kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Nopember 2002

 Budaya


Promosikan Ornamen Bali di Swedia

SEJAK diterbitkan buku Island of Bali tulisan Miguel Corvarubias di tahun 30-an, pengetahuan entang Bali di mata internasional makin kencang berhembus. Pulau Bali yang dipandang sebagai sorga dunia dengan keramah-tamahan penduduknya, agama, adat-istiadatnya dan seni udayanya, mengusik hati orang-orang mancanegara untuk mengenali Bali lebih dekat. Bahkan, tak sedikit akhirnya menetap dalam waktu yang cukup lama di pulau seribu pura ini.

Pada tahun 1993, sembilan tahun silam, seorang alumnus dari sekolah kejuruan Celcius Gimnasiet di kota Vingas Kolan, Swedia, bernama Gunnar Danielsson mengadakan enelitian ke Bali. Dalam penelitian itu, Denielsson mengkhususkan pada kesenian tradisi Bali, terutama di bidang seni ukir. Alumnus siswa special wood carving itu pun lantas menyusuri pusat-pusat wisata seantero Bali hingga berlanjut ke studio-studio maupun galeri-galeri yang tersebar di kota seni Gianyar. Di antaranya bertemu dan meneliti pemahat-pemahat seperti I Made Sutheja, Muka, Ada, Ambara dan ke SMK 2 Sukawati.

Di sekolah kejuruan yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan) penelitian Denielsson tentang seni ukir tradisi makin dimantapkan dengan melihat tata cara dasar pembelajaran dan pelestarian tekni kir-mengukir pada sekolah yang pertama kali dirintis oleh para seniman tamatan seni upa Singaraja dari Desa Guang pada 1968 seperti I Made Sutheja, Ketut Nganjung, Wayan Balik Riti, AA Alit Dhita serta didukung kuat seniman I Nyoman Ritug. Kesan regionalisme atau kecenderungan untuk mengadakan kerja sama yang erat antar edua sekolah kejuruan Barat dan Timur di bidang pendidikan kian tampak.

Apalagi dengan kembalinya Gunnar Denielsson ke negerinya dengan hasil penelitiannya menandakan, ketertarikan siswa dan guru sekolah kejuruan Swedia untuk belajar ornamen ornamen tradisi Bali makin terpatri.

Pepatran Bali

Setelah berselang dalam rentang waktu yang cukup lama, kerja sama pertukaran siswa yang juga terselenggara berkat program sekolah SMK Direktorat Depdikbud Pusat Jakarta, akhirnya terealisasikan. Sekitar bulan Juli 2002 lalu para guru Swedia yang berjumlah

5 orang di dalamnya terdapat Gert Ljung Berg, guru senior dari sekolah kejuruan Celcius imnasiet, mengundang sekaligus mensponsori siswa dan guru SMK 2 Sukawati e Swedia untuk memperkenalkan seni ukir tradisi Bali.

Lantas pada 23 September-16 Oktober 2002, dua siswa berprestasi I Wayan Eka Buana Karya dan I Ketut Sudiarta ditemani guru keahlian produktif kayu I Komang Subrata, S.Pd. serta pimpinannya I Ketut Sandiyarsa, S.Pd. melawat di Swedia menjadi guru-guru seni. Mereka di sana lantas memperkenalkan dasar-dasar pepatran Bali, seperti: patra punggel, olanda, samlung, sari, karang tapel dan lain-lain yang berkaitan dengan ornamen-ornamen tradisi.

''Awalnya yang diajari hanya pada siswa spesial wood carving, lama-kelamaan karena jurusan lain seperti lukis, industri juga tertarik lantas mereka pun turut mempelajari warisan kesenian yang lama dan khas itu,'' jelas Komang Subrata.

Sementara untuk mendokumentasikan pahatan-pahatan Bali, keempat guru dan murid itu dimintai menghias sebuah mebel agar ada sentuhan Balinya. Mebel itu kemudian dijadikan koleksi sekolah yang memiliki siswa sebanyak 200 orang.

Namun, keempat duta Bali ini, tak saja memperkenalkan budaya Bali di negeri itu. ''Kita pun dapat menyerap ilmu dari ekolah tersebut terutama mengenai cara-cara pengolahan kayu, termasuk pengeringan, pengawetan, cara masak-memasak kayu, tahan suhu cuaca agar kayu umurnya panjang.''

Dari pandangan Subrata selama di luar negeri, kelemahan produksi seni di Bali diakibatkan kurang adanya pengolahan bahan hingga mengakibatkan karya- arya handycraf yang sampai di luar negeri pecah. Oleh karena itu, ia minta pihak perindustrian membantu di bidang pengolahan bahan., sehingga kualitas kerajinan Bali makin bermutu. Di sisi lain, ia menyatakan, hasil pengamatannya, sentuhan tangan dan seninya Bali lebih unggul.
* Wayan Jana

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)