Kuta, Desa
Tradisi ke Kota Multi-etnik
Bagian 4 (Habis)
Skenario penting yang
ditawarkan untuk pembangunan Kuta ke depan adalah melakukan
pengendalian pengembangan dalam berbagai fungsi, bersamaan
dengan itu melakukan perbaikan infrastrukturnya. Kenapa skenario
ini menjadi penting karena kualitas lingkungan kawasan studi
akan memberikan kelanjutan perkembangan pariwisata di masa depan
dengan dukungan institusi dan penegakan hukum, serta partisipasi
dari seluruh masyarakat. Atau dengan kata lain, pembangunan Kuta
ke depan adalah mengedepankan penting dan utamanya manusia yang
kehidupan dan penghidupannya (human oriented) berhubungan dengan
lahan dan perekonomian mereka tinggal serta pengaruh dan
akibatnya dengan daerah sekitar.
KETERKAITAN
antara manusia, ekonomi dan lahan (lihat juga diagram) seperti
dinyatakan tersebut secara garis besar mengandung pengertian sbb.;
* Penduduk yang memiliki
potensi dan hambatan yang kuat terhadap lahan dan ekonomi
membutuhkan perencanaan.
* Ekonomi yang memiliki potensi dan hambatan yang kuat terhadap
lahan dan penduduk memerlukan pemanfaatan.
* Lahan yang memiliki potensi dan hambatan yang kuat terhadap
penduduk dan ekonomi memprioritaskan pengendalian. Perencanaan
yang meliputi penataan, pemanfaatan, maupun pengendalian ruang
di Kuta untuk fungsi perumahan, banjar, pura, kuburan, sirkulasi
prosesi adat dan keagamaan, ataupun kepentingan desa adat masih
menjadi pengendali perubahan tata ruang. Hanya sayang potensi
yang besar dan kuat sebagai penyelamat tersebut tumbuh dan
berkembang pada masyarakat yang homogen yang diikat oleh
solidaritas yang tinggi.
Mungkinkah hal tersebut
juga akan terjadi pada masyarakat yang heterogen, multi-etnik,
dan memiliki kompleksitas yang tinggi? Kunci keberhasilannya
adalah pada solidaritas kebersamaan (tempat, kehidupan, dan
penghidupan) sebagai sentimen harus ditumbuhkan. Kebersamaan
dalam kemandirian atau kemandirian dalam kebersamaan harus
digalang untuk suatu tujuan dalam bingkai rasa memiliki. Caranya,
dengan mengajak komunitas berperan serta dalam setiap
perencanaan pembangunan dan pembangunan hendaknya dilaksanakan
secara holistik dan integratif.
Dua unsur yang sangat
signifikan akan mengubah tatanan arsitektur ke depan sesuai
dengan kondisi saat ini adalah otonomi daerah dan pembangunan (industri)
pariwisata. Kuta sebagai bagian kecil dari kawasan wisata
kabupaten Badung merupakan pilar utama untuk meningkatkan PAD
daerahnya sekaligus memberikan percikan rejeki kepada daerah
sekitarnya. Bila tidak dikendalikan, maka investasi akan
memangsa dan mengalihkan berbagai fungsi lahan yang akhirnya
mendesak penduduk asli dengan bermacam dampak yang
diakibatkannya. Degradasi ekologi alam dan manusianya yang
saling mempengaruhi akan mewarnai sosial budayanya yang
ujung-ujungnya akan mendinamisi kebudayaannya.
Hal yang sama akan
terjadi pula ketika pembangunan pariwisata berlangsung,
pertumbuhan industri pariwisata kn terdorong dan akhirnya juga
mempengaruhi kebudayaannya. Dapatkah konsep pariwisata budaya
yang diharapkan untuk melestarikan budaya, tidak bergerak ke
arah komersialisasi budaya ataukah peluang penguatannya bahkan
berpotensi untuk meluluh-lantakannya? Otonomi daerah maupun
pembangunan pariwisata muaranya adalah pertumbuhan ekonomi.
Permasalahannya, bagaimana memanfaatkan pertumbuhan ekonomi
tersebut sebesar-besarnya untuk pembangunan manusianya dengan
mendudukkan manusia sebagai subjek (bukan objek) dalam
pembangunannya?
Empat Tahap
Butler menyebutkan ada
empat tahap siklus daerah tujuan wisata, yakni (1) penemuan
(discovered), (2) pengembangan (development), (3) kematangan
atau kelembagaan (maturity or institutionalization), dan (4)
kejenuhan (saturation). Memperhatikan perkembangan industri
pariwisata di Kuta berdasarkan model Butler tersebut, tampaknya
sebagai tujuan wisatawan Kuta kini sedang dalam tahap ketiga
yaitu kematangan atau kelembagaan.
Untuk menjaga agar tidak
sampai terjadi kejenuhan, diciptakanlah objek-objek baru yang
menarik dan memanjakan para wisatawan -- dari pergeseran home
stay menjadi hotel berbintang, dari rekreasi air di pantai kini
juga air tawar di daratan (water boom), dari kecak sampai dengan
diskotek, dari warung menjadi kafe, dari pijat pinggir pantai
sampai dengan spa, bunggy jump, hingga sling shoot. Akibatnya,
Kuta bagaikan miniatur atau laboratorium arsitektur yang sangat
kaya dengan berbagai ragam corak ke-Bali- annya yang sedang
mencari pengakuan untuk sebuah identitas melalui pertumbuhan dan
perkembangan fasilitas-fasilitas baru seperti itu.
Dalam hubungannya
terhadap perubahan sikap masyarakat lokal terhadap pengembangan
pariwisata di daerahnya, menurut Doxey, disebutkan sbb.: (1)
euphoria, (2) apathy, (3) annoyance, dan (4) antagonism. Sikap
yang kurang terpuji adalah annoyance -- tahap dimana kejengkelan/gangguan
sudah mendekati tahap kejenuhan, sehingga masyarakat lokal
merasa khawatir terhadap industri pariwisata, dan pembuat
kebijakan berupaya memecahkannya dengan meningkatkan
infrastruktur dan bukannya membatasi pertumbuhan. Sedangkan
antagonism menunjukkan tingkat dimana kejengkelan masyarakat
lokal dikemukakan secara terbuka. Wisatawan dipandang sebagai
pembuat masalah, perencanaan diperbaiki, promosi ditingkatkan,
untuk menutupi merosotnya reputasi daerah tujuan wisata tersebut.
Sikap semaam ini pada dekade akhir ini muncul ketika Tanah Lot,
Serangan, Padang Galak, akan dibangun.
Mencermati kejadian dan
kemungkinan yang akan berkembang, maka peranan arsitektur dalam
merancang ruang pada lingkungan alaminya hendaknya berpihak pada
budaya dan kepentingan serta memberdayakan masyarakat lokal.
Terlebih-lebih lagi bahwa pada lahan yang makin sempit jangan
sampai mereka kehilangan ruang-ruang sosialnya, bahkan dapat
memangsa ruang ataupun bangunan warisan budayanya.
Ruang Publik
Khusus menyikapi kejadian pasca Oktober Kelabu yang menelan
korban jiwa dan material yang sangat menggenaskan, maka tindakan
awal yang dikibarkan dan disepakati adalah recovery di segala
bidang. Sebagai peringatan kejadian tersebut, perlu dibangun
sebuah ruang publik yang dilengkapi dengan tanda berupa dinding
atau pilar, atau monumen, dan lainnya untuk mengenang kejadian
biadab tersebut. Ruang publik ini dapat menjadi tujuan menarik
baru dari sisi pariwisata tentang bagaimana masyarakat Bali,
Kuta khususnya, menghargai hak untuk hidup bagi siapa saja.
Ketika hal tersebut harus
dilakukan, maka perlu diadakan penataan ulang terhadap sistem
dan disain dari pejalan kaki yang aman, indah, nyaman, dan
mengarahkan ke lokasi monumen tersebut dengan
hubungan-hubungannya. Bila memungkinkan bangunlah sebuah plaza
sekaligus sebagai pusat atau titik kota baru antara Kuta dan
Legian.
* Putu Rumawan
Salain
|