kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

OPINI


Karena Matahari Terbit, Ayam Jantan Berkokok

Menjelang 10 November, orang-orang seusia Rubag yang umurnya di atas kepala lima, pasti ingat kata-kata pejuang-veteran-pahlawan dan kemerdekaan. Meski bukan pejuang dan veteran, apalagi pahlawan, paling tidak dalam benaknya melekat dua nama yakni Bung Tomo dan I Gusti Ngurah Rai.

KEDUA figur yang memiliki nama tersebut membuat bulan November memiliki arti khusus bagi bangsa Indonesia. Keduanya, secara pribadi mustahil dikenal Rubag, karena dia hidup dalam zaman serta situasi berbeda. Namun berkat jasa kedua orang tersebut beserta para pejuang yang mengikuti perintahnya, yang kemudian memilih untuk mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai, dia sempat mengalami saat-saat yang disebut merdeka.

''Merdeka atau mati!'' merupakan kalimat yang sering dilihatnya ketika menyaksikan film kisah perjuangan kemerdekaan produk Departemen Penerangan di tahun lima puluhan, yang lazim ditayangkan di bioskop-bioskop sebelum film utama diputar.

Rubag hafal kalimat tersebut, namun kurang memahami maknanya, karena saat itu dia masih berkategori bau kencur. Namun ketika usianya beranjak tua, setelah melewati masa dewasa, dia baru memahami arti sebuah kemerdekaan bagi manusia. Lebih dari itu, dia juga menyadari bahwa menjajahan sebagai lawan kata dari kemerdekaan, juga akibat ulah manusia. Penjajah dan terjajah adalah dikotomi yang senantiasa terjadi, baik tatkala kelonialisme berkecamuk maupun di alam kemerdekaan. Sebab penjajahan tidak selalu berarti ekspansi pasukan asing ke suatu wilayah, namun juga tindakan sewenang-wenang yang menekan kemerdekaan warga negara sendiri oleh para penguasanya.

Satu hal yang sulit dipahami Rubag hingga kini, mengapa ada orang atau sekelompok orang yang merasa bangga hidup sebagai penjajah meskipun yang dijajahnya merupakan mahluk dari species yang sama? Sama-sama keluar dari rahim wanita, ketika lahir juga menangis dan merangkak sebelum bisa berjalan, lalu dibesarkan secara manusiawi dan kasih sayang, namun sejak dewasa hingga tua jadi penjajah atas manusia-manusia yang lebih lemah dan tidak berdaya. Mereka lupa, bahwa suatu saat nasib serupa bisa menimpa diri mereka dan kematian adalah kepastian yang tidak dapat mereka hindarkan.

Sejarah telah membuktikan bahwa Kaisar Romawi Nero, Adolf Hitler tokoh Nazi Jerman, fasis Benito Mussolini mengakhiri riwayatnya secara tragis akibat perbuatannya. Meski saat berkuasa mereka bisa menuding siapa saja untuk masuk ke liang kubur. Juga Raja Bokassa dan Idi Amin dari Uganda yang kanibalis lari terbirit masuk hutan ketika kekuasaannya runtuh dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya jadi buronan yang pengecut.

''Berbeda dengan Bung Tomo yang membangkitkan samangat arek-arek Suroboyo dan I Gusti Ngurah Rai memompa semangat Puputan, untuk mengusir kolonialis Belanda yang ingin memperpanjang penjajahannya di Indonesia setelah Perang Dunia usai. Keduanya tahu bahwa rakyat yang dipimpinnya hanya punya klewang dan bambu runcing, sedangkan musuh yang dihadapinya punya persenjataan modern dan lengkap. Namun keduanya tidak buta dan tuli, mereka paham bahwa rakyat sudah muak dengan penjajahan, lalu berjuang dengan tekad bulat, merdeka atau mati! Semangat seperti ini yang tidak dimiliki serdadu NICA yang mendompleng pasukan Sekutu, Allied Forces Netherlands East Indies,'' Rubag tepekur merenungi sejarah yang pernah dipelajarinya saat duduk di bangku SLTP puluhan tahun silam.

Rubag tidak tahu, apakah para siswa dan mahasiswa sekarang, terkecuali yang menempuh jurusan sejarah, masih menganggap sejarah sebagai ilmu yang perlu dipelajari atau hanya sekadar nostalgia masa lampau yang harus diabaikan? Sebab, setelah melihat kenyataan dimana pengaruh narkoba, fred chicken, hamburger, cafe serta diskotek meruyak ke seluruh pelosok, Rubag curiga kalau pelajaran sejarah hanya dianggap sebagai pelengkap untuk meramaikan kurikulum. Tidak mengherankan kalau jurusan sejarah, antropologi, arkeologi dan bahasa daerah di beberapa fakultas sastra, kekeringan mahasiswa.

Pengabaian diperparah lagi oleh acara-acara talk show di televisi yang lebih sering mengundang pakar-pakar politik, ekonomi dan hukum yang di antaranya telah menjadi selebritis, karena wajah mereka nongol di layar kaca sesering bintang kondang sinetron dan pelantun dangdut. Padahal retaknya bangsa bagai kaca pecah seribu, bersumber pada masalah hukum, ekonomi dan politik yang carut marut dan berefek domino pada sektor kehidupan lainnya.

''Kalau direnungi, ternyata kita tidak punya pakar, namun banyak memiliki tukang ngomong yang suka bertengkar. Kasihan almarhum I Gusti Ngurah Rai dan Bung Tomo! Keduanya mencita-citakan negara kesatuan di mana bangsa yang hidup di dalamnya bisa mereguk kemerdekaan dalam suasana kedamaian, namun hilang lutung datang bojog!'' gumam Rubag yang panas hatinya sulit reda akibat tragedi 12 Oktober di Legian Kuta.

Dalam perjalanannya menelusuri sejarah sebagai orang yang bukan ahli sejarah, Rubag mencatat Agustus dan November sebagai bulan-bulan mengandung heroisme bagi bangsa Indonesia. Agustus merupakan bulan untuk mencetuskan kebulatan tekad buat merdeka setelah berabad-abad mengalami penderitaan di bawah imperialisme dan kolonialisme. Bahkan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dibaca, Bung Karno di depan Pengadilan Kolonial Belanda di Bandung mengucapkan pidato pembelaannya yang kemudian menjadi dokumen sejarah terkenal berjudul ''Indonesia Menggugat''. Itu terjadi pada 18 Agustus 1930, yakni 15 tahun sebelum proklamasi.

''Kemudian November merupakan bulan dimana bangsa Indonesia mempertaruhkan nyawa untuk membela kemerdekaan yang telah diproklamasikan para pemimpinnya Soekarno dan Hatta, yang dengan upaya keras hendak dirampas kembali oleh para penjajah. Bung Tomo bersama arek-arek Surabaya pada 20 November 1945 dan I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanaranya, 20 November 1946 di Margarana Bali,'' renung Rubag.

Sayang, Agustus dan November hanya dua dari dua belas bulan yang menghimpun satu tahun. Bila dua bulan dipenuhi patriotisme, sedang sisa yang sepuluh bulan digunakan untuk mengkhianati kemerdekaan, maka tidak begitu mengherankan bila nasib bangsa Indonesia tidak menentu seperti sekarang. Bahkan di masyarakat Rubag sering mendengar pertanyaan yang sinis, ''Apakah benar kita sudah merdeka?''

Terlepas dari perkara guyon atau serius, pertanyaan tersebut baginya, merupakan ungkapan kebingungan yang dialami sebagian besar komponen bangsa. Seperti misalnya sejarah peristiwa pengkhianatan G30S-PKI yang hingga sekarang tidak jelas, siapa mengkhianati siapa? Bahkan sejak peristiwa tersebut muncul rezim Orde Baru yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa yang menggiring bangsa dan negara ini ke ketiak kapitalisme dan imperialisme terselubung. Akibatnya, cita-cita kemerdekaan yang ingin mengantarkan bangsa dan negara ke suasana gemah ripah loh jinawi ternyata mencampakkan kita semua dalam jurang kehancuran di bawah tumpukan utang luar negeri yang tak terhitung jumlahnya. ''Sebelum bisa bangkit dari hantaman multikrisis, tiba-tiba penjajah baru bernama teroris ngebom Legian Kuta. Bung Karno benar! Penjajah tidak selalu orang asing, sebab bangsa sendiri pun bisa berlagak jadi penjajah. Tapi jangan lupa, bukan lantaran ayam jantan berkokok matahari terbit, namun karena matahari terbitlah ayam jantan berkokok,'' desis Rubag mengingat kalimat yang tak terlupakan dari buku ''Indonesia Menggugat'' yang menganalogikan bahwa perlawanan muncul karena penderitaan akibat penjajahan, sehingga semut yang diinjak pun berusaha menggigit sebelum mati.

* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com