Museum
Nagasaki Jadi Objek Wisata Pendidikan
JIKA
Kuta diguncang bom dengan korban 185 jiwa, kota Nagasaki
di Jepang mengalami nasib yang lebih tragis lagi. Kota ini
dibom atom oleh tentara Sekutu pimpinan AS, 9 Agustus 57
tahun lalu. Akibatnya, 73.884 warga Nagasaki meninggal
seketika akibat kena suhu 4.500 derajat Celsius. Ribuan
lainnya hidup dengan tubuh cacat.
Kini lokasi yang
menjadi pusat ledakan bom pada Perang Dunia II itu
didirikan musuem dinamankan Meseum Bom Atom Nagasaki.
Museum itu kini dijadikan pusat wisata pendidikan bagi
para pelajar di Jepang, baik yang datang dari Pulau Kyushu
maupun dari Pulau Honsu, Hondo dan lain-lainnya. Di
sinilah menurut warga Jepang generasi mudanya belajar
bangkit dari sejarah tragedi itu. Hanya dalam waktu 4-5
tahun warga Nagasaki bangkit dan membangun kembali kotanya
yang diluluhlantakkan oleh bom atom AS. Kini kota itu maju
pesat sebagai kota industri, perdagangan dan pendidikan.
Para siswa bukan
saja diajak mengetahui secara langsung kejadian itu di
dalam ruangan, mereka juga diajak melakukan upaya
perdamaian dengan membuat cenderamata berangka serba
seribu. Cenderamata itu disebut sembazru, bisa berupa
lipatan kertas berwujud burung sebanyak seribu, kumpulan
titik-titik lukisan atau berupa benda lain yang penting
angkanya seribu. Mengapa angka seribu yang dipilih,
menurut promotor Tim Pendidikan dan Kesenian Bali Kawakita,
angka ini menunjukkan jumlah korban mati akibat bom atom
AS ribuan orang atau untuk mewakili jumlah yang banyak.
Kisah inilah diharapkan membuat semangat orang Jepang
harus tampil paling depan dan menyebarkan perdamaian.
Nagasaki dijadikan sasaran bom atom pasukan Sekutu karena
merupakan pusat pembuatan amunisi tentara Jepang dan pusat
instalasi militer Jepang. Di sini berdiri perusahaan
Mitsubishi yang membuat kapal perang Jepang. Bahkan,
reruntuhan gedung Mitsubishi tempo dulu dipajang di dalam
museum. Sementara pas di pusat bom dibangun monumen. Tiap
hari banyak siswa yang mengunjungi objek wisata pendidikan
ini. Mereka sudah dilengkapi dengan modul yang harus diisi
setelah mereka melihat-lihat dan mendengar rekaman di
museum ini. Inilah kelebihan sistem pendidikan mereka, ada
perencanaan matang jika menyuruh siswanya pergi ke museum.
Jika di pusat
ledakan bom di Kuta ada rencana untuk membangun monumen
atau museum, ada baiknya pengalaman di Museum Nagasaki
bisa dipakai bahan referensi bagaimana bentuk dan apa saja
yang harus ditampilkan di museum itu. Bangunan Museum
Nagasaki dibuat dengan struktur bangunan modern. Untuk
menuju ke ruang utama kita harus melalui jalan melingkar
seperti tangga berjalan. Di sana kita akan jumpai
bagaimana bentuk mini dari bom atom yang menghanguskan
Nagasaki. Di pintu utama, kita akan menyaksikan bagaimana
detik-detik bom atom itu meledak di Nagasaki. Juga ada
maket disertai rekaman radius yang terkena radiasi bom
atom, termasuk bagaimana pesawat AS mengincar lokasi ini.
Film peristiwa ini diberikan AS kepada Jepang setahun
setelah ledakan bom itu. Film itu secara live terus
diputar untuk mengajak penonton menyaksikan secara
langsung kejadian itu.
Masih banyak layar
kaca lainnya yang mengisahkan kesengsaraan dan kedukaan
warga Nagasaki akibat bom atom itu. Ribuan korban
luka-luka dari bayi hingga manusia lanjut usia juga rapi
ditampilkan secara langsung. Bahkan, kayu yang hangus
akibat ledakan bom atom masih bisa ditampilkan dengan cara
diawetkan. Juga ada baju pasukan Jepang yang dipajang dan
berbagai mimik korban akibat terkena hawa panas ribuan
derajat Celcius. Reruntuhan tempat ibadah Shinto dan
gereja juga diselamatkan dan dipajang di meseum.
Di ruang kedua, kita
akan jumpai bentuk mini kapal perang AS yang melontarkan
bom itu ke Nagasaki. Di sini juga diputarkan film Jepang
sebelum dibom, saat dibom dan setahun setelah dibom atom.
Di sini juga ditampilkan rekaman bagaimana orang Jepang
melakukan ngaben secara masal korban bom.
Yang menarik lagi,
di ruangan ini juga ada video saksi korban yang selamat
lengkap dengan hasil wawancaranya. Kita bisa menyetel
rekaman itu dengan menekan nama dan saksi yang kita
inginkan.
Itulah kehebatan
teknologi Jepang yang perlu kita tiru kalau membuat museum
perjuangan Bali atau bom di Kuta. Menurut Sumihiko
Kawakita, pengalaman harus dijadikan pelajaran berharga.
Nagasaki bisa bangkit dan maju seperti sekarang karena
pernah dibom atom AS. Bali pun, kata dia, bisa bangkit
setelah tragedi Kuta 12 Oktober lalu. (sue)
|