Peradaban
Tanah Bumi Pertiwi Bali
Boleh-boleh saja Amerika
Serikat dengan proyek NASA-nya merasa jumbuh hendak menguak
tabir rahasia alam semestaraya di luar angkasa nun di atas sana,
namun para tetua Bali sejak abad-abad kuno masa lampau telah
mengingatkan: jangan jumbuh hendak menembus batas semesta bila
belum paham persis mendalam serinci-rincinya rahasia tanah. Bagi
tetua Bali sudah sangat jelas benderang, bahwa tanahlah pusat
simpul segala tattwa rahasia filosofis alam semestaraya ini.
Karena itu menjadi sangat beralasan bila lontar Aji Sangkhya
mencatatkan bahwa tanah itu sesujati-sujatinyalah merupakan
papupulaning sarwa tattwa, titik simpul segala macam pengetahuan,
filosofis, maupun sumber hayati alam semstaraya ini.
Pemahaman sebagaimana Aji
Sangkhya itu bukannnya tanpa dasar susastra-agama yang andal,
apalagi bila hendak dituduh khayalan tak bertanggung jawab
belaka oleh penulis anonim. Rg Veda yang disepakati
manusia-manusia sebumi sebagai kitab suci agama manusia tertua
di dunia ini amat benderang pula memvisikan bahwa tanah Ibu Bumi
Pertiwi mengandung kekayaan yang tiada terkira banyaknya. Visi
itu dituangkan dalam rumusan ringkas padat: puru vasuni prthivi
bibharti. Dari visi inilah tampaknya penyurat lontar Aji Sangkya
terilham sehingga pada titik puncak sama-sama pula sampai pada
perenungan sujati berkebenaran tunggal tiada terbantahkan: tanah
bumi pertiwi itu sebagai papupulaning sarwa tattwa.
Rumusan Rg Veda demikian
diperjelas lagi dalam Atharva Veda dengan suratan yang
menegaskan bahwa ada kekayaan tersembunyi dalam bumi -selain di
langit. Keyaan itu berupa permata dan emas asli, segala jenis
mineral dan hasil tambang. Yang rada pasti susah dipahami bila
hanya dengan mengandalkan rasio duniawi adalah bahwa Atharva
Veda jelas mengingatkan: bumi bergerak karena api di bagian
dalam, dan juga ada api di dalam air samudera. Karena itu, Ibu
Bumi Pertiwi manakala bergerak dengan bergetar -menjadilah ia
gempa dahsyat.
Visi papupulaning sarwa
tattwa dalam konteks zaman kekinian oleh para penggiat
lingkungan ekologi sebatas dipahami dalam kaitan tanah sebagai
sumber segala hayati, sehingga tanah menjadi sumber hayati
terlengkap. Tiada mahluk hidup yang tidak tergantung pada tanah.
Namun para tetua Bali memahami visi dan formulasi papupulaning
sarwa tattwa itu lebih dari sekadar sumber hayati. Betapa maju,
modern, canggih sekalipun orang atau suatu bangsa, suatu negara
---tanpa terkecuali AS yang meroket-roket menjajal jagat luar
angkasa sana--- tetap saja berpijak pada tanah, tetap ditopang
tanah. Tak percaya? Coba saja lihat buktinya.
Nyata senyata-nyatanya
sudah, bahwa dari tanahlah semua kebutuhan hidup manusia berasal.
Segenap sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan dasar
manusia pun bermuasal dan dihidupi dari tanah. Teknologi paling
mutakhir dan canggih sekalipun bahan bakunya tiada lain diambil
dari tanah. Kain sebagai bahan sandang diolah dari kapas yang
dipetik dari tanah. Makanan, dari yang berwujud paling kasar
hingga paling halus dan diolah dalam kemasan tablet, bubuk
vitamin, minuman kaleng ataupun botol atau dijadikan ekstrak
berupa bubuk halus sekalipun, tetap saja semua bahan bakunya
dipetik dari tanah. Rumah mewah dengan gaya arsitektur dan bahan
termodern, entah berdasar porselin, entah bertembok keramik,
berlantai marmer, bertiang beton sekalipun bahan dasarnya
tetaplah berasal dari tanah. Pesawat tercanggih, mobil termahal,
hingga sepeda motor, sepeda gayung paling brengsek tak
terelakkan, bahan bakunya berasal dari tanah. Sadari saja bahwa
bahan baku aneka bahan bakar mulai dari solar, premium, premix,
super, dan sejenisnya bagi kendaraan bermotor, pabrik, diesel,
generator pembangkit listrik tak dapat dipungkiri dibor dari
garba tanah. Semua keperluan hidup manusia dieram oleh perut
bumi.
Pesawat ulang-alik AS
hingga peralatan penginderaan jarak jauh tercanggih yang
digunakan sebagai alat para astronot dan ahli luar angkasa
menembus jagat luar angkasa itu sekalipun bahan bakunya diambil
atau bersumber dari tanah. Manusia-manusia yang pernah
menjejakkan kaki di bulan toh pada akhirnya kembali lagi
menjejak tanah, meminta topangan hidup dari tanah Ibu Bumi
Pertiwi. Kurang data apalagi? Bilapun tak bisa disebutkan semua
di sini, ya silakan sajalah masing-masing menderetkannya
sendiri-sendiri, dan nantinya bila dikumpulkan akan kentara
sekali: tiada sesuatu yang dapat kita pandangi dengan mata
telanjang ini untuk menopang hidup manusia justru muasalnya dari
tanah.
Tanah bumi pertiwi ini
memang tiada ubahnya rahim kandungan mahabesar mahaluas yang
menjadi sumber hidup manusia sebumi. Karena itu, moyang Bali tak
memandang tanah sebatas sumber hayati, tapi juga kumpulan segala
tatwa, pusat segala ajaran kearifan hidup. Merusak tatanan tanah
berarti mengoyak hidup. Bila tanah dikoyak-moyak maka bumi yang
semula memberi hidup pun berbalik bakal menagih hidup. Bila kini
orang Bali justeru berbalik gemar menjual tanah, gemar menjadi
calo tanah, gemar melukai hati tanah, ya tinggal menunggu saja
jam kehancuran, karena hukumnya sudah sangat kukuh, tak bisa
disuap-suap seperti para hakim maling kini: bahwa merusak
tatanan tanah sama saja artinya dengan merusak badan bahkan
hidup sendiri. Karena tanahlah mengeram segalanya, bahkan
termasuk air, api, udara, bahkan juga rongga-rongga kosong
sebagai kawasan hampa, hingga pancadatu, bijih-bijih lima jenis
logam mulia, termasuk permata-permata mulia. Karena mengandung,
mengeram semua itulah maka ragawi tanah dalam tataran spirit
dinamakan Ib. Dialah: Ibu Pertiwi, Ibu Bumi. Dialah Ibu segenap
mahluk hidup, seperti disuartkan dalam nyanyian kanak-akank, .ang
hanya memberi, tak harap kembali".
Sungguh teramat amat
sangat bodohlah manusia yang berstruktur paripurna berlapis bayu,
sabda, idep bila sampai menistakan diri dan hidupnya dengan
mempermainkan tanah, merusak tanah, karena itu sama saja dengan
menggali kubur kematian hidupnya sendiri. Mereka-mereka ini
perlu belajar pada petani-petani subak masa silam yang
berkesadaran linuih menyemesta, yang dengan kesederhanaannya
justru menyembah tanah Ibu Bumi Pertiwi dengan tambah mereka,
mengolah tanah dengan peluh mereka, melindungi tanah Ibu Bumi
Pertiwi dengan letih dan kesabaran mereka -tanpa didesak-desak
nafsu tamak ingin segera memetik hasil.
Kini kok ya malah
sebaliknya, manusia berlomba dalam angka menghasilkan berbagai
produksi kemasan dari teknologi pabrikan yang pada akhirnya
justru meracuni, mencederai, hingga melukai hati tanah Ibu Bumi
Pertiwi ini, entah lewat pupuk, insektisida, limbah-limbah
kimiawi, limbah-limbah plastik, dan semacamnya. Meskipun begitu
toh tanah Ibu Bumi Pertiwi tetap sabar-sabar saja, seperti sang
ibu yang penyabar meskipun telah dikhianati disakiti sang anak -terkecuali
si Ibu Malinkundang yang sampai mengutuk pastu si anak durhaka,
padahal tanpa dikutuk pastu sekalipun si anak pastilah menuai
buah karma khianatnya sendiri terhadap sang Ibu.
Memang sebagai ibu, tanah
dipahami tetua Bali berkarakter sabar, penuh kasih, ikhlas, tak
kenal keluh -meskipun bebannya sangat berat. Tak ubahnya bayi
yang menggelayut pada sang ibu, begitulah manusia menyusu pada
sang ibu bumi. Tak heran seorang ibu yang berkarakter demikian
sehari-hari disebutkan tak ubahnya beryoga tanah, matapa tanah.
Di sana itulah Ibu Bumi dipuja sebagai Sri atau Umadewi, sang
dewi kesuburan, kemakmuran, kekayaan, kemuliaan, pemberi hidup
semua mahluk. Dia dilukiskan sangat jelita dan dipuja di pura
subak oleh para petani, sang pengolah tanah. Di sana Umadewi
menjadi sakti, daya penghidup, Dewa Wisnu, sang pemelihara dan
pelindung semesta seisinya.
Namun sadari sedini
mungkin bahwa tetua Bali juga memahami tanah, Ibu Bumi Pertiwi,
punya karakter sangat paradoks, nungkalik. Selain melahirkan,
menghidupi, memelihara semua mahluk, Ibu Bumi juga sanggup
menelan semua yang terlahir darinya, dalam hitungan detik. Dalam
pada itu karakternya menjadi sangat berbalik: garang, rakus,
mengerikan, ganas, pemangsa segala. Dialah Durgadewi, sang dewi
yang tak tertaklukkan, sangat sulit dicapai, sukar diraih. Dalam
bahasa Sanskerta, Durga juga berarti: sukar didatangi, tak dapat
dilalui, benteng, kubu, di samping kesulitan, kesukaran, dan
bahaya. Dari sinilah citra Dewi Durga dalam tradisi seni di Bali
dilukiskan aeng, dahsyat, seram, mengerikan, penebar bencana,
sekaligus tak terkalahkan, sekaligus dipuja sebagai sakti Dewa
Siwa di Pura Dalem. Para seniman dan balian di Bali memuja
Durgadewi sebagai sang dewa penganugerah taksu.
Baik sebagai Sri, Umadewi,
ataupun Durgadewi, hakikatnya tetaplah tunggal: Dia-lah Siwa,
Sang Dewata Tertinggi, Sang Inti Hidup. Jejak makna ini,
misalkan, dapat dirunut jelas dari mantra Pertiwi Stawa, mantra
pujaan kehadapan Pertiwi sebagai Mahadewi, sang penguasa Bumi
-yang sejatinya adalah Siwa, Sang Sumber Hidup. Orang Bali
menyebut inti hidup dengan istilah sarin gumi atau sarin tanah.
Dari istilah ini lantas lahirlah istilah sarin tahun, sebagai
wujud nyata persembahan manusia Bali kehadapan Ibu Pertiwi
sebagai penguasa tanah yang telah memberi hidup manusia ---bukan
ditelikung sebagai persembahan kepada si raja, penguasa jagat
duniawi.
Bila ingin hidup nyaman
bahagia sepanjang hayat hingga ke generasi entah kapan ke depan
belajarlah dari petani-petani kuna di pedesaan bagaimana mereka
memperlakukan penuh kasih sang tanah Ibu Bumi Pertiwi ini. Dalam
laku sehari-hari, setiap melakukan pekerjaan apa saja yang
berkaitan dengan tanah, petani Bali tak lupa menggelar upacara
persembahan untuk memohon berkah Ibu Pertiwi. Dharma Pamaculan
atau Sri Tatwa bahkan menjelaskan rinci perihal kewajiban
seorang petani, meliputi tata cara mengolah tanah di sawah,
menanam bibit tepat waktu, pengusiran hama atau tolak bala,
hingga tata cara membuat bendungan, termasuk segala upakara yang
ditujukan kepada bumi dalam wujud Dewi Sri, sebagai Dewi
Kesuburan, termasuk manakala tanah hendak dialihfungsikan.
Momentum pertama kali
bayi menginjak tanah (tuwun ka tanah) saat setelah berusia satu
oton (enam bulan Bali) -ada juga melakukannya saat usia bayi
tiga bulan-pun diberi makna istimewa di Bali. Itulah mula awal
seorang anak manusia meminta berkah energi hidup secara langsung
kepada sang Ibu Pertiwi. Pada saat dia baru lahir, lewat ari-ari
yang turut diajak serta terlahir pula, si bayi telah pula
meminta restu Ibu Bumi Pertiwi. Di sana "si anak manusia
baru" bayi lewat ari-ari telah meminta restu hidup pada
tanah Ibu Bumi Pertiwi sebagai "air hidup" (amerta
sanjiwani). Berkatalah sang bapak kandung penuh harap kepada
tanah Ibu Bumi Pertiwi saat menanam ari-ari si anak baru lahir
dari gua garba sang ibu kandung: Ong sang Ibu Pertiwi rumaga
bayu, rumaga amerta sanjiwani, amertani ikang muwuh rerem, moga
dirghayusa sanutugang tuwuh; "Ya, Ibu Bumi Pertiwi yang
merupakan kekuatan, merupakan air hidup bergelar Sanjiwani,
semoga Ibu memberikan kehidupan nan kekal kepada sang bayi yang
sedang tumbuh." Sungguh, jangan main-main, jangan
sembaranganlah terhadap tanah ---bila tak ingin ditelan
buru-buru.
I Made Prabaswara
|