kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 7  Nopember 2002

 Bali


Keberpihakan pada Sektor Pertanian di Bali

Masih dalam Tataran Konsep

Jika saja semua pihak konsekuen terhadap konsep pembangunan Bali -- yang tertuang dalam pola dasar pembangunan 2001-2005 -- sektor pertanian akan memberikan kontribusi yang cukup besar. Sebab, dari tiga pilar pembangunan ekonomi Bali, sektor pertanian dalam arti luas merupakan unggulan pertama. Kemudian disusul sektor pariwisata urutan kedua dan ketiga industri kecil. Pertanyaannya, mengapa sektor unggulan pertama harus tergusur dan kini terabaikan?

SECARA konsep (kebijakan) memang ada pemihakan, tetapi dalam tataran program dan kegiatan, sektor pertanian masih mendapat perhatian yang minim. ''Jika kita konsekuen ketiga sektor ini mesti dibangun secara bersama-sama, sehingga terjadi keseimbangan. Tetapi kenyataannya, pariwisatalah yang lebih diunggulkan. Ketiga sektor ini mestinya saling bersinergi membangun kekuatan ekonomi Bali dan tidak saling mematikan,'' kata dosen Fakultas Pertanian Unud Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc.

Minimnya pemihakan terhadap sektor pertanian, kata Suprapta, terlihat jelas dalam penyediaan anggaran. Jika sudah demikian, muncul pertanyaan apakah pertanian masih bisa dikatakan prioritas? Jika memang pertanian menjadi unggulan, mestinya dalam penyusunan APBD, sektor ini mendapat kucuran dana yang wajar.

Dikatakan, selama ini sektor pertanian telah mengorbankan sumber daya air dan lahan produktif demi pembangunan pariwisata. Hal ini dengan harapan dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi sebagian tenaga kerja di Bali -- yang awalnya bergelut dalam sektor pertanian. Dengan terserapnya sebagian tenaga kerja, para petani akan lebih sejahtera. Sebab, luas garapan pertanian di Bali rata-rata hanya 0,38 hektar, sementara jumlah petani di Bali sekitar 547 ribu orang. Jadi, hasil produksi pertanian di atas rata-rata lahan seluas itu kurang mampu memberikan penghidupan yang layak. Tetapi ternyata melenceng, yang lebih banyak mengisi lapangan pekerjaan di sektor pariwisata justru SDM dari luar Bali. Ironis memang.

Selama ini sektor pariwisata selalu didewa-dewakan. Pariwisata boleh digenjot, tetapi hasilnya harus dipakai untuk mengembangkan sektor lainnya seperti pertanian dan industri kecil.

Bali, tegas Suprapta, memiliki potensi unggulan seperti salak gula pasir, kopi, sapi, dll. Kenapa potensi ini tidak digalakkan? Jika selama ini promosi ke luar negeri lebih banyak dalam hal kepariwisataan, ke depan mesti potensi unggulan Bali ini dipromosikan lebih gencar.

Sangat Terasa

Dikatakan, dampak tragedi bom sangat terasa bagi para pekerja di sektor pariwisata. Diperkirakan banyak tenaga kerja akan mengalami eksodus ke sektor yang lainnya, termasuk sektor pertanian. Dalam kondisi seperti ini, jangka pendek sektor pertanian belum mampu mengatasi permasalahan. Kecuali, mereka siap dan berminat untuk menggeluti pekerjaan yang betul-betul meneteskan keringat. Sebab, kerakteristik pekerja di sektor pariwisata sangat berbeda dengan sektor pertanian.

Jika pertanian kembali diberdayakan untuk menopang ekonomi masyarakat, dalam jangka panjang pemerintah bisa memberikan keterampilan tentang pertanian, sehingga ada bekal bagi mereka (eks pekerja pariwisata-red) dalam menggeluti sektor ini seperti teknologi produksi dan pemasaran hasil-hasil pertanian. Tetapi, dalam jangka pendek sebetulnya ada peran yang bisa mereka ambil dalam pertanian yakni dalam subsistem pengolahan hasil pascapanen. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka bisa meracik berbagai jenis makanan olahan dari hasil produksi petani. Agar pertanian mampu bersinar, kata Suprapta, sudah masanya ada keseriusan dari pemerintah maupun masyarakat.

Orientasi pertanian mesti dibenahi yakni menuju pasar. Agar pertanian menjadi menarik, perlu dirangsang investasi dalam bidang agrobisnis dan insentif yang memadai. Bila perlu petani dibebaskan dari pajak, jika panen mereka gagal akibat terserang hama misalnya. Agar para petani betul-betul merasakan hasil produksinya dengan harga yang wajar, pemerintah mesti memberi kepastian harga. Jika perlu, para PNS diwajibkan untuk membeli beras petani. Kendati kualitasnya belum terjamin, sebagai perangsang PNS diusahakan membeli beras petani lokal. ''Jadi, jangan 'menghukum' petani karena kualitas produksinya tidak mampu bersaing,'' katanya. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)