Momentum
Bangkitkan Jati Diri
SEBURUK
apa pun suatu peristiwa menimpa kehidupan manusia, akan
selalu ada hikmahnya. Pernyataan itu sangat signifikan
dengan peristiwa pengeboman di Kuta, 12 Oktober lalu.
Tragedi yang mengusik rasa kemanusiaan itu, telah
menorehkan luka mendalam tidak hanya bagi masyarakat Bali,
tetapi masyarakat Indonesia dan dunia internasional.
ali yang kesehor di
mata internasional karena keindahan alamnya,
keramahtamahan penduduk, keunikan adat dan budaya serta
tingginya sikap dan perilaku religiusitas merupakan
potensi yang melekatkan brand name Bali sebagai pulau
sorga, pulau seribu pura, the morning of the world, the
last paradise dan sejumlah sebutan membanggakan lainnya.
Inilah basic pariwisata kita. Ini pulalah yang menyebabkan
pariwisata itu berkembang. Semuanya itu seakan-akan ingin
dinodai oleh tangan-tangan kotor aksi terorisme itu.
Musibah Kuta,
menjadi pelajaran menarik untuk mengingat kembali memori
itu sembari melakukan instrospeksi terhadap berbagai hal
yang menjadikan wajah Bali seperti sekarang ini. Di balik
''keberhasilan'' ideologi developmentalism yang
dikuantifikasi dengan ukuran yang sangat sumir, ternyata
menyisakan berbagai problematika kualitatif seperti
distorsi sosial, budaya, nilai kebersamaan, lingkungan dan
disparitas ekonomi. Bali kini dikatakan sebagai lost
paradise. uta sebagai pusat pariwisata Bali, merupakan
jantung perekonomian Bali dari sektor pariwisata.
Terganggunya Kuta,
sama artinya terganggunya pariwisata. Terganggunya
pariwisata dapat mengganggu sektor ekonomi, sosial dan
merambah ke politik dan keamanan. Dampaknya mulai merambah
rantai sektoral satu per satu. Menurunnya tingkat hunian
hotel dan penggunaan jasa travel menjadi momok bagi para
pebisnis dan pekerja pariwisata akan nasib dan
kelangsungan hidup mereka. Yang paling terpukul justru
para suplier barang-barang kebutuhan hotel yang notabene
dilakukan oleh pelaku usaha kecil dan menengah serta para
petani agrowisata.
ini yang perlu
dipikirkan adalah menyusun langkah strategis untuk
menginjeksi agar patologi itu tidak merambah ke
sektor-sektor lain. Derasnya aliran bantuan yang diberikan
berbagai pihak atas sikap simpati terhadap masyarakat
Bali, mesti dibarengi dengan penyusunan format yang
komprehensif dalam memulihkan keadaan pascapengeboman.
ebagaimana sudah sering didiskusikan, tiga langkah
strategis yang perlu dilakukan dalam memulihkan keadaan
Bali pascatragedi Kuta penting untuk ditindaklanjuti.
Secara garis besar
format tersebut meliputi: Pertama, recovery jangka pendek
dalam bentuk emergency rescue untuk membantu daerah dan
mereka yang terkena dampak langsung. Upaya ini meliputi
pemulihan keadaan di lokasi kejadian baik secara skala
maupun niskala. Menyantuni keluarga korban tidak hanya
menyangkut beban ekonomi tetapi memulihkan trauma psikis
yang masih dirasakan.
Kedua, langkah
jangka menengah menyangkut upaya mengembangkan sektor
penyanggah pariwisata dengan kembali ke jati diri konsep
pengembangan pariwisata budaya yang berbasis pada budaya
dan masyarakat lokal, yakni pertanian. Dilihat dari
strategi pertumbuhan, sektor pertanian memang relatif
lamban. Di samping lahan pertanian yang makin menyempit,
image dan prospeknya dianggap imperior dibanding
pariwisata. Meski demikian, sektor ini tidak lantas
diabaikan, mengingat keberadaannya sangat menunjang
kebutuhan primer dan teruji dari godaan krisis. Sering
kali sektor ini dijadikan buffer-sone ketika sektor
andalan kelimpungan. Apa yang belakangan disebut sebagai
konsep pengembangan pariwisata berbasis masyarakat
(community based tourism) sesungguhnya bermuara pada
sektor pertanian dalam artian luas.
Ketiga, secara
jangka panjang, upaya untuk melakukan reorientasi terhadap
strategi pembangunan Bali sudah sepatutnya dilakukan.
Strategi jangka panjang ini meliputi sistem perencanaan
pelembagaan dan sistem monitoring dan evaluasi.
Reorientasi dimaksud mestinya dimulai dari sistem tata
ruang Bali yang belakangan sangat merisaukan banyak
kalangan. RTRW Bali yang selama ini ada belum cukup
mumpuni untuk dijadikan dasar pijakan bagi penataan ruang
dan kawasan. Banyak aktivitas pembangunan berlangsung di
luar tata ruang yang sudah ditentukan. Eksploitasi alam
dan lingkungan Bali yang bersifat terbatas, lambat laun
akan merusak jaring-jaring kehidupan sosial dan budaya
masyarakat. Pendek kata, tragedi Kuta dapat memberikan
hikmah bagi kita untuk melakukan instrospeksi untuk
kemudian disusun langkah-langkah restrospeksi sebagai
komitmen bersama bagi keberlanjutan pembangunan Bali
berdasarkan jati diri budaya dan masyarakat Bali. Upaya
ini meliputi penentuan rencana strategis tentang sistem
tata ruang yang mengacu pada konsep tri hita karana dan
trimandala, dengan ditunjang oleh pengembangan sektor
pertanian dalam artian luas untuk menggali sumber daya
alam dan kelautan yang potensinya belum tergali secara
maksimal.
Strategi
pengembangan pariwisata sebagai sektor andalan, mesti pula
ditopang oleh berkembangnya sektor penyanggah lainnya yang
justru akan dapat memperkuat struktur perekonomian Bali.
Tata ruang yang komprehensif dan implementatif akan dapat
memberikan dasar bagi penataan isi keruangan yakni
penduduk dengan berbagai aktivitasnya. Maka, sistem
manajemen kependudukan terpadu yang dominan mempengaruhi
keruangan, akan dapat menciptakan hubungan simbiosis
mutualistis antara manusia dan lingkungannya.
Karena semuanya itu
menyangkut persoalan yang sangat kompleks dan strategis,
amatlah tidak mungkin dikerjakan hanya oleh pemerintah.
Sejalan dengan semangat reinventing government, pemerintah
hanyalah salah satu bagian dari stakeholders pembangunan.
Intensitas peran sektor usaha dan masyarakat dalam artian
luas, akan sangat membantu terciptanya sistem perencanaan
yang komprehensif.
ehadiran tim atau
apa pun namanya yang secara khusus ditugaskan untuk
melakukan recovery terhadap perekonomian Bali dengan
melibatkan stakeholders, diyakini akan mampu me-manage
pemanfaatan bantuan yang mengalir untuk secepatnya dapat
keluar dari visous sircle itu.
* Oka
Wisnumurti
|