Menata Bali ke Depan
Kemagisan
dan Jati Diri Itu harus Dikembalikan
Peledakan bom di Jl.
Legian Kuta, Sabtu (12/10) yang meluluhlantakkan bangunan
dan memakan banyak korban, tampaknya juga sebuah isyarat.
Bagi warga Bali, cobaan ini patut direnungkan. Adakah apa
yang kita perbuat selama ini telah melenceng dari konsep
budaya yang mesti diterapkan di Bali. Atau harus mencari
''kambing hitam'', sehingga ada pihak berpikir untuk
membuat kasino, hiburan malam, dan tempat maksiat lainnya.
Terus apa yang mesti dilakukan menata Bali ke depan?
ADALAH
Pengelingsir Puri Kesiman A.A. Ngurah Gede Kusuma Wardana
yang tampak prihatin. Prihatin dengan kondisi Bali saat
ini, lebih-lebih setelah peledakan bom di Kuta. Baginya,
dalam menata Bali ke depan jangan sampai ada yang digiring,
mengkait-kaitkan, apalagi disamakan dengan kota judi Makao
dan Genting Malaysia. Ke depan, Bali itu harus
dikembalikan kepada jati diri dan kemagisannya.
Mantan Ketua FIP2B
ini, saat diminta pendapatnya pascapeledakan bom, Kamis
(7/11) kemarin mengemukakan, mengembalikan kemagisan Bali
harus dilakukan secara serempak oleh warga Bali. Ia
mengemukakan, sebenarnya telah berkali-kali diingatkan
pada para pengambil kebijakan di daerah ini, betapa
pentingnya mengedepankan nilai dan filosofi adat dan
budaya Bali yang adi luhung dalam menata Bali ke depan.
Namun, kata dia, para pemimpin di Bali tampaknya tetap
buta tuli. Kenapa? Masalahnya, dalam praktiknya di
lapangan pemerintah tetap memberikan izin pada dunia usaha
yang menyimpang dari konsep dan nilai-nilai budaya Bali
itu.
Untuk itu, jika Bali
ingin tetap menjadi pulau yang memiliki kekuatan spiritual
dan tetap magis maka para pelaku pariwisata harus mengubah
sikap.
Perubahan sikap ini
tidak dengan jalan menggelar upacara besar atau
konser-konser. ''Terpenting harus mampu mengubah pola
pikir pelaku pariwisata yang serakah dan mau mencari
keuntungan secara ekonomis belaka,'' kata Kusuma Wardana.
Dikatakan, kegiatan
yang mengundang kecemburuan sosial para teroris ini
seperti konser-konser yang melibatkan artis ibu kota ini,
tak akan mampu memulihkan kondisi pariwisata Bali. Lebih
baik, para pengusaha pariwisata ini lebih banyak
memikirkan potensi Bali yang ada kaitannya dengan
pengembangan dan penataan pariwisata ke depan. Pariwisata
Bali harus bercermin pada orang-orang desa yang masih
memuliakan etika dan moralitas.
Ia mengatakan,
waspadai manuver-manuver pihak tertentu dengan
gagasan-gagasannya yang bisa membuat lunturnya budaya
seperti gagasan membangun kasino dll. Jika ide-ide itu
diberikan angin segar oleh para pemegang kebijaksanaan,
maka samakin hancurlah pariwisata budaya Bali ini.
Ia juga menekankan,
Pemkab Badung dan Kota Denpasar perlu meninjau ulang
izin-izin usaha pariwisata yang ada hubungannya dengan
hiburan malam dan dunia maksiat. Bila perlu dicabut dan
dipreteli semuanya. Sebab, biang kemerosotan moral dan
sikap sebagian warga Bali yang berubah sekarang, karena
adanya tempat-tempat maksiat di kawasan pariwisata.
Ia mengatakan, yang
paling bingung pascapeledakan bom sekarang justru orang
yang berkepentingan dengan pariwisata. Petani di desa tak
banyak berpengaruh. Coba hitung berapa persenkah orang
Bali memiliki usaha pariwisata dan berapa persenkah orang
Bali menikmati kue pariwisata? ''Pasti tidak banyak. Kalau
pun terlibat, hanya sebagai jongos dan tukang sapu di
hotel. Oleh karena itu, pengusaha pariwisata janganlah
sombong,'' kata Kusuma Wardana. (sut)
|