Menata Kuta Pascaledakan Bom
Megawati
Inginkan Pedestarian di Jalan Legian
Tampaknya menata
kembali puing-puing reruntuhan di lokasi ledakan bom di
Jalan Legian, Kuta, 12 Oktober lalu tidaklah mudah.
Traumatis masyarakat masih belum pupus. Bahkan, kerap
masih terdengar cerita mengerikan di seputar lokasi.
Jaminan keamanan masih diharapkan sebelum menata Kuta
kembali. Presiden Megawati Soekarnoputri ketika meninjau
lokasi ledakan bom Kuta beberapa waktu lalu berharap
pemerintah daerah bisa mewujudkan adanya pedestarian di
Jalan Legian. Bagaimana Pemkab Badung mewujudkan keinginan
itu? Bagaimana pula dengan rencana monumen yang akan
dibangun di lokasi ledakan bom?
Jalan Legian yang
membentang dari Seminyak, Legian dan Kuta kini memang tak
seramai dulu. Bahkan, sepi ketika malam bertambah malam.
Suasana malam di sekitar lokasi pascaledakan bom masih
menyisakan cerita mengerikan. Warga di seputar lokasi --
tepatnya Banjar Pengabetan, Kuta -- masih bercerita
tentang kengerian. Ini tentu wajar, karena di balik
puing-puing reruntuhan yang tersisa, barangkali masih ada
roh korban gentayangan. Bahkan, seorang penduduk dekat
lokasi mengaku masih mendengar suara aneh, tangisan dan
sebagainya. Barangkali dari 185 korban meninggal dari
jumlah korban seluruhnya 507 orang itu masih ada potongan
tubuh yang tersisa di balik reruntuhan puing-puing ledakan
bom Kuta. Maklum puing-puing bangunan dan korban belum
dilarung ke laut.
Tak Bangun
Bar dan Restoran
Bayangan suasana
kengerian itu, tak heran membuat ciut nyali pemilik Sari
Club dan Paddy's untuk membangun kembali kejayaan restoran
dan bar yang ada di seputar lokasi itu. Bahkan, kabar
terakhir itu diterima Bupati Badung AA Oka Ratmadi, S.H.
dari Wakil Bupati Sumer, Kamis (7/11) kemarin. Pemilik
Paddy's dan Sari Club sudah memberi tahu pemerintah daerah
tidak akan membangun lagi kerajaan bisnisnya di tempat itu.
Paddy's sebelumnya memang merupakan bar dan restoran yang
selalu ramai dikunjungi malam hari. Paddy,s yang lokasinya
berdekatan dengan Sari Club, sebuah restoran dan bar yang
khusus diperuntukkan wisatawan asing. Di restoran inilah
sebelumnya wisatawan asing terutama Australia bisa
melepaskan segala kepenatan serta berjingkrak-jingkrak
sambil minum bir sampai pagi hari. Warga lokal jarang bisa
masuk di restoran dan bar ini karena memang diperuntukkan
wisatawan asing. Kecuali para sopir taksi dan penunggu
tamu yang berada di seputar Jalan Legian. Sejumlah rumah
yang berada di belakang Paddy,s juga akan melego tempatnya
kepada pemerintah untuk bisa dimanfaatkan fasilitas umum.
Semua pihak tentu
tak menginginkan suasana mencekam dan bayangan kelabu
ledakan bom menggelayut begitu lama di hati warganya.
Gubernur Bali Drs. Dewa Made Beratha sejak awal
mengingatkan agar reruntuhan dan puing-puing ledakan bom
semuanya dibersihkan dan dibuang ke laut. Jika reruntuhan
bangunan itu dibiarkan terlalu lama, akan membuat tempat
di seputar itu leteh. Bayangan traumatis tempat itu akan
selalu menghantui terutama warga sekitarnya. Menurut
rencana, pembuangan segala rongsokan bangunan, rumah
bahkan termasuk kemungkinan potongan korban akan dilakukan
usai upacara Pamarisudha Karipubhaya 15 November ini oleh
Bina Marga Badung, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Badung
bekerja sama dengan PU Bali. Hal ini tentu akan membuat
petugas terpaksa lembur sampai menjelang hari raya
Galungan ini.
Sambil menenangkan
dan menenteramkan penduduk di sekitar lokasi, misalnya
dengan menggelar hiburan baru dilanjutkan dengan
merencanakan di lokasi ledakan bom. Tampaknya hal ini
memerlukan waktu yang cukup karena masih terjadi proses
pengalihan tanah lokasi bom kepada pemerintah daerah untuk
kepentingan penggunaan fasilitas umum. Pemrop Bali bersama
jajaran Pemkab Badung sebagaimana disampaikan Bupati
Ratmadi akan membangun sebuah monumen di lokasi ledakan
bom sebagaimana harapan sejumlah kalangan termasuk
pariwisata. Persoalannya, lokasinya apakah di tengah jalan
atau di depan Sari Club? Ratmadi memandang lokasi paling
tepat adalah di titik lokasi pengeboman. Namun jika
alternatif itu tak memungkinkan bisa saja di tengah-tengah
jalan di seputar lokasi ledakan bom itu. Akan ada tim
khusus yang akan menggodok perencanaan pembangunan monumen
itu. Dalam monumen selain akan terpampang nama-nama korban
bom yang jumlahnya 507 orang itu, termasuk 185 orang yang
meninggal, juga akan dilengkapi foto dan slide bagi mereka
yang ingin melihat lebih jauh bagaimana tragedi yang
mengerikan itu menimpa Kuta.
Pedestarian
Nah, setelah di
lokasi direncanakan monumen, bagaimana dengan kondisi
Jalan Legian itu? Apakah akan masih dibiarkan macet
sebagaimana sebelum terjadi ledakan? Saat kunjungan
Presiden Megawati beberapa waktu lalu ke lokasi, dia
berpesan kepada Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan Bupati
Badung Ratmadi yang mendampingi saat itu agar sepanjang
jalan seputar Legian itu dibuatkan pedestarian. Artinya,
bagi mereka yang akan melihat lokasi monumen tidak
diperkenankan lagi membawa kendaraan sebagaimana
sebelumnya. Hal ini tentu karena ramainya jalan ini, yang
kerap terjadi kemacetan lalu lintas. Tawaran ide Ibu
Negara itu tentu menarik untuk dikaji. Sebab, jalan kaki
ke seputar lokasi ledakan bom dirasakan lebih mudah dan
lancar. Paling tidak dengan cara itu akan mengurangi
kemacetan lalu lintas. Persoalannya, adakah lokasi parkir
di tempat terdekat, mengingat mencari lokasi tanah di
sekitar Legian itu bukan main sulitnya. Kalaupun ada
tanahnya, harganya sudah demikian mahal. Pemkab Badung
memang sejak dulu ingin membebaskan Kuta dari kemacetan
lalu lintas. Setelah dibangun sentral parkir di Abianbase,
kendaraan yang masuk betul-betul diseleksi. Artinya hanya
jenis kendaraan wisata kecil seperti sutle bus yang bisa
lalu-lalang ke Kuta. Sementara bus ukuran besar di atas
sembilan meter cukup diparkir di sentral parkir. ''Ya...
kita kembalikan saja ke konsep awal bagaimana menata
kembali lalu lintas dan Kuta tak macet lagi,'' harapnya.
Namun, mewujudkan
harapan itu memang tidak mudah. Buktinya, sentral parkir
tak berfungsi sepenuhnya. Masih saja sejumlah bus besar
mendapat dispensasi membawa wisatawan ke hotel karena
jaraknya antara sentral parkir dan lokasi hotel seperti
Kartika Plaza cukup jauh. Hal inilah yang menyebabkan
kenapa kendaraan enggan memarkir di sentral parkir karena
dipandang tidak praktis dan memerlukan waktu lama ke
lokasi. Namun dari kajian Strategic Struktural Plan for
Kuta (SSPK) ada tiga kantong parkir yakni di Seminyak,
Legian dan seputar kawasan Dewa Ruci.
Mengenai keinginan
Megawati agar di seputar Jalan Legian dijadikan
pedestarian, tampaknya itu sudah tertuang dalam SSPK yang
dibiayai Bank Dunia Rp 5 milyar. Menurut Ratmadi, Jalan
Raya Legian itu nantinya akan ditata kembali untuk pejalan
kaki, sepeda dan sutle bus yang mengantar turis. Mampukah
terwujud? Mudah-mudahan. *Suana.
|