Nihilis yang
Malang
Pada tahap awal
dialektikanya, Hegel menegaskan bahwa sejauh kematian merupakan
kesamaan umum manusia dan hewan, yaitu dengan menerima kematian
dan bukan dengan menjemputnya, bahwa yang terdahulu membedakan
dirinya dari yang terakhir. Di jantung perjuangan primordial
untuk pengakuan, manusia diidentifikasikan dengan kematian yang
mengerikan.
(''Pemberontak'' Albert Camus, 1956).
''KALAU
kesamaan umum manusia dan hewan adalah kematian,
perbedaan umumnya apa?'' tanya Dewa Ngurah pada kawan-kawannya
yang lagi ngumpul di wantilan Pura Dalem seusai acara kerja
bakti di Setra Badung.
''Sudah jelas! Berkaitan
dengan kematian, hewan tidak membutuhkan kuburan khusus kalau
mati, tetapi manusia perlu. Karena itulah, karena kesadaran
manusia kian meningkat bahwa kematian adalah hal yang pasti,
maka secara bergantian warga banjar di seluruh Denpasar
melakukan kerja bakti setiap minggu di kuburan ini. Manusia
normal tidak sengaja menjemput kematian, hanya manusia berotak
tidak beres saja yang mengejar kematian,'' sahut Lambot sambil
menyeka peluh di jidatnya.
''Aku ingin menyanggah
pendapat Hegel, sayang dia sudah jadi serbuk tanah. Jangankan
manusia, hewan pun tidak menjemput atau menerima kematiannya
dengan sukarela. Buktinya, aku sering mendengar teriakan protes
yang memilukan, setiap aku mengantar istriku mengambil daging di
rumah potong hewan di Sanggaran. Mereka juga tidak ingin
cepat-cepat meninggalkan dunia fana ini, meskipun tercipta
sebagai binatang. Sayang, mereka tidak bisa kungfu sehingga
tidak bisa membela diri ketika sang jagal menggorok lehernya,''
sela Momon.
''Iqbal, tersangka
pengeboman di Paddy's Legian 12 Oktober lalu konon melakukan bom
bunuh diri. Itu artinya menjemput maut. Kalau sinyalemen itu
benar, apakah Iqbal yang katanya bernama asli Arnasan, termasuk
manusia edan atau hewan yang berwujud manusia?'' tanya Gus Eka
setengah guyon setengah serius.
''Mungkin dia terlalu
tunduk dan seakan-akan terhipnotis dengan ideologi dan ucapan
bosnya, Imam Samudra, yang mengatakan bahwa pengeboman tersebut
adalah perjuangan mulia, bukan perjuangan hina!'' jawab Ngurah
Santika asal-asalan.
''Kasihan Iqbal alias
Arnasan! Dia tidak punya pilihan untuk hidup mencintai sesama
manusia yang diciptakan Tuhan dengan rasa kasih sayang, bahkan
diharapkan menjadi mahluk termulia di kalangan mahluk hidup.
Bahkan manusia juga diharapkan hidup harmonis dengan binatang
buas sekali pun, dan memanfaatkan alam bukan mengeksploitasinya
demi kemasalahan bersama. Bila perlu pedang jangan dipakai
menebas kepala, tetapi ditempa jadi bajak, tombak diubah jadi
pacul, anak-anak panah dijadikan kail, sehingga kasih sayang
antara sesama mahluk tercipta. Sayang, gara-gara percaya penuh
pada ajaran Imam Samudra, dia tersesat jadi zombie, yang
tubuhnya hidup, tetapi jiwanya mati. Sekarang tubuhnya pun
tercincang tanpa bentuk,'' kilah Sutama.
''Saya dapat baca sekilas
di koran tentang latar belakang kehidupan Iqbal! Kedua
orangtuanya tidak kenal nama Iqbal, sebab nama yang mereka
berikan Arnasan. Di kampungnya yang terpencil di Sukamanah, dia
lebih dikenal dengan nama Lacong. Pemuda kelahiran 30 September
1980, pas hari G30S-PKI ke-15 tersebut, hanya tamatan SD, meski
pernah duduk di bangku SMP selama enam bulan. Di samping tidak
punya biaya, bapaknya yang bernama Satra dan ibunya Arti,
mengatakan bahwa Lacong malas belajar dan otaknya kendor.
Kehidupan keluarga itu pun terhimpit kemiskinan. Mereka
sekeluarga yang terdiri dari tujuh jiwa, tinggal di sebuah rumah
berdinding bambu berukuran 4 x 6 meter yang terletak di tengah
sawah tanpa listrik. Kasihan kedua orang tua itu, yang terpukul
batinnya karena baru tahu kalau anak keempat dari lima
bersaudara tersebut, teroris. Bahkan lebih tragis lagi, pulang
hanya tinggal nama karena menjemput maut di Legian Kuta, dengan
tubuh berkeping-keping,'' ulas Sumadi lancar.
''Kematian Iqbal mungkin
sesuai dengan pendapat Hegel, dedengkot dialektika yang mengulas
tentang kematian itu. Kematian yang mengerikan adalah jantung
perjuangan primordial manusia dalam meraih pengakuan.
Lebih-lebih Iqbal anak kampung yang hidup miskin, tentunya sulit
memperoleh pengakuan di zaman yang serba materialistis ini.
Harta dan tahta adalah paspor utama untuk memperoleh pengakuan
sekaligus sanjungan. Hasrat dasariah manusia adalah ingin
dikenal, bila mungkin terkenal. Sayang Iqbal, di bawah pengaruh
sihir Imam Samudra, melakukannya tanpa kesadaran diri,''
komentar Rubag.
''Menghancurkan suatu
objek, seperti Tragedi Legian Kuta, tanpa kesadaran, seperti
mengunyah daging saat makan, adalah murni aktivitas hewani.
Begitu pendapat Albert Camus. Menurutnya, makan belum tentu
dilakukan dengan kesadaran. Aku setuju! Sebab, kebanyakan orang
makan karena tuntutan perut yang lapar. Bukan karena kesadaran!
Karenanya, tidak jarang, agar bisa makan orang-orang melakukan
tindakan kriminal. Ironisnya, kelompok Serang di bawah pimpinan
Imam Samudra, agar bisa membunuh manusia sebanyak-banyaknya
justru merampok buat membiayai kebrutalannya,'' tandas Suwirya
alias Togog, tertarik ikut urun pendapat.
''Anehnya, Amrozi dan
Imam Samudra mengaku melakukan tindakan tersebut atas nama Tuhan
dan membela agama. Padahal, menurutku, kedua dan mungkin semua
pelaku pemboman di Kuta itu adalah kaum nihilis. Aku curiga,
jangan-jangan mereka meniru tindakan The Decembrisis kelompok
teroris radikal Rusia pertengahan abad XIX, yang menganggap diri
mereka paranormal. Motto mereka, 'Penghancuran masa kini adalah
prokreasi masa depan'! Mereka mengumumkan perang terhadap
filsafat dan seni, etika, agama, adat istiadat dan gaya hidup
yang baik. Kurang ajarnya, Pisarev, salah seorang pimpinan
kelompok itu, ketika merasa gerakannya sukses dan dibalut
euforia kemenangan, berkehendak membunuh ibu kandungnya. Ini
lebih jahat dari si Malin Kundang anak cilako itu!'' imbuh
Komang Apel. ''Perlu dilacak, mengapa orang-orang menjadi
nihilis? Dalam hukum nalar, tidak ada suatu tindakan dilakukan
tanpa sebab-sebab! Tetapi aku tidak jelas, apakah para pengebom
tersebut punya nalar atau tidak?'' sergah Sumadi.
''Nalar nihilis adalah
ketiadaan atau nothingness dan mementingkan diri sendiri atau
self interest. Coba simak, bagaimana Imam Samudra terbirit-birit
sembunyi ke sana ke mari, apakah itu bukan ciri bahwa dia
mementingkan diri sendiri, keselamatan diri sendiri? Akibat dari
tindakannya, ketika dia tertangkap polisi, dia segera 'menyanyi'
dan menyebut nama-nama sehingga banyak orang ikut terseret dan
menderita. Bahkan, sebagai seorang militan, dia tidak seharusnya
mengajukan permintaan yang menggelikan pada polisi yang akrab
padanya. Dia minta agar tetap ditemani seandainya harus
diinterogasi di Bali, karena takut keamanannya terancam. Seorang
radikalis dan nihilis kok takut? Padahal orang-orang Bali tidak
sekejam dan sebrutal dia dan kelompoknya,'' sambung Apel.
''Aku tambahkan,
kecemburuan sosial adalah penyebab nalar nothingness-nya. Soal
benci pada Amerika Serikat dan para sekutunya hanyalah alasan
buat menutupi agar mendapat dukungan luas. Ternyata dukungan
terhadap tindakannya tidak begitu banyak, justru yang
mengutuknya lebih banyak. Nihilis yang malang!'' tambah Jernat.
* Aridus
|