Kristina fs
Ditolak, Sempat
Frustrasi
SANGAT
terobsesi menjadi penyanyi pop atau slow rock, malah terkenal di
jalur dangdut. Begitulah perjalanan karier tarik suara Kristina
Iswandari -- penyanyi yang awal Oktober lalu menggelar tunggal
dua jam non stop yang melibatkan komposer Harry Roesli dan DKSB
Bandung, gitaris Dewa Bujana serta dua aktor Anjasmara dan Indra
L. Bruggman di Hard Rock Cafe Jakarta.
Tak
pelak, kendati tengah menikmati popularitas sebagai biduanita
dangdut papan atas, dara kelahiran Jakarta, 8 Mei 1976 ini,
tetap penasaran ingin melansir album bernuansa pop. "Biar
penasarannya hilang, nanti kalau sudah banyak uang saya bakal
memproduksi sendiri album bernuansa pop atau slow rock. Seperti
yang pernah saya obsesikan waktu menginjak remaja," papar
Kristina kepada Bali Post di Jakarta, baru-baru ini.
Jika masih penasaran
ingin beralih ke pop, berarti Anda belum mantap di dangdut?
Penyanyi mungil bertinggi 158 cm dan berat 43 kg ini menegaskan,
saat ini kiprah dangdutnya sudah teramat mantap. "Bahkan
saking mantapnya, saya sekarang sudah begitu yakin bahwa rezeki
nyanyi saya ada di jalur dangdut. Nah, kalau sampai kini saya
masih penasaran, hal itu bukan berarti geliat dangdut saya belum
mantap. Tetapi, sekadar pembuktian bahwa sebenarnya saya juga
berpotensi jadi penyanyi pop," tandas biduanita yang
memulai debut nyanyi dengan bertualang di panggung hiburan live
Jakarta dan kota-kota besar lainnya sejak berusia 13 tahun ini.
Menurut Kristina,
berbekal jam terbang manggung lebih dari lima tahun dan
kemampuan membawakan beragam jenis lagu pada 1996-1997, dirinya
mencoba menembus dapur rekaman dengan mengusung lagu-lagu pop.
Namun, beberapa produser pernah secara subjektif menolak
mentah-mentah keinginan tersebut tanpa alasan yang jelas. "Terus
terang, kegagalan merilis album bernuansa pop itu sempat membuat
saya frustrasi. Untungnya, berkat dorongan moral dari keluarga,
saya bisa bangkit kembali sambil menerapkan strategi baru
memfokuskan diri jadi penyanyi panggung yang serba bisa.
Termasuk mempelajari cengkok dangdut," ungkapnya.
Strategi Kristina
ternyata membuahkan hasil. Pada 1998 dirinya direkrut produser
dangdut untuk melansir album perdana bertajuk "Berakhir
Pula". "Walau tak sukses, album tersebut membuka jalan
lebar bagi saya untuk total berbasah-basah di jalur dangdut,"
jelasnya. Alhasil, berkat keseriusannya mendalami cengkok
dangdut, album kedua bertajuk "Jatuh Bangun"-nya
mereguk sukses luar biasa. Dan Kristina langsung meluncur bisa
masuk jajaran papan atas penyanyi dangdut nasional.
Bagaimana tentang
goyangan Kristina yang dinilai cukup erotis itu? "Saya
memang senang goyangan erotis," ujar Kristina, sebagaimana
ditulis sat.com. "Di panggung, saya ingin goyang erotis
agar suasana makin panas, tapi nggak bisa," tambahnya
merendah. Tetapi banyak kalangan, terutama para pria, menghayati
goyangan Kristina yang menggetarkan hasrat itu. "Salah
sendiri. Orang itu saja yang pikirannya kotor," ujar
Kristina enteng. (ags/*)
|