kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

BERITA


Imam Samudra Menjawab Asal-asalan

* Pengacaranya Diteror

Jakarta (Bali Post) -
Pemeriksaan secara maraton tampaknya membuat Abdul Aziz alias Imam Samudra, tersangka otak peledakan bom Bali menjawab pertanyaan Tim Penyidik Polda Bali dan Mabes Polri secara ngelantur, asal-asalan bahkan seenaknya. Ia diperiksa saat ditanya mengenai peristiwa pengeboman di Bali. Sehingga pemeriksaan Sabtu (30/11) kemarin di gedung Reserse Kriminal Mabes Polri Jakarta, yang dimulai pukul 10.00 WIB akhirnya dihentikan pukul 14.00 WIB untuk memberi kesempatan lelaki kelahiran Serang, Banten itu istirahat.

Apalagi, pemeriksaan itu dilakukan pada saat Imam dalam kondisi puasa di bulan Ramadan, sehingga diduga konsentrasi Imam kurang fokus menjawab pertanyaan. ''Memasuki pemeriksaan secara maraton pada hari kelima, tampak tersangka Imam mulai menjawab asal-asalan, padahal pertanyaan yang diajukan baru sekitar 35 pertanyaan seputar peledakan bom Bali. Karena jawabannya mulai tak karuan, ya kami hentikan sementara, nanti kami periksa lagi,'' ungkap seorang penyidik berpangkat perwira yang enggan disebut namanya.

Dijelaskan, keterangan yang hendak dikorek penyidik selalu dijawab dengan sikap yang sangat mudah dan tampak asal-asalan bahkan seolah-olah itulah jawaban yang benar. Namun ketika diperlihatkan data pembanding lainnya atas keterangan Imam itu, akhirnya Imam mengakui jawabannya keliru dan diperbaiki lagi.

Dicontohkan, saat ditanya berapa besar ukuran bom yang diledakkan di Sari Club Legian Bali yang menewaskan ratusan orang dibandingkan ledakan di Paddy's yang hanya menewaskan sekitar 9 orang. Imam pun menjawab bom di Sari Club itu sebesar drum minyak dengan berat sampai satu ton. ''Bahkan Imam melanjutkan jawabannya, besar bom itu sama seperti bom biasa yang beratnya tidak lebih dari 100 kilogram. Namun ia kaget bom itu bisa menewaskan ratusan orang,'' jawab Imam seperti ditirukan lagi penyidik itu.

Saat penyidik menunjukkan data bahwa bom itu bukankah berada di dalam mobil bagaimana mengangkat bom sebesar drum minyak dan bisa mudah masuk ke mobil? Imam mengaku keliru dengan jawaban pertama, kemudian berpikir dan mengulangi dengan jawaban yang baru. Itu pun diulangi beberapa kali.

Pertanyaan lain seputar kawan-kawanan yang ikut terlibat peledakan bom Bali, Imam pun bicara seenaknya dan terkesan menutup-nutupi anggota lainnya. Bahkan Imam menyangkal keterlibatan seorang profesor ahli kimia berasal dari Malaysia ikut meracik bom untuk meledakkan Bali.

Sementara salah seorang pengacara Imam, Adhar Faisal mengatakan, dalam berita acara pemeriksaan (BAP), Abdul Azis alias Imam Samudra mengemukakan Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan Ponpes Al Mukmin Ngruki Solo tak pernah bergabung sekaligus terkait kasus peledakan bom di Bali. Imam mengaku kenal dan tahu soal Ba'asyir sebatas sebagai penceramah agama.

''Bahkan dalam BAP itu, Imam tetap mengaku dirinya sebagai otak peledakan bom di Bali yang dilakukan dengan sejumlah anggotanya, termasuk Amrozy dan tak pernah melibatkan Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Ba'asyir,'' kata Adhar usai mendampingi Imam Samudra yang menjalani pemeriksaan lanjutan yang dilakukan Tiom Polda Bali bersama Tim Mabes Polri soal peledakan bom Bali.

BAP Ditandatangani
Usai Imam diperiksa, Adhar Faisal bersama sejumlah pengacara lainnya menandatangani BAP Imam Samudra. Ada 6 buah BAP, antara lain BAP Imam Samudra tanggal 21 November 2002 sebanyak 70 pertanyaan dan 29 November 2002 sebanyak 35 pertanyaan.

Kemudian BAP Abdul Rauf tanggal 28 November 2002, dengan 34 pertanyaan. Andi Hidayat alias Agus tanggal 28 November 2002, 33 pertanyaan. Andri Oktavia alias Yudi tanggal 28 November 2002, 32 pertanyaan. Junaedi alias Amin, tanggal 28 November 2002, 20 pertanyaan.

"Isi BAP itu, tidak disebutkan adanya keterkaitan dengan Ba'asyir dalam kasus peledakan bom di Bali. Jadi pengakuan Imam sama dengan apa yang dikatakan Kapolri yang sama sekali tidak pernah menyebut-menyebut nama Ba'asyir dalam peledakan bom Bali," ungkapnya.

Sebelumnya, para pengacara itu mengancam mengadukan Tim Penyidik Polri ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) lantaran polisi dinilai tidak transparan dalam memeriksa Imam bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Salah satu bentuk perlakuan tidak adil itu adalah tim kuasa hukum diminta menandatangani BAP yang isinya tidak boleh diketahui pihak kuasa hukum.

''Sebagai kuasa hukum jelas kami protes karena harus menandatangani sesuatu yang kami tidak tahu isinya. Ternyata protes dan ancaman akan mengadukan masalah ini ke Komnas HAM, mendapat perhatian serius dari penyidik dan akhirnya kami diperbolehkan membaca BAP itu dan kami pun menandatangani BAP,'' ucapnya.

Mobilnya Ditembak

Made Rahman Marasabessy, anggota tim pengacara Imam Samudra mengaku mendapat teror ancaman dari seseorang tak dikenal. Bentuk teror itu berupa penembakan terhadap mobil yang ditumpanginya. Akibatnya, kaca depan mobil Toyota Kijang B 299 R pecah berantakan.

''Sudah lama kami membela orang yang berperkara dan baru kali ini memperoleh ancaman teror dengan penembakan. Saya yakin teror itu berkaitan dengan saya membela Imam Samudra, karena saat itu tak ada penjahat yang menguntit saya,'' ungkap Rahman kepada wartawan di Mabes Polri Jakarta, Sabtu kemarin.

Diungkapkan, Jumat (29/11) sekitar pukul 06.00 WIB, Rahman bersama Achmad Michdan dan Qadar Faisalsaat hendak menuju Mabes Polri untuk mendampingi pemeriksaan Imam Samudra berhenti di perempatan Kuningan, Jakarta Selatan. Saat traffic light menyala merah, suasana di Kuningan masih sepi hanya beberapa mobil berada di sampingnya. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan tembakan dan pelurunya menghantam kaca depan dan langsung pecah berantakan.

''Untungnya peluru itu tidak menembus kaca sehingga tidak ada korban. Kalau dilempar batu jelas ada buktinya di dalam mobil. Bahkan saat itu tak ada orang di perempatan Kuningan, karena suasananya masih sepi, malah ada seorang petugas polisi lalu lintas,'' jelasnya.

Malah petugas itu menyarankan untuk membawa ke bengkel agar diperbaiki. ''Memang kejadian itu tidak saya laporkan secara resmi, namun baru saat ini saya laporkan ke wartawan ya biar tahu bahwa kami tim pengacara Imam Samudra diteror,'' ungkapnya. (034)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com