kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Nopember 2002

 Nusatenggara


Berbelit-belit, Pencairan Dana Proyek di Sumbawa

Sumbawa Besar (Bali Post) -
Proses pengurusan termin dana proyek di Dinas Prasarana Wilayah (Praswil) Kabupaten Sumbawa mengundang kekecewaan rekanan. Kendati pekerjaan proyek sudah rampung, tidak secepat itu rekanan menerima pencairan dana, karena proses yang dilalui berbelit-belit.

Seorang rekanan mengungkapkan, meski pekerjaan proyek sudah rampung, ia merasa sulit menghubungi petugas di Dinas Praswil Sumbawa untuk penyelesaian administrasi. Tidak jarang rekanan itu gagal menyelesaikan administrasi proyek, sehingga pencairan dana di Kantor Bupati Sumbawa sering terlambat. Peran konsultan dinilai menghambat proses pencairan dana termin. Proses berbelit-belit itu juga terjadi di Kantor Bupati Sumbawa. ''Di Dinas Praswil Sumbawa proses administrasi berbelit-belit. Ada oknum konsultan bertindak feodal, sehingga timbul raja-raja kecil,'' ungkap seorang rekanan, Jumat (1/11) kemarin kepada wartawan.

Contohnya, pengajuan MC (penyelesaian fisik proyek-red) mengalami hambatan, akibat ulah oknum konsultan yang bersikap feodal. Untuk memperoleh persetujuan MC, rekanan harus merengek-rengek baru dilayani. Belum lagi sikap petugas lain yang sering menghambat penyelesaian administrasi proyek di Dinas Praswil Sumbawa. Pelaksana CV Ismi Junaidi menuturkan, selama seminggu ia mencari bendahara proyek Irigasi, Nifo Marwan, tidak ditemukan. Akibatnya, upah pekerja tidak bisa dibayar. ''Saya terpaksa harus mencari Nifo ke Mapin. Kalau tidak, kasihan pekerja tidak bisa kita bayar,'' keluh Junaidi.

Kata dia, proyek irigasi yang dikerjakan sudah selesai sebulan lalu, tetapi pembayaran termin hingga kini belum tuntas. Seorang rekanan, Umar M. Tahir baru-baru ini bersurat ke Bupati Sumbawa dan Kadis Praswil setempat. Inti surat itu minta agar proses administrasi tidak berbelit-belit, guna memperlancar pembayaran termin oleh bendahara Kantor Bupati Sumbawa. Sebab, molornya pembayaran termin proyek membuat marah para pekerja. Bahkan, karena upah tidak dibayar, ada seorang rekanan diancam oleh pekerja.

Mengatasi kekurangan dana, rekanan terpaksa menggadaikan barangnya di Kantor Pegadaian Sumbawa. Bahkan, ada rekanan yang pinjam uang di rentenir dengan bunga 15 persen-20 persen. ''Kalau tidak pinjam uang dengan bunga tinggi, kami tidak bisa membayar upah pekerja,'' jelas seorang rekanan.

Kadis Praswil Sumbawa Ir. H. Muchsin Usman menilai, keterlambatan proses administrasi itu, karena syarat yang ditetapkan tidak dipenuhi oleh rekanan. Misalnya, syarat MC, laporan bulanan kegiatan fisik proyek, data pendukung, data laboratorium dan hasil uji data di lapangan. Jika semua syarat ini tidak ada, proses pencairan dana tidak bisa dilakukan. Diakuinya, selama ini tidak pernah ada rekanan yang minta tanda tangan kepada dirinya secara langsung di ruang kerjanya.

Hasil temuan tim BPKP saat ini di Sumbawa, dari lima paket proyek tidak ada laporan kegiatan kerja yang lengkap. Jika rekanan mempersoalkan keterlambatan pencairan termin, Muchsin justru mempertanyakan dana 30 persen dari nilai proyek yang sudah diterima rekanan. ''Kalau dana itu dimanfaatkan untuk proyek, saya rasa rekanan tidak mengalami kesulitan,'' jelasnya. (051)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)