Guru di Daerah Sulit
Musim Kemarau, Puasa
Mandi Besar
Nasib guru identik dengan
perawat. Namun profesi perawat di daerah terpencil masih
mendingan karena paling tidak lokasi Puskesmas tempat mereka
bekerja ada di kota atau sekitar kota kecamatan. Namun untuk
sekolah bisa jadi ia berada di kaki gunung, atau kaki bukit.
Apalagi sekolah tersebut ada di kawasan sulit.
BAGI
pejabat di Dinas Pendidikan Nasional Pusat, sekalipun ada
sekolah di Bali di lokasi terpencil, masih belum dikategorikan
daerah sulit. Sangat jauh kondisinya dibandingkan dengan daerah
Irian Jaya atau Kalimantan. Sejauh-jauh sekolah di Bali yang
dianggap terpencil, masih bisa dilalui dengan sepeda motor atau
berjalan kaki. Karena itulah menurut Kepala Dinas Pendidikan
Nasional Bali, Gusti Ngurah Oka, S.E., di Bali tidak ada
katagori "daerah sulit" sehingga gurunya tidak ada
yang mendapat gaji istimewa sebagai guru di daerah sulit.
Lihat saja kawasan Nusa
Penida, Klungkung dan kabupaten lainnya. Umumnya guru di daerah
ini paling tidak suka bekerja lama-lama di sekolah ini. Salah
satu contoh yang pernah terjadi di SLTPN Tanglad, Nusa Penida.
Sebelum era otonomi dearah, siapa pun guru yang mengajar di
daerah paling tinggi di Kepulauan Nusa Penida itu tak sampai
bertahan setahun. Ada yang hanya bertahan empat bulan, setelah
itu minta pindah tugas. Bahkan ada yang baru sehari mengantongi
SK, dan bertugas melali sehari langsung sudah pindah ke daerah
lain di Denpasar.
Maklum, jika diteliti,
sangat sedikit SDM setempat yang bisa melanjutkan studi ke
lembaga pendidikan tenaga kependidikan sejenis IKIP atau STKIP.
Bayangkan saja untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari saja mereka sangat sulit, apalagi untuk melanjutkan
studi ke perguruan tinggi. Makanya wajar, semua tenaga guru di
desa ini didrop dari daerah lain. Itulah penyebab utama mengapa
guru di lokasi ini tak bisa bertahan lama bertugas. Apalagi
zaman itu sangat mudah untuk meminta rekomendasi. Yang paling
pusing adalah kepala sekolahnya. Jumlah anak yang banyak tentu
tak seimbang dengan jumlah gurunya.
Kondisi Geografis
Kondisi geografis Desa Tanglad, Nusa Penida menyebabkan daerah
ini bisa disebut paling sulit mendapatkan guru. Pada musim
kemarau panjang, warga desa hanya mengandalkan sisa air cubang
(air hujan yang ditampung di bak). Air itu pun hanya bertahan
untuk keperluan hidup selama sebulan. Untuk mengirit air, tak
jarang para gurunya harus dibawakan seember air oleh para
siswanya. Mereka pun pada musim ini tidak lagi mengenal mandi
besar alias seluruh tubuh tersiram air. Siswa hanya memerlukan
dua colek air untuk membersihkan peceh di dua sudut matanya,
sementara gurunya pada kondisi paling sulit hanya bisa mesugi (membersihkan
muka).
Jika mau membeli air
bersih ada saja truk yang mendrop kebutuhan air, namun untuk
ukuran warga Tanglad tergolong mahal. Para guru yang pernah
bertugas di sini mengaku kadangkala enak dan senang juga tugas
di desa ini. Mereka tidak tergiur dengan kemewahan barang di
toko swalayan dan kebutuhan konsumtif lainnya seperti yang
dialami para guru di kota besar. Gaji mereka bisa dikatakan
lebih bisa bertahan dibandingkan guru di kota-kota lainnya.
Hanya saja biaya hidup mereka lebih mahal karena semua kebutuhan
pokok di desa ini harganya dua kali lipat dibandingkan di kota.
Apalagi yang namanya biaya transportasi. Untuk naik ojek dari
pelabuhan Buyuk ke Tanglad memerlukan biaya Rp 20.000 -Rp
25.000.
Jika untuk ukuran guru
SLTP yang paling susah ada di Desa Tanglad, untuk guru SD yang
paling kritis adalah di Desa Sekartaji. Desa yang terletak
paling tinggi dan ujung selatan Nusa Penida ini tergolong paling
gersang. Makanya guru-guru di sini bisa dikatakan yang paling
sengsara nasibnya. Mereka termasuk yang paling jarang mendapat
jatah air bersih.
Kehidupan gurunya nyaris
sama dengan kehidupan masyarakat setempat. Barangkali jika
iklimnya dingin seperti Kintamani atau Desa Songan, jarak tempat
anak-anak sekolah dua-tiga kilometer tidak masalah. Namun di
sini selain asal siswanya dari jauh yakni 2 kilometer, sementara
cuacanya sangat panas.
Semangat bersekolah
anak-anak Nusa Penida ini patut diacungi jempol. Mereka
rata-rata tak pernah diberi uang jajan oleh orangtuanya, namun
bisa bertahan jalan kaki dua kilometer bahkan lebih. Hanya saja
bisa diprediksi sendiri bagaimana membentuk siswa seutuhnya
yakni sehat jasmani, rohani dan sosial serta pintar, sementara
gizi makanannya juga kurang.
Untuk pengadaan guru SD
di daerah ini tampaknya tidak masalah, hampir tersebar merata
dan lebih banyak dilakoni masyarakat setempat. Sehingga masalah
kekurangan guru SD di daerah ini nyaris tak pernah mencuat.
Hampir di semua desa di Nusa Penida bagian atas kondisi
pendidikannya seperti itu. Pada musim kemarau guru dan siswanya
terpaksa puasa mandi. Walaupun ada sumber air di Guyangan dan
Penida, lokasinya sangat jauh. Mereka harus ngreges abing
sepanjang 5-6 kilometer untuk mendapatkan dua ember air sekali
jalan.
Pengangkatan Air
Dulu pernah dicanangkan program Nusa Penida Sejahtera. Hampir
semua proyek pembangunan dan ke-PU-an diarahkan untuk
mensejahterakan warga Nusa Penida, namun kini program itu
tenggelam tak ada gemanya.
Proyek P3KT, pengangkatan
air Guyangan sudah hampir terealisasi, namun akhirnya gagal lagi.
Setelah era otonomi apakah program ini akan dilanjutkan? Jika
program fisik dikhawatirkan tidak bisa jalan di Nusa Penida,
minimal soal nasib gurunya perlu diperhatikan pemkab setempat.
Sistem guru kontrak seperti yang diutarakan Ketua PD I PGRI
Bali, Drs. I Gusti Lanang Jelantik, M.Si, mungkin bisa diterima.
Para remaja lulusan SLTA atau sarjana yang belum bekerja bisa
dioptimalkan disiapkan jadi guru kontrak. Mereka bisa
dikursuskan secara singkat soal program mengajar Akta IV, atau
disekolahkan setara diploma dua.
Sistem guru kontrak ini
memungkinkan daerah yang kekurangan guru akan diisi oleh pemuda
setempat. Sehingga guru yang direkrut benar-benar sudah tahan
banting terhadap kondisi dan cuaca di desa tersebut. Setelah
mereka mapan, secara bertahap, guru kontrak ini mulai diangkat
jadi PNS. "Itulah cara berpikir paling sederhna untuk
mengatasi kekurangan guru di Nusa Penida," ujar Lanang
Jelantik.
Sistem ini ditekankan
Rektor IKIP Singaraja, Prof. Dr. Nyoman Dantes, jangan kelamaan
membuat guru kontrak. Sebab, jika mereka dikontrak berlama-lama
dan tak diangkat jadi PNS akan menimbulkan masalah di kemudian
hari. Ia menyarankan alangkah baiknya pemkab mulai sekarang
mendidik calon gurunya di sekolah guru berdasarkan kebutuhan
guru dua tahun ke depan. "Inilah risikonya otonomi derah,
kesulitan guru juga harus diperhitungkan," ujarnya. (sue)
|