kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 8  Nopember 2002

 Nusantara


Ba'asyir Dua Kali Ceramah di Ponpes Al-Islam 
Lamongan

Tertangkapnya Amrozy (30), membuat Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islam di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan, gerah. Sebab, ada informasi, Amrozy ditangkap di pondok ini. Bahkan, pimpinan Ponpes Al-Islam KH Zakaria disebut-sebut mempunyai jaringan dengan Abu Bakar Ba'asyir, si pemimpin tertinggi Majelis Mujahidin Indonesia yang juga pimpinan Ponpes Al-Mu'min Ngruki, Solo. Apalagi, Ketua Yayasan Al-Islam H. Moch. Chozin (46), yang juga kakak kandung Amrozy, diduga sebagai pemilik mobil L-300 yang membawa bom untuk meledakkan Sari Club di Legian, Bali, 12 Oktober lalu.

------------------------------------------------------------

PONPES Al-Islam yang berdiri di atas tanah seluas 7.500 m2 memang lokasinya berjarak 300 meter dari rumah tersangka Amrozy. Bahkan, Amrozy bila sedang berada di rumah sering salat berjamaah berbaur dengan para santri Al-Islam di Masjid Nurul Iman, yang terletak di komplek Ponpes Al-Islam. ''Amrozy bukan santri di sini,'' kata H. Moch. Chozin kepada Bali Post yang menemuinya di Ponpes Al-Islam, Lamongan, Kamis (7/11) kemarin.

Ia menjelaskan, Ponpes Al-Islam memiliki 12 kelas dengan 150 santri. Al-Islam memang memiliki lima guru yang lulusan Ponpes Al-Mu'min Ngruki, Solo, yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir.

Bagaimana dengan Abu Bakar Ba'asyir, yang disebut kalangan intelijen pernah datang ke Ponpes Al-Islam sebanyak lima kali? Ba'asyir, diakui H. Moch. Chozin, dua kali datang ke Ponpes Al-Islam, Lamongan karena diundang. Pertama tahun 2001 dan kedua pada 16 Juni 2002. Kedatangan Ba'asyir karena diundang dan untuk memberikan khotbah tul wadah (ceramah perpisahan para santri yang telah lulus). ''Jadi, Abu Bakar Ba'asyir datang hanya dua kali dan itu pun diundang untuk memberi ceramah,'' kilahnya.

Cari Kodok

Sejak peristiwa peledakan bom di Bali, Ponpes ini terus diawasi. Bahkan, tujuh hari sebelum Amrozy ditangkap, puluhan serse dan intelijen menyamar sebagai petani pencari kodok di sekitar Ponpes Al-Islam.

Padahal, sejak Ponpes Al-Islam didirikan oleh H. Moch. Chozin, Djafar Shodiq (keduanya kakak Amrozy-red) dan H. Muslik (alm) tahun 1992 tidak pernah para santri melihat ada orang mencari kodok di sekitar Ponpes Al-Islam. ''Aneh sekali. Ada petani berambut cepak malam-malam mencari kodok sambil mengawasi Ponpes Al-Islam,'' kata staf pengajar Al-Islam Nur Fitrah, didampingi puluhan santrinya.

Ternyata, katanya, kekhawatiran para santri terhadap petani cepak pencari kodok itu terbukti. Setelah ratusan serse tim gabungan dari Mabes Polri, Polda Jatim dan Polda Bali menangkap Amrozy di rumahnya, ternyata dilanjutkan dengan penggeledahan di Ponpes Al-Islam.

Jika di rumah tersangka Amrozy, tim gabungan menemukan sejumlah VCD berisi rekaman peristiwa di Ambon dan Afghanistan. Ketika mengobok-obok Ponpes Al-Islam, polisi memperoleh satu teropong, satu bando untuk menyembelih kambing, dan empat kaset tape. Polisi juga menyita nomor HP milik pimpinan Ponpes Al-Islam KH Zakaria.

''Saya tidak tahu, untuk apa nomor HP Pak Zakaria ikut diambil,'' katanya. Bagaimana aktivitas para santri Ponpes Al-Islam Lamongan? Al-Islam yang telah meluluskan 125 santri itu memiliki 30 pengajar penuh dengan aktivitas keagamaan. * Bambang Wiliarto

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)