kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

GEBYAR


Bom, Film, dan Kuta

SEBUAH mobil van sarat muatan meluncur di tengah keramaian kota New York. Mobil ini memuat beberapa drum yang berisi bahan peledak, yang kemudian menabrak gedung FBI. Ratusan agen FBI tewas dan lainnya luka-luka. Presiden AS menjadikan kondisi ini darurat militer dan tentara diturunkan ke kota dan mulai melakukan gerakan ala militer, mengumpulkan semua orang (Arab) yang dicurigai punya hubungan dekat dengan teroris. Itu cuplikan dari film "The Siege" yang dimainkan Denzel Washington, Annete Bening dan Bruce Willis dan diproduksi tiga tahun sebelum aksi teroris 11 September 2001.

Cara peledakan dengan menggunakan mobil van tersebut mengingatkan cara peledakan Sari Club, di Kuta, 12 Oktober lalu, menewaskan lebih dari 180 orang dan ratusan lain luka berat. Mobil L-300 (jenis van) yang dipakai dalam aksi tersebut dipenuhi bahan peledak juga, namun mobil ini bukan ditabrakkan, namun diledakkan lewat "pesan" hand phone. Ledakan bom di Kuta ini kemudian melahirkan banyak praduga, mulai dari bom jenis C4, RDX, TNT sampai mikro nuklir. Dugaan yang muncul dari para pakar yang termuat di media massa, banyak terlihat indikasi mengarahkan dugaan kepada siapa pelakunya, karena para pakar tersebut juga melansir negara-negara yang punya persediaan bahan kimia yang bisa dijadikan bom.

***

Mari kembali mengingat Kuta, tujuh minggu lalu. Sepanjang jalan Legian, di kiri-kanannya terdapat puluhan bar dan restoran. Bar ini buka biasanya sampai pukul 03.00. Turis meluber sampai di trotoar sambil menikmati minuman dan bercengkrama dengan temannya. Dari satu bar ke bar berikutnya warna musik beragam, mulai yang slow sampai berirama disko.

Jalan Legian menjadi jalan terpadat di Bali menjelang tengah malam, karena semua remaja yang menyukai keluar malam juga akan melewati jalan ini pada jam tersebut. Selain itu, 30 meter selatan Sari Club ada gang kecil bernama Popies Line II, di gang ini juga banyak bar kecil dan sangat ramai, khususnya pecinta selancar air. Selain itu jalan ini juga berhulu jalan Pantai Kuta, sehingga kendaraan yang keluar dari tempat ini tak ada habis-habisnya. Akibatnya kendaraan yang keluar dari gang ini masuk ke jalan Legian, memperlambat kendaraan dari arah utara (Jalan Legian satu arah, utara-selatan).

Suasana gaul tersebut memang mengasyikkan, mobil-mobil yang lewat di situ juga tidak terlalu mempermasalahkan arus lalu lintas yang tersendat-sendat tersebut, bahkan mereka sengaja memperkeras suara musik dari tape mobilnya. Tiba-tiba dari Paddy's Bar, bar-restoran yang tepat di depan mulut Gang Popies terdengar ledakan. Pengunjung Sari Club yang kebanyakan remaja Australia keluar untuk mengetahui ledakan, Sari Club ini dipagar dengan pintu gerbang yang dijaga satpam. Sungguh tidak mereka duga, mobil L-300 yang berhenti tepat di depan pintu gerbang meledak tidak lama kemudian.

Pastilah orang yang berada dekat dengan mobil tersebut terluka, bahkan tewas oleh pecahan mobil yang terbuat dari logam (bukan kertas), potongan tubuhnya terlempar jauh. Ledakan ini menimbulkan api dan segera melalap atap alang-alang Sari Club. Sebelumnya Paddy's juga sudah terbakar akibat ledakan bom di tempatnya dan melalap mobil yang parkir di gang utara Paddy's yang berseberangan dengan kantor Bank Panin. Api ledakan bom L-300 ini merembet ke mobil-mobil yang berada di belakangnya.

Arsitektur Sari Club beratap alang-alang dan bertiang pohon kelapa, penuh meja dan bangku kayu. Jangan harap dapat duduk dengan nyaman di sana. Musik selalu hiruk pikuk, namun Sari Club tetap diminati remaja Australia dan juga warga Australia yang tinggal di Bali sebagai tempat bertemu.

***

Membandingkan dengan adegan "Swordfish", film terorisme yang dibintangi John Travolta, ledakan menyebabkan semua benda terbang lalu terhempas. Pada ledakan di Sari Club, kalau bisa dibuat slow motion seperti di film itu, pasti akan terlihat bagaimana mobil L-300 tersebut berkeping-keping, logamnya kemudian menusuk ke tubuh-tubuh tak berdosa di sekitarnya, api menyambar ke mana-mana. Dalam waktu bersamaan juga mobil di sekitarnya terangkat dan terlempar, sehingga beberapa mobil tampak menindih sepeda motor yang saat itu lewat atau parkir di dekat pusat ledakan.

Pengunjung yang masih berada di dalam Sari Club saling bertabrakan, belum lagi mereka sempat keluar, keburu atap ambrol dan membakar mereka yang berada di bawahnya. Sehingga saat ditemukan, mereka sudah tewas terpanggang. Sangat beruntung kasir Sari Club yang tidak pergi dari mejanya saat ledakan pertama, saat ledakan kedua menyelamatan diri dengan memanjat tembok di belakang Sari Club, dia selamat dengan luka lecet saja. Sehingga sungguh naif bila kemudian ada pihak yang menyatakan (dimuat di koran) bahwa korban ditemukan dalam keadaan telanjang, sehingga memberikan asosiasi bahwa Sari Club adalah "klub telanjang". Hal ini juga diperburuk lewat e-mail berantai yang menunjukan klub telanjang lengkap dengan foto dan disebut ada di Sari Club. Sayang foto itu di lokasi yang mewah, sedangkaan Sari Club cuma areal sekitar 400 meterpersegi dan khas warung Bali.

Banyak analisa terhadap bom tersebut berdasarkan pada jumlah korban untuk mengukur kekuatan bom tersebut. Maka ketika seorang Amrozy yang selalu tampak tersenyum cengengesan ditangkap, banyak pihak memungkirinya, bahwa lelaki Lamongan tersebut tidak mungkin bisa bikin bom. Sedikit berubah ketika Imam Samudra berhasil ditangkap dan setelah diperiksa mulai mengaku memang dia memimpin pengeboman.

Jadi, sebetulnya sekuat apapun bom, kalau diledakkan di tempat sepi, mungkin saja tidak menewaskan siapapun. Namun kalau diledakkan di tempat umum yang padat manusia, granat yang sekepalan tangan saja bisa menewaskan banyak orang. Jadi pokok masalah dalam persoalan bom, kembali pada siapa yang tega melakukan peledakan. Itu saja.
* Iwan Darmawan


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com