kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

BERITA


Hujan Berkubang Lumpur, Kemarau Berpupur Debu

SAAT hujan berkubang dengan lumpur, ketika musim kemarau berpupur debu. Begitu ungkapan pas untuk menggambarkan nasib Ketut Wira, seorang kepala sekolah di SD 3 Desa Julah, Tejakula, Buleleng. Meski letaknya tidak terlalu terpencil -- sekitar 5 kilometer dari jalan besar Desa Sembiran, Tejakula -- namun untuk menuju sekolah tempatnya mengajar itu, Wira harus rela menempuh lautan debu jika musim kemarau. Atau tertatih-tatih mendaki licinnya Lumpur jika musim hujan tiba. Belum lagi kalau banjir.

Wira menuturkan, SD 3 Julah termasuk salah satu dari tiga sekolah terpencil di ujung timur Buleleng itu. Dua sekolah lainnya adalah SD 3 Tembok yang letaknya di Dadap Tebel dan SD 4 Sembiran yang berlokasi di Bukit Sari. Letak sekolahnya berada di kawasan perkebunan dan pemukiman dengan jarak rumah-rumah yang berjauhan. Antara sekolah, rumah satu dengan rumah lainnya ada yang berjarak lebih dari empat kilometer.

Susahnya lagi, untuk menuju sekolah, para siswa atau guru harus melewati jalan setapak di tengah perkebunan yang kadang harus melewati tanjakan, turunan tajam atau semak. Di situlah Wira, lelaki asal Tajun, Kubutambahan, ini mengabdikan ilmunya dalam rangka melahirkan orang-orang pintar. Istrinya lebih beruntung, mengajar di SD 2 Julah yang letaknya di pinggir jalan besar, meski juga jauh dari keramaian kota.

Wira tinggal di sebuah rumah yang juga jauh dari sekolahnya. Setiap hari pulang-pergi ke sekolah ia harus melewati jalan bergeladag yang batu-batunya sudah lepas berserakan. Saking rusaknya jalan itu, kadang ia harus berjalan kaki. Selain karena licin di kala hujan, batu-batu jalan yang berserakan juga sangat berbahaya bagi pengendara motor. Kalau hujan, jalan-jalan terkikis air sehingga berlubang-lubang dan pinggirannya curam. Wira mengaku heran, jalan itu sudah digeladag sejak tujuh tahun lalu, tetapi hingga kini tak kunjung diaspal. "Untuk menunjang pendidikan dan ekonomi, seharusnya jalan itu sudah diaspal," ujar lelaki 50 tahun itu.

Akibat rumah yang menyebar berjauhan, kegiatan belajar-mengajar juga sering terhambat. Wira mengakui, siswa sering terlambat masuk kelas karena jarak rumah yang jauh. Selain itu, kegiatan ekstra kurikuler semacam pramuka dan olah raga juga tidak bisa dilaksanakan karena siswa-siswa tidak kuat masuk dua kali sehari. "Karena rumahnya jauh, anak-anak baru tiba di rumah pada sore hari. Bagaimana mereka bisa masuk untuk lagi untuk mengikuti kegiatan lain," tandasnya. Wira mengaku geregetan dengan kondisi itu. Tetapi mau apa lagi. Dari segi ekonomi, sebagai guru di wilayah terpencil, ia memang mendapat keistimewaan dari pemerintah. Dapat insentif Rp 50 ribu, dan sebagai guru baru dua kali ini ia menerima tunjangan Rp 100 ribu. Tentu tambahan sebesar itu belumlah cukup jika dibandingkan pengabdiannya "bertapa" di daerah kecil untuk membentuk "orang besar" nantinya. (ole)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com