Hujan
Berkubang Lumpur, Kemarau Berpupur Debu
SAAT
hujan berkubang dengan lumpur, ketika musim kemarau berpupur
debu. Begitu ungkapan pas untuk menggambarkan nasib Ketut Wira,
seorang kepala sekolah di SD 3 Desa Julah, Tejakula, Buleleng.
Meski letaknya tidak terlalu terpencil -- sekitar 5 kilometer
dari jalan besar Desa Sembiran, Tejakula -- namun untuk menuju
sekolah tempatnya mengajar itu, Wira harus rela menempuh lautan
debu jika musim kemarau. Atau tertatih-tatih mendaki licinnya
Lumpur jika musim hujan tiba. Belum lagi kalau banjir.
Wira menuturkan, SD 3
Julah termasuk salah satu dari tiga sekolah terpencil di ujung
timur Buleleng itu. Dua sekolah lainnya adalah SD 3 Tembok yang
letaknya di Dadap Tebel dan SD 4 Sembiran yang berlokasi di
Bukit Sari. Letak sekolahnya berada di kawasan perkebunan dan
pemukiman dengan jarak rumah-rumah yang berjauhan. Antara
sekolah, rumah satu dengan rumah lainnya ada yang berjarak lebih
dari empat kilometer.
Susahnya lagi, untuk
menuju sekolah, para siswa atau guru harus melewati jalan
setapak di tengah perkebunan yang kadang harus melewati tanjakan,
turunan tajam atau semak. Di situlah Wira, lelaki asal Tajun,
Kubutambahan, ini mengabdikan ilmunya dalam rangka melahirkan
orang-orang pintar. Istrinya lebih beruntung, mengajar di SD 2
Julah yang letaknya di pinggir jalan besar, meski juga jauh dari
keramaian kota.
Wira tinggal di sebuah
rumah yang juga jauh dari sekolahnya. Setiap hari pulang-pergi
ke sekolah ia harus melewati jalan bergeladag yang batu-batunya
sudah lepas berserakan. Saking rusaknya jalan itu, kadang ia
harus berjalan kaki. Selain karena licin di kala hujan,
batu-batu jalan yang berserakan juga sangat berbahaya bagi
pengendara motor. Kalau hujan, jalan-jalan terkikis air sehingga
berlubang-lubang dan pinggirannya curam. Wira mengaku heran,
jalan itu sudah digeladag sejak tujuh tahun lalu, tetapi hingga
kini tak kunjung diaspal. "Untuk menunjang pendidikan dan
ekonomi, seharusnya jalan itu sudah diaspal," ujar lelaki
50 tahun itu.
Akibat rumah yang
menyebar berjauhan, kegiatan belajar-mengajar juga sering
terhambat. Wira mengakui, siswa sering terlambat masuk kelas
karena jarak rumah yang jauh. Selain itu, kegiatan ekstra
kurikuler semacam pramuka dan olah raga juga tidak bisa
dilaksanakan karena siswa-siswa tidak kuat masuk dua kali sehari.
"Karena rumahnya jauh, anak-anak baru tiba di rumah pada
sore hari. Bagaimana mereka bisa masuk untuk lagi untuk
mengikuti kegiatan lain," tandasnya. Wira mengaku geregetan
dengan kondisi itu. Tetapi mau apa lagi. Dari segi ekonomi,
sebagai guru di wilayah terpencil, ia memang mendapat
keistimewaan dari pemerintah. Dapat insentif Rp 50 ribu, dan
sebagai guru baru dua kali ini ia menerima tunjangan Rp 100 ribu.
Tentu tambahan sebesar itu belumlah cukup jika dibandingkan
pengabdiannya "bertapa" di daerah kecil untuk
membentuk "orang besar" nantinya. (ole)
|