Musik Jazz,
dari Mal ke Kampus Unud
Baru saja pada September
2002 diselenggarakan pesta musik jazz di areal Mal Bali Galeria,
Kuta, pada Minggu (24/11) lalu digelar lagi hajatan yang sama di
Kampus Universitas Udayana (Unud). Deretan musisi yang tampil
juga nyaris sama.
ADA
bedanya, terutama pada jumlah penontonnya. Dalam pergelarannya
di Mal Bali Galeria Kuta, jumlah penontonnya cukup banyak, dan
para penggemar musik yang rata-rata masih muda itu berusaha bisa
menikmati jenis musik paling complicated ini. Sedangkan di
pelataran depan Kampus Unud, pada awal perfoma, penonton depan
masih bisa dihitung dengan jari meski pada akhirnya penuh juga,
mungkin karena mereka harus berbuka puasa.
Ide penyelenggaraan musik
jazz di kampus, sebenarnya sudah lama diimpikan beberapa
mahasiswa sebab selama ini yang muncul hanya grup-grup rock yang
hingar bingar. Lantas UKM Kesenian Unud yang tentunya kesulitan
dana, berhasil merangkul sponsor dan tergelarlah konser jazz itu.
Show yang seharusnya
dimulai pukul 17.00 wita, pada kenyataannya harus molor sekitar
hampir satu jam. Band pertama Bonny and His Boys dengan lagu
awal dari nomor milik Joe Sample, yang disambung dengan "Cinderamata"-nya
Chandra Darusman. Sambutan penonton cukup antusias, lantas
disusul lagu "Freedom"-nya David Benoit -- musisi asal
Prancis. Sebagai penutup, grup Bonny dkk. ini melampiaskan
gebrakan keterampilan setiap musisinya dalam berolah musik masa
kini. Lagu milik Mc Coy Tyner berjudul "Patient Dance"
mereka bawakan cukup atraktif hingga mengundang aplaus penonton
secara spontan.
Meski Bonny dkk. hanya
membawakan empat buah lagi dalam instrumentalis, namun karena
hampir setiap lagu masing-masing musisinya harus memperlihatkan
keahliannya memainkan instrumennya dalam bentuk improvisasi,
maka tidak heran kalau satu lagu bisa memakan durasi lebih dari
10 menit. Itulah ciri-ciri perfoma musik jazz, termasuk
memperkenalkan nama setiap musisinya.
Kelompok kedua Kayane
Band dengan menampilkan -- diantaranya -- Yuri, gitaris yang
petikannya cukup menyengat. Grup ini hanya kebagian tiga buah
lagu saja, diawali dengan sebuah nomor dari Michael Frank
"The Cookis Yar is Empty". Grup ini melengkapi diri
mereka dengan seorang vokalis pria muda serta seorang peniup
loyang. Lagu ini termasuk dalam kategori musik jazz latin,
lagu-lagu Michael Frank lebih banyak bernuansa melankolik. Lagu
kedua berjudul "Ins't She Lovely" milik musisi serta
vokalis Stevie Wonder yang mereka bawakan cukup kompak dan rapi.
Dilanjutkan dengan lagu "Four" dari Mile Davis. Ketiga
lagu tersebut sudah jelas telah memikat hati audiens dengan
aplaus hangat.
Cukup Eksklusif
Trio Widi Noor gantikan naik pentas. Saat ini, Widi adalah salah
seorang pianis jazz qualified, mantan murid Bubby Chen yang
kondang itu. Lagu "Michihira" yang dibawakan merupakan
komposisi sendiri memang sangat luar biasa bagusnya, apalagi
penggebug drum dipercayakan pada Ony yang pernah bergabung
dengan Tropical Transit -- legendaris yang pernah main di
Amerika. Trio ini menggandeng seorang vokalis putri Pipiet yang
dipercaya membawakan dua buah lagu, lagu cantik dari Utha
Likumahua, "Sesaat Kau Hadir", serta sebuah nomor dari
Incoqnito berjudul "Deep Water". Pipiet yang
berperawakan tinggi, kulit putih serta mengenakan celana jeans
ternyata menyimpan suara yang mulai mendekati jazzy meski terasa
masih ada desah pop yang tersisa. Mungkin ia masih perlu
dibimbing Widi Noor dalam hal improvisasi vokal yang tidak lepas
dari akord surganya. Penonton merasa terhibur dengan munculnya
Pipet sebab dia adalah satu-satunya female vocalist pada malam
itu.
Lagu akhir Trio Widi Noor
merupakan lagu ciptaan sendiri dalam instrumentalia berjudul
"Nasi Goreng". Lagu ini, cukup eksklusif dan perlu
di-CD-kan bersama "Michihara" serta mungkin ada lagu
ciptaanya yang lain untuk didaftar pada kamar hak cipta di
Jakarta. Judul "Nasi Goreng" mengingatkan penulis pada
sebuah band asal Amerika yang membentuk sebuah band di Kuta di
1970-an, namanya The Propecy dan penulis sempat main bersama di
panggung RRI Denpasar. Judul lagu mereka juga sama yakni "Nasi
Goreng".
Lalu, berikutnya tampil
grup Belawan yang diinformasikan kepada para penonton sebagai
gitaris tapping terbaik di Asia. Permainan Belawan memang sangat
baik dan cepat, pengaturan sound gitarnya pun dia kuasai benar.
Pada nomor lagu Wild Shelter "Foot Princt" yang
dibawakan, ada yang mengejutkan, pemain piano elektrik Rico yang
otodidak ternyata sudah menjadi pianist jazz yang harus
diperhitungkan. Padahal sebelumnya, Rico adalah pemain gitar
yang juga bermutu. Lagu kedua "Billy Bounche" dari
Parli Parker dibawakan hingga tuntas, dimana Belawan -- sambil
memetik dawai gitarnya dalam improvisasi -- menyuguhkan suara
melodi sesuai dengan suara dari mulutnya. Gaya George Benson.
Meski grup ini hanya
kebagian dua lagu saja, namun cukup lama masa permainan mereka.
Penonton Denpasar cenderung lebih kental mengenal sosok Belawan
yang memang ia sudah mengantongi banyak reputasi internasional.
Ia pun sempat menjadi rebutan cewek-cewek ABG seusai turun
panggung.
Bakat Kuat
Giliran Swara Band pimpinan Koko yang waktu mentas di Galeria
Kuta sempat memboyong dua orang pemain bule bergabung dengannya.
Kala itu jumlah seluruh pemainnya ada delapan orang, namun
ketika di Kampus Unud hanya tinggal separuh lantaran
masing-masing personelnya punya kerja sendiri-sendiri. Tak apa,
the show must go on! Aliran musik jazz dari Swara ini cenderung
mendekati Chic Corea yang pernah manggung di sebuah restoran di
Seminyak. Lagu pertama sengaja diambil dari John Scholif
berjudul "I'll Get You". Aransemen lagunya juga terasa
ada getar-getar atmosfir Chic Corea. Permainan dan petikan
gitarnya cukup titis dan akurat dengan variasi warna yang
berbeda. Sayang malam itu personel Swara tidak lengkap terutama
pada peniup trompet Rio serta violis bule yang konon sedang
sibuk di dapur rekaman.
Lagu kedua Swara berjudul
"Flowing Cloud in Ubud" yang merupakan ciptaan Koko
dengan aransemen menggelitik dan ternyata disukai penonton malam
itu. Rata-rata pemusik yang bergabung dengan Koko memiliki bakat
kuat, pemain drumnya pernah khusus belajar drum di Amerika.
Pemain bass serta lead gitar mereka juga tidak bisa dianggap
remeh, pemencet tuts pianonya juga cukup bisa diandalkan.
Yang paling membuat
surprise, setiap orang jatuh pada lagu Koko paling akhir
berjudul "Assalammualaikum". Lagu ini tampaknya
mengalami beberapa perubahan tempo, bisa disebut variatif untuk
disimak. Di pertengahan lagu tiba-tiba diselipi nuansa Islam
dalam ramuan musik Spanyol dan Arab. Setelah itu kembali ke arah
musik masa kini dengan perubahan tempo yang mirip dengan tempo
lagu "American Woman" pada 1970-an. Satu lagi, lagu
Koko ini agak identik dengan lagu "Kashmir"-nya Led
Zepellin atau mungkin idenya dari sana. Swara band ternyata
sudah merekam lagu-lagu milik sendiri dalam bentuk CD, namun
belum mau diedarkan. Dua bulan mendatang Swara Band bakal
dikontrak salah satu restoran terkenal di Singapura.
Giliran paling akhir
jatuh pada Dodot bersama Old Boys-nya. Old Boys yang terdiri
dari empat orang vokalis memiliki ciri spectakuler, harmonisasi
mereka dikumandangkan berdasarkan kord piano suguhan Dodot
hingga kedengaran benar-benar memikat selera pengagum musik jazz
tahun 1950-an. Kalau disimak lebih cermat harmonisasi pecahan
suara mereka bisa dibilang mirip-mirip suara Les Paul &
Marry.
Pemusik berjenggot lebat
macam Dodot sudah banyak dikenal oleh masyarakat Bali sebagai
musisi atau pianis serba bisa, dari mulai klasik, rock hingga
jazz. Sedangkan pemain bass Mas Herry juga sudah lama akrab
dengan bass akustik, jam terbangnya tidak bisa dihitung dengan
jari sebab masa kerjanya terbilang puluhan tahun sebagai
entertainer hotel berbintang. Dodot dkk. hanya menampilakan tiga
lagu -- "Route 66", "Take The A Train" serta
"Java Jive". Penampilan Old Boys kali ini betul-betul
sebuah surprise besar dimana para penonton begitu asyik
menikmati musik serta harmonisasi yang lain daripada yang lain
dan bukan hanya sekadar main cuap!
Musisi
Berkualitas
Kapan lagi bisa digelar pentas jazz seperti ini? Mungkin bisa
diselenggarakan "Jazz Session" di pantai Kuta yang
baru menderita lantaran tragedi bom? Indra Lesmana sendiri agak
kaget melihat musisi jazz di Bali ternyata cukup banyak dan
berkualitas, dengan penonton tua muda yang juga jumlahnya banyak.
"Kalau bisa dipertahankan begini terus dan berkembang
positif, saya kagum," ujar Indra Lesmana ketika manggung di
MalBali Galeria Kuta, September lalu, dalam program "Jazz
Merah Putih".
Jazz masuk kampus kali
ini memang cukup sukses. Setidaknya konser yang digelar atas
kerja keras UKM Kesenian Unud dengan para sponsor dalam
menyambut HUT mereka ini patut diacungkan jempol.
* Ipong C.
|