Imam Samudra
Menjawab Asal-asalan
* Pengacaranya Diteror
Jakarta (Bali
Post) -
Pemeriksaan secara maraton tampaknya membuat Abdul Aziz alias
Imam Samudra, tersangka otak peledakan bom Bali menjawab
pertanyaan Tim Penyidik Polda Bali dan Mabes Polri secara
ngelantur, asal-asalan bahkan seenaknya. Ia diperiksa saat
ditanya mengenai peristiwa pengeboman di Bali. Sehingga
pemeriksaan Sabtu (30/11) kemarin di gedung Reserse Kriminal
Mabes Polri Jakarta, yang dimulai pukul 10.00 WIB akhirnya
dihentikan pukul 14.00 WIB untuk memberi kesempatan lelaki
kelahiran Serang, Banten itu istirahat.
Apalagi, pemeriksaan itu
dilakukan pada saat Imam dalam kondisi puasa di bulan Ramadan,
sehingga diduga konsentrasi Imam kurang fokus menjawab
pertanyaan. ''Memasuki pemeriksaan secara maraton pada hari
kelima, tampak tersangka Imam mulai menjawab asal-asalan,
padahal pertanyaan yang diajukan baru sekitar 35 pertanyaan
seputar peledakan bom Bali. Karena jawabannya mulai tak karuan,
ya kami hentikan sementara, nanti kami periksa lagi,'' ungkap
seorang penyidik berpangkat perwira yang enggan disebut namanya.
Dijelaskan, keterangan
yang hendak dikorek penyidik selalu dijawab dengan sikap yang
sangat mudah dan tampak asal-asalan bahkan seolah-olah itulah
jawaban yang benar. Namun ketika diperlihatkan data pembanding
lainnya atas keterangan Imam itu, akhirnya Imam mengakui
jawabannya keliru dan diperbaiki lagi.
Dicontohkan, saat ditanya
berapa besar ukuran bom yang diledakkan di Sari Club Legian Bali
yang menewaskan ratusan orang dibandingkan ledakan di Paddy's
yang hanya menewaskan sekitar 9 orang. Imam pun menjawab bom di
Sari Club itu sebesar drum minyak dengan berat sampai satu ton.
''Bahkan Imam melanjutkan jawabannya, besar bom itu sama seperti
bom biasa yang beratnya tidak lebih dari 100 kilogram. Namun ia
kaget bom itu bisa menewaskan ratusan orang,'' jawab Imam
seperti ditirukan lagi penyidik itu.
Saat penyidik menunjukkan
data bahwa bom itu bukankah berada di dalam mobil bagaimana
mengangkat bom sebesar drum minyak dan bisa mudah masuk ke mobil?
Imam mengaku keliru dengan jawaban pertama, kemudian berpikir
dan mengulangi dengan jawaban yang baru. Itu pun diulangi
beberapa kali.
Pertanyaan lain seputar
kawan-kawanan yang ikut terlibat peledakan bom Bali, Imam pun
bicara seenaknya dan terkesan menutup-nutupi anggota lainnya.
Bahkan Imam menyangkal keterlibatan seorang profesor ahli kimia
berasal dari Malaysia ikut meracik bom untuk meledakkan Bali.
Sementara salah seorang
pengacara Imam, Adhar Faisal mengatakan, dalam berita acara
pemeriksaan (BAP), Abdul Azis alias Imam Samudra mengemukakan
Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan Ponpes Al Mukmin Ngruki Solo tak
pernah bergabung sekaligus terkait kasus peledakan bom di Bali.
Imam mengaku kenal dan tahu soal Ba'asyir sebatas sebagai
penceramah agama.
''Bahkan dalam BAP itu,
Imam tetap mengaku dirinya sebagai otak peledakan bom di Bali
yang dilakukan dengan sejumlah anggotanya, termasuk Amrozy dan
tak pernah melibatkan Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Ba'asyir,''
kata Adhar usai mendampingi Imam Samudra yang menjalani
pemeriksaan lanjutan yang dilakukan Tiom Polda Bali bersama Tim
Mabes Polri soal peledakan bom Bali.
BAP
Ditandatangani
Usai Imam diperiksa, Adhar Faisal bersama sejumlah pengacara
lainnya menandatangani BAP Imam Samudra. Ada 6 buah BAP, antara
lain BAP Imam Samudra tanggal 21 November 2002 sebanyak 70
pertanyaan dan 29 November 2002 sebanyak 35 pertanyaan.
Kemudian BAP Abdul Rauf
tanggal 28 November 2002, dengan 34 pertanyaan. Andi Hidayat
alias Agus tanggal 28 November 2002, 33 pertanyaan. Andri
Oktavia alias Yudi tanggal 28 November 2002, 32 pertanyaan.
Junaedi alias Amin, tanggal 28 November 2002, 20 pertanyaan.
"Isi BAP itu, tidak
disebutkan adanya keterkaitan dengan Ba'asyir dalam kasus
peledakan bom di Bali. Jadi pengakuan Imam sama dengan apa yang
dikatakan Kapolri yang sama sekali tidak pernah
menyebut-menyebut nama Ba'asyir dalam peledakan bom Bali,"
ungkapnya.
Sebelumnya, para
pengacara itu mengancam mengadukan Tim Penyidik Polri ke Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) lantaran polisi dinilai tidak
transparan dalam memeriksa Imam bahkan merasa diperlakukan tidak
adil. Salah satu bentuk perlakuan tidak adil itu adalah tim
kuasa hukum diminta menandatangani BAP yang isinya tidak boleh
diketahui pihak kuasa hukum.
''Sebagai kuasa hukum
jelas kami protes karena harus menandatangani sesuatu yang kami
tidak tahu isinya. Ternyata protes dan ancaman akan mengadukan
masalah ini ke Komnas HAM, mendapat perhatian serius dari
penyidik dan akhirnya kami diperbolehkan membaca BAP itu dan
kami pun menandatangani BAP,'' ucapnya.
Mobilnya Ditembak
Made Rahman Marasabessy,
anggota tim pengacara Imam Samudra mengaku mendapat teror
ancaman dari seseorang tak dikenal. Bentuk teror itu berupa
penembakan terhadap mobil yang ditumpanginya. Akibatnya, kaca
depan mobil Toyota Kijang B 299 R pecah berantakan.
''Sudah lama kami membela
orang yang berperkara dan baru kali ini memperoleh ancaman teror
dengan penembakan. Saya yakin teror itu berkaitan dengan saya
membela Imam Samudra, karena saat itu tak ada penjahat yang
menguntit saya,'' ungkap Rahman kepada wartawan di Mabes Polri
Jakarta, Sabtu kemarin.
Diungkapkan, Jumat
(29/11) sekitar pukul 06.00 WIB, Rahman bersama Achmad Michdan
dan Qadar Faisalsaat hendak menuju Mabes Polri untuk mendampingi
pemeriksaan Imam Samudra berhenti di perempatan Kuningan,
Jakarta Selatan. Saat traffic light menyala merah, suasana di
Kuningan masih sepi hanya beberapa mobil berada di sampingnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi letusan tembakan dan pelurunya
menghantam kaca depan dan langsung pecah berantakan.
''Untungnya peluru itu
tidak menembus kaca sehingga tidak ada korban. Kalau dilempar
batu jelas ada buktinya di dalam mobil. Bahkan saat itu tak ada
orang di perempatan Kuningan, karena suasananya masih sepi,
malah ada seorang petugas polisi lalu lintas,'' jelasnya.
Malah petugas itu
menyarankan untuk membawa ke bengkel agar diperbaiki. ''Memang
kejadian itu tidak saya laporkan secara resmi, namun baru saat
ini saya laporkan ke wartawan ya biar tahu bahwa kami tim
pengacara Imam Samudra diteror,'' ungkapnya. (034)
|