kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 7  Nopember 2002

 Ekonomi


Tragedi Kuta Pengaruhi DAU 2003

Jakarta (Bali Post) -
Tahun 2003 mendatang, pemerintah Daerah (Pemda) siap-siap gigit jari. Pasalnya, akibat tragedi Kuta, diperkirakan pertumbuhan ekonomi negara akan menyusut. Imbasnya, penerimaan negara juga melorot. Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah yang sejak dua tahun ini dijadikan andalan pendapatan pemda ikut-ikutan menciut.

"DAU kemungkinan menyusut. Tapi saya masih tunggu angka-angka pastinya," kata Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Machfud Sidik usai mengikuti Panja RAPBN 2003 di Jakarta, Rabu (6/11) kemarin. Dijelaskan Machfud, kemungkinan penurunan DAU sangat terbuka, jika penerimaan dalam negeri turun. Tetang kemungkinan penurunan itu, menurutnya, akan sebanding dengan penurunan penerimaan dalam negeri. Menurut aturannya, DAU diambil dari 25 persen penerimaan dalam negeri.

"Menurut perhitungan saya, kalau pun terjadi penurunan, jumlahnya tidak akan besar," jelas Machfud. Dalam RAPBN 2003 tercantum, belanja total untuk daerah Rp 113,2 trilyun atau 5,8 persen PDB. Angka ini lebih besar dari APBN 2002 yang hanya sebesar Rp 97,9 trilyun atau 5,8 persen. Bila di-break down lagi, angka itu dibagi ke dalam dana perimbangan serta dana otonomi khusus dan penyeimbang, masing-masing Rp 103,6 trilyun (5,3 persen) dan Rp 9,6 trilyun (0,5 persen).

Untuk dana perimbangan dipecah ke dalam tiga bagian, yakni dana bagi hasil Rp 25,9 trilyun (1,3 persen), dana alokasi umum Rp 75,4 trilyun (3,9) persen dan dana alokasi khusus Rp 2,3 trilyun (0,1 persen). Pinjaman Luar Negeri Dalam kesempatan berbeda, Ketua Panitia Anggaran Abdullah Zaeni meminta agar pemerintah segera mengajukan angka kebutuhan pinjaman luar negeri termasuk dari Consultative Group on Indonesia (CGI).

Panitia Anggaran yang membidangi pembahasan volume APBN menganggap angka itu mendesak untuk diajukan sebagai awal penentuan nilai defisit. "DPR sudah harus mengesahkan RAPBN 2003 menjadi UU pada 18 November 2003 mendatang," katanya.

Meski CGI baru memastikan kucuran pinjamannya ke Indonesia pada Januari mendatang, menurutnya, hal itu tidak masalah. Soalnya, DPR ingin melihat sejauhmana angka yang diajukan itu reasonable atau tidak. Jika angka yang dianggap reasonable itu toh, tidak disetujui pada sidang ke-12 CGI nanti, menurutnya, tidak jadi soal. Pasalnya, masih terbuka bagi pemerintah dan DPR untuk menyesuaikannya lagi.

"Setelah disetujui Panitia Anggaran, pemerintah akan ditugaskan agar membawa angka itu ke CGI. Dan angka itu kita masukkan apa adanya. Kalau CGI kemudian tidak memperkenankan, ya, di-adjusment/sesuaikan lagi," ujarnya.

Dia sendiri merasa optimis negara-negara kreditor akan menyetujui proposal pemerintah. hal ini bisa diindikasikan dari komitmen kreditur terbesar CGI yang akan membantu Indonesia menyelesaikan masalahnya paska Tragedi Bali. Tapi, sebagai konsekuensi dari gagalnya komitmen itu, maka pemerintah tidak perlu mencantumkan dana kontijensi lagi. Menurutnya, dana kontijensi hanya digunakan untuk beberapa hal seperti jika harga minyak anjlok, bencana alam dan perubahan kurs yang besar dalam waktu singkat. Ditanya jumlah stimulus fiskal Rp 5,9 trilyun yang dianggarkan pemerintah, menurut dia, kemungkinan akan diambil dari pinjaman luar negeri dan pendapatan dari dalam negeri yang berasal dari migas baik berupa Pajak Penghasilan (PPh) maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta sumber daya alam migas. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)