kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

KELUARGA


Istri sebagai Mitra Sejajar Suami

SEBUAH keluarga tentu mendambakan suatu kebahagiaan lahir batin, tanpa terkecuali apakah ia dari keluarga kaya atau miskin. Dalam suatu tatanan kehidupan, keluarga merupakan benteng pertama sebelum ditempa oleh lingkungan di mana mereka tinggal.

Hal itu dikatakan Pendeta Abdi Widhyadi terkait dengan acara "Bulan Keluarga 2002" yang digelar GKI Bajem Denpasar sepanjang bulan Oktober 2002. Dalam salah satu sesion acara, digelar ceramah dengan pembicara Prof. Dr. dr. Wimpie I Pangkahila. Pengasuh rubrik "Kelopak Kehidupan" di Bali Post edisi Minggu mengangkat tema seputar iman seorang istri -- bagaimana istri berperan menghadapi suami bermasalah.

Wimpie menjelaskan, dalam sebuah keluarga seorang istri tidak harus tinggal diam terhadap segala gerak-gerik suami, apalagi punya sikap tidak mau tahu apa yang diperbuat suaminya. Seorang istri sangat tidak dibenarkan mendukung suami melakukan sesuatu perbuatan yang negatif. "Di sinilah istri mempunyai peran penting dalam membangun keluarga yang bahagia selain suami. Istri merupakan mitra sejajar suami," ujar Wimpie.

Lebih jauh Wimpie menjelaskan persoalan awal sebelum sebuah keluarga terbentuk yaitu menikah. Mengapa orang harus menikah? Menurut Wimpie, manusia adalah mahluk seksual. Manusia sebagai mahluk normal tentu tidak bisa hidup sendiri, karena itulah ia menikah. "Dalam konsep, perkawinan tersebut dilakukan sepasang anak manusia yaitu pria dan wanita dengan kehendak bersama serta kesepakatan bersama pula," papar Wimpie. Maka, bagi Wimpie, perkawinan tersebut akan berlangsung karena mereka berdua -- suami dan istri -- adalah mitra sejajar dalam sebuah keluarga. "Kebahagiaan sebuah perkawinan ditentukan pada saat kita memilih pasangan yang akan kita ajak menikah, tentu hal tersebut telah melewati pertimbangan yang matang untuk menentukan sikap menuju langkah selanjutnya," tambah Wimpie.

Wimpie mengingatkan, hal yang tentu tidak bisa disepelekan dalam hal berkeluarga adalah kehidupan seksual. "Bagaimana pun, harus ada komunikasi dalam kehidupan seksual suami istri," jelas Wimpie. Karena itulah, ditegaskan, komunikasi adalah hal terpenting dalam kehidupan seksual suami-istri. Hadirnya "orang ketiga" dalam sebuah perkawinan, suamiatau istri punya "simpanan", adalah akibat kehidupan seks dalam keluarga yang tidak harmonis. Menurut Wimpie, itu terjadi lantaran hilangnya kemesraan, memudarnya ikatan emosional, kejenuhan, suasana monoton, tidak punya anak, dan pengaruh lingkungan.

Masalah-masalah dalam keluarga, simpul Wimpie, akan dapat diatasi kalau sebuah keluarga dapat bersikat positif untuk menuju kebahagiaan perkawinan. Masalah di dalam keluarga akan terselesaikan dengan baik jika suami-istri menganggap masalah tersebut sebagai masalah bersama untuk menuju kebaikan bersama pula. "Begitu juga istri ikut berperan. Selain sebagai mitra sejajar dan proaktif, seorang istri mesti mencegah kalau jalan yang dilalui suami salah, baik itu dalam pekerjaan maupun dalam hal bersikap," ujar Wimpie. * Dedok


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com