kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Nopember 2002

 Tajuk Rencana


Ke Mana Ekonomi Bali akan Dibawa?

PELEDAKAN bom Kuta telah menimbulkan guncangan khususnya di sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan turun drastis itu sudah pasti. Pedagang cenderamata sepi pembeli itu juga sebuah fakta. Demikian pula ribuan tenaga kerja terancam PHK merupakan lonceng yang segera berdentang.

Adakah hal itu merupakan sebuah tragedi yang memurukkan Bali secara sosial ekonomi. Tidak. Sudah banyak wacana agar Bali bangun dari tragedi ini. Peledakan bom di Kuta, merupakan hal yang tidak perlu disesali berlama-lama. Sebab, hal serupa bisa terjadi di mana-mana. Oleh karena itu, bom Kuta ini dijadikan cambuk untuk menata kembali Bali secara keseluruhan untuk menjadikan pulau seribu pura ini jagadita, sejahtera untuk semua penghuninya. Sebab, selama ini realita yang ada, belum semua masyarakat Bali merasa betapa manisnya dolar pariwisata. Tidak semua masyarakat Bali merasakan dampak kemajuan pariwisata.

Contoh di sektor pertanian. Walaupun sektor ini diprogramkan sebagai sektor unggulan dalam membangun Bali, tetapi pada kenyataannya tidak mendapat penanganan yang serius. Mereka selama ini baru sebatas jadi objek pariwisata. Banyak yang pergi ke Tabanan khususnya Jatiluwih, hanya untuk melihat betapa indahnya terasering sawah di daerah pegunungan itu. Demikian juga di desa-desa yang lainnya, wisatawan hanya diajak untuk mengagumi. Tetapi sudahkah mereka mendapat perhatian dalam mendukung sektor kepariwisataan Bali?

Tidak! Jangankan memperhatikan para petaninya, pada lahannya (sawah) saja tidak memperoleh proteksi secara jelas. Buktinya, banyak sawah subur dibebaskan demi pariwisata. Berhektar-hektar sawah dibebaskan untuk membangun lapangan golf, sirkuit F-1 dan fasilitas yang konon menjanjikan pendapatan daerah dan lapangan pekerjaan.

''Pengaduan'' ini telah lama diungkapkan oleh para akademisi, termasuk para pakar. Mereka mengkhawatirkan sektor pertanian di Bali akan surut. Selain lahan makin menyempit, juga perhatian pemerintah pada sektor ini kian surut, sehingga wajar kalau sektor pertanian tak diminati lagi oleh generasi muda Bali.

Ketika pariwisata turun mendekati titik kekhawatiran, akhirnya sektor pertanian mulai dilirik untuk diberdayakan lagi. Pertanyaan sekarang, adakah Bali telah memiliki konsep untuk itu? Adakah Bali punya konsep untuk bangkit dari keterpurukan? Dari mana akan memulai untuk membangun ekonomi Bali secara gradual, tampaknya juga belum dimiliki. Terbukti ketika Amerika Serikat berminat membantu pemulihan ekonomi Bali, Gubernur belum bisa memberikan rincian secara jelas. Oleh karena itu, Amerika Serikat segera mengirim tim membantu Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya pemulihan perekonomian pascaledakan bom di Kuta.

Janji mengirim tim tersebut disampaikan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Ralph L. Boyce saat bertemu Gubernur Bali Dewa Made Beratha. Tragedi ini diakui telah mengundang simpati pemerintah AS untuk lebih membantu pemulihan kondisi Bali. Hanya, dia tak menyebut diperlukan berapa bulan untuk pemulihan kondisi tersebut. ''Pokoknya AS siap membantu memulihkan ke kondisi awal,'' ucapnya. Begitu pula soal bantuan apa saja yang diberikan pemerintah negeri adidaya tersebut masih harus mempelajari.

Hanya Boyce menyebut, tim yang dibentuk AS tersebut nantinya membantu apa saja yang diperlukan Pemprop Bali dalam pemulihan kembali ekonomi daerah ini. Termasuk mengembalikan citra pariwisata yang kini terpuruk akibat Tragedi Kuta yang menewaskan 185 dan lebih dari 300 orang luka-luka.

Menyinggung tawaran Dubes AS yang ingin membantu pemulihan ekonomi Bali pascatragedi Legian, Kuta, Gebernur Beratha mengatakan, pihaknya belum bisa merinci. Sebab, Pemprop Bali masih sedang menyusun, bantuan apa saja yang diperlukan.

Apa yang disampaikan Gubernur Beratha memang demikianlah adanya. Seperti kita ketahui, pascaledakan bom Kuta, belum pernah terdengar DPRD Bali bersama-sama eksekutif secara bersama-sama membahas pemulihan ekonomi pascapeledakan. Kita hanya mendengar upaya-upaya yang ditempuh pemerintah pusat pascapeledakan.

Berangkat dari hal tersebut, rasanya belum terlambat kiranya Dewan bersama-sama dengan eksekutif dan para pakar untuk kembali merumuskan hal-hal jangka pendek yang mesti segera dilakukan Bali. Kalau tidak, pemulihan ekonomi Bali akan sangat lama dan itu akan sangat berpengaruh pada ekonomi masyarakat bawah, karena sangat terkait dengan ketersediaan lapangan kerja dan ruang untuk membangun kembali usaha mereka.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)