kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 25 Nopember 2002

 Artikel


Mungkin teror 12 Oktober di Bali itu telah menyentak kita sebagai bangsa sehingga kecenderungan bersikap santai disisihkan. Konsentrasi kita menanggapi masa depan menjadi lebih tajam. Pembangunan politik menuju Pemilu 2004 adalah agenda penting di tahun 2003. Ada kecenderungan untuk mengundur-undur persiapan infrastruktur (fisik maupun perundangannya) supaya Pemilu 2004 jangan terlalu demokratik. Antara lain, dengan melemahkan status dan kompetensi Komisi Pemilihan Umum. Tahun 2003 penting, karena akan menentukan, apakah Indonesia keluar dari Pemilu 2004 sebagai negara yang lebih demokratis. Betapapun sulitnya, pada tahun 2003 harus tetap diusahakan supaya ada perbaikan, meskipun tidak seberapa dulu, di bidang lembaga-lembaga yudikatif. Pusing kita memikirkan, bagaimana caranya supaya ada perbaikan mutu secara bertahap di bidang pemberlakuan hukum. Namun usaha itu harus tetap diteruskan.

Karena sulit diharapkan suatu pertumbuhan ekonomi yang lumayan dan berkesinambungan, antara lain karena dana investasi luar negeri, kalau kepastian hukum di negeri ini tetap tidak menentu.

------------------------------------------------------------

Setelah Amrozy dan Imam Samudra Ditangkap
Oleh Sabam Siagian

KITA mendekati akhir tahun 2002. Tidak terlalu pagi untuk mulai meninjau perkembangan sepanjang tahun ini, dan memperkirakan, masalah apa saja yang akan menonjol dan perlu ditangani pada tahun 2003. Jelas, peristiwa teror 12 Oktober di Bali mendominasi pandangan kita tentang tahun 2002. Baru-baru ini saya menghadiri diskusi dua hari yang dilakukan sekelompok pakar dari berbagai bidang untuk mengadakan penilaian tentang tahun 2002 dan menjajaki prospek tahun 2003. Yang interesan adalah bahwa sepanjang diskusi kelompok para pakar itu, sering benar terdengar referensi yang berikut: ''sebelum Bali - sesudah Bali''.

Sebelum peristiwa teror 12 Oktober di Bali, para investor asing mulai tertarik lagi pada Indonesia. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (GDP) untuk tahun ini diproyeksikan 3,8% bukan secara optimis 4%. Setelah Bali, semuanya anjlok. Pariwisata praktis terhenti dengan dampak berantai yang luas sekali radiusnya. Jangankan bicara tentang investasi baru, untuk mempertahankan yang sudah ada sudah bagus.

Teror 12 Oktober di Bali tiba-tiba menempatkan Indonesia pada titik fokus perhatian internasional, tetapi dari sudut pandang yang negatif. Pemerintah tidak usah meminta sebuah perusahaan public relations internasional yang tarifnya tinggi untuk memasarkan Indonesia. Negeri ini sekarang sudah cukup dikenal. Soal yang tidak begitu mudah adalah mengubah citra negatif itu secara bertahan menjadi agak positif.

Dari sudut itulah, maka penting diusahakan secara intensif untuk mencari dan menemukan semua oknum yang terlibat dalam aksi teror di Bali itu. Dengan ditangkapnya Amrozy dan Imam Samudra serta oknum lainnya yang diduga adalah anggota kelompok pelaku teror di Bali, paling sedikit dunia internasional mendapat kesan bahwa sekali ini polisi Indonesia memang serius cara kerjanya.

Namun urusan teror bukanlah persoalan sederhana. Pihak aparat keamanan jangan lekas puas. Kemungkinan besar, jaringan organisasi di belakang ''12 Oktober di Bali'' itu jauh lebih kompleks sifatnya.

Namun harus ada keyakinan bahwa dengan menerapkan daya mampu analitik, teknik penyidikan yang jitu serta tekad, maka semuanya pada waktunya akan terungkap.

Kepemimpinan Masing-masing Bidang

Tahun 2002 juga menonjolkan suatu persoalan mendasar yang sulit dirumuskan, yakni keterbatasan kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Harapan yang diandalkan pada dirinya ketika terjadi pergantian kepemimpinan pada bulan Juli-Agustus 2001, sekarang sudah berubah menjadi kekecewaan. Begitu banyak kesempatan dan peluang pada akhir tahun 2001 dan sepanjang tahun 2002 ini sebenarnya dapat dimaksimalkan, kalau Megawati menunjukkan kepemimpinan yang mantap.

Supaya jelas persoalannya, maka kualitas kepemimpinan tidak tergantung dari ijazah perguruuan tinggi yang dinilai sebagai top. Presiden A.S Harry Truman (1945-1952) pernah bekerja sebagai penjual pakaian pria saja. Sebagai presiden, ia dikelilingi oleh para menteri dan pembantu yang berpendidikan di universitas top, seperti Harvard, Yale dan Princeton. Tetapi ia tidak ragu-ragu mengambil keputusan dan menegur para pembantunya, kalau mereka dianggap tidak berprestasi di bidangnya masing-masing, dan menggantinya dengan tokoh yang lebih kompeten.

Namun tidak begitu banyak gunanya untuk melampiaskan keluhan serta kekecewaan mengenai keterbatasan kepemimpinan dewasa ini. Ataupun tentang praktik KKN yang tampaknya tambah semarak. Secara realistik, agaknya kita harus terima bahwa mengubah kepemimpinan (tentunya secara konstitusional) sebelum Pemilu 2004 akan menimbulkan lebih banyak persoalan ketimbang perbaikan yang diharapkan.

Mungkin pendekatan terhadap soal kepemimpinan ini perlu direvisi. Kita sudah terbiasa untuk terlalu memperhatikan bobot kepemimpinan yang paling atas sejak Presiden Soekarno menyatakan berlakunya ''Demokrasi Terpimpin'' menjelang akhir dekade 1950-an sampai konsentrasi kekuasaan pada diri Presiden Soeharto yang berakhir di tahun 1998. Kita sekarang perlu mengkondisikan diri kita untuk mementingkan kepemimpinan di bidang masing-masing. Umpamanya, seperti seorang Made Mangku Pastika, perwira tingi kepolisian yang secara tekun dan kompeten memimpin penyidikan teror 12 Oktober. Maka seorang rektor universitas diharapkan memimpin lembaga perguruan tingginya secara mantap supaya perkembangannya sebagai lembaga yang top. Demikian juga di berbagai bidang lainnya.

2003 akan Menentukan

Mungkin juga teror 12 Oktober di Bali itu telah menyentak kita sebagai bangsa sehingga kecenderungan bersikap santai disisihkan. Konsentrasi kita menanggapi masa depan menjadi lebih tajam.

Pembangunan politik menuju Pemilu 2004 adalah agenda penting di tahun 2003. Ada kecenderungan untuk mengundur-undur persiapan infrastruktur (fisik maupun perundangannya) supaya Pemilu 2004 jangan terlalu demokratik. Antara lain, dengan melemahkan status dan kompetensi Komisi Pemilihan Umum. Tahun 2003 penting, karena akan menentukan, apakah Indonesia keluar dari Pemilu 2004 sebagai negara yang lebih demokratis.

Betapapun sulitnya, pada tahun 2003 harus tetap diusahakan supaya ada perbaikan, meskipun tidak seberapa dulu, di bidang lembaga-lembaga yudikatif. Pusing kita memikirkan, bagaimana caranya supaya ada perbaikan mutu secara bertahap di bidang pemberlakuan hukum. Namun usaha itu harus tetap diteruskan. Karena sulit diharapkan suatu pertumbuhan ekonomi yang lumayan dan berkesinambungan, antara lain karena dana investasi luar negeri, kalau kepastian hukum di negeri ini tetap tidak menentu.

Tanpa ingin bersikap optimis yang dibuat-buat, maka aset berharga yang masih dimiliki bangsa Indonesia adalah daya mampu kerja yang masih utuh. Pada dasarnya, keinginan hidup rukun sebagai bangsa masih belum rusak. Modal berharga ini pada tahun 2003 perlu terus dikembangkan. Usaha ini memerlukan kepemimpinan di bidang masing-masing tanpa tergantung pada atasan.

Penulis, pengamat perkembangan masalah sosial-politik di Indonesia, serta masalah internasional, tinggal di Jakarta

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)