|
Catatan Sepak Bola
Mencari
Manfaat dari Kejuaraan Futsal
KEJUARAAN
Futsal Asia yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu
menghasilkan Iran sebagai juara setelah mengalahkan Jepang
dengan angka mencolok 6-0 di final. Indonesia yang untuk
pertama kalinya ikut, gagal lolos ke semifinal. Tetapi
sebagai penyelenggara turnamen, Indonesia bisa dikatakan
sukses. Inilah kali pertama turnamen sepak bola dalam
ruangan digelar di negara kita.
Ada beberapa catatan
yang mesti bisa dikomentari dari kejuaraan tersebut. Yang
pertama antusias penonton. Kegiatan antarnegara ini
menyedot cukup banyak penonton meski disiarkan secara
langsung sebuah televisi swasta Indonesia. Tingkat
keramaian itu kira-kira sebanding dengan jumlah penonton
yang menghadiri turnamen bulu tangkis. Ini kenyataan
menggembirakan, mengingat futsal merupakan olah raga baru
di Indonesia. Lepas dari adanya koordinasi pengerahan atau
tidak, hal itu memperlihatkan sepak bola indoor telah
berhasil menarik minat masyarakat Indonesia. Bisa ditarik
kesimpulan sementara bahwa di luar wilayah Jakarta pun
sebenarnya turnamen seperti ini bisa digelar. Sentra sepak
bola cukup banyak di negara kita, seperti Surabaya, Medan
dan Makasar.
Kedua, keberhasilan
itu memberikan pesan tersendiri bahwa kepeloporan dan
manajemen sangatlah penting untuk kesuksesan sebuah olah
raga baru. Futsal boleh disebut baru diperkenalkan di
Indonesia sejak setahun yang lalu. Ronny Patinassarani
adalah orang yang paling getol memperkenalkan olah raga
ini ke seluruh pelosok Tanah Air. Kursus dan berbagai
pertandingan percobaan digelar bersamaan. Semangat yang
diperlihatkan mantan pemain nasional itu harus diakui
sebagai faktor utama yang membuat jenis olah raga ini
mulai dikenal di Indonesia dan kemudian terpilih sebagai
negara penyelenggara kejuaraan Asia.
Keikutsertaan
produsen makanan cepat saji dari Amerika Serikat
(McDonald) sebagai penyumbang dana, harus juga dicatat
sebagai pendorong suksesnya kejuaraan. Sinergi yang
dikeluarkan kedua pihak (Ronny dan perusahaan makanan
cepat saji) melahirkan manajemen bagus sehingga
memungkinkan dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah dan
suksesnya kejuaraan.
Sukses seperti itu
tidak hanya bisa dilakukan futsal. Olah raga lain pun bisa
melakukan hal yang sama. Di Indonesia masih cukup banyak
olah raga yang laju perkembangannya megap-megap. Selancar
angin umpamanya adalah cabang yang memerlukan sinergi
seperti yang diterapkan futsal itu. Demikian juga sepak
takraw atau atletik. Perusahaan-perusahaan besar seperti
itu tidak mesti harus bekerja sama dengan klub-klub olah
raga besar, tetapi justru lebih penting dengan klub-klub
kecil yang memang memerlukan dana. Mereka juga tidak mesti
hanya menjadi sponsor di pusat, tetapi juga di
daerah-daerah.
Catatan yang ketiga
adalah tentang futsal itu sendiri. Dengan lima pemain yang
ditampilkan masing-masing tim, ada pelajaran penting yang
bisa disumbangkan untuk permainan sepak bola ''normal''
(11 orang). Futsal mungkin bisa dijadikan sebagai ajang
awal bagi mereka yang ingin terlibat di sepak bola
lapangan terbuka. Futsal menampilkan kecepatan dan
keakuratan dalam memberikan umpan kepada teman. Dengan
ukuran lapangan yang jauh lebih sempit, pemain dengan
sendiriannya dituntut mampu berlari cepat menguasai
seluruh lapangan. Umpan-umpan juga harus tepat dan terukur.
Sedikit saja menyimpang, lawan dengan cepat akan memotong.
Seorang pemain
futsal juga dituntut jitu dalam membidik sasaran kiper.
Jadi, ajang futsal akan memberikan sumbangan berupa
kekuatan fisik yang lebih mantap serta keakuratan kepada
pemain yang berkiprah di sepak bola di luar gedung. Futsal
(football sallon), dari segi atraksi, memberikan kepuasan
yang lebih besar, khususnya dalam pencetakan gol. Karena
lapangannya lebih kecil, gol-gol yang tercipta
frekuensinya jauh lebih banyak dan prosesnya rata-rata
indah. Mereka yang melihat dinamisasi sepak bola dari
kecepatan lari dan kelincahan gerak pemainnya, juga bisa
melihat dari ajang futsal.
* * *
Bagaimanakah
kemudian langkah yang mesti diambil untuk lebih
mempopulerkan futsal? Mungkin satu cara yang bisa
dilakukan adalah dengan memainkannya sebagai pembuka atau
pengisi waktu jeda pertandingan sepak bola normal, dengan
pemain-pemain anak-anak, remaja atau mereka yang telah
berusia di atas 35 tahun. Dengan demikian, tiap ada
pertandingan sepak bola biasa terlebih dahulu harus dibuka
aksi futsal.
Dengan cara demikian,
futsal tidak hanya menjadi permainan elite yang cuma bisa
dilakukan di kota-kota tetapi kehadirannya juga akan bisa
terlihat di desa-desa. Cara seperti ini akan memungkinkan
futsal mampu bersaing dengan bola voli yang telah merakyat
sampai ke desa-desa. (ska)
|