kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Desember 2002 tarukan valas
 

APRESIASI


Peradaban Tanah Bumi Pertiwi Bali

Boleh-boleh saja Amerika Serikat dengan proyek NASA-nya merasa jumbuh hendak menguak tabir rahasia alam semestaraya di luar angkasa nun di atas sana, namun para tetua Bali sejak abad-abad kuno masa lampau telah mengingatkan: jangan jumbuh hendak menembus batas semesta bila belum paham persis mendalam serinci-rincinya rahasia tanah. Bagi tetua Bali sudah sangat jelas benderang, bahwa tanahlah pusat simpul segala tattwa rahasia filosofis alam semestaraya ini. Karena itu menjadi sangat beralasan bila lontar Aji Sangkhya mencatatkan bahwa tanah itu sesujati-sujatinyalah merupakan papupulaning sarwa tattwa, titik simpul segala macam pengetahuan, filosofis, maupun sumber hayati alam semstaraya ini.

Pemahaman sebagaimana Aji Sangkhya itu bukannnya tanpa dasar susastra-agama yang andal, apalagi bila hendak dituduh khayalan tak bertanggung jawab belaka oleh penulis anonim. Rg Veda yang disepakati manusia-manusia sebumi sebagai kitab suci agama manusia tertua di dunia ini amat benderang pula memvisikan bahwa tanah Ibu Bumi Pertiwi mengandung kekayaan yang tiada terkira banyaknya. Visi itu dituangkan dalam rumusan ringkas padat: puru vasuni prthivi bibharti. Dari visi inilah tampaknya penyurat lontar Aji Sangkya terilham sehingga pada titik puncak sama-sama pula sampai pada perenungan sujati berkebenaran tunggal tiada terbantahkan: tanah bumi pertiwi itu sebagai papupulaning sarwa tattwa.

Rumusan Rg Veda demikian diperjelas lagi dalam Atharva Veda dengan suratan yang menegaskan bahwa ada kekayaan tersembunyi dalam bumi -selain di langit. Keyaan itu berupa permata dan emas asli, segala jenis mineral dan hasil tambang. Yang rada pasti susah dipahami bila hanya dengan mengandalkan rasio duniawi adalah bahwa Atharva Veda jelas mengingatkan: bumi bergerak karena api di bagian dalam, dan juga ada api di dalam air samudera. Karena itu, Ibu Bumi Pertiwi manakala bergerak dengan bergetar -menjadilah ia gempa dahsyat.

Visi papupulaning sarwa tattwa dalam konteks zaman kekinian oleh para penggiat lingkungan ekologi sebatas dipahami dalam kaitan tanah sebagai sumber segala hayati, sehingga tanah menjadi sumber hayati terlengkap. Tiada mahluk hidup yang tidak tergantung pada tanah. Namun para tetua Bali memahami visi dan formulasi papupulaning sarwa tattwa itu lebih dari sekadar sumber hayati. Betapa maju, modern, canggih sekalipun orang atau suatu bangsa, suatu negara ---tanpa terkecuali AS yang meroket-roket menjajal jagat luar angkasa sana--- tetap saja berpijak pada tanah, tetap ditopang tanah. Tak percaya? Coba saja lihat buktinya.

Nyata senyata-nyatanya sudah, bahwa dari tanahlah semua kebutuhan hidup manusia berasal. Segenap sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan dasar manusia pun bermuasal dan dihidupi dari tanah. Teknologi paling mutakhir dan canggih sekalipun bahan bakunya tiada lain diambil dari tanah. Kain sebagai bahan sandang diolah dari kapas yang dipetik dari tanah. Makanan, dari yang berwujud paling kasar hingga paling halus dan diolah dalam kemasan tablet, bubuk vitamin, minuman kaleng ataupun botol atau dijadikan ekstrak berupa bubuk halus sekalipun, tetap saja semua bahan bakunya dipetik dari tanah. Rumah mewah dengan gaya arsitektur dan bahan termodern, entah berdasar porselin, entah bertembok keramik, berlantai marmer, bertiang beton sekalipun bahan dasarnya tetaplah berasal dari tanah. Pesawat tercanggih, mobil termahal, hingga sepeda motor, sepeda gayung paling brengsek tak terelakkan, bahan bakunya berasal dari tanah. Sadari saja bahwa bahan baku aneka bahan bakar mulai dari solar, premium, premix, super, dan sejenisnya bagi kendaraan bermotor, pabrik, diesel, generator pembangkit listrik tak dapat dipungkiri dibor dari garba tanah. Semua keperluan hidup manusia dieram oleh perut bumi.

Pesawat ulang-alik AS hingga peralatan penginderaan jarak jauh tercanggih yang digunakan sebagai alat para astronot dan ahli luar angkasa menembus jagat luar angkasa itu sekalipun bahan bakunya diambil atau bersumber dari tanah. Manusia-manusia yang pernah menjejakkan kaki di bulan toh pada akhirnya kembali lagi menjejak tanah, meminta topangan hidup dari tanah Ibu Bumi Pertiwi. Kurang data apalagi? Bilapun tak bisa disebutkan semua di sini, ya silakan sajalah masing-masing menderetkannya sendiri-sendiri, dan nantinya bila dikumpulkan akan kentara sekali: tiada sesuatu yang dapat kita pandangi dengan mata telanjang ini untuk menopang hidup manusia justru muasalnya dari tanah.

Tanah bumi pertiwi ini memang tiada ubahnya rahim kandungan mahabesar mahaluas yang menjadi sumber hidup manusia sebumi. Karena itu, moyang Bali tak memandang tanah sebatas sumber hayati, tapi juga kumpulan segala tatwa, pusat segala ajaran kearifan hidup. Merusak tatanan tanah berarti mengoyak hidup. Bila tanah dikoyak-moyak maka bumi yang semula memberi hidup pun berbalik bakal menagih hidup. Bila kini orang Bali justeru berbalik gemar menjual tanah, gemar menjadi calo tanah, gemar melukai hati tanah, ya tinggal menunggu saja jam kehancuran, karena hukumnya sudah sangat kukuh, tak bisa disuap-suap seperti para hakim maling kini: bahwa merusak tatanan tanah sama saja artinya dengan merusak badan bahkan hidup sendiri. Karena tanahlah mengeram segalanya, bahkan termasuk air, api, udara, bahkan juga rongga-rongga kosong sebagai kawasan hampa, hingga pancadatu, bijih-bijih lima jenis logam mulia, termasuk permata-permata mulia. Karena mengandung, mengeram semua itulah maka ragawi tanah dalam tataran spirit dinamakan Ib. Dialah: Ibu Pertiwi, Ibu Bumi. Dialah Ibu segenap mahluk hidup, seperti disuartkan dalam nyanyian kanak-akank, .ang hanya memberi, tak harap kembali".

Sungguh teramat amat sangat bodohlah manusia yang berstruktur paripurna berlapis bayu, sabda, idep bila sampai menistakan diri dan hidupnya dengan mempermainkan tanah, merusak tanah, karena itu sama saja dengan menggali kubur kematian hidupnya sendiri. Mereka-mereka ini perlu belajar pada petani-petani subak masa silam yang berkesadaran linuih menyemesta, yang dengan kesederhanaannya justru menyembah tanah Ibu Bumi Pertiwi dengan tambah mereka, mengolah tanah dengan peluh mereka, melindungi tanah Ibu Bumi Pertiwi dengan letih dan kesabaran mereka -tanpa didesak-desak nafsu tamak ingin segera memetik hasil.

Kini kok ya malah sebaliknya, manusia berlomba dalam angka menghasilkan berbagai produksi kemasan dari teknologi pabrikan yang pada akhirnya justru meracuni, mencederai, hingga melukai hati tanah Ibu Bumi Pertiwi ini, entah lewat pupuk, insektisida, limbah-limbah kimiawi, limbah-limbah plastik, dan semacamnya. Meskipun begitu toh tanah Ibu Bumi Pertiwi tetap sabar-sabar saja, seperti sang ibu yang penyabar meskipun telah dikhianati disakiti sang anak -terkecuali si Ibu Malinkundang yang sampai mengutuk pastu si anak durhaka, padahal tanpa dikutuk pastu sekalipun si anak pastilah menuai buah karma khianatnya sendiri terhadap sang Ibu.

Memang sebagai ibu, tanah dipahami tetua Bali berkarakter sabar, penuh kasih, ikhlas, tak kenal keluh -meskipun bebannya sangat berat. Tak ubahnya bayi yang menggelayut pada sang ibu, begitulah manusia menyusu pada sang ibu bumi. Tak heran seorang ibu yang berkarakter demikian sehari-hari disebutkan tak ubahnya beryoga tanah, matapa tanah. Di sana itulah Ibu Bumi dipuja sebagai Sri atau Umadewi, sang dewi kesuburan, kemakmuran, kekayaan, kemuliaan, pemberi hidup semua mahluk. Dia dilukiskan sangat jelita dan dipuja di pura subak oleh para petani, sang pengolah tanah. Di sana Umadewi menjadi sakti, daya penghidup, Dewa Wisnu, sang pemelihara dan pelindung semesta seisinya.

Namun sadari sedini mungkin bahwa tetua Bali juga memahami tanah, Ibu Bumi Pertiwi, punya karakter sangat paradoks, nungkalik. Selain melahirkan, menghidupi, memelihara semua mahluk, Ibu Bumi juga sanggup menelan semua yang terlahir darinya, dalam hitungan detik. Dalam pada itu karakternya menjadi sangat berbalik: garang, rakus, mengerikan, ganas, pemangsa segala. Dialah Durgadewi, sang dewi yang tak tertaklukkan, sangat sulit dicapai, sukar diraih. Dalam bahasa Sanskerta, Durga juga berarti: sukar didatangi, tak dapat dilalui, benteng, kubu, di samping kesulitan, kesukaran, dan bahaya. Dari sinilah citra Dewi Durga dalam tradisi seni di Bali dilukiskan aeng, dahsyat, seram, mengerikan, penebar bencana, sekaligus tak terkalahkan, sekaligus dipuja sebagai sakti Dewa Siwa di Pura Dalem. Para seniman dan balian di Bali memuja Durgadewi sebagai sang dewa penganugerah taksu.

Baik sebagai Sri, Umadewi, ataupun Durgadewi, hakikatnya tetaplah tunggal: Dia-lah Siwa, Sang Dewata Tertinggi, Sang Inti Hidup. Jejak makna ini, misalkan, dapat dirunut jelas dari mantra Pertiwi Stawa, mantra pujaan kehadapan Pertiwi sebagai Mahadewi, sang penguasa Bumi -yang sejatinya adalah Siwa, Sang Sumber Hidup. Orang Bali menyebut inti hidup dengan istilah sarin gumi atau sarin tanah. Dari istilah ini lantas lahirlah istilah sarin tahun, sebagai wujud nyata persembahan manusia Bali kehadapan Ibu Pertiwi sebagai penguasa tanah yang telah memberi hidup manusia ---bukan ditelikung sebagai persembahan kepada si raja, penguasa jagat duniawi.

Bila ingin hidup nyaman bahagia sepanjang hayat hingga ke generasi entah kapan ke depan belajarlah dari petani-petani kuna di pedesaan bagaimana mereka memperlakukan penuh kasih sang tanah Ibu Bumi Pertiwi ini. Dalam laku sehari-hari, setiap melakukan pekerjaan apa saja yang berkaitan dengan tanah, petani Bali tak lupa menggelar upacara persembahan untuk memohon berkah Ibu Pertiwi. Dharma Pamaculan atau Sri Tatwa bahkan menjelaskan rinci perihal kewajiban seorang petani, meliputi tata cara mengolah tanah di sawah, menanam bibit tepat waktu, pengusiran hama atau tolak bala, hingga tata cara membuat bendungan, termasuk segala upakara yang ditujukan kepada bumi dalam wujud Dewi Sri, sebagai Dewi Kesuburan, termasuk manakala tanah hendak dialihfungsikan.

Momentum pertama kali bayi menginjak tanah (tuwun ka tanah) saat setelah berusia satu oton (enam bulan Bali) -ada juga melakukannya saat usia bayi tiga bulan-pun diberi makna istimewa di Bali. Itulah mula awal seorang anak manusia meminta berkah energi hidup secara langsung kepada sang Ibu Pertiwi. Pada saat dia baru lahir, lewat ari-ari yang turut diajak serta terlahir pula, si bayi telah pula meminta restu Ibu Bumi Pertiwi. Di sana "si anak manusia baru" bayi lewat ari-ari telah meminta restu hidup pada tanah Ibu Bumi Pertiwi sebagai "air hidup" (amerta sanjiwani). Berkatalah sang bapak kandung penuh harap kepada tanah Ibu Bumi Pertiwi saat menanam ari-ari si anak baru lahir dari gua garba sang ibu kandung: Ong sang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta sanjiwani, amertani ikang muwuh rerem, moga dirghayusa sanutugang tuwuh; "Ya, Ibu Bumi Pertiwi yang merupakan kekuatan, merupakan air hidup bergelar Sanjiwani, semoga Ibu memberikan kehidupan nan kekal kepada sang bayi yang sedang tumbuh." Sungguh, jangan main-main, jangan sembaranganlah terhadap tanah ---bila tak ingin ditelan buru-buru.

I Made Prabaswara


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com