kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 2 Nopember 2002

 Bali


Dari Warung Global Interaktif--''Bali Post''
 
Jangan Terlena Bantuan AS, Perkuat Pertanian

Pemerintah Amerika Serikat (AS) segera mengirim tim membantu Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya memulihkan perekonomian pascaledakan bom di Kuta. Hal itu disampaikan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Ralph L. Boyce saat bertemu Gubernur Bali Dewa Beratha. Bentuk-bentuk bantuan yang akan diberikan pemerintah negeri adidaya itu masih dipelajari. Boyce menyebutkan, tim yang dibentuk AS tersebut nantinya membantu apa saja yang diperlukan Pemprop Bali di dalam pemulihan kembali ekonomi daerah Bali ini. Warung Global bertema ''AS Bantu Pulihkan Ekonomi Bali'' banyak ditanggapi masyarakat. Apa dan bagaimana pendapat masyarakat terhadap rencana bantuan AS kepada Pemda Bali tersebut? Sejauh mana penggunaan bantuan AS itu nanti, terkait upaya pemulihan pembangunan pariwisata di Bali? Hal itu mengemuka dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani, Jumat (1/11) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Singaraja FM.

Berkaitan dengan hal ini, pengamat sosial politik, Kasubmahardi menilai bahwa sebuah bantuan selalu memiliki sisi positif dan negatif serta harus ditinjau sejauh mana kita menggunakan bantuan ini. Jika ada bantuan dari pihak AS, ada hal yang perlu dipertanyakan, apakah bantuan itu secara tulus ataukah ada embel-embelnya? Diakui bahwa saat ini situasi bangsa kita kurang enak, penuh kecurigaan dan penuh prasangka. Misalnya, embel-embelnya bantuan itu berbuntut paksaan terhadap pemberantasan terorisme atau tekanan bidang politik.

Ia mengatakan, pemberantasan terorisme memang tidak ada masalah, tapi karena istilah terorisme ini sangat berwarna dan bisa secara langsung atau tidak menuding pada salah satu kelompok, maka memberantas terorisme ini bisa macam-macam artinya. Misalnya memberantas terorisme bisa berarti memojokkan umat Islam. Isu terorisme bisa dianggap sebagai bentuk luar dari konflik antara budaya Barat yang memusuhi Islam.

Menurut Kasubmahardi, tawaran itu sebaiknya diterima, namun dengan pertimbangan. Pertama, apakah bantuan AS tersebut ada persyaratannya? Jika persyaratannya terlalu berat, maka tidak kita terima. Kedua, siapa yang akan menentukan penggunaan bantuan itu? Artinya Balilah yang tahu persis apa yang dibutuhkan, bukan Amerika yang mendikte Bali. Bantuan itu akan efektif membangun Bali, asal sesuai dengan keperluan Bali. Bantuan itu sebaiknya diawasi oleh DPRD dan AS supaya tujuan bantuan itu tepat sasaran.

Maria menilai, boleh saja pihak AS membantu, namun harus ikhlas. Jangan karena bantuannya, AS mengobok-obok Bali. Sementara itu Krisna berpendapat bantuan ekonomi untuk Bali harus diajukan dulu, seperti apa bentuknya. Jika hanya bertumpu pada pariwisata maka kita akan hancur. Krisna menilai agar pertanian lebih dikembangkan. Sebab, jika dari pariwisata penghasilannya anjlok, masyarakat Bali bisa dapat penghasilan dari pertanian.

Made Karsana dari Padangsambian mengharapkan agar bantuan yang dtawarkan AS jangan langsung ditolak. Perlu dilakukan pengkajian lebih dahulu. Widi juga mendukung pendapat ini. Katanya jangan langsung curiga dengan bantuan AS. Apalagi negara kita tengah terpuruk. Jika bantuan itu ada, prioritaskan pada alat-alat pengamanan dari ancaman teroris.

Bantuan Teknologi Keamanan

Ngurah Kapah menilai, bantuan AS jangan diartikan sebagai intervensi. Menurutnya yang paling utama adalah bantuan teknologi untuk keamanan. Ia berharap pula agar dilakukan pelatihan SDM yang dapat mengoperasikan alat itu. Nyoman Cong Nik dari Singaraja juga mendukung usulan ini seraya menambahkan bahwa bantuan itu sebaiknya tidak berbentuk uang. Sebab kalau berbentuk uang tunai maka rawan untuk disalahgunakan.

Made Suardika dari Renon mengharapkan agar bantuan itu berupa hibah, sehingga tidak memberatkan pemerintah dan anak cucu kita dalam pengembalian dana bantuan itu. Ia berharap agar pemerintah tidak tergiur dan terlena dengan bantuan itu. Jika Bali khususnya dan Indonesia umumnya belum saatnya menerima maksud baik AS, janganlah bantuan itu diterima.

Andre menilai bahwa bantuan AS hanyalah angin surga di tengah keterpurukan bangsa Indonesia. Menurutnya, jangan terlalu senang dengan bantuan itu sebelum kita tahu ketentuan dan wujudnya. Wayan Dogler dari Gianyar sependapat dengan ungkapan Andre. Ia menambahkan bahwa banyak pihak yang berlomba-lomba minta bantuan, tetapi ternyata hasilnya hanya menyenangkan segelintir orang. Sebaiknya bantuan itu harus diterima secara selektif dan jangan berupa uang, namun berwujud alat-alat untuk pengamanan.

Aritonang juga menyetujui usulan ini. Ia menambahkan bahwa bantuan uang hanya akan menimbulkan masalah baru. Maklumlah budaya korupsi masih merajalela. Kalaupun dibantu AS, mintalah bantuan manajemen, agar bisa mengelola bangsa lebih baik.

Agung dari Jl. Gatot Kaca menilai bahwa lebih baik bantuan itu ditunda. Yang penting sekarang adalah bantuan moral. Misalnya di tengah keterpurukan ekonomi bangsa kita, AS bisa mengkampanyekan bahwa Indonesia telah pulih kembali dan aman, sehingga negara lain mau membantu berbagai industri yang menampung banyak pekerja.

Ayu Komang dari Kuta sependapat dengan Agung. Komang menilai, sebaiknya jangan terima bantuan itu. Cukuplah kita minta bantuan para konglomerat yang ada di negeri sendiri.

Sulu berpendapat, sebaiknya bantuan AS berupa upaya untuk mengungkapkan pelaku peledakan bom. Sebab tanpa ketemu pelakunya, Bali semakin lama pulih dari keterpurukan sektor pariwisata yang merupakan lahan yang dominan memberikan penghidupan masyarakat Bali.

Subamia berpendapat, kalaupun diberi bantuan, haruslah melalui filter yaitu Pancasila dan UUD 45. Selain itu ada koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Jika memang dibantu, ia berharap bantuan itu mampu menghidupkan perekonomian Bali, memulihkan sarana dan prasarana di Bali. (mus)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)