Di Balik Gemerlapnya Tambang Dolar Pariwisata
Di
Bali tak Pernah Ada Pemerataan
Ledakan bom di
Legian, betapapun perihnya, tetap menyisahkan ruang untuk
kontemplasi. Salah satu bentuknya, mengambil ''pelajaran''
dari tragedi yang merenggut 185 jiwa itu. Dalam semangat
itulah Bali TV menggelar diskusi panel bertajuk ''Membangun
Bali Pascatragedi Kuta'', Kamis (7/11) kemarin. Materi
diskusi yang ditayangkan langsung itu menyoroti penataan
kembali konsepsi pembangunan Bali, pemerataan pengembangan
wilayah serta penyikapan terhadap berbagai ekses
destruktif yang mengiringi lesatan kemajuan pariwisata
Bali. Berikut rangkumannya.
========================================================
SECARA
garis besar pemetaan sektor perekonomian Bali dipilari
tiga sektor utama, masing-masing pertanian,
industri-perdagangan dan pariwisata-jasa lainnya. Secara
empirik, pariwisata Bali telah melaju sedemikian
ngembutnya sehingga mengubah wajah sosial dan struktur
perekonomian Bali. Tak bisa disangkal, kemajuan pariwisata
di daerah ini telah mendongkrak indikator makro ekonomi
daerah ini.
Namun, tak bisa
diabaikan, biaya sosial yang harus dibayar masyarakat Bali
untuk melesatkan sektor tambang dolar ini sangat mahal.
Secara kualitatif digambarkan oleh Putu Suasta, di mana
quality of life masyarakat Bali mengalami penurunan.
Arus urbanisasi dan
serbuan pendatang dengan berbagai implikasinya,
kesenjangan antara wilayah, tata ruang makin sembrawut,
alih fungsi lahan yang dramatik serta daya dukung
lingkungan kian menipis, merupakan jeritan panjang ekses
destruktif kepariwisataan Bali. ''Program sudah ada,
rancangan sudah bagus, tetapi pengelolaan dan
pengawasannya yang tidak konsisten,'' sergah pengamat tata
ruang Nyoman Gelebet.
Pengamat ekonomi Dr.
Nyoman Erawan dan koleganya dari Fakultas Pertanian Unud
Dr. Dewa Ngurah Supartha menyodorkan data pergeseran
struktur ekonomi Bali yang terjadi secara dramatis. Pada
tahun 1971, ekonomi Bali didominasi sektor pertanian
(59,1%), menyusul pariwisata-jasa (33,4%) dan sektor
industri (7,6%). Tiga puluh tahun kemudian berbalik,
sektor pariwisata (69,7%), pertanian (20,1%) dan industri
(10,3%).
Secara statistikal
memang terjadi peningkatan pendapatan seiring dengan
pergeseran dominasi sektor tadi. Pendapatan per kapita
penduduk Bali yang tahun 1969 hanya Rp 16.032 melonjak
tajam menjadi Rp 2,417 juta pada tahun 2000. Tokoh agama
Ketut Wiana dan psikiater Prof. LK Suryani mempertanyakan,
apakah kemajuan pariwisata itu benar-benar telah dinikmati
oleh masyarakat Bali sesusai dengan konsep keadilan dan
pemerataan.
Forum diskusi yang
dihadiri sepuluh narasumber itu sepakat; pemerataan itu
tidak pernah ada. Bali Selatan melesat meninggalkan
wilayah lainnya, tanpa mampu dibendung, karena mekanisme
pasar berjalan tanpa kontrol yang memadai dari pemerintah.
Sejatinya, konsep tata ruang yang memenggal pulau mungil
ini menjadi kawasan berikut peruntukannya sudah jelas.
Namun, mengapa pembangunan terkonsentrasi di Bali Selatan?
Mengapa sebagian besar penduduk miskin di Bali
terkonsentrasi di pedesaan di luar Badung dan Denpasar?
Kelemahan
Leadership
Forum diksusi yang
juga dihadiri wakil pemerintah (Kepala Bappenda Bali Putu
Sujana Cahyanta) itu belum secara memadai menjawab
pertanyaan esensial di atas. Hanya Putu Suasta yang secara
gamblang menengarai, semua ini terjadi karena kelemahan
leadership di daerah ini. Demi mengefisiensi sumber daya
Bali, Suasta malah menggagaskan penciutan Bali menjadi
hanya empat kabupaten.
Dalam perspektif
yang sama, namun dengan gaya ungkap berbeda, Ida Ayu Mas
dan LK Suryani melihat persoalan ini lebih pada sumber
daya manusia. Godaan kapitalis dan pemahaman yang kurang
membumi pada akar budaya dari para pelakunya, menonjolkan
sisi hedonis dan profan dari kepariwisataan Bali.
Sementara sisi spiritualnya terabaikan. Akibatnya, label
''budaya'' yang mengekori pariwisata dalam pencitraan Bali
sebagai sebuah destinasi lebih diperlakukan sebagai
semacam gincu penglaris. Sebagaimana digelisahkan banyak
pihak, tari telanjang dan praktik tak senonoh lainnya
menghiasi aktivitas yang konon berbau pariwisata. Ide-ide
liar yang mempersetankan konsep Tri Hita Karana
diapresiasi sebagai tambang dolar baru. Konsep community
based tourism-pun akhirnya sekadar penghias bibir.
Dalam diskusi yang
dipandu IGP Artha itu sempat pula mengedepan, upaya
menghadirkan rasa keadilan dalam mereguk nikmat pariwisata.
Ketua PHRI Badung Nyoman Rutha Ady dengan nada gundah
melukiskan ketidakberdayaan dalam menghadapi jaringan
hotel internasional. Hotel-hotel yang notabene owner-nya
dari luar negeri (mungkin juga Jakarta) mempunyai
pertimbangan sendiri untuk setidaknya mengambil general
manager, marketing dan exevutive chief-nya dari orang
asing.
Konstalasi
perundang-undangan nasional yang mengatur distribusi
income memperparah situasi yang ada. Buktinya, dari
sekitar 26 BUMN yang beroperasi di Bali, tidak memberi
sumbangan yang signifikan. Prof. IGN Gorda mengusulkan,
Pemprop dan DPRD Bali harus lebih kreatif melakukan
terobosan guna memperoleh kompensasi. Dengan demikian,
pendapatan daerah yang diperoleh dari sektor pariwisata
bisa diprioritaskan untuk membangun infrastruktur demi
akselerasi pembangunan di belahan Bali yang lain.
Dampak jangka
panjang dari keseimbangan pembangunan antarwilayah di Bali
sangat visioner. Zoning yang semula disepakati dalam Perda
Tata Ruang Bali menjadi lebih jelas, sehingga pengembangan
pariwisata tidak harus menyeruduk sumber daya pertanian.
Demikian pula, pembangunan akomodasi berikut dampak
ikutannya tidak harus berjejal di Bali Selatan. Diharapkan,
sektor pariwisata, pertanian dan industri berjalan seiring.
Konsepsi ideal ini
hanya akan menjadi pelipur lara, kalau masyarakat di
daerah ini, khususnya para pengambil kebijakan dan
komponen pariwisata tak mampu mengartikulasikannya. *
Gregorius
|