kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

OPINI


Nihilis yang Malang

Pada tahap awal dialektikanya, Hegel menegaskan bahwa sejauh kematian merupakan kesamaan umum manusia dan hewan, yaitu dengan menerima kematian dan bukan dengan menjemputnya, bahwa yang terdahulu membedakan dirinya dari yang terakhir. Di jantung perjuangan primordial untuk pengakuan, manusia diidentifikasikan dengan kematian yang mengerikan.
(''Pemberontak'' Albert Camus, 1956).

''KALAU kesamaan umum manusia dan hewan adalah kematian, perbedaan umumnya apa?'' tanya Dewa Ngurah pada kawan-kawannya yang lagi ngumpul di wantilan Pura Dalem seusai acara kerja bakti di Setra Badung.

''Sudah jelas! Berkaitan dengan kematian, hewan tidak membutuhkan kuburan khusus kalau mati, tetapi manusia perlu. Karena itulah, karena kesadaran manusia kian meningkat bahwa kematian adalah hal yang pasti, maka secara bergantian warga banjar di seluruh Denpasar melakukan kerja bakti setiap minggu di kuburan ini. Manusia normal tidak sengaja menjemput kematian, hanya manusia berotak tidak beres saja yang mengejar kematian,'' sahut Lambot sambil menyeka peluh di jidatnya.

''Aku ingin menyanggah pendapat Hegel, sayang dia sudah jadi serbuk tanah. Jangankan manusia, hewan pun tidak menjemput atau menerima kematiannya dengan sukarela. Buktinya, aku sering mendengar teriakan protes yang memilukan, setiap aku mengantar istriku mengambil daging di rumah potong hewan di Sanggaran. Mereka juga tidak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia fana ini, meskipun tercipta sebagai binatang. Sayang, mereka tidak bisa kungfu sehingga tidak bisa membela diri ketika sang jagal menggorok lehernya,'' sela Momon.

''Iqbal, tersangka pengeboman di Paddy's Legian 12 Oktober lalu konon melakukan bom bunuh diri. Itu artinya menjemput maut. Kalau sinyalemen itu benar, apakah Iqbal yang katanya bernama asli Arnasan, termasuk manusia edan atau hewan yang berwujud manusia?'' tanya Gus Eka setengah guyon setengah serius.

''Mungkin dia terlalu tunduk dan seakan-akan terhipnotis dengan ideologi dan ucapan bosnya, Imam Samudra, yang mengatakan bahwa pengeboman tersebut adalah perjuangan mulia, bukan perjuangan hina!'' jawab Ngurah Santika asal-asalan.

''Kasihan Iqbal alias Arnasan! Dia tidak punya pilihan untuk hidup mencintai sesama manusia yang diciptakan Tuhan dengan rasa kasih sayang, bahkan diharapkan menjadi mahluk termulia di kalangan mahluk hidup. Bahkan manusia juga diharapkan hidup harmonis dengan binatang buas sekali pun, dan memanfaatkan alam bukan mengeksploitasinya demi kemasalahan bersama. Bila perlu pedang jangan dipakai menebas kepala, tetapi ditempa jadi bajak, tombak diubah jadi pacul, anak-anak panah dijadikan kail, sehingga kasih sayang antara sesama mahluk tercipta. Sayang, gara-gara percaya penuh pada ajaran Imam Samudra, dia tersesat jadi zombie, yang tubuhnya hidup, tetapi jiwanya mati. Sekarang tubuhnya pun tercincang tanpa bentuk,'' kilah Sutama.

''Saya dapat baca sekilas di koran tentang latar belakang kehidupan Iqbal! Kedua orangtuanya tidak kenal nama Iqbal, sebab nama yang mereka berikan Arnasan. Di kampungnya yang terpencil di Sukamanah, dia lebih dikenal dengan nama Lacong. Pemuda kelahiran 30 September 1980, pas hari G30S-PKI ke-15 tersebut, hanya tamatan SD, meski pernah duduk di bangku SMP selama enam bulan. Di samping tidak punya biaya, bapaknya yang bernama Satra dan ibunya Arti, mengatakan bahwa Lacong malas belajar dan otaknya kendor. Kehidupan keluarga itu pun terhimpit kemiskinan. Mereka sekeluarga yang terdiri dari tujuh jiwa, tinggal di sebuah rumah berdinding bambu berukuran 4 x 6 meter yang terletak di tengah sawah tanpa listrik. Kasihan kedua orang tua itu, yang terpukul batinnya karena baru tahu kalau anak keempat dari lima bersaudara tersebut, teroris. Bahkan lebih tragis lagi, pulang hanya tinggal nama karena menjemput maut di Legian Kuta, dengan tubuh berkeping-keping,'' ulas Sumadi lancar.

''Kematian Iqbal mungkin sesuai dengan pendapat Hegel, dedengkot dialektika yang mengulas tentang kematian itu. Kematian yang mengerikan adalah jantung perjuangan primordial manusia dalam meraih pengakuan. Lebih-lebih Iqbal anak kampung yang hidup miskin, tentunya sulit memperoleh pengakuan di zaman yang serba materialistis ini. Harta dan tahta adalah paspor utama untuk memperoleh pengakuan sekaligus sanjungan. Hasrat dasariah manusia adalah ingin dikenal, bila mungkin terkenal. Sayang Iqbal, di bawah pengaruh sihir Imam Samudra, melakukannya tanpa kesadaran diri,'' komentar Rubag.

''Menghancurkan suatu objek, seperti Tragedi Legian Kuta, tanpa kesadaran, seperti mengunyah daging saat makan, adalah murni aktivitas hewani. Begitu pendapat Albert Camus. Menurutnya, makan belum tentu dilakukan dengan kesadaran. Aku setuju! Sebab, kebanyakan orang makan karena tuntutan perut yang lapar. Bukan karena kesadaran! Karenanya, tidak jarang, agar bisa makan orang-orang melakukan tindakan kriminal. Ironisnya, kelompok Serang di bawah pimpinan Imam Samudra, agar bisa membunuh manusia sebanyak-banyaknya justru merampok buat membiayai kebrutalannya,'' tandas Suwirya alias Togog, tertarik ikut urun pendapat.

''Anehnya, Amrozi dan Imam Samudra mengaku melakukan tindakan tersebut atas nama Tuhan dan membela agama. Padahal, menurutku, kedua dan mungkin semua pelaku pemboman di Kuta itu adalah kaum nihilis. Aku curiga, jangan-jangan mereka meniru tindakan The Decembrisis kelompok teroris radikal Rusia pertengahan abad XIX, yang menganggap diri mereka paranormal. Motto mereka, 'Penghancuran masa kini adalah prokreasi masa depan'! Mereka mengumumkan perang terhadap filsafat dan seni, etika, agama, adat istiadat dan gaya hidup yang baik. Kurang ajarnya, Pisarev, salah seorang pimpinan kelompok itu, ketika merasa gerakannya sukses dan dibalut euforia kemenangan, berkehendak membunuh ibu kandungnya. Ini lebih jahat dari si Malin Kundang anak cilako itu!'' imbuh Komang Apel. ''Perlu dilacak, mengapa orang-orang menjadi nihilis? Dalam hukum nalar, tidak ada suatu tindakan dilakukan tanpa sebab-sebab! Tetapi aku tidak jelas, apakah para pengebom tersebut punya nalar atau tidak?'' sergah Sumadi.

''Nalar nihilis adalah ketiadaan atau nothingness dan mementingkan diri sendiri atau self interest. Coba simak, bagaimana Imam Samudra terbirit-birit sembunyi ke sana ke mari, apakah itu bukan ciri bahwa dia mementingkan diri sendiri, keselamatan diri sendiri? Akibat dari tindakannya, ketika dia tertangkap polisi, dia segera 'menyanyi' dan menyebut nama-nama sehingga banyak orang ikut terseret dan menderita. Bahkan, sebagai seorang militan, dia tidak seharusnya mengajukan permintaan yang menggelikan pada polisi yang akrab padanya. Dia minta agar tetap ditemani seandainya harus diinterogasi di Bali, karena takut keamanannya terancam. Seorang radikalis dan nihilis kok takut? Padahal orang-orang Bali tidak sekejam dan sebrutal dia dan kelompoknya,'' sambung Apel.

''Aku tambahkan, kecemburuan sosial adalah penyebab nalar nothingness-nya. Soal benci pada Amerika Serikat dan para sekutunya hanyalah alasan buat menutupi agar mendapat dukungan luas. Ternyata dukungan terhadap tindakannya tidak begitu banyak, justru yang mengutuknya lebih banyak. Nihilis yang malang!'' tambah Jernat.

* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com