Dari Warung Global Interaktif--''Bali Post''
Jangan Terlena
Bantuan AS, Perkuat Pertanian
Pemerintah Amerika
Serikat (AS) segera mengirim tim membantu Pemerintah
Propinsi Bali dalam upaya memulihkan perekonomian
pascaledakan bom di Kuta. Hal itu disampaikan Duta Besar
Amerika Serikat untuk Indonesia Ralph L. Boyce saat
bertemu Gubernur Bali Dewa Beratha. Bentuk-bentuk bantuan
yang akan diberikan pemerintah negeri adidaya itu masih
dipelajari. Boyce menyebutkan, tim yang dibentuk AS
tersebut nantinya membantu apa saja yang diperlukan
Pemprop Bali di dalam pemulihan kembali ekonomi daerah
Bali ini. Warung Global bertema ''AS Bantu Pulihkan
Ekonomi Bali'' banyak ditanggapi masyarakat. Apa dan
bagaimana pendapat masyarakat terhadap rencana bantuan AS
kepada Pemda Bali tersebut? Sejauh mana penggunaan bantuan
AS itu nanti, terkait upaya pemulihan pembangunan
pariwisata di Bali? Hal itu mengemuka dalam acara Warung
Global yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani,
Jumat (1/11) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh
Radio Genta Swara Sakti Bali dan Singaraja FM.
Berkaitan dengan hal
ini, pengamat sosial politik, Kasubmahardi menilai bahwa
sebuah bantuan selalu memiliki sisi positif dan negatif
serta harus ditinjau sejauh mana kita menggunakan bantuan
ini. Jika ada bantuan dari pihak AS, ada hal yang perlu
dipertanyakan, apakah bantuan itu secara tulus ataukah ada
embel-embelnya? Diakui bahwa saat ini situasi bangsa kita
kurang enak, penuh kecurigaan dan penuh prasangka.
Misalnya, embel-embelnya bantuan itu berbuntut paksaan
terhadap pemberantasan terorisme atau tekanan bidang
politik.
Ia mengatakan,
pemberantasan terorisme memang tidak ada masalah, tapi
karena istilah terorisme ini sangat berwarna dan bisa
secara langsung atau tidak menuding pada salah satu
kelompok, maka memberantas terorisme ini bisa macam-macam
artinya. Misalnya memberantas terorisme bisa berarti
memojokkan umat Islam. Isu terorisme bisa dianggap sebagai
bentuk luar dari konflik antara budaya Barat yang memusuhi
Islam.
Menurut Kasubmahardi,
tawaran itu sebaiknya diterima, namun dengan pertimbangan.
Pertama, apakah bantuan AS tersebut ada persyaratannya?
Jika persyaratannya terlalu berat, maka tidak kita terima.
Kedua, siapa yang akan menentukan penggunaan bantuan itu?
Artinya Balilah yang tahu persis apa yang dibutuhkan,
bukan Amerika yang mendikte Bali. Bantuan itu akan efektif
membangun Bali, asal sesuai dengan keperluan Bali. Bantuan
itu sebaiknya diawasi oleh DPRD dan AS supaya tujuan
bantuan itu tepat sasaran.
Maria menilai, boleh
saja pihak AS membantu, namun harus ikhlas. Jangan karena
bantuannya, AS mengobok-obok Bali. Sementara itu Krisna
berpendapat bantuan ekonomi untuk Bali harus diajukan dulu,
seperti apa bentuknya. Jika hanya bertumpu pada pariwisata
maka kita akan hancur. Krisna menilai agar pertanian lebih
dikembangkan. Sebab, jika dari pariwisata penghasilannya
anjlok, masyarakat Bali bisa dapat penghasilan dari
pertanian.
Made Karsana dari
Padangsambian mengharapkan agar bantuan yang dtawarkan AS
jangan langsung ditolak. Perlu dilakukan pengkajian lebih
dahulu. Widi juga mendukung pendapat ini. Katanya jangan
langsung curiga dengan bantuan AS. Apalagi negara kita
tengah terpuruk. Jika bantuan itu ada, prioritaskan pada
alat-alat pengamanan dari ancaman teroris.
Bantuan
Teknologi Keamanan
Ngurah Kapah menilai,
bantuan AS jangan diartikan sebagai intervensi. Menurutnya
yang paling utama adalah bantuan teknologi untuk keamanan.
Ia berharap pula agar dilakukan pelatihan SDM yang dapat
mengoperasikan alat itu. Nyoman Cong Nik dari Singaraja
juga mendukung usulan ini seraya menambahkan bahwa bantuan
itu sebaiknya tidak berbentuk uang. Sebab kalau berbentuk
uang tunai maka rawan untuk disalahgunakan.
Made Suardika dari
Renon mengharapkan agar bantuan itu berupa hibah, sehingga
tidak memberatkan pemerintah dan anak cucu kita dalam
pengembalian dana bantuan itu. Ia berharap agar pemerintah
tidak tergiur dan terlena dengan bantuan itu. Jika Bali
khususnya dan Indonesia umumnya belum saatnya menerima
maksud baik AS, janganlah bantuan itu diterima.
Andre menilai bahwa
bantuan AS hanyalah angin surga di tengah keterpurukan
bangsa Indonesia. Menurutnya, jangan terlalu senang dengan
bantuan itu sebelum kita tahu ketentuan dan wujudnya.
Wayan Dogler dari Gianyar sependapat dengan ungkapan
Andre. Ia menambahkan bahwa banyak pihak yang
berlomba-lomba minta bantuan, tetapi ternyata hasilnya
hanya menyenangkan segelintir orang. Sebaiknya bantuan itu
harus diterima secara selektif dan jangan berupa uang,
namun berwujud alat-alat untuk pengamanan.
Aritonang juga
menyetujui usulan ini. Ia menambahkan bahwa bantuan uang
hanya akan menimbulkan masalah baru. Maklumlah budaya
korupsi masih merajalela. Kalaupun dibantu AS, mintalah
bantuan manajemen, agar bisa mengelola bangsa lebih baik.
Agung dari Jl. Gatot
Kaca menilai bahwa lebih baik bantuan itu ditunda. Yang
penting sekarang adalah bantuan moral. Misalnya di tengah
keterpurukan ekonomi bangsa kita, AS bisa mengkampanyekan
bahwa Indonesia telah pulih kembali dan aman, sehingga
negara lain mau membantu berbagai industri yang menampung
banyak pekerja.
Ayu Komang dari Kuta
sependapat dengan Agung. Komang menilai, sebaiknya jangan
terima bantuan itu. Cukuplah kita minta bantuan para
konglomerat yang ada di negeri sendiri.
Sulu berpendapat,
sebaiknya bantuan AS berupa upaya untuk mengungkapkan
pelaku peledakan bom. Sebab tanpa ketemu pelakunya, Bali
semakin lama pulih dari keterpurukan sektor pariwisata
yang merupakan lahan yang dominan memberikan penghidupan
masyarakat Bali.
Subamia berpendapat,
kalaupun diberi bantuan, haruslah melalui filter yaitu
Pancasila dan UUD 45. Selain itu ada koordinasi antara
pemerintah pusat dan daerah. Jika memang dibantu, ia
berharap bantuan itu mampu menghidupkan perekonomian Bali,
memulihkan sarana dan prasarana di Bali. (mus)
|