|
Wisman
Ke Bali Diprediksi Turun 17 Persen
Jakarta
(Bali Post) -
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, akhir tahun ini
jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali akan turun
17 persen dengan asumsi tiga negara seperti dari Amerika,
Australia dan Inggris tidak akan mengunjungi Bali setelah
negaranya menerapkan travel warning.
Demikian
dipaparkan Ketua BPS, Sudarti Soerbakti di Jakarta, Jumat
(1/11) kemarin. Menurutnya, angka itu sebenarnya mengacu
para tingkat kunjungan wisman di tiga negara tersebut pada
tahun 2001. Kalau situasi sama dengan 2001 kemungkinan
kehilangan jumlah wisman ke Bali adalah 17 persen.
Yang
dikhawatirkan Ketua BPS, putusan Amerika yang melarang
warga negaranya mengunjungi Indonesia, khususnya Bali,
akan diikuti negara-negara lain secara sembunyi-sembunyi.
Akibatnya, jumlah wisman selama bulan November mendatang
dipastikan akan melorot drastis. Sekadar diketahui,
sepanjang tahun 2001 jumlah wisman Amerika yang datang ke
Bali 200.350 orang atau 3,89 persen, Australia, 504.321
atau 9,79 persen dan Inggris 182.257 atau 3,54 persen
total 5.135.620 orang yang mengunjungi Bali.
Direktur
Statistik Perdagangan dan Jasa BPS, Rusman Heriawan
menambahkan indikasi dampak negatif yang terjadi setelah
kasus Legian, ada beberapa aspek. Pertama, bila kedatangan
wisman dalam keadaan normal ke Bali sebelum tanggal 12
Oktober 5.000 orang per hari, maka dalam sebulan ada 150
ribu wisman. Ternyata setelah ledakan, penurunan wisman
sangat drastis.
Menurut
catatan BPS tanggal 23 Oktober, wisman yang masih di Bali
hanya 760 orang dari 5.000 orang dalam keadaan normal.
Menurutnya kecenderungan penurunan itu akan terus
berlanjut. "Orang-orang yang masih tinggal itupun
kebanyakan yang sudah long haul atau orang-orang yang
punya janji," katanya.
Atas
dasar itu, Rusman memperkirakan, selama Oktober terjadi
penurunan kedatangan wisman, menjadi 3 ribu orang per hari
atau 90.000 sepanjang Oktober. Bila tiap wisman
membelanjakan 100 dolar per hari berarti devisa yang
lenyap akibat Tragedi Bali di sektor ini selama Oktober
saja sebesar 6 juta dolar AS. Untuk November, menurut
perkiraannya, akan jauh lebih buruk lagi. "Kalau
Oktober kan masih ada celengan setengah bulan sebelum 12
Oktober," jelasnya. Dampak langsung dari menyusutnya
wisman ini adalah penurun tingkat hunia hotel di Bali.
Bila dalam keadaan normal tingkat hunia mencapai 65-70
persen. Tetapi, sampai dengan catatan terakhir, 25 Oktober
cuma tersisa 18 persen. Bahkan, saat ini diprediksi
tinggal 10 persen saja.
Rusman
juga mengkhawatirkan, pelarangan travel warning dari
beberapa negara untuk mengunjungi Bali, berakibat bagi
penurunan tujuan wisata lain. Dia mengharapkan negara lain
tidak ikut-ikutan untuk menerapkan pelarangan bagi
warganya untuk datang ke Indonesia. Paling tidak saat ini,
wisman Korea dan Jepang masih tampak di Bali. "Tapi,
memang untuk tahun ini, target-target jumlah wisman akan
alami gangguan dan tidak akan terpenuhi. Bahkan bisa lebih
rendah dari tahun lalu," katanya pesimis.
Laporan
resminya BPS menyebutkan jumlah wisman yang datang ke
Indonesia melalui 13 pintu masuk, pada bulan September
2002 kembali mengalami penurunan menjadi 378,7 ribu orang
atau turun 10,14 persen dibanding bulan Agustus. Secara
kumulatif, jumlah wisman dari 13 pintu masuk sampai dengan
September 2002 mencapai 3,26 juta, yang berarti menurun
tipis 0,10 persen dibanding jumlah wisman pada periode
sama tahun 2001.
Bali
masih merupakan daerah unggulan pariwisata Indonesia
dengan jumlah wisman terbanyak, yakni 156,9 ribu orang
untuk September 2002 dan 1,16 juta orang untuk periode
Januari-September 2002. Sedangkan untuk tingkat hunian
kamar hotel berbintang di 10 DTW pada Agustus mencapai
48,23 persen atau turun 1,79 poin dibanding TPK Juli 2002.
Rata-rata menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel
berbintang untuk Agustus 2002 mencapai 2,22 hari yang
berarti naik 0,06 hari dibanding Juli 2002. "Semua
data itu sebelum terjadi ledakan. Data setelah ledakan
tentu baru bisa diumumkan bulan depan," kata Sudarti.
(kmb2)
|