Ba'asyir
Dua Kali Ceramah di Ponpes Al-Islam
Lamongan
Tertangkapnya
Amrozy (30), membuat Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islam di
Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan,
gerah. Sebab, ada informasi, Amrozy ditangkap di pondok
ini. Bahkan, pimpinan Ponpes Al-Islam KH Zakaria
disebut-sebut mempunyai jaringan dengan Abu Bakar Ba'asyir,
si pemimpin tertinggi Majelis Mujahidin Indonesia yang
juga pimpinan Ponpes Al-Mu'min Ngruki, Solo. Apalagi,
Ketua Yayasan Al-Islam H. Moch. Chozin (46), yang juga
kakak kandung Amrozy, diduga sebagai pemilik mobil L-300
yang membawa bom untuk meledakkan Sari Club di Legian,
Bali, 12 Oktober lalu.
------------------------------------------------------------
PONPES
Al-Islam yang berdiri di atas tanah seluas 7.500 m2 memang
lokasinya berjarak 300 meter dari rumah tersangka Amrozy.
Bahkan, Amrozy bila sedang berada di rumah sering salat
berjamaah berbaur dengan para santri Al-Islam di Masjid
Nurul Iman, yang terletak di komplek Ponpes Al-Islam. ''Amrozy
bukan santri di sini,'' kata H. Moch. Chozin kepada Bali
Post yang menemuinya di Ponpes Al-Islam, Lamongan, Kamis
(7/11) kemarin.
Ia
menjelaskan, Ponpes Al-Islam memiliki 12 kelas dengan 150
santri. Al-Islam memang memiliki lima guru yang lulusan
Ponpes Al-Mu'min Ngruki, Solo, yang dipimpin Abu Bakar
Ba'asyir.
Bagaimana dengan Abu
Bakar Ba'asyir, yang disebut kalangan intelijen pernah
datang ke Ponpes Al-Islam sebanyak lima kali? Ba'asyir,
diakui H. Moch. Chozin, dua kali datang ke Ponpes
Al-Islam, Lamongan karena diundang. Pertama tahun 2001 dan
kedua pada 16 Juni 2002. Kedatangan Ba'asyir karena
diundang dan untuk memberikan khotbah tul wadah (ceramah
perpisahan para santri yang telah lulus). ''Jadi, Abu
Bakar Ba'asyir datang hanya dua kali dan itu pun diundang
untuk memberi ceramah,'' kilahnya.
Cari Kodok
Sejak peristiwa
peledakan bom di Bali, Ponpes ini terus diawasi. Bahkan,
tujuh hari sebelum Amrozy ditangkap, puluhan serse dan
intelijen menyamar sebagai petani pencari kodok di sekitar
Ponpes Al-Islam.
Padahal, sejak
Ponpes Al-Islam didirikan oleh H. Moch. Chozin, Djafar
Shodiq (keduanya kakak Amrozy-red) dan H. Muslik (alm)
tahun 1992 tidak pernah para santri melihat ada orang
mencari kodok di sekitar Ponpes Al-Islam. ''Aneh sekali.
Ada petani berambut cepak malam-malam mencari kodok sambil
mengawasi Ponpes Al-Islam,'' kata staf pengajar Al-Islam
Nur Fitrah, didampingi puluhan santrinya.
Ternyata, katanya,
kekhawatiran para santri terhadap petani cepak pencari
kodok itu terbukti. Setelah ratusan serse tim gabungan
dari Mabes Polri, Polda Jatim dan Polda Bali menangkap
Amrozy di rumahnya, ternyata dilanjutkan dengan
penggeledahan di Ponpes Al-Islam.
Jika di rumah
tersangka Amrozy, tim gabungan menemukan sejumlah VCD
berisi rekaman peristiwa di Ambon dan Afghanistan. Ketika
mengobok-obok Ponpes Al-Islam, polisi memperoleh satu
teropong, satu bando untuk menyembelih kambing, dan empat
kaset tape. Polisi juga menyita nomor HP milik pimpinan
Ponpes Al-Islam KH Zakaria.
''Saya tidak tahu,
untuk apa nomor HP Pak Zakaria ikut diambil,'' katanya.
Bagaimana aktivitas para santri Ponpes Al-Islam Lamongan?
Al-Islam yang telah meluluskan 125 santri itu memiliki 30
pengajar penuh dengan aktivitas keagamaan. *
Bambang Wiliarto
|