kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 8  Nopember 2002

 Fenomena


Menata Kuta Pascaledakan Bom

Megawati Inginkan Pedestarian di Jalan Legian

Tampaknya menata kembali puing-puing reruntuhan di lokasi ledakan bom di Jalan Legian, Kuta, 12 Oktober lalu tidaklah mudah. Traumatis masyarakat masih belum pupus. Bahkan, kerap masih terdengar cerita mengerikan di seputar lokasi. Jaminan keamanan masih diharapkan sebelum menata Kuta kembali. Presiden Megawati Soekarnoputri ketika meninjau lokasi ledakan bom Kuta beberapa waktu lalu berharap pemerintah daerah bisa mewujudkan adanya pedestarian di Jalan Legian. Bagaimana Pemkab Badung mewujudkan keinginan itu? Bagaimana pula dengan rencana monumen yang akan dibangun di lokasi ledakan bom?

Jalan Legian yang membentang dari Seminyak, Legian dan Kuta kini memang tak seramai dulu. Bahkan, sepi ketika malam bertambah malam. Suasana malam di sekitar lokasi pascaledakan bom masih menyisakan cerita mengerikan. Warga di seputar lokasi -- tepatnya Banjar Pengabetan, Kuta -- masih bercerita tentang kengerian. Ini tentu wajar, karena di balik puing-puing reruntuhan yang tersisa, barangkali masih ada roh korban gentayangan. Bahkan, seorang penduduk dekat lokasi mengaku masih mendengar suara aneh, tangisan dan sebagainya. Barangkali dari 185 korban meninggal dari jumlah korban seluruhnya 507 orang itu masih ada potongan tubuh yang tersisa di balik reruntuhan puing-puing ledakan bom Kuta. Maklum puing-puing bangunan dan korban belum dilarung ke laut.

Tak Bangun Bar dan Restoran

Bayangan suasana kengerian itu, tak heran membuat ciut nyali pemilik Sari Club dan Paddy's untuk membangun kembali kejayaan restoran dan bar yang ada di seputar lokasi itu. Bahkan, kabar terakhir itu diterima Bupati Badung AA Oka Ratmadi, S.H. dari Wakil Bupati Sumer, Kamis (7/11) kemarin. Pemilik Paddy's dan Sari Club sudah memberi tahu pemerintah daerah tidak akan membangun lagi kerajaan bisnisnya di tempat itu. Paddy's sebelumnya memang merupakan bar dan restoran yang selalu ramai dikunjungi malam hari. Paddy,s yang lokasinya berdekatan dengan Sari Club, sebuah restoran dan bar yang khusus diperuntukkan wisatawan asing. Di restoran inilah sebelumnya wisatawan asing terutama Australia bisa melepaskan segala kepenatan serta berjingkrak-jingkrak sambil minum bir sampai pagi hari. Warga lokal jarang bisa masuk di restoran dan bar ini karena memang diperuntukkan wisatawan asing. Kecuali para sopir taksi dan penunggu tamu yang berada di seputar Jalan Legian. Sejumlah rumah yang berada di belakang Paddy,s juga akan melego tempatnya kepada pemerintah untuk bisa dimanfaatkan fasilitas umum.

Semua pihak tentu tak menginginkan suasana mencekam dan bayangan kelabu ledakan bom menggelayut begitu lama di hati warganya. Gubernur Bali Drs. Dewa Made Beratha sejak awal mengingatkan agar reruntuhan dan puing-puing ledakan bom semuanya dibersihkan dan dibuang ke laut. Jika reruntuhan bangunan itu dibiarkan terlalu lama, akan membuat tempat di seputar itu leteh. Bayangan traumatis tempat itu akan selalu menghantui terutama warga sekitarnya. Menurut rencana, pembuangan segala rongsokan bangunan, rumah bahkan termasuk kemungkinan potongan korban akan dilakukan usai upacara Pamarisudha Karipubhaya 15 November ini oleh Bina Marga Badung, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Badung bekerja sama dengan PU Bali. Hal ini tentu akan membuat petugas terpaksa lembur sampai menjelang hari raya Galungan ini.

Sambil menenangkan dan menenteramkan penduduk di sekitar lokasi, misalnya dengan menggelar hiburan baru dilanjutkan dengan merencanakan di lokasi ledakan bom. Tampaknya hal ini memerlukan waktu yang cukup karena masih terjadi proses pengalihan tanah lokasi bom kepada pemerintah daerah untuk kepentingan penggunaan fasilitas umum. Pemrop Bali bersama jajaran Pemkab Badung sebagaimana disampaikan Bupati Ratmadi akan membangun sebuah monumen di lokasi ledakan bom sebagaimana harapan sejumlah kalangan termasuk pariwisata. Persoalannya, lokasinya apakah di tengah jalan atau di depan Sari Club? Ratmadi memandang lokasi paling tepat adalah di titik lokasi pengeboman. Namun jika alternatif itu tak memungkinkan bisa saja di tengah-tengah jalan di seputar lokasi ledakan bom itu. Akan ada tim khusus yang akan menggodok perencanaan pembangunan monumen itu. Dalam monumen selain akan terpampang nama-nama korban bom yang jumlahnya 507 orang itu, termasuk 185 orang yang meninggal, juga akan dilengkapi foto dan slide bagi mereka yang ingin melihat lebih jauh bagaimana tragedi yang mengerikan itu menimpa Kuta.

Pedestarian

Nah, setelah di lokasi direncanakan monumen, bagaimana dengan kondisi Jalan Legian itu? Apakah akan masih dibiarkan macet sebagaimana sebelum terjadi ledakan? Saat kunjungan Presiden Megawati beberapa waktu lalu ke lokasi, dia berpesan kepada Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan Bupati Badung Ratmadi yang mendampingi saat itu agar sepanjang jalan seputar Legian itu dibuatkan pedestarian. Artinya, bagi mereka yang akan melihat lokasi monumen tidak diperkenankan lagi membawa kendaraan sebagaimana sebelumnya. Hal ini tentu karena ramainya jalan ini, yang kerap terjadi kemacetan lalu lintas. Tawaran ide Ibu Negara itu tentu menarik untuk dikaji. Sebab, jalan kaki ke seputar lokasi ledakan bom dirasakan lebih mudah dan lancar. Paling tidak dengan cara itu akan mengurangi kemacetan lalu lintas. Persoalannya, adakah lokasi parkir di tempat terdekat, mengingat mencari lokasi tanah di sekitar Legian itu bukan main sulitnya. Kalaupun ada tanahnya, harganya sudah demikian mahal. Pemkab Badung memang sejak dulu ingin membebaskan Kuta dari kemacetan lalu lintas. Setelah dibangun sentral parkir di Abianbase, kendaraan yang masuk betul-betul diseleksi. Artinya hanya jenis kendaraan wisata kecil seperti sutle bus yang bisa lalu-lalang ke Kuta. Sementara bus ukuran besar di atas sembilan meter cukup diparkir di sentral parkir. ''Ya... kita kembalikan saja ke konsep awal bagaimana menata kembali lalu lintas dan Kuta tak macet lagi,'' harapnya.

Namun, mewujudkan harapan itu memang tidak mudah. Buktinya, sentral parkir tak berfungsi sepenuhnya. Masih saja sejumlah bus besar mendapat dispensasi membawa wisatawan ke hotel karena jaraknya antara sentral parkir dan lokasi hotel seperti Kartika Plaza cukup jauh. Hal inilah yang menyebabkan kenapa kendaraan enggan memarkir di sentral parkir karena dipandang tidak praktis dan memerlukan waktu lama ke lokasi. Namun dari kajian Strategic Struktural Plan for Kuta (SSPK) ada tiga kantong parkir yakni di Seminyak, Legian dan seputar kawasan Dewa Ruci.

Mengenai keinginan Megawati agar di seputar Jalan Legian dijadikan pedestarian, tampaknya itu sudah tertuang dalam SSPK yang dibiayai Bank Dunia Rp 5 milyar. Menurut Ratmadi, Jalan Raya Legian itu nantinya akan ditata kembali untuk pejalan kaki, sepeda dan sutle bus yang mengantar turis. Mampukah terwujud? Mudah-mudahan. *Suana.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)