kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 7  Nopember 2002

 Pariwisata


Perajin Lombok pun Tergantung Bali

Mahsun masih memainkan serut di tangannya. Warga Gunung Sari, Lombok Barat itu, sudah merampungkan empat buah berugaq berukuran 3 x 3 meter. Keempat berugaq itu dibuat bukan karena ada pesanan. "Ini hanya sebagai barang pajangan," tukasnya.

Sejak tragedi bom Bali, tidak ada lagi pesanan berugaq yang memberikan keuntungan besar. Beberapa bulan sebelumnya, tamu dari Jepang memesan sampai 50-an berugaq dengan harga Rp 1,5 juta per buah. Namun Oktober, pesanan kosong. Karena itulah, Mahsun hanya berharap dari pasaran lokal.

Hal serupa dialami para pengusaha kerajinan bambu. Selama ini, hubungan mereka terjalin erat dengan kalangan wisatawan bisnis. Kalangan wisatawan inilah yang memasarkan berbagai kerajinan masyarakat Gunung Sari ke Australia dan negara-negara lain. Terlebih kerajinan fungsional ini memiliki harga yang relatif murah. Meja makan plus empat buah kursi seharga Rp 200.000. Seperangkat kursi tamu Rp 150.000 - Rp 300.000. Kursi malas Rp 125.000.

Tidak mengherankan kalau wisatawan bisnis banyak melirik potensi Gunung Sari yang terkenal sejak dahulu karena kepiawaian masyarakatnya membuat berbagai jenis kerajinan bambu. Hampir setiap hari mereka datang ke kawasan itu untuk memesan berbagai jenis kerajinan bambu. "Pesanan-pesanan dari wisatawan itulah yang untungnya bisa kita rasakan untuk menyekolahkan anak," tukas Hj. Suhailiyah, salah seorang pengusaha kursi bambu di sana. Sedangkan pembeli lokal -- yang melakukan pembelian dengan nilai total Rp 5 juta sebulan -- sifatnya hanya menutupi kebutuhan sehari-hari.

Praktis begitu tragedi Bali meletus, kalangan wisatawan pun kalang kabut. Salah seorang wisatawan bisnis asal Australia bahkan sampai meninggalkan orderannya kepada Rusliatun, pengelola art shop Rebong Antik. Menurut rencana, pesanan boks gerabah seharga Rp 50 ribu per biji dan dipan malas seharga Rp 100 ribu per biji, akan diambil Oktober 2002. Pada saat hendak melakukan pengambilan, muncul tragedi tersebut.

Dampaknya, Rusliatun harus menanggung biaya yang begitu tinggi. Bayangkan, setiap hari ia harus membayar delapan perajin dengan upah Rp 15.000-Rp 30.000. Sementara order yang baru dibayar Rp 750.000. Sedangkan barang yang sudah terkirim senilai Rp 2,5 juta, dan barang yang telah siap kemas menumpuk di show room-nya.

Ketidakjelasan penantian kapan kondisi pulih membuat Rusliatun tak habis pikir. Karena itulah semua perajin berharap situasi keamanan di Indonesia segera pulih. "Kita sudah mengalami beberapa kali hal semacam ini. Kalau begini terus, kita bisa rugi," kata Suhailiyah. "Sedangkan permintaan lokal yang sangat kecil itu hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok," lanjutnya.

Ia mengatakan, pada bulan puasa, hotel-hotel di Senggigi biasanya memesan seperangkat meja makan. Namun pada bulan ini, kunjungan tamu tidak lagi seramai dulu. Suhailiyah sendiri mengaku tidak tahu hubungan bom di Bali dan sepinya pemasaran barang kerajinan. Namun, ia merasakan bahwa wisatawan khawatir datang ke Indonesia, bukan hanya Bali atau NTB.

Hampir segala jenis barang kerajinan mengalami persoalan pemasaran. Perbedaannya, ada yang tidak mengalami persoalan pembayaran, dan ada yang mengalami masalah itu. Salah satu yang beruntung memiliki rekanan bisnis yang baik adalah UD Indriyani. Kendati tragedi bom melukai pariwisata Indonesia, pengusaha asal Colombia yang juga memiliki art shop di Bali itu melunasi kekurangan pembayarannya.

Menurutnya, rekannya tersebut memesan kerajinan gerabah Banyumulek sebelum bom meletus dengan pembayaran di muka 30 persen. Setelah barang dikirim pascabom, kekurangan pun dilunasi dengan total nilai Rp 31 juta. "Tidak sedikit pun kami dirugikan karena kami sudah menjalin hubungan sejak lama," kata Direktris UD Indriyani, Indri, S.Pd. Persoalannya, mulai ada tanda-tanda pasaran kerajinan akan tersendat. "Rekan bisnis saya mengatakan tidak bisa lagi datang ke Lombok," tukasnya.

Tak ada alasan setelah memberikan keterangan semacam itu, apakah karena travel ban yang diberlakukan negaranya terhadap Indonesia, atau cemas melihat kondisi Indonesia yang tidak aman karena aksi teror yang terus-menerus di berbagai daerah. Namun, fakta itu semua merupakan sebuah pertanda bahwa masa-masa sulit belum berlalu. Apalagi berbagai kerajinan Lombok sebagian besar dikumpulkan di Bali sebelum diterbangkan ke berbagai negara.

Pemerhati pariwisata NTB H.Jalaluddin Arzaki mengatakan, harus ada upaya-upaya pemerintah menghidupkan kembali sektor kerajinan itu. Di sisi lain, pemerintah menanamkan kepercayaan kepada masyarakat luar dengan tetap melakukan upaya-upaya keamanan secara internal. Kata dia, persoalan internal lebih penting dari promosi. "Sesuatu yang dipromosikan adalah sesuatu yang telah memiliki citra baik," ujarnya. (rab)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)