kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Nopember 2002

 Pariwisata


Wisman Ke Bali Diprediksi Turun 17 Persen

Jakarta (Bali Post) -
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, akhir tahun ini jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali akan turun 17 persen dengan asumsi tiga negara seperti dari Amerika, Australia dan Inggris tidak akan mengunjungi Bali setelah negaranya menerapkan travel warning.

Demikian dipaparkan Ketua BPS, Sudarti Soerbakti di Jakarta, Jumat (1/11) kemarin. Menurutnya, angka itu sebenarnya mengacu para tingkat kunjungan wisman di tiga negara tersebut pada tahun 2001. Kalau situasi sama dengan 2001 kemungkinan kehilangan jumlah wisman ke Bali adalah 17 persen.

Yang dikhawatirkan Ketua BPS, putusan Amerika yang melarang warga negaranya mengunjungi Indonesia, khususnya Bali, akan diikuti negara-negara lain secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, jumlah wisman selama bulan November mendatang dipastikan akan melorot drastis. Sekadar diketahui, sepanjang tahun 2001 jumlah wisman Amerika yang datang ke Bali 200.350 orang atau 3,89 persen, Australia, 504.321 atau 9,79 persen dan Inggris 182.257 atau 3,54 persen total 5.135.620 orang yang mengunjungi Bali.

Direktur Statistik Perdagangan dan Jasa BPS, Rusman Heriawan menambahkan indikasi dampak negatif yang terjadi setelah kasus Legian, ada beberapa aspek. Pertama, bila kedatangan wisman dalam keadaan normal ke Bali sebelum tanggal 12 Oktober 5.000 orang per hari, maka dalam sebulan ada 150 ribu wisman. Ternyata setelah ledakan, penurunan wisman sangat drastis.

Menurut catatan BPS tanggal 23 Oktober, wisman yang masih di Bali hanya 760 orang dari 5.000 orang dalam keadaan normal. Menurutnya kecenderungan penurunan itu akan terus berlanjut. "Orang-orang yang masih tinggal itupun kebanyakan yang sudah long haul atau orang-orang yang punya janji," katanya.

Atas dasar itu, Rusman memperkirakan, selama Oktober terjadi penurunan kedatangan wisman, menjadi 3 ribu orang per hari atau 90.000 sepanjang Oktober. Bila tiap wisman membelanjakan 100 dolar per hari berarti devisa yang lenyap akibat Tragedi Bali di sektor ini selama Oktober saja sebesar 6 juta dolar AS. Untuk November, menurut perkiraannya, akan jauh lebih buruk lagi. "Kalau Oktober kan masih ada celengan setengah bulan sebelum 12 Oktober," jelasnya. Dampak langsung dari menyusutnya wisman ini adalah penurun tingkat hunia hotel di Bali. Bila dalam keadaan normal tingkat hunia mencapai 65-70 persen. Tetapi, sampai dengan catatan terakhir, 25 Oktober cuma tersisa 18 persen. Bahkan, saat ini diprediksi tinggal 10 persen saja.

Rusman juga mengkhawatirkan, pelarangan travel warning dari beberapa negara untuk mengunjungi Bali, berakibat bagi penurunan tujuan wisata lain. Dia mengharapkan negara lain tidak ikut-ikutan untuk menerapkan pelarangan bagi warganya untuk datang ke Indonesia. Paling tidak saat ini, wisman Korea dan Jepang masih tampak di Bali. "Tapi, memang untuk tahun ini, target-target jumlah wisman akan alami gangguan dan tidak akan terpenuhi. Bahkan bisa lebih rendah dari tahun lalu," katanya pesimis.

Laporan resminya BPS menyebutkan jumlah wisman yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk, pada bulan September 2002 kembali mengalami penurunan menjadi 378,7 ribu orang atau turun 10,14 persen dibanding bulan Agustus. Secara kumulatif, jumlah wisman dari 13 pintu masuk sampai dengan September 2002 mencapai 3,26 juta, yang berarti menurun tipis 0,10 persen dibanding jumlah wisman pada periode sama tahun 2001.

Bali masih merupakan daerah unggulan pariwisata Indonesia dengan jumlah wisman terbanyak, yakni 156,9 ribu orang untuk September 2002 dan 1,16 juta orang untuk periode Januari-September 2002. Sedangkan untuk tingkat hunian kamar hotel berbintang di 10 DTW pada Agustus mencapai 48,23 persen atau turun 1,79 poin dibanding TPK Juli 2002. Rata-rata menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang untuk Agustus 2002 mencapai 2,22 hari yang berarti naik 0,06 hari dibanding Juli 2002. "Semua data itu sebelum terjadi ledakan. Data setelah ledakan tentu baru bisa diumumkan bulan depan," kata Sudarti. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)