Membludak,
''Pemedek'' ke Pura Sakenan
SABTU (30/11) atau
Saniscara Kliwon Kuningan, kemarin, merupakan hari raya Kuningan
yang juga bertepatan dengan piodalan di Pura Sakenan, Denpasar.
Ribuan pemedek umat Hindu tangkil ke pura yang terletak di Pulau
Serangan itu. Mereka mendatangi pura yang berada di sebelah
selatan Denpasar ini bersama rombongan atau bersama keluarga
masing-masing dengan menggunakan kendaraan bermotor. Inilah yang
menyebabkan parkir menjadi ramai.
Mengantisipasi keadaan
tersebut, pihak Desa Adat Serangan telah mengerahkan 90 juru
parkir. Areal parkir yang disediakan seluas 5 hektar,
masing-masing sekitar 3 hektar untuk sepeda motor dan 2 hektar
untuk mobil. Kendaraan yang masuk dikenakan retribusi parkir Rp
1.000 untuk sepeda motor dan Rp 3.000 untuk mobil. Menurut Kadus
Banjar Dukuh, Serangan I Made Karsa, hasil pungutan ini nanti
akan dikelola oleh desa adat bersama pihak banjar yang dapat
giliran sebagai panitia piodalan.
Antusiasme masyarakat
untuk melakukan persembahyangan juga terlihat dari antrean
panjang di depan pintu masuk areal pura. Walaupun pemedek masuk
ke areal pura saling berdesakan satu sama lain, mereka dapat
melakukan persembahyangan dengan khusyuk diiringi tetabuhan
gong.
Menurut Ida Bagus Gede
Pidada, pengabih Puri Kesiman, runtutan pujawali di puncak
piodalan diawali dengan Medudus Alit Nyatur Lebah serta
menghaturkan bebangkit di Pura Pesamuan Agung dan Pura Susunan
Wadon. "Upacara diprioritaskan di Pura Dalem Sakenan,"
terang Pidada.
Upacara yang dipuput Ida
Pedanda Gde Putra Bajing dari Geria Tegal Jingga, Lebah dan Ida
Pedanda Gde Oka Timbul dari Geria Timbul Intaran, Sanur ini,
juga menghaturkan peras pengambean medulur antuk pakelem alit ke
segara. Rangkaian acara piodalan berlangsung selama tiga hari
mulai Minggu (1/12) sampai Selasa (3/12).
Pura Sakenan di-empon
oleh Puri Agung Kesiman dengan di-emong oleh tiga desa adat
yaitu Pemogan, Suwung Kepaon dan Serangan. Upacara melibatkan 13
pemangku utama dan semua pemangku yang berada di ketiga desa
adat tersebut. "Mereka ngayah secara bergiliran,"
tambah Pidada yang berasal dari Gria Mranggi Sanur ini.
Agar pelaksanaan upacara
dapat berjalan lancar dan aman, disiapkan juga petugas dari DKP,
PLN, PDAM Pemkot Denpasar serta petugas keamanan dari Polsek
Sanur dan pecalang ketiga desa adat. Mengantisipasi keamanan,
ketertiban serta kelancaran upacara, Polsek Sanur mengerahkan
sekitar 20 petugas ditambah 67 pecalang.
Nasib Jukung
Terkait piodalan di Sakenan ini, biasanya "sopir"
jukung bisa meraup untung yang tidak sedikit jumlahnya. Namun,
setelah jalan penghubung kota Denpasar dengan pura itu dibangun,
bagaimanakah nasib jukung kini? Ribuan umat mendatangi Pura
Sakenan dengan mengendarai sepeda motor dan mobil karena kondisi
jalan menuju lokasi makin membaik. Berbeda dengan lima tahun
sebelumnya, kebanyakan umat pedek tangkil ke pura itu
menggunakan sarana angkutan perahu atau jukung.
Hal ini mengakibatkan 38
orang yang tergabung dalam perkumpulan Asti Segara kehilangan
penghasilan. Menurut seorang anggota Asti Segara, pada saat
piodalan seperti ini biasanya para sopir jukung bisa memperoleh
penghasilan lebih untuk mencukupi kehidupan bersama keluarga.
"Biasanya kami memperoleh penghasilan sekitar Rp 1,5 juta,"
ujar Suija, salah seorang sopir jukung itu.
Suija juga menambahkan,
saat ini perahu-perahu hanya digunakan untuk mencari ikan di
laut, sedangkan bagi mereka yang tidak biasa melaut lebih
memilih profesi sebagai buruh bangunan.
Serangan yang dulu
luasnya sekitar 111 hektar kini bertambah menjadi sekitar 500
hektar, setelah adanya penimbunan. Sebagian besar penduduknya
dulu berprofesi sebagai sopir jukung, terutama pada saat
piodalan. Namun kini, mereka hanya bisa menggantungkan nasib
sebagai penangkap ikan dan buruh bangunan. (bal/gun/wah)
|