kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 25 Nopember 2002

 Bali


Berdayakan Pertanian, Tirulah Thailand

JIKA ingin memberdayakan pertanian di Bali, tampaknya perlu meniru Thailand. Di negara tersebut sinergi antara pertanian dan pariwisata betul-betul terjadi. Pendapatan dari sektor pariwisata digunakan betul untuk sektor pertanian.

Hal itu terungkap dalam acara bedah buku ''Pemikiran Baru Pembangunan Bali yang Berkelanjutan dari Perspektif Budaya,'' di Hotel Natour Bali, Minggu (24/11) kemarin.

Acara yang dilaksanakan Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Unud tersebut membedah buku hasil pemikiran sejumlah pakar yang disunting Prof. Ngurah Bagus.

Dr. Dewa Ngurah Suprapta salah seorang pembedah buku tersebut mengatakan, pelaku pariwisata di Thailand diwajibkan untuk mempromosikan produk lokalnya mulai dari buah, makanan, sayuran dll. Pendapatan dari sektor pariwisata betul-betul digunakan untuk memberdayakan pertanian. Dari mana mereka mulai?

Di negara itu, kata Suprapta, ada istilah proyek raja--proyek yang dibiayai dari gaji raja untuk membangun pertanian. Semuanya diawali dengan penelitian dan pengembangan, peningkatan kualitas SDM dan peningkatan infrastruktur. Melalui proyek raja ini selama 20 tahun, banyak perubahan yang telah dicapai.

Penelitian dilakukan tak hanya pada aspek teknik produksi tetapi mulai dari hulu (bibit, pupuk dan obat-obatan) sampai pada teknologi pascapanen dan pengolahan serta pemasaran. ''Proyek ini tak hanya memberikan teknologi kepada masyarakat, tetapi juga memberikan insentif berupa kepastian harga dan pasar,'' kata dosen Pertanian Unud itu. Tetapi di Bali, kata dia, secara konsepsi ingin membangun perekonomiannya melalui tiga pilar--pertanian, pariwisata dan industri kecil. Tetapi dalam tiga dekade di Bali memberikan ruang gerak yang sangat besar kepada pariwisata. Sehingga sektor lainnya, terutama pertanian sepertinya terpinggirkan. Hal ini tercermin dari tingkat pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian jauh lebih rendah dibandingkan sektor lainnya.

Masyarakat yang bekerja di sektor pertanian masih banyak yang tergolong miskin. Pada tahun 2000 diperkirakan masih ada sekitar 145 ribu jiwa yang miskin. Ironis memang, Bali yang dapat meningkatkan PDRB dari Rp 8,6 trilyun pada tahun 1996 meningkat menjadi Rp 16,5 trilyun pada tahun 2000, tetapi masih banyak penduduk yang miskin.

Sementara itu hasil pertanian yang sehari-harinya untuk kegiatan upacara seperti janur, kelapa, pisang, ayam kampung dan buah-buahan, sekitar 60 persen datang dan bergantung dari pasokan luar Bali. Buah pisang saja masih harus didatangkan dari luar sekitar 100.000 ton per tahun dengan nilai sekitar Rp 300-400 milyar. Untuk kebutuhan canang sehari-hari saja nilainya tak kurang dari Rp 1,4 milyar. Jika 60 persen bahan ini datang dari luar berarti sekitar Rp 800 milyar uang mengalir ke luar Bali setiap tahunnya. Jika segmen ini bisa digarap dari produk lokal akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Bali.

Prof. Ngurah Bagus mengatakan, ada ketimpangan antarsektor pembangunan di Bali. Ada penganaktirian sektor primer yakni sektor pertanian. Yang mendorong munculnya permasalahan itu karena ketiadaan politik kebudayaan yang sesuai dengan tujuan sosial masyarakat Bali. Akibatnya, mata pencaharian yang bisa beraneka ragam, tidak tersebar seluas-luasnya di masyarakat.

Sementara itu pembedah lainnya Nengah Dasi Astawa mengatakan mesti ada terobosan baru dalam menata Bali ke depan. Mesti ada sebuah kebijakan moratorium fisik pada sektor tertentu dan pada wilayah tertentu.

Kegalauan yang disampaikakn Prof. Bagus tentang ketimpangan antarsektor di Bali, suatu realita tak terbantahkan. Menurunnya kontribusi pertanian terhadap PDRB Bali di samping karena terus menyempitnya lahan pertanian, juga dipengaruhi oleh rusaknya infrastruktur pertanian (irigasi) akibat adanya benturan antara peradaban jalan raya dan peradaban jalan air.

Sementara itu Nyoman Darma Putra sangat setuju dengan Prof. Bagus bahwa dalam membangkitkan sektor pertanian yang menjadi kunci adalah keputusan politik eksekutif dan legislatif. Pertolongan kepada petani harus kongkret. Contoh di Australia, ketika ladang pisang di daerah Queensland terserang hama, pemerintahnya mengambil kebijakan penting. Menyetop impor pisang dari luar negeri dan memberi ganti rugi kepada petani. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)