kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

GEBYAR


Musik Jazz, dari Mal ke Kampus Unud

Baru saja pada September 2002 diselenggarakan pesta musik jazz di areal Mal Bali Galeria, Kuta, pada Minggu (24/11) lalu digelar lagi hajatan yang sama di Kampus Universitas Udayana (Unud). Deretan musisi yang tampil juga nyaris sama.

ADA bedanya, terutama pada jumlah penontonnya. Dalam pergelarannya di Mal Bali Galeria Kuta, jumlah penontonnya cukup banyak, dan para penggemar musik yang rata-rata masih muda itu berusaha bisa menikmati jenis musik paling complicated ini. Sedangkan di pelataran depan Kampus Unud, pada awal perfoma, penonton depan masih bisa dihitung dengan jari meski pada akhirnya penuh juga, mungkin karena mereka harus berbuka puasa.

Ide penyelenggaraan musik jazz di kampus, sebenarnya sudah lama diimpikan beberapa mahasiswa sebab selama ini yang muncul hanya grup-grup rock yang hingar bingar. Lantas UKM Kesenian Unud yang tentunya kesulitan dana, berhasil merangkul sponsor dan tergelarlah konser jazz itu.

Show yang seharusnya dimulai pukul 17.00 wita, pada kenyataannya harus molor sekitar hampir satu jam. Band pertama Bonny and His Boys dengan lagu awal dari nomor milik Joe Sample, yang disambung dengan "Cinderamata"-nya Chandra Darusman. Sambutan penonton cukup antusias, lantas disusul lagu "Freedom"-nya David Benoit -- musisi asal Prancis. Sebagai penutup, grup Bonny dkk. ini melampiaskan gebrakan keterampilan setiap musisinya dalam berolah musik masa kini. Lagu milik Mc Coy Tyner berjudul "Patient Dance" mereka bawakan cukup atraktif hingga mengundang aplaus penonton secara spontan.

Meski Bonny dkk. hanya membawakan empat buah lagi dalam instrumentalis, namun karena hampir setiap lagu masing-masing musisinya harus memperlihatkan keahliannya memainkan instrumennya dalam bentuk improvisasi, maka tidak heran kalau satu lagu bisa memakan durasi lebih dari 10 menit. Itulah ciri-ciri perfoma musik jazz, termasuk memperkenalkan nama setiap musisinya.

Kelompok kedua Kayane Band dengan menampilkan -- diantaranya -- Yuri, gitaris yang petikannya cukup menyengat. Grup ini hanya kebagian tiga buah lagu saja, diawali dengan sebuah nomor dari Michael Frank "The Cookis Yar is Empty". Grup ini melengkapi diri mereka dengan seorang vokalis pria muda serta seorang peniup loyang. Lagu ini termasuk dalam kategori musik jazz latin, lagu-lagu Michael Frank lebih banyak bernuansa melankolik. Lagu kedua berjudul "Ins't She Lovely" milik musisi serta vokalis Stevie Wonder yang mereka bawakan cukup kompak dan rapi. Dilanjutkan dengan lagu "Four" dari Mile Davis. Ketiga lagu tersebut sudah jelas telah memikat hati audiens dengan aplaus hangat.

Cukup Eksklusif
Trio Widi Noor gantikan naik pentas. Saat ini, Widi adalah salah seorang pianis jazz qualified, mantan murid Bubby Chen yang kondang itu. Lagu "Michihira" yang dibawakan merupakan komposisi sendiri memang sangat luar biasa bagusnya, apalagi penggebug drum dipercayakan pada Ony yang pernah bergabung dengan Tropical Transit -- legendaris yang pernah main di Amerika. Trio ini menggandeng seorang vokalis putri Pipiet yang dipercaya membawakan dua buah lagu, lagu cantik dari Utha Likumahua, "Sesaat Kau Hadir", serta sebuah nomor dari Incoqnito berjudul "Deep Water". Pipiet yang berperawakan tinggi, kulit putih serta mengenakan celana jeans ternyata menyimpan suara yang mulai mendekati jazzy meski terasa masih ada desah pop yang tersisa. Mungkin ia masih perlu dibimbing Widi Noor dalam hal improvisasi vokal yang tidak lepas dari akord surganya. Penonton merasa terhibur dengan munculnya Pipet sebab dia adalah satu-satunya female vocalist pada malam itu.

Lagu akhir Trio Widi Noor merupakan lagu ciptaan sendiri dalam instrumentalia berjudul "Nasi Goreng". Lagu ini, cukup eksklusif dan perlu di-CD-kan bersama "Michihara" serta mungkin ada lagu ciptaanya yang lain untuk didaftar pada kamar hak cipta di Jakarta. Judul "Nasi Goreng" mengingatkan penulis pada sebuah band asal Amerika yang membentuk sebuah band di Kuta di 1970-an, namanya The Propecy dan penulis sempat main bersama di panggung RRI Denpasar. Judul lagu mereka juga sama yakni "Nasi Goreng".

Lalu, berikutnya tampil grup Belawan yang diinformasikan kepada para penonton sebagai gitaris tapping terbaik di Asia. Permainan Belawan memang sangat baik dan cepat, pengaturan sound gitarnya pun dia kuasai benar. Pada nomor lagu Wild Shelter "Foot Princt" yang dibawakan, ada yang mengejutkan, pemain piano elektrik Rico yang otodidak ternyata sudah menjadi pianist jazz yang harus diperhitungkan. Padahal sebelumnya, Rico adalah pemain gitar yang juga bermutu. Lagu kedua "Billy Bounche" dari Parli Parker dibawakan hingga tuntas, dimana Belawan -- sambil memetik dawai gitarnya dalam improvisasi -- menyuguhkan suara melodi sesuai dengan suara dari mulutnya. Gaya George Benson.

Meski grup ini hanya kebagian dua lagu saja, namun cukup lama masa permainan mereka. Penonton Denpasar cenderung lebih kental mengenal sosok Belawan yang memang ia sudah mengantongi banyak reputasi internasional. Ia pun sempat menjadi rebutan cewek-cewek ABG seusai turun panggung.

Bakat Kuat
Giliran Swara Band pimpinan Koko yang waktu mentas di Galeria Kuta sempat memboyong dua orang pemain bule bergabung dengannya. Kala itu jumlah seluruh pemainnya ada delapan orang, namun ketika di Kampus Unud hanya tinggal separuh lantaran masing-masing personelnya punya kerja sendiri-sendiri. Tak apa, the show must go on! Aliran musik jazz dari Swara ini cenderung mendekati Chic Corea yang pernah manggung di sebuah restoran di Seminyak. Lagu pertama sengaja diambil dari John Scholif berjudul "I'll Get You". Aransemen lagunya juga terasa ada getar-getar atmosfir Chic Corea. Permainan dan petikan gitarnya cukup titis dan akurat dengan variasi warna yang berbeda. Sayang malam itu personel Swara tidak lengkap terutama pada peniup trompet Rio serta violis bule yang konon sedang sibuk di dapur rekaman.

Lagu kedua Swara berjudul "Flowing Cloud in Ubud" yang merupakan ciptaan Koko dengan aransemen menggelitik dan ternyata disukai penonton malam itu. Rata-rata pemusik yang bergabung dengan Koko memiliki bakat kuat, pemain drumnya pernah khusus belajar drum di Amerika. Pemain bass serta lead gitar mereka juga tidak bisa dianggap remeh, pemencet tuts pianonya juga cukup bisa diandalkan.

Yang paling membuat surprise, setiap orang jatuh pada lagu Koko paling akhir berjudul "Assalammualaikum". Lagu ini tampaknya mengalami beberapa perubahan tempo, bisa disebut variatif untuk disimak. Di pertengahan lagu tiba-tiba diselipi nuansa Islam dalam ramuan musik Spanyol dan Arab. Setelah itu kembali ke arah musik masa kini dengan perubahan tempo yang mirip dengan tempo lagu "American Woman" pada 1970-an. Satu lagi, lagu Koko ini agak identik dengan lagu "Kashmir"-nya Led Zepellin atau mungkin idenya dari sana. Swara band ternyata sudah merekam lagu-lagu milik sendiri dalam bentuk CD, namun belum mau diedarkan. Dua bulan mendatang Swara Band bakal dikontrak salah satu restoran terkenal di Singapura.

Giliran paling akhir jatuh pada Dodot bersama Old Boys-nya. Old Boys yang terdiri dari empat orang vokalis memiliki ciri spectakuler, harmonisasi mereka dikumandangkan berdasarkan kord piano suguhan Dodot hingga kedengaran benar-benar memikat selera pengagum musik jazz tahun 1950-an. Kalau disimak lebih cermat harmonisasi pecahan suara mereka bisa dibilang mirip-mirip suara Les Paul & Marry.

Pemusik berjenggot lebat macam Dodot sudah banyak dikenal oleh masyarakat Bali sebagai musisi atau pianis serba bisa, dari mulai klasik, rock hingga jazz. Sedangkan pemain bass Mas Herry juga sudah lama akrab dengan bass akustik, jam terbangnya tidak bisa dihitung dengan jari sebab masa kerjanya terbilang puluhan tahun sebagai entertainer hotel berbintang. Dodot dkk. hanya menampilakan tiga lagu -- "Route 66", "Take The A Train" serta "Java Jive". Penampilan Old Boys kali ini betul-betul sebuah surprise besar dimana para penonton begitu asyik menikmati musik serta harmonisasi yang lain daripada yang lain dan bukan hanya sekadar main cuap!

Musisi Berkualitas
Kapan lagi bisa digelar pentas jazz seperti ini? Mungkin bisa diselenggarakan "Jazz Session" di pantai Kuta yang baru menderita lantaran tragedi bom? Indra Lesmana sendiri agak kaget melihat musisi jazz di Bali ternyata cukup banyak dan berkualitas, dengan penonton tua muda yang juga jumlahnya banyak. "Kalau bisa dipertahankan begini terus dan berkembang positif, saya kagum," ujar Indra Lesmana ketika manggung di MalBali Galeria Kuta, September lalu, dalam program "Jazz Merah Putih".

Jazz masuk kampus kali ini memang cukup sukses. Setidaknya konser yang digelar atas kerja keras UKM Kesenian Unud dengan para sponsor dalam menyambut HUT mereka ini patut diacungkan jempol.

* Ipong C.


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com