Dari Warung Global Interaktif ''Bali Post''
Kuta Layak Jadi
Kota Madya
Pascaledakan bom 12
Oktober lalu, Kuta yang terkoyak harus menata kembali
sebagai kota pariwisata, yang tentunya sejalan dengan
budaya setempat. Bank Dunia pun menyiapkan kajian yang
dibiayainya menyangkut Strategic Structural Plan for Kuta
(SSPK). SSPK itu setidaknya memberikan gambaran bagaimana
wajah Kuta 10 atau 20 tahun ke depan. Konsepnya, yakni
mengubah wajah Kuta saat ini. Ketua Tim Konsultan
Pengkajian SSPK Ir. I Putu Rumawan pun optimis jika SSPK
bisa diwujudkan, kelak wajah Kuta menjadi sebuah pusat
kota pariwisata internasional, yang di dalamnya sarat
dengan nilai sosial budaya bernapaskan Hindu. Demikian
antara lain tanggapan para pengunjung Warung Global yang
mengetengahkan topik ''Jadikan Kuta Kota Pariwisata''.
Dalam acara yang disiarkan langsung Radio Global FM 99,15
Kini Jani, Kamis (7/11) kemarin, banyak pula pengunjung
warung yang menyatakan ketidaksetujuannya bila Kuta
dijadikan kota madya, dengan alasan Bali makin
terpecah-belah. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio
Genta Swara Sakti Bali FM 106,15 dan Radio Singaraja FM
107,2. Berikut rangkumannya.
=====
Dalam kesempatan itu,
Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Bali Jaya Susila
mengusulkan agar Kuta dijadikan kota madya. Alasannya,
dari segi keamanan bukan saatnya lagi ditangani setingkat
Polsek, tetapi memerlukan antisipasi petugas setingkat
Polres. ''Kasus penjambretan sering terjadi di Kuta,''
tutur Jaya Susila.
Oleh karena itu,
pengamanannya perlu diperketat. Misalnya dengan
menggunakan satelit yang mampu memonitor segala aktivitas
di Kuta, sehingga jika terjadi rencana orang berbuat jahat
sudah terdeteksi lebih awal. Selama ini, Kuta berkembang
alamiah dan dibiarkan masyarakat. Akibatnya, Kuta menjadi
semrawut, baik pembangunannya maupun lalu lintasnya yang
macet, ditambah lagi dengan menjamurnya bar dan karaoke.
''Gara-gara sumpek, saya sudah tiga tahun ini tak pernah
ke Kuta,'' cetusnya. Rent a car pun bergentayangan, mana
yang legal dan ilegal sulit dibedakan.
Jaya Susila juga
menerima kabar dari rekannya yakni wisatawan Jepang yang
dulunya nyaman tinggal di Kuta, sekarang lebih memilih
Candidasa, Ubud, atau Nusa Dua. ''Kuta sudah semrawut,
macet, sumpek dan kumuh,'' ujarnya menirukan apa yang
disampaikan rekannya itu.
Dia pun mengusulkan,
sebaiknya Kuta dijadikan kota madya, karena selama ini PB
I, PPh, PPN, PBB, tersedot ke pusat dan Pemkab Badung,
serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) masuk ke kas propinsi.
Sayangnya, pajak yang dipungut dari Kuta tak diimbangi
pembangunan fasilitas di Kuta. ''Seandainya Kuta
kecipratan 50 persen dari pajak yang dipungut dari Kuta,
pasti pembangunannya berjalan lancar,'' ungkapnya seraya
menambahkan apalagi Pemkab Badung kini berkonsentrasi
membangun puspem. Ia juga memaklumi kepentingan Bank Dunia
yang siap membantu, sebab Kuta merupakan DTW internasional.
Jaya Susila
mempertanyakan mengapa pemerintah pusat sepertinya tak
rela Bali menjadi status otonomi khusus (otsus)? Padahal,
peluang Bali menjadi otsus sangat terbuka. Bahkan, Jaya
Susila dua kali menanyakan langsung kepada Direktur
Otonomi Daerah Depdagri DR. Suwandha. ''Dengan argumentasi
yang kuat mengapa tidak. Hal ini tergantung perjuangan
elite politik yang sepertinya tak rela Bali berstatus
otsus,'' papar dia. Malah, Aceh siap berargumentasi
termasuk menjalankan Syariat Islam.
Terpecah-belah
Namun Maria dari
Sidakarya, kontan tak setuju dengan ide Jaya Susila, sebab
jika Kuta jadi kota madya dikhawatirkan Bali akan
terpecah-belah. ''Kesannya nanti, seolah-olah yang paling
istimewa adalah Kuta,'' demikian alasan Maria. Dia juga
khawatir nantinya Ubud akan mengikuti jejak Kuta. Pendapat
Maria juga mendapat dukungan dari Dewa Winaya, karena
kalau terpecah-pecah lenyaplah pemerintah Bali.
Sementara menurut
Jeri, masuknya investor kelas kakap bisa mengeruk duit ke
kantongnya. Misalnya, sentral parkir 3/4 dimanfaatkan jadi
mal.
Sedangkan Vijay
menyarankan supaya di Pelabuhan Padangbai dan Gilimanuk
dipasang perangkat canggih sebagai langkah proteksi. Kuta
sebagai simpul pariwisata, menurut Ida Bagus Santosa (Bangli),
potretnya mirip masyarakat Betawi yang terpinggirkan,
karena lemahnya SDM. Kecemburuan muncul, karena hanya
sebagian masyarakat yang menikmati kue pariwisata. ''Masuknya
investor hanya mementingkan pembangunan fisik,'' jelas dia.
Menurut Agus dari
Mengwi, Kuta, Ubud dan Nusa Dua adalah simpul yang tak
bisa dipisahkan satu dengan lainnya. ''Untuk penataan Kuta
10-20 tahun ke depan, SDM masyarakatnya harus kuat,''
ujarnya.
Pak Putu Ardana dari
Gianyar menegaskan, dirinya tak setuju kalau Bali
dipecah-belah. Menurutnya, lebih baik potensinya
dimaksimalkan dengan tidak hanya bertumpu pada pariwisata.
Dicontohkan, pengiriman naker ke mancanegara juga
menghasilkan pemasukan. Pak Toyota juga tak setuju bila
Kuta memisahkan diri dari Badung. ''Badung bisa mati kalau
hanya mengandalkan Mengwi,'' katanya.
Sementara itu,
Aritonang berharap pemerintah konsisten seperti di jalur
hijau tak mengeluarkan IMB. ''Secara fisik, kami ingin
menuntut kekonsistenan pemerintah,'' pintanya. (nel)
|