kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

BERITA


Membludak, ''Pemedek'' ke Pura Sakenan

SABTU (30/11) atau Saniscara Kliwon Kuningan, kemarin, merupakan hari raya Kuningan yang juga bertepatan dengan piodalan di Pura Sakenan, Denpasar. Ribuan pemedek umat Hindu tangkil ke pura yang terletak di Pulau Serangan itu. Mereka mendatangi pura yang berada di sebelah selatan Denpasar ini bersama rombongan atau bersama keluarga masing-masing dengan menggunakan kendaraan bermotor. Inilah yang menyebabkan parkir menjadi ramai.

Mengantisipasi keadaan tersebut, pihak Desa Adat Serangan telah mengerahkan 90 juru parkir. Areal parkir yang disediakan seluas 5 hektar, masing-masing sekitar 3 hektar untuk sepeda motor dan 2 hektar untuk mobil. Kendaraan yang masuk dikenakan retribusi parkir Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 3.000 untuk mobil. Menurut Kadus Banjar Dukuh, Serangan I Made Karsa, hasil pungutan ini nanti akan dikelola oleh desa adat bersama pihak banjar yang dapat giliran sebagai panitia piodalan.

Antusiasme masyarakat untuk melakukan persembahyangan juga terlihat dari antrean panjang di depan pintu masuk areal pura. Walaupun pemedek masuk ke areal pura saling berdesakan satu sama lain, mereka dapat melakukan persembahyangan dengan khusyuk diiringi tetabuhan gong.

Menurut Ida Bagus Gede Pidada, pengabih Puri Kesiman, runtutan pujawali di puncak piodalan diawali dengan Medudus Alit Nyatur Lebah serta menghaturkan bebangkit di Pura Pesamuan Agung dan Pura Susunan Wadon. "Upacara diprioritaskan di Pura Dalem Sakenan," terang Pidada.

Upacara yang dipuput Ida Pedanda Gde Putra Bajing dari Geria Tegal Jingga, Lebah dan Ida Pedanda Gde Oka Timbul dari Geria Timbul Intaran, Sanur ini, juga menghaturkan peras pengambean medulur antuk pakelem alit ke segara. Rangkaian acara piodalan berlangsung selama tiga hari mulai Minggu (1/12) sampai Selasa (3/12).

Pura Sakenan di-empon oleh Puri Agung Kesiman dengan di-emong oleh tiga desa adat yaitu Pemogan, Suwung Kepaon dan Serangan. Upacara melibatkan 13 pemangku utama dan semua pemangku yang berada di ketiga desa adat tersebut. "Mereka ngayah secara bergiliran," tambah Pidada yang berasal dari Gria Mranggi Sanur ini.

Agar pelaksanaan upacara dapat berjalan lancar dan aman, disiapkan juga petugas dari DKP, PLN, PDAM Pemkot Denpasar serta petugas keamanan dari Polsek Sanur dan pecalang ketiga desa adat. Mengantisipasi keamanan, ketertiban serta kelancaran upacara, Polsek Sanur mengerahkan sekitar 20 petugas ditambah 67 pecalang.

Nasib Jukung
Terkait piodalan di Sakenan ini, biasanya "sopir" jukung bisa meraup untung yang tidak sedikit jumlahnya. Namun, setelah jalan penghubung kota Denpasar dengan pura itu dibangun, bagaimanakah nasib jukung kini? Ribuan umat mendatangi Pura Sakenan dengan mengendarai sepeda motor dan mobil karena kondisi jalan menuju lokasi makin membaik. Berbeda dengan lima tahun sebelumnya, kebanyakan umat pedek tangkil ke pura itu menggunakan sarana angkutan perahu atau jukung.

Hal ini mengakibatkan 38 orang yang tergabung dalam perkumpulan Asti Segara kehilangan penghasilan. Menurut seorang anggota Asti Segara, pada saat piodalan seperti ini biasanya para sopir jukung bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mencukupi kehidupan bersama keluarga. "Biasanya kami memperoleh penghasilan sekitar Rp 1,5 juta," ujar Suija, salah seorang sopir jukung itu.

Suija juga menambahkan, saat ini perahu-perahu hanya digunakan untuk mencari ikan di laut, sedangkan bagi mereka yang tidak biasa melaut lebih memilih profesi sebagai buruh bangunan.

Serangan yang dulu luasnya sekitar 111 hektar kini bertambah menjadi sekitar 500 hektar, setelah adanya penimbunan. Sebagian besar penduduknya dulu berprofesi sebagai sopir jukung, terutama pada saat piodalan. Namun kini, mereka hanya bisa menggantungkan nasib sebagai penangkap ikan dan buruh bangunan. (bal/gun/wah)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com