Bom, Film,
dan Kuta
SEBUAH
mobil van sarat muatan meluncur di tengah keramaian kota New
York. Mobil ini memuat beberapa drum yang berisi bahan peledak,
yang kemudian menabrak gedung FBI. Ratusan agen FBI tewas dan
lainnya luka-luka. Presiden AS menjadikan kondisi ini darurat
militer dan tentara diturunkan ke kota dan mulai melakukan
gerakan ala militer, mengumpulkan semua orang (Arab) yang
dicurigai punya hubungan dekat dengan teroris. Itu cuplikan dari
film "The Siege" yang dimainkan Denzel Washington,
Annete Bening dan Bruce Willis dan diproduksi tiga tahun sebelum
aksi teroris 11 September 2001.
Cara peledakan dengan
menggunakan mobil van tersebut mengingatkan cara peledakan Sari
Club, di Kuta, 12 Oktober lalu, menewaskan lebih dari 180 orang
dan ratusan lain luka berat. Mobil L-300 (jenis van) yang
dipakai dalam aksi tersebut dipenuhi bahan peledak juga, namun
mobil ini bukan ditabrakkan, namun diledakkan lewat "pesan"
hand phone. Ledakan bom di Kuta ini kemudian melahirkan banyak
praduga, mulai dari bom jenis C4, RDX, TNT sampai mikro nuklir.
Dugaan yang muncul dari para pakar yang termuat di media massa,
banyak terlihat indikasi mengarahkan dugaan kepada siapa
pelakunya, karena para pakar tersebut juga melansir
negara-negara yang punya persediaan bahan kimia yang bisa
dijadikan bom.
***
Mari kembali mengingat
Kuta, tujuh minggu lalu. Sepanjang jalan Legian, di
kiri-kanannya terdapat puluhan bar dan restoran. Bar ini buka
biasanya sampai pukul 03.00. Turis meluber sampai di trotoar
sambil menikmati minuman dan bercengkrama dengan temannya. Dari
satu bar ke bar berikutnya warna musik beragam, mulai yang slow
sampai berirama disko.
Jalan Legian menjadi
jalan terpadat di Bali menjelang tengah malam, karena semua
remaja yang menyukai keluar malam juga akan melewati jalan ini
pada jam tersebut. Selain itu, 30 meter selatan Sari Club ada
gang kecil bernama Popies Line II, di gang ini juga banyak bar
kecil dan sangat ramai, khususnya pecinta selancar air. Selain
itu jalan ini juga berhulu jalan Pantai Kuta, sehingga kendaraan
yang keluar dari tempat ini tak ada habis-habisnya. Akibatnya
kendaraan yang keluar dari gang ini masuk ke jalan Legian,
memperlambat kendaraan dari arah utara (Jalan Legian satu arah,
utara-selatan).
Suasana gaul tersebut
memang mengasyikkan, mobil-mobil yang lewat di situ juga tidak
terlalu mempermasalahkan arus lalu lintas yang tersendat-sendat
tersebut, bahkan mereka sengaja memperkeras suara musik dari
tape mobilnya. Tiba-tiba dari Paddy's Bar, bar-restoran yang
tepat di depan mulut Gang Popies terdengar ledakan. Pengunjung
Sari Club yang kebanyakan remaja Australia keluar untuk
mengetahui ledakan, Sari Club ini dipagar dengan pintu gerbang
yang dijaga satpam. Sungguh tidak mereka duga, mobil L-300 yang
berhenti tepat di depan pintu gerbang meledak tidak lama
kemudian.
Pastilah orang yang
berada dekat dengan mobil tersebut terluka, bahkan tewas oleh
pecahan mobil yang terbuat dari logam (bukan kertas), potongan
tubuhnya terlempar jauh. Ledakan ini menimbulkan api dan segera
melalap atap alang-alang Sari Club. Sebelumnya Paddy's juga
sudah terbakar akibat ledakan bom di tempatnya dan melalap mobil
yang parkir di gang utara Paddy's yang berseberangan dengan
kantor Bank Panin. Api ledakan bom L-300 ini merembet ke
mobil-mobil yang berada di belakangnya.
Arsitektur Sari Club
beratap alang-alang dan bertiang pohon kelapa, penuh meja dan
bangku kayu. Jangan harap dapat duduk dengan nyaman di sana.
Musik selalu hiruk pikuk, namun Sari Club tetap diminati remaja
Australia dan juga warga Australia yang tinggal di Bali sebagai
tempat bertemu.
***
Membandingkan dengan
adegan "Swordfish", film terorisme yang dibintangi
John Travolta, ledakan menyebabkan semua benda terbang lalu
terhempas. Pada ledakan di Sari Club, kalau bisa dibuat slow
motion seperti di film itu, pasti akan terlihat bagaimana mobil
L-300 tersebut berkeping-keping, logamnya kemudian menusuk ke
tubuh-tubuh tak berdosa di sekitarnya, api menyambar ke
mana-mana. Dalam waktu bersamaan juga mobil di sekitarnya
terangkat dan terlempar, sehingga beberapa mobil tampak menindih
sepeda motor yang saat itu lewat atau parkir di dekat pusat
ledakan.
Pengunjung yang masih
berada di dalam Sari Club saling bertabrakan, belum lagi mereka
sempat keluar, keburu atap ambrol dan membakar mereka yang
berada di bawahnya. Sehingga saat ditemukan, mereka sudah tewas
terpanggang. Sangat beruntung kasir Sari Club yang tidak pergi
dari mejanya saat ledakan pertama, saat ledakan kedua
menyelamatan diri dengan memanjat tembok di belakang Sari Club,
dia selamat dengan luka lecet saja. Sehingga sungguh naif bila
kemudian ada pihak yang menyatakan (dimuat di koran) bahwa
korban ditemukan dalam keadaan telanjang, sehingga memberikan
asosiasi bahwa Sari Club adalah "klub telanjang". Hal
ini juga diperburuk lewat e-mail berantai yang menunjukan klub
telanjang lengkap dengan foto dan disebut ada di Sari Club.
Sayang foto itu di lokasi yang mewah, sedangkaan Sari Club cuma
areal sekitar 400 meterpersegi dan khas warung Bali.
Banyak analisa terhadap
bom tersebut berdasarkan pada jumlah korban untuk mengukur
kekuatan bom tersebut. Maka ketika seorang Amrozy yang selalu
tampak tersenyum cengengesan ditangkap, banyak pihak
memungkirinya, bahwa lelaki Lamongan tersebut tidak mungkin bisa
bikin bom. Sedikit berubah ketika Imam Samudra berhasil
ditangkap dan setelah diperiksa mulai mengaku memang dia
memimpin pengeboman.
Jadi, sebetulnya sekuat
apapun bom, kalau diledakkan di tempat sepi, mungkin saja tidak
menewaskan siapapun. Namun kalau diledakkan di tempat umum yang
padat manusia, granat yang sekepalan tangan saja bisa menewaskan
banyak orang. Jadi pokok masalah dalam persoalan bom, kembali
pada siapa yang tega melakukan peledakan. Itu saja.
* Iwan Darmawan
|