Perajin
Lombok pun Tergantung Bali
Mahsun masih
memainkan serut di tangannya. Warga Gunung Sari, Lombok
Barat itu, sudah merampungkan empat buah berugaq berukuran
3 x 3 meter. Keempat berugaq itu dibuat bukan karena ada
pesanan. "Ini hanya sebagai barang pajangan,"
tukasnya.
Sejak tragedi bom
Bali, tidak ada lagi pesanan berugaq yang memberikan
keuntungan besar. Beberapa bulan sebelumnya, tamu dari
Jepang memesan sampai 50-an berugaq dengan harga Rp 1,5
juta per buah. Namun Oktober, pesanan kosong. Karena
itulah, Mahsun hanya berharap dari pasaran lokal.
Hal serupa dialami
para pengusaha kerajinan bambu. Selama ini, hubungan
mereka terjalin erat dengan kalangan wisatawan bisnis.
Kalangan wisatawan inilah yang memasarkan berbagai
kerajinan masyarakat Gunung Sari ke Australia dan
negara-negara lain. Terlebih kerajinan fungsional ini
memiliki harga yang relatif murah. Meja makan plus empat
buah kursi seharga Rp 200.000. Seperangkat kursi tamu Rp
150.000 - Rp 300.000. Kursi malas Rp 125.000.
Tidak mengherankan
kalau wisatawan bisnis banyak melirik potensi Gunung Sari
yang terkenal sejak dahulu karena kepiawaian masyarakatnya
membuat berbagai jenis kerajinan bambu. Hampir setiap hari
mereka datang ke kawasan itu untuk memesan berbagai jenis
kerajinan bambu. "Pesanan-pesanan dari wisatawan
itulah yang untungnya bisa kita rasakan untuk
menyekolahkan anak," tukas Hj. Suhailiyah, salah
seorang pengusaha kursi bambu di sana. Sedangkan pembeli
lokal -- yang melakukan pembelian dengan nilai total Rp 5
juta sebulan -- sifatnya hanya menutupi kebutuhan
sehari-hari.
Praktis begitu
tragedi Bali meletus, kalangan wisatawan pun kalang kabut.
Salah seorang wisatawan bisnis asal Australia bahkan
sampai meninggalkan orderannya kepada Rusliatun, pengelola
art shop Rebong Antik. Menurut rencana, pesanan boks
gerabah seharga Rp 50 ribu per biji dan dipan malas
seharga Rp 100 ribu per biji, akan diambil Oktober 2002.
Pada saat hendak melakukan pengambilan, muncul tragedi
tersebut.
Dampaknya, Rusliatun
harus menanggung biaya yang begitu tinggi. Bayangkan,
setiap hari ia harus membayar delapan perajin dengan upah
Rp 15.000-Rp 30.000. Sementara order yang baru dibayar Rp
750.000. Sedangkan barang yang sudah terkirim senilai Rp
2,5 juta, dan barang yang telah siap kemas menumpuk di
show room-nya.
Ketidakjelasan
penantian kapan kondisi pulih membuat Rusliatun tak habis
pikir. Karena itulah semua perajin berharap situasi
keamanan di Indonesia segera pulih. "Kita sudah
mengalami beberapa kali hal semacam ini. Kalau begini
terus, kita bisa rugi," kata Suhailiyah. "Sedangkan
permintaan lokal yang sangat kecil itu hanya untuk
memenuhi kebutuhan pokok," lanjutnya.
Ia mengatakan, pada
bulan puasa, hotel-hotel di Senggigi biasanya memesan
seperangkat meja makan. Namun pada bulan ini, kunjungan
tamu tidak lagi seramai dulu. Suhailiyah sendiri mengaku
tidak tahu hubungan bom di Bali dan sepinya pemasaran
barang kerajinan. Namun, ia merasakan bahwa wisatawan
khawatir datang ke Indonesia, bukan hanya Bali atau NTB.
Hampir segala jenis
barang kerajinan mengalami persoalan pemasaran.
Perbedaannya, ada yang tidak mengalami persoalan
pembayaran, dan ada yang mengalami masalah itu. Salah satu
yang beruntung memiliki rekanan bisnis yang baik adalah UD
Indriyani. Kendati tragedi bom melukai pariwisata
Indonesia, pengusaha asal Colombia yang juga memiliki art
shop di Bali itu melunasi kekurangan pembayarannya.
Menurutnya, rekannya
tersebut memesan kerajinan gerabah Banyumulek sebelum bom
meletus dengan pembayaran di muka 30 persen. Setelah
barang dikirim pascabom, kekurangan pun dilunasi dengan
total nilai Rp 31 juta. "Tidak sedikit pun kami
dirugikan karena kami sudah menjalin hubungan sejak
lama," kata Direktris UD Indriyani, Indri, S.Pd.
Persoalannya, mulai ada tanda-tanda pasaran kerajinan akan
tersendat. "Rekan bisnis saya mengatakan tidak bisa
lagi datang ke Lombok," tukasnya.
Tak ada alasan
setelah memberikan keterangan semacam itu, apakah karena
travel ban yang diberlakukan negaranya terhadap Indonesia,
atau cemas melihat kondisi Indonesia yang tidak aman
karena aksi teror yang terus-menerus di berbagai daerah.
Namun, fakta itu semua merupakan sebuah pertanda bahwa
masa-masa sulit belum berlalu. Apalagi berbagai kerajinan
Lombok sebagian besar dikumpulkan di Bali sebelum
diterbangkan ke berbagai negara.
Pemerhati pariwisata
NTB H.Jalaluddin Arzaki mengatakan, harus ada upaya-upaya
pemerintah menghidupkan kembali sektor kerajinan itu. Di
sisi lain, pemerintah menanamkan kepercayaan kepada
masyarakat luar dengan tetap melakukan upaya-upaya
keamanan secara internal. Kata dia, persoalan internal
lebih penting dari promosi. "Sesuatu yang
dipromosikan adalah sesuatu yang telah memiliki citra baik,"
ujarnya. (rab)
|