kita bicarakan dan butuh pengorbanan luar biasa,
baik pikiran, perasaan, waktu dan dana. Saya yakin apa yang saya
inginkan ini tidak berlebihan. Apa yang saya lakukan diiringi
doa pastilah suatu saat ada jalan.
Apa pesan Anda untuk
rekan guru?
Marilah bekerja sesuai dengan profesi kita. Didiklah anak-anak
sebagai tunas bangsa yang suatu saat bisa menjadi generasi
penerus agar kemampuan mereka lebih besar dibandingkan kita.
Mudah-mudahan anak-anak juga lebih maju dan lebih baik dalam
memikirkan bangsa dan negara dalam situasi dan kondisi sekarang.
* Pewawancara:
Asti Musman
BIODATA
Nama : I Nengah Sukama, S.Pd
Tempat/tgl lahir : Pupuan, Tabanan, 18 Agustus 1966
Nama istri : Ni Putu Suriani
Nama anak : Putu Gede Satria Bayu
Pendidikan terakhir : IKIP PGRI Bali jurusan Penjaskes
Pekerjaan : - Guru dan Wakasek SLTP PGRI I Denpasar
- Dosen IKIP PGRI Denpasar
Kegiatan lain : - Pendiri Pencak Silat
Bakti Negara Ranting Kalimutu, Denpasar
- Pendiri Sasana Tinju Amatir Kalimutu, Denpasar
Prestasi : Pembina SLTP PGRI I Denpasar untuk:
- Gerak Jalan Puputan Badung,
Juara I (delapan kali berturut)
- Guru Teladan Nasional Bidang Olah Raga (2002)
|