kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

KESEHATAN


Diabetes, Mengapa Dunia Memperingatinya?

"World Diabetes Day" atau Hari Diabetes Sedunia (HDS) jatuh pada 14 November -- bertepatan dengan hari lahir sarjana Kanada penemu insulin, Dr Fredrick Banting. Persatuan Diabetes (Persadia) Indonesia merayakannya secara nasional mulai Juli 2002, dan puncak perayaannya pada 13 Oktober 2002 di Jakarta, sedangkan Persadia Cabang Bali merayakannya pada Minggu (3/11) lalu. Perayaan HDS sangat penting dipergunakan sebagai ajang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dokter, perawat, bidan ahli gisi, pelaksana medis, penderita, hingga masyarakat luas tentang diabetes dan sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat akan diabetes. Tema peringatan HDS tahun ini adalah "Your eyes and diabetes, don't lose sight of the risk". Mengapa dunia mesti memperingati Hari Diabetes?

KEJADIAN diabetes atau bahasa awamnya kencing manis ini sangat pesat meningkat dalam kurun waktu 10 tahun. Telah terjadi peningkatan kasus-kasus diabetes melebihi 300%. Kejadian ini dialami dunia atau negara berkembang. Asia, Afrika, dan Amerika Selatan mencatat peningkatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara maju semisal Amerika dan Eropa. Saat ini tercatat lebih dari 150 juta penduduk dunia menderita diabetes dan 2/3-nya ada di negara berkembang.

Indonesia pada 1990 mencatat angka 1-2% kasus diabetes, namun saat ini (seperti dilaporkan "Diabetes Atlas 2000"), tercatat angka 5,7% atau berarti 11 juta lebih penduduk Indonesia menderita diabetes. Di Bali terbatas pada beberapa kelompok masyarakat saja, yang dibuat pada 1990-an, diantaranya di Desa Jenah, Kerambitan, dengan angka 1-2%, sedangkan angka kejadian diabetes anggota PWRI dan Pepabri (kelompok usia lanjut) tercatat angka 5%. Prof Suastika dkk dalam survey awal 2002 ini mendapatkan angka 13% kejadian diabetes pada penduduk desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Ada beberapa hal yang "menyedihkan" terkait dengan pengetahuan penderita diabetes ini. Hal itu diantaranya (1) kebanyakan penderita baru mengetahui dirinya menderita diabetes setelah terjadi komplikasi. Ini artinya, penyakit ini telah berjalan lama, bertahun-tahun. Seorang akan menderita komplikasi kalau penyakitnya berjalan paling sedikit 5 tahun, serta (2) kebanyakan pengidap belum "menikmati" derajat pengendalian diabetes yang ideal. Ini artinya, kadar glukosa darah, tekanan darah, kadar lemak darah dan status gisi belum mencapai angka ideal, dan fenomena ini akan mempermudah mereka terjerumus menderita komplikasi, baik komplikasi akut maupun kronis.

Penyebab atas fenomena tersebut di atas pun bisa ditelusuri, yakni sbb;
1. Kejadian diabetes meningkat pesat sampai 300%. Diabetes khususnya tipe 2, lebih sering terjadi pada usia lanjut, angkanya makin meningkat akibat usia harapan hidup bangsa Indonesia makin tinggi (saat ini 65 tahun). Kegemukan atau obesitas, angkanya juga makin tinggi. Saat ini lebih sering anak-anak atau orang dewasa punya berat badan berlebihan (obesitas). Para orangtua sangat bangga kalau anaknya kuat makan, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kelebihan berat badan ini. Pun dlam perubahan perilaku, tanpa sadar banyak orang berperilaku "tidak sehat" -- pola makan tidak sehat, kurang (sempat) berolah raga, dan hidup stres. Perilaku ini berdampak munculnya gangguan toleransi tubuh terhadap glukose, sehingga memunculkan diabetes, terjadinya gangguan lemak darah (meningkatnya kadar kolesterol dan trigliseride dan menurunnya kadar kolesterol HDL) dan tekanan darah tinggi.

2. Diabetes terlambat ketahuan. Diabetes tak punya gejala khas, kecuali kalau sudah mencapai tahap "berat" yang ditandai dengan kadar glukose darah sangat tinggi (di atas 250 mg/dl). Mereka umumnya tetap merasa segar, tetap dapat beraktivitas, dan tetap merasa sehat. Keadaan ini tentu tidak membuat mereka berkonsultasi dengan dokter, lebih-lebih belum membudayanya program "general medical check up" di Indonesia. Juga kesadaran dan kewaspadaan terhadap penyakit ini masih sangat rendah. Akibatnya, masyarakat menjadi tak acuh akan penyakit ini. Pemerintah Indonesia belum memiliki stardar surveilans baku penanggulangan diabetes dan belum menempatkan prioritas yang memadai dalam penanggulangan diabetes. Akibatnya, para pelaksana medis di garis terdepan pelayanan kesehatan kita (Puskesmas) tidak memiliki acuan standar dalam menangani diabetes.

3. Penderita diabetes belum "menikmati" derajat pengendalian diabetes yang ideal. Terdapat dua penyebab yang mungkin mendasari hal ini, yakni sbb;
* Faktor dokter -- Pengetahuan dan keterampilan dokter sebagai educator perlu ditingkatkan. Dokter atau para pengelola medis berkewajiban menjelaskan kepada para penderita sejelas-jelasnya tentang penyakit yang dideritanya. Tujuannya, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para penderita tentang diabetes yang dideritanya. Ujung tombak perawatan diabetes terletak pada penderita sendiri, Mereka harus terampil merawat dirinya sebagai penyandang diabetes. Kemampuan dokter atau para pengelola medis sangat dituntut mampu menularkan pengetahuan dan keterampilannya kepada penderita.

Dalam suatu survey terhadap peserta kursus diabetes yang beberapa kali dilaksanakan di Denpasar, disimpulkan, mereka belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Kesimpulan ini juga diutarakan oleh beberapa negara yang tergabung dengan IDF (International Diabetes Federation) di wilayah Pasifik Barat (IDF-WPR). Solusi yang ditawarkan adalah memperluas dan mengintensifkan program program pendidikan ini bagi dokter atau para pengelola medis.

* Faktor penderita diabetes -- Pengetahuan dan keterampilan merawat diri dan hidup sebagai penyandang diabetes belum memadai, kesulitan mengubah perilaku sehat yang dianjurkan sebagai pengganti perilaku tidak sehat yang terbiasa dilakukannya (kebiasaan "makan besar", merokok, alkohol, kurang berolah raga dll., kurang memiliki kepedulian akan diabetes yang dideritanya, serta tidak menyadari peran utama dalam merawat diri sebagai penyandang diabetes adalah penderita sendiri.

lantas, apa dampak (jangka panjang) derajat pengendalian yang tidak baik itu? Dampaknya, diantaranya muncul komplikasi, dan komplikasi inilah yang menjadi penyebab kematian penderita diabetes. Penyakit jantung dan pembuluh darah sejak 1992 (SKRT 1992) telah dinyatakan sebagai "pembunuh nomor satu di Indonesia", dan lebih dari 80% penderita diabetes meninggal akibat komplikasi ini.

* Prof Dr. Dwi Sutanegara,
Penasihat PB Persadia,
Ketua Persadia Cabang Bali.


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com