kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

GEBYAR


Sinetron memang kian Merisaukan

SINETRON telah dan terus menjadi menu utama televisi-televisi Indonesia. Tak jarang, sebuah saluran televisi menayangkan lebih dari satu sinetron dalam semalam. Belakangan, kian banyak saja kerisauan dan keluhan yang disampaikan masyarakat terhadap sinatron. Banyak sinetron dinilai tidak mendidik.

Sinetron mulai populer di Indonesia akhir 1980-an, ketika TVRI mulai menggelar acara "Pekan Sinetron", biasanya ditayangkan pada akhir tahun. Kalau dalam hari-hari biasa, sinetron berseri diputar setiap minggu, dalam acara "Pekan Sinetron", TVRI memutar sinetron pilihan setiap malam. Sebagai media yang bebas iklan, dan juga satu-satunya saat itu, TVRI ditonton banyak pemirsa di seluruh Indonesia.

Sinetron "Aksara tanpa Kata" yang diputar tahun akhir 1990, merupakan salah satu sinetron tentang Bali yang sangat menarik, struktur cerita dan pesannya. Dibintangi Neno Warisman, sinetron ini mengungkapkan tergusurnya petani miskin di desa (sepertinya di Bukit Pecatu) karena tanah mereka dicaplok investor yang hendak mendirikan lapangan golf.

Sinetron "Aksara tanpa Kata" itu dengan jitu merepresentasikan fenomena sosial yang terjadi di Bali, yang menandai ketidakberdayaan penduduk lokal melawan serangan kapitalisme.

Selain itu, sinetron ini juga mengingatkan masyarakat akan pengaruh negatif kepariwisataan, seperti munculnya pemuda-pemuda lokal menjadi gigolo, main seks dengan bule untuk mendapat bayaran. Lebih dari itu, "Aksara tanpa Kata" berhasil melukiskan kisah ini dengan menyentuh karena tokoh utamanya adalah wanita yang mencoba bertahan tetapi pada akhirnya gagal. Bagi kaum feminis, sinetron ini merupakan contoh ideal yang bisa dijadikan alasan baik untuk memperjuangkan dan memberdayakan wanita di masyarakat.

Drama seri "Dokter Sartika" adalah salah satu drama seri TVRI yang juga menarik dan penuh pesan kebajikan. Cerita yang dibingkai dengan cinta dan sedikit selingkuh, dikisahkan di pedesaan, juga sangat populer. Drama seri lain, seperti "Losmen", "Rumah Masa Depan", "Keluarga Rahmat", dan "Serumpun Bambu", juga memikat. Banyak drama seri dibuat TVRI dengan sponsor pemerintah. Sinetron "Dokter Sartika", misalnya, adalah hasil kerja sama TVRI dengan Departemen Kesehatan. Tak heran kalau sinetron ini penuh pesan, tapi tak membuat kisahnya ambrol. Kala itu, sinetron tetap memikat ditonton. Dia ibarat menu televisi yang bergizi tinggi.

***

Kehadiran saluran televisi swasta sejak awal 1990-an, membuat sinetron menjadi paket acara penting untuk mendongkrak rating dan pencari iklan. Setiap televisi berusaha menghadirkan sinetron terbaiknya, bukan hanya untuk menghibur publik tetapi menjadi alat untuk meraup uang masuk sebanyak-banyaknya lewat advertensi. Sinetron menjadi menu utama televisi swasta. Ada saluran yang sampai menyiarkan sinetron lebih dari satu judul dalam semalam.

Perkembangan sinetron pada era 1990-an, tak hanya positif karena pertumbuhan yang meroket secara kuantitas tetapi juga banyak mengundang risau dari segi cerita dan tema. Sinetron yang semula merupakan karya seni sinematografi elektronik yang berwibawa, melorot menjadi karya seni yang hina-dina, karya tukang untuk mencari uang. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

Pertama, sinetron yang berhasil populer, entah karena struktur ceritanya menarik atau karena dibintangi oleh pemain yang aktingnya hebat, pada akhirnya diproduksi untuk mengejar iklan. Untuk kasus ini, sinetron "Si Doel Anak Sekolahan" dan "Tersanjung", bisa disebut sebagai contoh. Saking populernya, kedua sinetron ini menjadi kehilangan daya tarik karena alur ceritanya diulur-ulur, isi cerita dibuat-buat hanya untuk memperpanjang seri. Seri dibuat terus-menerus untuk mengejar rating atau iklan.

Yang menjengkelkan banyak pemirsa karena penayangan sinetron ini didominasi iklan, bahkan tak jarang iklan menyita lebih banyak waktu dibandingkan sinetronnya sendiri. Dalam konteks seperti ini, yang menjadi korban utama adalah penonton. Mereka menjadi target komersial, sasaran iklan, padahal mereka menonton sinetron untuk mencari hiburan dan atau renungan-renungan kehidupan di tengah galau modernisasi dan globalisasi.

Kedua, sejak sinetron menjadi menu utama televisi, kebutuhan sinetron meningkat pesat. Akibatnya, produksi sinetron tak bisa menghindarkan proses pembuatan yang instant, cepat bahkan asal jadi. Ini tak hanya berlaku buat sinetron, tetapi juga untuk banyak acara hiburan lainnya. Tiru-meniru jenis dan tema cerita tak terhindarkan. Sinetron yang menampilkan tuyul, seperti "Jin dan Jun" dan sinetron "Tuyul dan Mbak Yul" adalah contohnya. Gara-gara mengutamakan lelucon, aspek lain dari cerita sungguh diabaikan alias ditampilkan secara asal-asalan. Penonton dianggap keranjang sampah, yang siap menampung apa saja. Pesan moral yang mesti utama, tergelincir menjadi sekadar "penyedap".

Ketiga, banyak sinetron yang mengeksploitasi sensasi-sensasi murahan dan tidak pantas ditinjau dari ukuran moral. Sinetron yang mestinya mendidik, malah menebarkan virus mencemaskan. Sinetron "Opera SMU" dan "Gadis Penakluk" termasuk dalam deretan ini karena banyak menampilkan adegan hubungan guru-murid dan sesama murid yang tak pantas atau mesti dihindarkan betapa pun itu bagian dari realitas sosial.

Dalam "Opera SMU" ditampilkan anak-anak yang bajunya tidak dimasukkan. Dalam "Gadis Penakluk" misalnya ada adegan yang menggiring dua siswa berkelahi jika hendak merebut si gadis. Pesan moral bukannya absen sama sekali, tetapi adegan-adegan negatif seperti itu cenderung lebih dominan.

Hal-hal seperti itu biasanya dengan gampang ditiru remaja yang dalam masa pubertas masih sulit mengontrol emosi. Penayangan sinetron seperti itu jelas tidak mendukung usaha pemerintah dan masyarakat dalam membenahi sistem pendidikan dan menertibkan perilaku dan budi pekerti anak. Betapa pun pahitnya tawuran antar-pelajar dalam kehidupan sehari-hari, hal itu mestinya disembunyikan dalam tayangan sinetron kalau tidak mau disebut mempropagandakannnya.

Pembuatan sinetron atau drama dengan objek remaja dengan latar belakang sekolah memang harus ekstra hati-hati. Cerita mesti dibungkus sebegitu rupa sehingga pesan moralnya lebih kuat terpancar daripada perilaku yang kian menjauhi disiplin. Hal ini memang tak mudah, tetapi pernah ada contoh yang menarik, misalnya sinetron berjudul "Pernikahan Dini", yang pelakunya anak sekolahan. Karena hamil, Dini, pelaku utama tokoh wanita, terpaksa menikah dalam "dini". Tapi, bukan menikah dalam usia muda itu benar yang ditekankan sinetron ini. Sebaliknya, sinetron ini menunjukkan betapa sulitnya bagi anak muda dalam mengurus rumah tangga dan mengontrol emosi sebagai suami-istri jika mereka menikah dalam usia dini.

Kini pemerintah dan DPR tengah menggodok RUU Penyiaran. Kerisauan terhadap banyaknya sinetron dan acara televisi yang tidak mendidik sudah selayaknya dijadikan pertimbangan dalam menyusun RUU Penyiaran. Sensor untuk setiap acara seperti zaman Orde Baru tentu dianggap mengekang kebebasan berekspresi dan berkreasi, tetapi usaha menampilkan karya seni yang tidak mengutamakan unsur pendidikan dan pekerti terbukti sudah sangat merisaukan masyarakat.

Seandainya sensor sinetron atau film gagal diperjuangkan atau tidak dimasukkan dalam RUU Penyiaran, sudah semestinya lembaga semacam perlindungan konsumen atau komite pengawasan penyiaran harus diperkuat sehingga setiap ada keluhan dari masyarakat atas suatu acara televisi, lembaga ini bisa cepat tanggap menjadi mediator atau eksekutor.

Reformasi telah membuka iklim kebebasan tetapi apakah arti kebebasan kalau angin yang berhembus darinya menyuburkan kerisauan?

Sinetron telah menjadi menu utama televisi, yang perlu diciptakan sekarang adalah kondisi agar hidangan utama itu mengandung gizi tinggi alias mendidik.

* Darma Putra


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com