kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

POTRET


Tak Ada ''Sweeping''

BUKAN saja 185 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Peristiwa ledakan bom di depan Sari Club dan Paddy's Jl. Legian Kuta, 12 Oktober lalu, telah menimbulkan banyak penderitaan. Hingga kini dan entah sampai kapan penderitaan itu akan pulih dan Kuta akan kembali mejadi primadona bagi kalangan pelancong dan dunia perpelancongan.

Sebab kesakitan Kuta adalah penderitaan pula seluruh bangsa Indonesia. Betapa tidak, Kuta sebagai etalase pariwisata Bali tampak hancur berantakan. Di tengah keterpurukan itu, isu SARA mudah terlontar, isu kelompok gampang sekali dipicu mengingat Kuta adalah daerah yang ditempati masyarakat dengan tingkat keragaman yang tinggi.

Maka banyaklah pancingan yang dilontarkan pihak tertentu untuk memperkeruh suasana. Isu sweeping pendatang misalnya, sempat santer terdengar pascapeledakan bom di Kuta.

Bendesa Adat Kuta I Made Wendra pun tak memungkiri. Ia mengaku sering dipancing untuk melakukan sweeping. Ia sering dipancing dengan kalimat: "Gimana pak bendesa, ini sweeping jadi enggak?"

Lantas bagaimana reaksi Wendra? Tokoh Kuta yang pernah menjadi kuli bangunan di Bandara Ngurah Rai itu mengatakan dengan tegas menjawab: "Kita tidak mau lakukan seperti itu. Kita tahu bahwa Kuta adalah daerah pariwisata yang identik dengan keterbukaan. Bali itu bukan milik orang Bali saja. Jadi kita tidak bisa menangani secara emosional." Itulah sebabnya, pihaknya tidak pernah melakukan sweeping secara mendadak.

Menurut Wendra, siapa pun berhak tinggal di Kuta. Namun ia berpesan agar siapa pun yang tinggal di Bali, apalagi di Kuta, menggunakan prosedur yang benar. Misalnya ia memiliki tempat tinggal.

Lantas apa alasannya tidak melakukan sweeping? Mantan guide ini sejak kanak-kanak mengaku berada dalam lingkungan plural. Alumnus SMA Kuta itu sering dijadikan ketua-ketua untuk kerja sosial. Misalnya ketua banjar, ketua organisasi olah raga sepeda dayung dan sepak bola. ''Mungkin pengalaman ini yang menyebabkan tidak ada dalam pikiran saya untuk menganaktirikan si A atau si B. Semua sama.''

Sementara itu, seusai peristiwa ledakan bom Desa Adat Kuta beserta seluruh masyarakat Bali dengan dukungan pemerintah dan pihak yang peduli dengan masalah ini akan melakukan upacara di lokasi bekas ledakan bom dan di Pantai Kuta. "Kenapa dibuatkan upacara karena kita percaya pada Tuhan," tegasnya. Secara nyata, katanya, keadaannya banyak bangunan rusak dan yang meninggal. ''Upacara ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan Hindu.''

Wendra maklum bahwa peristiwa malang Sabtu kelabu itu menuaikan keterpurukan ekonomi, mengingat lebih dari 80% mata pencaharian masyarakat Bali dan Kuta khususnya bergantung pada dunia pariwisata. "Kalau kita memaksakan ada turis kan tidak bisa. Sekarang ini satu-satunya yang dilakukan umat beragama adalah tetap berdoa pada Tuhan agar bisa menghilangkan pikiran-pikiran trauma dan sedih." Demikian ajakan Wendra pada setiap insan yang peduli dengan Bali. Memang, pada 15 November nanti, di lokasi ledakan akan dilangsungkan upacara Pemarisuda Karipubaya dan Tawur Agung. Semua itu, kata Wendra, untuk menghilangkan rasa takut dan leteh di tempat itu. ''Setelah itu barulah dipikirkan kembali agar turis bisa kembali ke Kuta.'(mus)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com