Tak Ada
''Sweeping''
BUKAN
saja 185 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Peristiwa
ledakan bom di depan Sari Club dan Paddy's Jl. Legian Kuta, 12
Oktober lalu, telah menimbulkan banyak penderitaan. Hingga kini
dan entah sampai kapan penderitaan itu akan pulih dan Kuta akan
kembali mejadi primadona bagi kalangan pelancong dan dunia
perpelancongan.
Sebab kesakitan Kuta
adalah penderitaan pula seluruh bangsa Indonesia. Betapa tidak,
Kuta sebagai etalase pariwisata Bali tampak hancur berantakan.
Di tengah keterpurukan itu, isu SARA mudah terlontar, isu
kelompok gampang sekali dipicu mengingat Kuta adalah daerah yang
ditempati masyarakat dengan tingkat keragaman yang tinggi.
Maka banyaklah pancingan
yang dilontarkan pihak tertentu untuk memperkeruh suasana. Isu
sweeping pendatang misalnya, sempat santer terdengar
pascapeledakan bom di Kuta.
Bendesa Adat Kuta I Made
Wendra pun tak memungkiri. Ia mengaku sering dipancing untuk
melakukan sweeping. Ia sering dipancing dengan kalimat: "Gimana
pak bendesa, ini sweeping jadi enggak?"
Lantas bagaimana reaksi
Wendra? Tokoh Kuta yang pernah menjadi kuli bangunan di Bandara
Ngurah Rai itu mengatakan dengan tegas menjawab: "Kita
tidak mau lakukan seperti itu. Kita tahu bahwa Kuta adalah
daerah pariwisata yang identik dengan keterbukaan. Bali itu
bukan milik orang Bali saja. Jadi kita tidak bisa menangani
secara emosional." Itulah sebabnya, pihaknya tidak pernah
melakukan sweeping secara mendadak.
Menurut Wendra, siapa pun
berhak tinggal di Kuta. Namun ia berpesan agar siapa pun yang
tinggal di Bali, apalagi di Kuta, menggunakan prosedur yang
benar. Misalnya ia memiliki tempat tinggal.
Lantas apa alasannya
tidak melakukan sweeping? Mantan guide ini sejak kanak-kanak
mengaku berada dalam lingkungan plural. Alumnus SMA Kuta itu
sering dijadikan ketua-ketua untuk kerja sosial. Misalnya ketua
banjar, ketua organisasi olah raga sepeda dayung dan sepak bola.
''Mungkin pengalaman ini yang menyebabkan tidak ada dalam
pikiran saya untuk menganaktirikan si A atau si B. Semua sama.''
Sementara itu, seusai
peristiwa ledakan bom Desa Adat Kuta beserta seluruh masyarakat
Bali dengan dukungan pemerintah dan pihak yang peduli dengan
masalah ini akan melakukan upacara di lokasi bekas ledakan bom
dan di Pantai Kuta. "Kenapa dibuatkan upacara karena kita
percaya pada Tuhan," tegasnya. Secara nyata, katanya,
keadaannya banyak bangunan rusak dan yang meninggal. ''Upacara
ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan Hindu.''
Wendra maklum bahwa
peristiwa malang Sabtu kelabu itu menuaikan keterpurukan ekonomi,
mengingat lebih dari 80% mata pencaharian masyarakat Bali dan
Kuta khususnya bergantung pada dunia pariwisata. "Kalau
kita memaksakan ada turis kan tidak bisa. Sekarang ini
satu-satunya yang dilakukan umat beragama adalah tetap berdoa
pada Tuhan agar bisa menghilangkan pikiran-pikiran trauma dan
sedih." Demikian ajakan Wendra pada setiap insan yang
peduli dengan Bali. Memang, pada 15 November nanti, di lokasi
ledakan akan dilangsungkan upacara Pemarisuda Karipubaya dan
Tawur Agung. Semua itu, kata Wendra, untuk menghilangkan rasa
takut dan leteh di tempat itu. ''Setelah itu barulah dipikirkan
kembali agar turis bisa kembali ke Kuta.'(mus)
|