|
Ke
Mana Ekonomi Bali akan Dibawa?
PELEDAKAN
bom Kuta telah menimbulkan guncangan khususnya di sektor
pariwisata. Kunjungan wisatawan turun drastis itu sudah
pasti. Pedagang cenderamata sepi pembeli itu juga sebuah
fakta. Demikian pula ribuan tenaga kerja terancam PHK
merupakan lonceng yang segera berdentang.
Adakah
hal itu merupakan sebuah tragedi yang memurukkan Bali
secara sosial ekonomi. Tidak. Sudah banyak wacana agar
Bali bangun dari tragedi ini. Peledakan bom di Kuta,
merupakan hal yang tidak perlu disesali berlama-lama.
Sebab, hal serupa bisa terjadi di mana-mana. Oleh karena
itu, bom Kuta ini dijadikan cambuk untuk menata kembali
Bali secara keseluruhan untuk menjadikan pulau seribu pura
ini jagadita, sejahtera untuk semua penghuninya. Sebab,
selama ini realita yang ada, belum semua masyarakat Bali
merasa betapa manisnya dolar pariwisata. Tidak semua
masyarakat Bali merasakan dampak kemajuan pariwisata.
Contoh
di sektor pertanian. Walaupun sektor ini diprogramkan
sebagai sektor unggulan dalam membangun Bali, tetapi pada
kenyataannya tidak mendapat penanganan yang serius. Mereka
selama ini baru sebatas jadi objek pariwisata. Banyak yang
pergi ke Tabanan khususnya Jatiluwih, hanya untuk melihat
betapa indahnya terasering sawah di daerah pegunungan itu.
Demikian juga di desa-desa yang lainnya, wisatawan hanya
diajak untuk mengagumi. Tetapi sudahkah mereka mendapat
perhatian dalam mendukung sektor kepariwisataan Bali?
Tidak!
Jangankan memperhatikan para petaninya, pada lahannya (sawah)
saja tidak memperoleh proteksi secara jelas. Buktinya,
banyak sawah subur dibebaskan demi pariwisata.
Berhektar-hektar sawah dibebaskan untuk membangun lapangan
golf, sirkuit F-1 dan fasilitas yang konon menjanjikan
pendapatan daerah dan lapangan pekerjaan.
''Pengaduan''
ini telah lama diungkapkan oleh para akademisi, termasuk
para pakar. Mereka mengkhawatirkan sektor pertanian di
Bali akan surut. Selain lahan makin menyempit, juga
perhatian pemerintah pada sektor ini kian surut, sehingga
wajar kalau sektor pertanian tak diminati lagi oleh
generasi muda Bali.
Ketika
pariwisata turun mendekati titik kekhawatiran, akhirnya
sektor pertanian mulai dilirik untuk diberdayakan lagi.
Pertanyaan sekarang, adakah Bali telah memiliki konsep
untuk itu? Adakah Bali punya konsep untuk bangkit dari
keterpurukan? Dari mana akan memulai untuk membangun
ekonomi Bali secara gradual, tampaknya juga belum dimiliki.
Terbukti ketika Amerika Serikat berminat membantu
pemulihan ekonomi Bali, Gubernur belum bisa memberikan
rincian secara jelas. Oleh karena itu, Amerika Serikat
segera mengirim tim membantu Pemerintah Propinsi Bali
dalam upaya pemulihan perekonomian pascaledakan bom di
Kuta.
Janji
mengirim tim tersebut disampaikan Duta Besar Amerika
Serikat untuk Indonesia Ralph L. Boyce saat bertemu
Gubernur Bali Dewa Made Beratha. Tragedi ini diakui telah
mengundang simpati pemerintah AS untuk lebih membantu
pemulihan kondisi Bali. Hanya, dia tak menyebut diperlukan
berapa bulan untuk pemulihan kondisi tersebut. ''Pokoknya
AS siap membantu memulihkan ke kondisi awal,'' ucapnya.
Begitu pula soal bantuan apa saja yang diberikan
pemerintah negeri adidaya tersebut masih harus mempelajari.
Hanya
Boyce menyebut, tim yang dibentuk AS tersebut nantinya
membantu apa saja yang diperlukan Pemprop Bali dalam
pemulihan kembali ekonomi daerah ini. Termasuk
mengembalikan citra pariwisata yang kini terpuruk akibat
Tragedi Kuta yang menewaskan 185 dan lebih dari 300 orang
luka-luka.
Menyinggung
tawaran Dubes AS yang ingin membantu pemulihan ekonomi
Bali pascatragedi Legian, Kuta, Gebernur Beratha
mengatakan, pihaknya belum bisa merinci. Sebab, Pemprop
Bali masih sedang menyusun, bantuan apa saja yang
diperlukan.
Apa
yang disampaikan Gubernur Beratha memang demikianlah
adanya. Seperti kita ketahui, pascaledakan bom Kuta, belum
pernah terdengar DPRD Bali bersama-sama eksekutif secara
bersama-sama membahas pemulihan ekonomi pascapeledakan.
Kita hanya mendengar upaya-upaya yang ditempuh pemerintah
pusat pascapeledakan.
Berangkat
dari hal tersebut, rasanya belum terlambat kiranya Dewan
bersama-sama dengan eksekutif dan para pakar untuk kembali
merumuskan hal-hal jangka pendek yang mesti segera
dilakukan Bali. Kalau tidak, pemulihan ekonomi Bali akan
sangat lama dan itu akan sangat berpengaruh pada ekonomi
masyarakat bawah, karena sangat terkait dengan
ketersediaan lapangan kerja dan ruang untuk membangun
kembali usaha mereka.
|