Promosikan
Ornamen Bali di Swedia
SEJAK
diterbitkan buku Island of Bali tulisan Miguel Corvarubias
di tahun 30-an, pengetahuan entang Bali di mata
internasional makin kencang berhembus. Pulau Bali yang
dipandang sebagai sorga dunia dengan keramah-tamahan
penduduknya, agama, adat-istiadatnya dan seni udayanya,
mengusik hati orang-orang mancanegara untuk mengenali Bali
lebih dekat. Bahkan, tak sedikit akhirnya menetap dalam
waktu yang cukup lama di pulau seribu pura ini.
Pada tahun 1993,
sembilan tahun silam, seorang alumnus dari sekolah
kejuruan Celcius Gimnasiet di kota Vingas Kolan, Swedia,
bernama Gunnar Danielsson mengadakan enelitian ke Bali.
Dalam penelitian itu, Denielsson mengkhususkan pada
kesenian tradisi Bali, terutama di bidang seni ukir.
Alumnus siswa special wood carving itu pun lantas
menyusuri pusat-pusat wisata seantero Bali hingga
berlanjut ke studio-studio maupun galeri-galeri yang
tersebar di kota seni Gianyar. Di antaranya bertemu dan
meneliti pemahat-pemahat seperti I Made Sutheja, Muka, Ada,
Ambara dan ke SMK 2 Sukawati.
Di sekolah kejuruan
yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan
SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan) penelitian
Denielsson tentang seni ukir tradisi makin dimantapkan
dengan melihat tata cara dasar pembelajaran dan
pelestarian tekni kir-mengukir pada sekolah yang pertama
kali dirintis oleh para seniman tamatan seni upa Singaraja
dari Desa Guang pada 1968 seperti I Made Sutheja, Ketut
Nganjung, Wayan Balik Riti, AA Alit Dhita serta didukung
kuat seniman I Nyoman Ritug. Kesan regionalisme atau
kecenderungan untuk mengadakan kerja sama yang erat antar
edua sekolah kejuruan Barat dan Timur di bidang pendidikan
kian tampak.
Apalagi dengan
kembalinya Gunnar Denielsson ke negerinya dengan hasil
penelitiannya menandakan, ketertarikan siswa dan guru
sekolah kejuruan Swedia untuk belajar ornamen ornamen
tradisi Bali makin terpatri.
Pepatran
Bali
Setelah berselang
dalam rentang waktu yang cukup lama, kerja sama pertukaran
siswa yang juga terselenggara berkat program sekolah SMK
Direktorat Depdikbud Pusat Jakarta, akhirnya
terealisasikan. Sekitar bulan Juli 2002 lalu para guru
Swedia yang berjumlah
5 orang di dalamnya
terdapat Gert Ljung Berg, guru senior dari sekolah
kejuruan Celcius imnasiet, mengundang sekaligus
mensponsori siswa dan guru SMK 2 Sukawati e Swedia untuk
memperkenalkan seni ukir tradisi Bali.
Lantas pada 23
September-16 Oktober 2002, dua siswa berprestasi I Wayan
Eka Buana Karya dan I Ketut Sudiarta ditemani guru
keahlian produktif kayu I Komang Subrata, S.Pd. serta
pimpinannya I Ketut Sandiyarsa, S.Pd. melawat di Swedia
menjadi guru-guru seni. Mereka di sana lantas
memperkenalkan dasar-dasar pepatran Bali, seperti: patra
punggel, olanda, samlung, sari, karang tapel dan lain-lain
yang berkaitan dengan ornamen-ornamen tradisi.
''Awalnya yang
diajari hanya pada siswa spesial wood carving, lama-kelamaan
karena jurusan lain seperti lukis, industri juga tertarik
lantas mereka pun turut mempelajari warisan kesenian yang
lama dan khas itu,'' jelas Komang Subrata.
Sementara untuk
mendokumentasikan pahatan-pahatan Bali, keempat guru dan
murid itu dimintai menghias sebuah mebel agar ada sentuhan
Balinya. Mebel itu kemudian dijadikan koleksi sekolah yang
memiliki siswa sebanyak 200 orang.
Namun, keempat duta
Bali ini, tak saja memperkenalkan budaya Bali di negeri
itu. ''Kita pun dapat menyerap ilmu dari ekolah tersebut
terutama mengenai cara-cara pengolahan kayu, termasuk
pengeringan, pengawetan, cara masak-memasak kayu, tahan
suhu cuaca agar kayu umurnya panjang.''
Dari pandangan
Subrata selama di luar negeri, kelemahan produksi seni di
Bali diakibatkan kurang adanya pengolahan bahan hingga
mengakibatkan karya- arya handycraf yang sampai di luar
negeri pecah. Oleh karena itu, ia minta pihak
perindustrian membantu di bidang pengolahan bahan.,
sehingga kualitas kerajinan Bali makin bermutu. Di sisi
lain, ia menyatakan, hasil pengamatannya, sentuhan tangan
dan seninya Bali lebih unggul.
* Wayan Jana
|