Sinetron
memang kian Merisaukan
SINETRON telah
dan terus menjadi menu utama televisi-televisi Indonesia. Tak
jarang, sebuah saluran televisi menayangkan lebih dari satu
sinetron dalam semalam. Belakangan, kian banyak saja kerisauan
dan keluhan yang disampaikan masyarakat terhadap sinatron.
Banyak sinetron dinilai tidak mendidik.
Sinetron mulai populer di
Indonesia akhir 1980-an, ketika TVRI mulai menggelar acara
"Pekan Sinetron", biasanya ditayangkan pada akhir
tahun. Kalau dalam hari-hari biasa, sinetron berseri diputar
setiap minggu, dalam acara "Pekan Sinetron", TVRI
memutar sinetron pilihan setiap malam. Sebagai media yang bebas
iklan, dan juga satu-satunya saat itu, TVRI ditonton banyak
pemirsa di seluruh Indonesia.
Sinetron "Aksara
tanpa Kata" yang diputar tahun akhir 1990, merupakan salah
satu sinetron tentang Bali yang sangat menarik, struktur cerita
dan pesannya. Dibintangi Neno Warisman, sinetron ini
mengungkapkan tergusurnya petani miskin di desa (sepertinya di
Bukit Pecatu) karena tanah mereka dicaplok investor yang hendak
mendirikan lapangan golf.
Sinetron "Aksara
tanpa Kata" itu dengan jitu merepresentasikan fenomena
sosial yang terjadi di Bali, yang menandai ketidakberdayaan
penduduk lokal melawan serangan kapitalisme.
Selain itu, sinetron ini
juga mengingatkan masyarakat akan pengaruh negatif
kepariwisataan, seperti munculnya pemuda-pemuda lokal menjadi
gigolo, main seks dengan bule untuk mendapat bayaran. Lebih dari
itu, "Aksara tanpa Kata" berhasil melukiskan kisah ini
dengan menyentuh karena tokoh utamanya adalah wanita yang
mencoba bertahan tetapi pada akhirnya gagal. Bagi kaum feminis,
sinetron ini merupakan contoh ideal yang bisa dijadikan alasan
baik untuk memperjuangkan dan memberdayakan wanita di masyarakat.
Drama seri "Dokter
Sartika" adalah salah satu drama seri TVRI yang juga
menarik dan penuh pesan kebajikan. Cerita yang dibingkai dengan
cinta dan sedikit selingkuh, dikisahkan di pedesaan, juga sangat
populer. Drama seri lain, seperti "Losmen", "Rumah
Masa Depan", "Keluarga Rahmat", dan "Serumpun
Bambu", juga memikat. Banyak drama seri dibuat TVRI dengan
sponsor pemerintah. Sinetron "Dokter Sartika",
misalnya, adalah hasil kerja sama TVRI dengan Departemen
Kesehatan. Tak heran kalau sinetron ini penuh pesan, tapi tak
membuat kisahnya ambrol. Kala itu, sinetron tetap memikat
ditonton. Dia ibarat menu televisi yang bergizi tinggi.
***
Kehadiran saluran
televisi swasta sejak awal 1990-an, membuat sinetron menjadi
paket acara penting untuk mendongkrak rating dan pencari iklan.
Setiap televisi berusaha menghadirkan sinetron terbaiknya, bukan
hanya untuk menghibur publik tetapi menjadi alat untuk meraup
uang masuk sebanyak-banyaknya lewat advertensi. Sinetron menjadi
menu utama televisi swasta. Ada saluran yang sampai menyiarkan
sinetron lebih dari satu judul dalam semalam.
Perkembangan sinetron
pada era 1990-an, tak hanya positif karena pertumbuhan yang
meroket secara kuantitas tetapi juga banyak mengundang risau
dari segi cerita dan tema. Sinetron yang semula merupakan karya
seni sinematografi elektronik yang berwibawa, melorot menjadi
karya seni yang hina-dina, karya tukang untuk mencari uang.
Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.
Pertama, sinetron yang
berhasil populer, entah karena struktur ceritanya menarik atau
karena dibintangi oleh pemain yang aktingnya hebat, pada
akhirnya diproduksi untuk mengejar iklan. Untuk kasus ini,
sinetron "Si Doel Anak Sekolahan" dan "Tersanjung",
bisa disebut sebagai contoh. Saking populernya, kedua sinetron
ini menjadi kehilangan daya tarik karena alur ceritanya
diulur-ulur, isi cerita dibuat-buat hanya untuk memperpanjang
seri. Seri dibuat terus-menerus untuk mengejar rating atau iklan.
Yang menjengkelkan banyak
pemirsa karena penayangan sinetron ini didominasi iklan, bahkan
tak jarang iklan menyita lebih banyak waktu dibandingkan
sinetronnya sendiri. Dalam konteks seperti ini, yang menjadi
korban utama adalah penonton. Mereka menjadi target komersial,
sasaran iklan, padahal mereka menonton sinetron untuk mencari
hiburan dan atau renungan-renungan kehidupan di tengah galau
modernisasi dan globalisasi.
Kedua, sejak sinetron
menjadi menu utama televisi, kebutuhan sinetron meningkat pesat.
Akibatnya, produksi sinetron tak bisa menghindarkan proses
pembuatan yang instant, cepat bahkan asal jadi. Ini tak hanya
berlaku buat sinetron, tetapi juga untuk banyak acara hiburan
lainnya. Tiru-meniru jenis dan tema cerita tak terhindarkan.
Sinetron yang menampilkan tuyul, seperti "Jin dan Jun"
dan sinetron "Tuyul dan Mbak Yul" adalah contohnya.
Gara-gara mengutamakan lelucon, aspek lain dari cerita sungguh
diabaikan alias ditampilkan secara asal-asalan. Penonton
dianggap keranjang sampah, yang siap menampung apa saja. Pesan
moral yang mesti utama, tergelincir menjadi sekadar "penyedap".
Ketiga, banyak sinetron
yang mengeksploitasi sensasi-sensasi murahan dan tidak pantas
ditinjau dari ukuran moral. Sinetron yang mestinya mendidik,
malah menebarkan virus mencemaskan. Sinetron "Opera SMU"
dan "Gadis Penakluk" termasuk dalam deretan ini karena
banyak menampilkan adegan hubungan guru-murid dan sesama murid
yang tak pantas atau mesti dihindarkan betapa pun itu bagian
dari realitas sosial.
Dalam "Opera SMU"
ditampilkan anak-anak yang bajunya tidak dimasukkan. Dalam
"Gadis Penakluk" misalnya ada adegan yang menggiring
dua siswa berkelahi jika hendak merebut si gadis. Pesan moral
bukannya absen sama sekali, tetapi adegan-adegan negatif seperti
itu cenderung lebih dominan.
Hal-hal seperti itu
biasanya dengan gampang ditiru remaja yang dalam masa pubertas
masih sulit mengontrol emosi. Penayangan sinetron seperti itu
jelas tidak mendukung usaha pemerintah dan masyarakat dalam
membenahi sistem pendidikan dan menertibkan perilaku dan budi
pekerti anak. Betapa pun pahitnya tawuran antar-pelajar dalam
kehidupan sehari-hari, hal itu mestinya disembunyikan dalam
tayangan sinetron kalau tidak mau disebut mempropagandakannnya.
Pembuatan sinetron atau
drama dengan objek remaja dengan latar belakang sekolah memang
harus ekstra hati-hati. Cerita mesti dibungkus sebegitu rupa
sehingga pesan moralnya lebih kuat terpancar daripada perilaku
yang kian menjauhi disiplin. Hal ini memang tak mudah, tetapi
pernah ada contoh yang menarik, misalnya sinetron berjudul
"Pernikahan Dini", yang pelakunya anak sekolahan.
Karena hamil, Dini, pelaku utama tokoh wanita, terpaksa menikah
dalam "dini". Tapi, bukan menikah dalam usia muda itu
benar yang ditekankan sinetron ini. Sebaliknya, sinetron ini
menunjukkan betapa sulitnya bagi anak muda dalam mengurus rumah
tangga dan mengontrol emosi sebagai suami-istri jika mereka
menikah dalam usia dini.
Kini pemerintah dan DPR
tengah menggodok RUU Penyiaran. Kerisauan terhadap banyaknya
sinetron dan acara televisi yang tidak mendidik sudah selayaknya
dijadikan pertimbangan dalam menyusun RUU Penyiaran. Sensor
untuk setiap acara seperti zaman Orde Baru tentu dianggap
mengekang kebebasan berekspresi dan berkreasi, tetapi usaha
menampilkan karya seni yang tidak mengutamakan unsur pendidikan
dan pekerti terbukti sudah sangat merisaukan masyarakat.
Seandainya sensor
sinetron atau film gagal diperjuangkan atau tidak dimasukkan
dalam RUU Penyiaran, sudah semestinya lembaga semacam
perlindungan konsumen atau komite pengawasan penyiaran harus
diperkuat sehingga setiap ada keluhan dari masyarakat atas suatu
acara televisi, lembaga ini bisa cepat tanggap menjadi mediator
atau eksekutor.
Reformasi telah membuka
iklim kebebasan tetapi apakah arti kebebasan kalau angin yang
berhembus darinya menyuburkan kerisauan?
Sinetron telah menjadi
menu utama televisi, yang perlu diciptakan sekarang adalah
kondisi agar hidangan utama itu mengandung gizi tinggi alias
mendidik.
* Darma Putra
|