Satukan Visi dan Komitmen Memajukan
Olah Raga di Bali
Dampak tragedi bom
Kuta, 12 Oktober memang masih terasa. Getarannya memang
dahsyat. Tak pelak kondisi itu memunculkan permasalahan
lainnya. Sangat dirasakan daya beli masyarakat mulai
menurun setelah melesunya dunia pariwisata. Apakah ini
akan berimbas ke dunia olah raga? Saat ini memang belum
kelihatan. Para atlet tetap menggulirkan pelatihan.
Pembinaan terus digelindingkan. Bagaimana seharusnya
pembinaan harus disetting?
Dua tokoh olah raga
Drs. I Gusti Made Perasu dan Ir. Nyoman Gede Nala angkat
bicara. Hemat mereka, pembinaan olah raga di Bali memang
sudah bagus, lewat perhatian pemerintah melalui KONI.
Begitu pula kontribusi ke Pengda-pengda. Kesadaran para
atlet pun begitu tinggi. Mereka seolah tak hirau oleh
dampak tragedi bom. Mereka terus bermandi keringat, hanya
untuk sebuah tujuan, prestasi, ya prestasi.
''Ya... KONI, Pemda
dan masyarakat harus bersyukur, memiliki pahlawan-pahlawan
olah raga itu,'' papar Perasu disetujui Nala. Namun, masih
ada sedikit ganjalan, KONI sejujurnya, perlu mensetting
agenda program yang ideal. Itu perlu pemikiran dan
perencanaan seksama dan matang. ''Perencanaan itu perlu,
sehingga tercipta efisiensi dan efektivitas antara kerja
dan hasil,'' kata Nala.
Mau tak mau
pendekatan iptek harus dilakukan dalam perencanaan.
Sepantasnya, SDM-SDM yang ahli pada bidangnya, perlu
dikedepankan. Pendekatan iptek yang mengacu pada patokan
komprehensif dan holistik, memang sangat mendesak.
Misalnya faktor gizi
atlet, kualitas atlet dari segi fisik, teknik,
antropometri, tentu mesti diperhatikan. ''Komponen fisik,
teknik, mental dan taktik-strategi menjadi satu-kesatuan
yang bulat. Tentu harus ditunjang postur dan gizinya,''
ujarnya. Di samping komponen di atas, pembinaan harus
diprogram secara berjenjang, berkesinambungan. Intensitas
kompetisi perlu ditingkatkan guna mengatrol mental
bertanding para atlet. Ajangnya Porda sebagai penjenjangan
regenerasi atlet dari junior. Pancingan pemerintah daerah
untuk membangun fasilitas, dan memberikan apresiasi tinggi
kepada para atlet, pembina dan pengurus.
Di tengah masalah
dana yang menjadi kendala klasik, Porda agar bisa
disetting pada pertengahan PON. Seperti PON XV 2000 dan
PON XVI 2004. Porda bisa diagendakan 2002 pada bulan-bulan
terakhir ini. Dari sini, para atlet bisa langsung lebih
intensif dibina. ''Ini lebih bagus dan lebih irit,
sehingga ada biaya Porda yang bisa dialihkan pada
pembinaan,'' tambah Perasu
Agar pembinaan lebih
menggeliat mestinya pembina yang duduk pada organisasi itu
benar-benar orang olah raga. Jika tidak memiliki sense of
interest yang tinggi, bisa berakibat kurang baik. Jika
ambisinya tidak tercapai, mereka akan mundur. Sebagaimana
olah raga meniru seni, siapa yang benar-benar menguasai,
merekalah yang duduk.
Dukungan
Semua Pihak
Adhiputra, Nurianto
dan Karna menilai bagus pemikiran tokoh olah raga. Hanya,
dalam hal-hal tertentu, kerangka ideal sering tidak
nyambung pada tataran di lapangan.
''Memang, iptek
harus dikedepankan. KONI Bali sudah bekerja sama denga
Perhimpunan Pembinaan Kesehatan Olah Raga Bali sejak PON
1969,'' ujar Adhiputra. Jadi setiap PON, para atlet selalu
mendapat tes fisik dari PPKORI Bali. ''Atlet yang
benar-benar layak secara fisik yang akan dikirim. Kecuali
catur, boling yang dari segi fisik yang hanya membutuhkan
tingkat kesegaran jasmani yang tinggi,'' tegas dr. Ketut
Karna. Menyangkut menggulirkan Porda, KONI dan pemerintah
daerah, mensetting ganda. Pertama, Porda sebagai ajang,
lebih menggeliatkan semangat dan gairah olah raga
masyarakat. Dengan begitu, semua pihak bisa berpartisipasi,
terutama pemerintah daerah, sebagai motor penggerak, dari
dananya.
Kedua, menyasar pada
prestasi. Porda digelar dua tahunan, dengan harapan iklim
olah raga tidak padam. Jika semangat itu bisa
dipertahankan, akan lahir atlet-atlet muda potensial. Jika
semua memiliki satu visi, komitmen memajukan olah raga
Bali ke depan, dia optimis, bukan mimpi Bali akan bisa
menembus target 10 besar pada PON. (ram)
|