Karena
Matahari Terbit, Ayam Jantan Berkokok
Menjelang 10 November,
orang-orang seusia Rubag yang umurnya di atas kepala lima, pasti
ingat kata-kata pejuang-veteran-pahlawan dan kemerdekaan. Meski
bukan pejuang dan veteran, apalagi pahlawan, paling tidak dalam
benaknya melekat dua nama yakni Bung Tomo dan I Gusti Ngurah Rai.
KEDUA
figur yang memiliki nama tersebut membuat bulan November
memiliki arti khusus bagi bangsa Indonesia. Keduanya, secara
pribadi mustahil dikenal Rubag, karena dia hidup dalam zaman
serta situasi berbeda. Namun berkat jasa kedua orang tersebut
beserta para pejuang yang mengikuti perintahnya, yang kemudian
memilih untuk mati berkalang tanah daripada hidup bercermin
bangkai, dia sempat mengalami saat-saat yang disebut merdeka.
''Merdeka atau mati!''
merupakan kalimat yang sering dilihatnya ketika menyaksikan film
kisah perjuangan kemerdekaan produk Departemen Penerangan di
tahun lima puluhan, yang lazim ditayangkan di bioskop-bioskop
sebelum film utama diputar.
Rubag hafal kalimat
tersebut, namun kurang memahami maknanya, karena saat itu dia
masih berkategori bau kencur. Namun ketika usianya beranjak tua,
setelah melewati masa dewasa, dia baru memahami arti sebuah
kemerdekaan bagi manusia. Lebih dari itu, dia juga menyadari
bahwa menjajahan sebagai lawan kata dari kemerdekaan, juga
akibat ulah manusia. Penjajah dan terjajah adalah dikotomi yang
senantiasa terjadi, baik tatkala kelonialisme berkecamuk maupun
di alam kemerdekaan. Sebab penjajahan tidak selalu berarti
ekspansi pasukan asing ke suatu wilayah, namun juga tindakan
sewenang-wenang yang menekan kemerdekaan warga negara sendiri
oleh para penguasanya.
Satu hal yang sulit
dipahami Rubag hingga kini, mengapa ada orang atau sekelompok
orang yang merasa bangga hidup sebagai penjajah meskipun yang
dijajahnya merupakan mahluk dari species yang sama? Sama-sama
keluar dari rahim wanita, ketika lahir juga menangis dan
merangkak sebelum bisa berjalan, lalu dibesarkan secara
manusiawi dan kasih sayang, namun sejak dewasa hingga tua jadi
penjajah atas manusia-manusia yang lebih lemah dan tidak berdaya.
Mereka lupa, bahwa suatu saat nasib serupa bisa menimpa diri
mereka dan kematian adalah kepastian yang tidak dapat mereka
hindarkan.
Sejarah telah membuktikan
bahwa Kaisar Romawi Nero, Adolf Hitler tokoh Nazi Jerman, fasis
Benito Mussolini mengakhiri riwayatnya secara tragis akibat
perbuatannya. Meski saat berkuasa mereka bisa menuding siapa
saja untuk masuk ke liang kubur. Juga Raja Bokassa dan Idi Amin
dari Uganda yang kanibalis lari terbirit masuk hutan ketika
kekuasaannya runtuh dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya jadi
buronan yang pengecut.
''Berbeda dengan Bung
Tomo yang membangkitkan samangat arek-arek Suroboyo dan I Gusti
Ngurah Rai memompa semangat Puputan, untuk mengusir kolonialis
Belanda yang ingin memperpanjang penjajahannya di Indonesia
setelah Perang Dunia usai. Keduanya tahu bahwa rakyat yang
dipimpinnya hanya punya klewang dan bambu runcing, sedangkan
musuh yang dihadapinya punya persenjataan modern dan lengkap.
Namun keduanya tidak buta dan tuli, mereka paham bahwa rakyat
sudah muak dengan penjajahan, lalu berjuang dengan tekad bulat,
merdeka atau mati! Semangat seperti ini yang tidak dimiliki
serdadu NICA yang mendompleng pasukan Sekutu, Allied Forces
Netherlands East Indies,'' Rubag tepekur merenungi sejarah yang
pernah dipelajarinya saat duduk di bangku SLTP puluhan tahun
silam.
Rubag tidak tahu, apakah
para siswa dan mahasiswa sekarang, terkecuali yang menempuh
jurusan sejarah, masih menganggap sejarah sebagai ilmu yang
perlu dipelajari atau hanya sekadar nostalgia masa lampau yang
harus diabaikan? Sebab, setelah melihat kenyataan dimana
pengaruh narkoba, fred chicken, hamburger, cafe serta diskotek
meruyak ke seluruh pelosok, Rubag curiga kalau pelajaran sejarah
hanya dianggap sebagai pelengkap untuk meramaikan kurikulum.
Tidak mengherankan kalau jurusan sejarah, antropologi, arkeologi
dan bahasa daerah di beberapa fakultas sastra, kekeringan
mahasiswa.
Pengabaian diperparah
lagi oleh acara-acara talk show di televisi yang lebih sering
mengundang pakar-pakar politik, ekonomi dan hukum yang di
antaranya telah menjadi selebritis, karena wajah mereka nongol
di layar kaca sesering bintang kondang sinetron dan pelantun
dangdut. Padahal retaknya bangsa bagai kaca pecah seribu,
bersumber pada masalah hukum, ekonomi dan politik yang carut
marut dan berefek domino pada sektor kehidupan lainnya.
''Kalau direnungi,
ternyata kita tidak punya pakar, namun banyak memiliki tukang
ngomong yang suka bertengkar. Kasihan almarhum I Gusti Ngurah
Rai dan Bung Tomo! Keduanya mencita-citakan negara kesatuan di
mana bangsa yang hidup di dalamnya bisa mereguk kemerdekaan
dalam suasana kedamaian, namun hilang lutung datang bojog!''
gumam Rubag yang panas hatinya sulit reda akibat tragedi 12
Oktober di Legian Kuta.
Dalam perjalanannya
menelusuri sejarah sebagai orang yang bukan ahli sejarah, Rubag
mencatat Agustus dan November sebagai bulan-bulan mengandung
heroisme bagi bangsa Indonesia. Agustus merupakan bulan untuk
mencetuskan kebulatan tekad buat merdeka setelah berabad-abad
mengalami penderitaan di bawah imperialisme dan kolonialisme.
Bahkan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
dibaca, Bung Karno di depan Pengadilan Kolonial Belanda di
Bandung mengucapkan pidato pembelaannya yang kemudian menjadi
dokumen sejarah terkenal berjudul ''Indonesia Menggugat''. Itu
terjadi pada 18 Agustus 1930, yakni 15 tahun sebelum proklamasi.
''Kemudian November
merupakan bulan dimana bangsa Indonesia mempertaruhkan nyawa
untuk membela kemerdekaan yang telah diproklamasikan para
pemimpinnya Soekarno dan Hatta, yang dengan upaya keras hendak
dirampas kembali oleh para penjajah. Bung Tomo bersama arek-arek
Surabaya pada 20 November 1945 dan I Gusti Ngurah Rai bersama
pasukan Ciung Wanaranya, 20 November 1946 di Margarana Bali,''
renung Rubag.
Sayang, Agustus dan
November hanya dua dari dua belas bulan yang menghimpun satu
tahun. Bila dua bulan dipenuhi patriotisme, sedang sisa yang
sepuluh bulan digunakan untuk mengkhianati kemerdekaan, maka
tidak begitu mengherankan bila nasib bangsa Indonesia tidak
menentu seperti sekarang. Bahkan di masyarakat Rubag sering
mendengar pertanyaan yang sinis, ''Apakah benar kita sudah
merdeka?''
Terlepas dari perkara
guyon atau serius, pertanyaan tersebut baginya, merupakan
ungkapan kebingungan yang dialami sebagian besar komponen bangsa.
Seperti misalnya sejarah peristiwa pengkhianatan G30S-PKI yang
hingga sekarang tidak jelas, siapa mengkhianati siapa? Bahkan
sejak peristiwa tersebut muncul rezim Orde Baru yang berkuasa
lebih dari tiga dasawarsa yang menggiring bangsa dan negara ini
ke ketiak kapitalisme dan imperialisme terselubung. Akibatnya,
cita-cita kemerdekaan yang ingin mengantarkan bangsa dan negara
ke suasana gemah ripah loh jinawi ternyata mencampakkan kita
semua dalam jurang kehancuran di bawah tumpukan utang luar
negeri yang tak terhitung jumlahnya. ''Sebelum bisa bangkit dari
hantaman multikrisis, tiba-tiba penjajah baru bernama teroris
ngebom Legian Kuta. Bung Karno benar! Penjajah tidak selalu
orang asing, sebab bangsa sendiri pun bisa berlagak jadi
penjajah. Tapi jangan lupa, bukan lantaran ayam jantan berkokok
matahari terbit, namun karena matahari terbitlah ayam jantan
berkokok,'' desis Rubag mengingat kalimat yang tak terlupakan
dari buku ''Indonesia Menggugat'' yang menganalogikan bahwa
perlawanan muncul karena penderitaan akibat penjajahan, sehingga
semut yang diinjak pun berusaha menggigit sebelum mati.
* Aridus
|