Istri
sebagai Mitra Sejajar Suami
SEBUAH
keluarga tentu mendambakan suatu kebahagiaan lahir batin, tanpa
terkecuali apakah ia dari keluarga kaya atau miskin. Dalam suatu
tatanan kehidupan, keluarga merupakan benteng pertama sebelum
ditempa oleh lingkungan di mana mereka tinggal.
Hal itu dikatakan Pendeta
Abdi Widhyadi terkait dengan acara "Bulan Keluarga
2002" yang digelar GKI Bajem Denpasar sepanjang bulan
Oktober 2002. Dalam salah satu sesion acara, digelar ceramah
dengan pembicara Prof. Dr. dr. Wimpie I Pangkahila. Pengasuh
rubrik "Kelopak Kehidupan" di Bali Post edisi Minggu
mengangkat tema seputar iman seorang istri -- bagaimana istri
berperan menghadapi suami bermasalah.
Wimpie menjelaskan, dalam
sebuah keluarga seorang istri tidak harus tinggal diam terhadap
segala gerak-gerik suami, apalagi punya sikap tidak mau tahu apa
yang diperbuat suaminya. Seorang istri sangat tidak dibenarkan
mendukung suami melakukan sesuatu perbuatan yang negatif. "Di
sinilah istri mempunyai peran penting dalam membangun keluarga
yang bahagia selain suami. Istri merupakan mitra sejajar suami,"
ujar Wimpie.
Lebih jauh Wimpie
menjelaskan persoalan awal sebelum sebuah keluarga terbentuk
yaitu menikah. Mengapa orang harus menikah? Menurut Wimpie,
manusia adalah mahluk seksual. Manusia sebagai mahluk normal
tentu tidak bisa hidup sendiri, karena itulah ia menikah. "Dalam
konsep, perkawinan tersebut dilakukan sepasang anak manusia
yaitu pria dan wanita dengan kehendak bersama serta kesepakatan
bersama pula," papar Wimpie. Maka, bagi Wimpie, perkawinan
tersebut akan berlangsung karena mereka berdua -- suami dan
istri -- adalah mitra sejajar dalam sebuah keluarga. "Kebahagiaan
sebuah perkawinan ditentukan pada saat kita memilih pasangan
yang akan kita ajak menikah, tentu hal tersebut telah melewati
pertimbangan yang matang untuk menentukan sikap menuju langkah
selanjutnya," tambah Wimpie.
Wimpie mengingatkan, hal
yang tentu tidak bisa disepelekan dalam hal berkeluarga adalah
kehidupan seksual. "Bagaimana pun, harus ada komunikasi
dalam kehidupan seksual suami istri," jelas Wimpie. Karena
itulah, ditegaskan, komunikasi adalah hal terpenting dalam
kehidupan seksual suami-istri. Hadirnya "orang ketiga"
dalam sebuah perkawinan, suamiatau istri punya "simpanan",
adalah akibat kehidupan seks dalam keluarga yang tidak harmonis.
Menurut Wimpie, itu terjadi lantaran hilangnya kemesraan,
memudarnya ikatan emosional, kejenuhan, suasana monoton, tidak
punya anak, dan pengaruh lingkungan.
Masalah-masalah dalam
keluarga, simpul Wimpie, akan dapat diatasi kalau sebuah
keluarga dapat bersikat positif untuk menuju kebahagiaan
perkawinan. Masalah di dalam keluarga akan terselesaikan dengan
baik jika suami-istri menganggap masalah tersebut sebagai
masalah bersama untuk menuju kebaikan bersama pula. "Begitu
juga istri ikut berperan. Selain sebagai mitra sejajar dan
proaktif, seorang istri mesti mencegah kalau jalan yang dilalui
suami salah, baik itu dalam pekerjaan maupun dalam hal bersikap,"
ujar Wimpie. * Dedok
|