kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 25 Nopember 2002

 Bali


Warung Global

Kebijakan Pemerintah semestinya Berpihak pada Petani

Ledakan bom di Jalan Legian, Kuta yang berimbas langsung kepada sektor pariwisata, membuat masyarakat Bali sadar bahwa pariwisata sangatlah rentan. Karena itu, pertanian sebagai salah satu sektor yang paling banyak menghidupi masyarakat Bali harus dikedepankan. Namun sayang, dalam perjalanannya sering kali menjadi dilematis. Apa yang diinginkan dari pertanian, kerap menjadi sebuah wacana belaka. Sebab, realitasnya lahan produktif banyak yang tergerus sektor lain, termasuk digerus pariwisata, kebijakan pemerintah belum banyak memproteksi sektor ini, dan lainnya. Demikian opini publik yang terungkap pada acara Warung Global Interaktif Bali Post yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani, Sabtu (23/11) lalu. Pada acara yang juga direlai Radio Singaraja FM 107,2 dan Radio Genta Swara Sakti Bali FM 106,15 ini masyarakat berharap agar pemerintah membela kepentingan petani. Berikut rangkuman selengkapnya.

Panji mengatakan, sektor pertanian paling dilematis. Naik atau turunnya anggaran pemerintah pada pos pertanian, tak pernah digubris petani. Sebab, petani tak pernah merasakan secara kongkret anggaran yang diberikan pemerintah. Karena itulah, kata dia, anggaran untuk pertanian sebaiknya dalam bentuk bantuan nyata seperti traktor untuk membajak sawah, sapi, penggilingan padi dan sejenisnya. Tak hanya itu, kebijakan-kebijakan pemerintah juga harus membela kepentingan petani. ''Pajak yang selama ini dikenakan kepada petani hendaknya dibebaskan,'' katanya seraya mengkhawatirkan besarnya anggaran yang diturunkan untuk pertanian ini hanya life service belaka.

Sinda mengatakan, pemerintah tampaknya belum memiliki visi bagaimana membangun sektor pertanian. ''Visinya sangat tidak jelas,'' katanya. Karena itu, pertanian di negeri ini masih jalan di tempat. Hasil dari produk pertanian belum ada yang go internasional. Bahkan, belum ada yang bangga dengan produk pertanian kita. ''Mestinmya sudah ada produk pertanian made in Indonesia. Nyatanya sampai sekarang belum ada,'' katanya.

Semua itu, kata dia, karena SDM petani di Indonesia masih relatif rendah. ''Dekat pemilu baru didekati dan diimingi-imingi, itulah realita di lapangan,'' katanya. Kena puso dan penyakit lainnya, mana ada pejabat atau partai politik yang mau tahu? Dia mengatakan, kapan SDM petani bagus dan memberdayakan dirinya, saat itulah mereka akan bisa menikmati hasil produksinya. Selama mereka tak bisa memberdayakan dirinya sendiri, petani tak akan dapat menikmati hasil-hasilnya. Petani di Indonesia tak mungkin kaya, kata Kak Kubu dari Bangli. Sebab, kepemilikan lahannya sangat sedikit. Rata-rata kepemilikan lahan di Bali hanya mencapai setengah hektar. ''Coba bayangkan, bagaimana bisa hidup dengan lahan pertanian seluas itu. Petani di Bali tak mungkin kaya,'' katanya.

Dia menambahkan, kepemilikan lahan terbatas, perhatian pemerintah terhadap sektor yang bergelut dengan lumpur ini juga sangat kecil. ''Karena itu, pilihlah partai yang membela petani,'' sarannya. Tak berbeda dengan Kak Kubu, Wak Ada juga mengatakan bahwa lahan pertanian yang menjadi milik petaninya relatif sedikit. ''Rata-rata 30 are,'' katanya. Hasilnya, kata dia tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Petani Berkurang

Sebenarnya kata Jeri, turunnya anggaran pemerintah untuk sektor pertanian karena petani sudah mulai berkurang. ''Kalau anggarannya menurun saya kira wajar, sebab sawah-sawah dan petaninya juga makin terbatas,'' ujarnya. Ia lantas menyebut Bali selatan, seperti Renon, Sidakarya, Gatot Subroto, Imam Bonjol, daerah-daerah land consolidation (LC) dan beberapa daerah lainnya di Denpasar yang sudah tak lagi berfungsi sebagai sawah. ''Lantas ke mana petaninya,'' katanya. Dengan situasi seperti itu, di Bali selatan sesungguhnya sudah tidak bisa ngomong pertanian. Pertanian dalam arti yang sempit hanya bisa digalakkan di Tabanan dan beberapa tempat di Gianyar, sementara Karangasem dan Buleleng lebih banyak perkebunan.

Gede Ageng mengatakan, pertanian merupakan satu alternatif yang bisa dikembangkan sambil menunggu pulihnya sektor pariwisata akibat bom. Namun, Pemda harus mendukung dan harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan petani. Misalnya dengan memberi pupuk murah kepada petani, membuat kerja sama dengan berbagai negara seperti Jepang dan lainnya.

Nyoman Kerta menambahkan, turunnya anggaran pemerintah terhadap sektor pertanian tak bisa disalahkan. ''Kondisi itu sah-sah saja,'' kata Karsika. Namun, banyaknya lahan tidur yang dimiliki investor selayaknya bisa dikembalikan kepada petani untuk digarap. Hal ini dapat menyerap tenaga kerja di sektor pariwisata yang nganggur akibatnya terpuruknya pariwisata.

Nang Diot mengatakan lahan yang dijadikan LC, toko-toko dan sebagainya membuat lahan pertanian semakin sempit. Menurutnya perlu upaya yang efisien dan intensif untuk meningkatkan sektor ini. Arta Jaya Astawa menambahkan, perlu validitas data mengenai lahan-lahan pertanian ini.

Nang Anton mengatakan perlakuan yang semena-mena terhadap para petani akibat petani tak pernah unjuk rasa. ''Apa yang menjadi haknya tak pernah diperjuangkan secara sungguh-sungguh,'' katanya. Sedangkan Waras mengatakan, walaupun ada anggaran namun petani tak ada, apa gunanya? (yad)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)