kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 8  Nopember 2002

 Bali


Menata Bali ke Depan
Kemagisan dan Jati Diri Itu harus Dikembalikan

Peledakan bom di Jl. Legian Kuta, Sabtu (12/10) yang meluluhlantakkan bangunan dan memakan banyak korban, tampaknya juga sebuah isyarat. Bagi warga Bali, cobaan ini patut direnungkan. Adakah apa yang kita perbuat selama ini telah melenceng dari konsep budaya yang mesti diterapkan di Bali. Atau harus mencari ''kambing hitam'', sehingga ada pihak berpikir untuk membuat kasino, hiburan malam, dan tempat maksiat lainnya. Terus apa yang mesti dilakukan menata Bali ke depan?

ADALAH Pengelingsir Puri Kesiman A.A. Ngurah Gede Kusuma Wardana yang tampak prihatin. Prihatin dengan kondisi Bali saat ini, lebih-lebih setelah peledakan bom di Kuta. Baginya, dalam menata Bali ke depan jangan sampai ada yang digiring, mengkait-kaitkan, apalagi disamakan dengan kota judi Makao dan Genting Malaysia. Ke depan, Bali itu harus dikembalikan kepada jati diri dan kemagisannya.

Mantan Ketua FIP2B ini, saat diminta pendapatnya pascapeledakan bom, Kamis (7/11) kemarin mengemukakan, mengembalikan kemagisan Bali harus dilakukan secara serempak oleh warga Bali. Ia mengemukakan, sebenarnya telah berkali-kali diingatkan pada para pengambil kebijakan di daerah ini, betapa pentingnya mengedepankan nilai dan filosofi adat dan budaya Bali yang adi luhung dalam menata Bali ke depan. Namun, kata dia, para pemimpin di Bali tampaknya tetap buta tuli. Kenapa? Masalahnya, dalam praktiknya di lapangan pemerintah tetap memberikan izin pada dunia usaha yang menyimpang dari konsep dan nilai-nilai budaya Bali itu.

Untuk itu, jika Bali ingin tetap menjadi pulau yang memiliki kekuatan spiritual dan tetap magis maka para pelaku pariwisata harus mengubah sikap.

Perubahan sikap ini tidak dengan jalan menggelar upacara besar atau konser-konser. ''Terpenting harus mampu mengubah pola pikir pelaku pariwisata yang serakah dan mau mencari keuntungan secara ekonomis belaka,'' kata Kusuma Wardana.

Dikatakan, kegiatan yang mengundang kecemburuan sosial para teroris ini seperti konser-konser yang melibatkan artis ibu kota ini, tak akan mampu memulihkan kondisi pariwisata Bali. Lebih baik, para pengusaha pariwisata ini lebih banyak memikirkan potensi Bali yang ada kaitannya dengan pengembangan dan penataan pariwisata ke depan. Pariwisata Bali harus bercermin pada orang-orang desa yang masih memuliakan etika dan moralitas.

Ia mengatakan, waspadai manuver-manuver pihak tertentu dengan gagasan-gagasannya yang bisa membuat lunturnya budaya seperti gagasan membangun kasino dll. Jika ide-ide itu diberikan angin segar oleh para pemegang kebijaksanaan, maka samakin hancurlah pariwisata budaya Bali ini.

Ia juga menekankan, Pemkab Badung dan Kota Denpasar perlu meninjau ulang izin-izin usaha pariwisata yang ada hubungannya dengan hiburan malam dan dunia maksiat. Bila perlu dicabut dan dipreteli semuanya. Sebab, biang kemerosotan moral dan sikap sebagian warga Bali yang berubah sekarang, karena adanya tempat-tempat maksiat di kawasan pariwisata.

Ia mengatakan, yang paling bingung pascapeledakan bom sekarang justru orang yang berkepentingan dengan pariwisata. Petani di desa tak banyak berpengaruh. Coba hitung berapa persenkah orang Bali memiliki usaha pariwisata dan berapa persenkah orang Bali menikmati kue pariwisata? ''Pasti tidak banyak. Kalau pun terlibat, hanya sebagai jongos dan tukang sapu di hotel. Oleh karena itu, pengusaha pariwisata janganlah sombong,'' kata Kusuma Wardana. (sut)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)