kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Kuta, Desa Tradisi ke Kota Multi-etnik

Bagian 4 (Habis)

Skenario penting yang ditawarkan untuk pembangunan Kuta ke depan adalah melakukan pengendalian pengembangan dalam berbagai fungsi, bersamaan dengan itu melakukan perbaikan infrastrukturnya. Kenapa skenario ini menjadi penting karena kualitas lingkungan kawasan studi akan memberikan kelanjutan perkembangan pariwisata di masa depan dengan dukungan institusi dan penegakan hukum, serta partisipasi dari seluruh masyarakat. Atau dengan kata lain, pembangunan Kuta ke depan adalah mengedepankan penting dan utamanya manusia yang kehidupan dan penghidupannya (human oriented) berhubungan dengan lahan dan perekonomian mereka tinggal serta pengaruh dan akibatnya dengan daerah sekitar.

KETERKAITAN antara manusia, ekonomi dan lahan (lihat juga diagram) seperti dinyatakan tersebut secara garis besar mengandung pengertian sbb.;

* Penduduk yang memiliki potensi dan hambatan yang kuat terhadap lahan dan ekonomi membutuhkan perencanaan.
* Ekonomi yang memiliki potensi dan hambatan yang kuat terhadap lahan dan penduduk memerlukan pemanfaatan.
* Lahan yang memiliki potensi dan hambatan yang kuat terhadap penduduk dan ekonomi memprioritaskan pengendalian. Perencanaan yang meliputi penataan, pemanfaatan, maupun pengendalian ruang di Kuta untuk fungsi perumahan, banjar, pura, kuburan, sirkulasi prosesi adat dan keagamaan, ataupun kepentingan desa adat masih menjadi pengendali perubahan tata ruang. Hanya sayang potensi yang besar dan kuat sebagai penyelamat tersebut tumbuh dan berkembang pada masyarakat yang homogen yang diikat oleh solidaritas yang tinggi.

Mungkinkah hal tersebut juga akan terjadi pada masyarakat yang heterogen, multi-etnik, dan memiliki kompleksitas yang tinggi? Kunci keberhasilannya adalah pada solidaritas kebersamaan (tempat, kehidupan, dan penghidupan) sebagai sentimen harus ditumbuhkan. Kebersamaan dalam kemandirian atau kemandirian dalam kebersamaan harus digalang untuk suatu tujuan dalam bingkai rasa memiliki. Caranya, dengan mengajak komunitas berperan serta dalam setiap perencanaan pembangunan dan pembangunan hendaknya dilaksanakan secara holistik dan integratif.

Dua unsur yang sangat signifikan akan mengubah tatanan arsitektur ke depan sesuai dengan kondisi saat ini adalah otonomi daerah dan pembangunan (industri) pariwisata. Kuta sebagai bagian kecil dari kawasan wisata kabupaten Badung merupakan pilar utama untuk meningkatkan PAD daerahnya sekaligus memberikan percikan rejeki kepada daerah sekitarnya. Bila tidak dikendalikan, maka investasi akan memangsa dan mengalihkan berbagai fungsi lahan yang akhirnya mendesak penduduk asli dengan bermacam dampak yang diakibatkannya. Degradasi ekologi alam dan manusianya yang saling mempengaruhi akan mewarnai sosial budayanya yang ujung-ujungnya akan mendinamisi kebudayaannya.

Hal yang sama akan terjadi pula ketika pembangunan pariwisata berlangsung, pertumbuhan industri pariwisata kn terdorong dan akhirnya juga mempengaruhi kebudayaannya. Dapatkah konsep pariwisata budaya yang diharapkan untuk melestarikan budaya, tidak bergerak ke arah komersialisasi budaya ataukah peluang penguatannya bahkan berpotensi untuk meluluh-lantakannya? Otonomi daerah maupun pembangunan pariwisata muaranya adalah pertumbuhan ekonomi. Permasalahannya, bagaimana memanfaatkan pertumbuhan ekonomi tersebut sebesar-besarnya untuk pembangunan manusianya dengan mendudukkan manusia sebagai subjek (bukan objek) dalam pembangunannya?

Empat Tahap

Butler menyebutkan ada empat tahap siklus daerah tujuan wisata, yakni (1) penemuan (discovered), (2) pengembangan (development), (3) kematangan atau kelembagaan (maturity or institutionalization), dan (4) kejenuhan (saturation). Memperhatikan perkembangan industri pariwisata di Kuta berdasarkan model Butler tersebut, tampaknya sebagai tujuan wisatawan Kuta kini sedang dalam tahap ketiga yaitu kematangan atau kelembagaan.

Untuk menjaga agar tidak sampai terjadi kejenuhan, diciptakanlah objek-objek baru yang menarik dan memanjakan para wisatawan -- dari pergeseran home stay menjadi hotel berbintang, dari rekreasi air di pantai kini juga air tawar di daratan (water boom), dari kecak sampai dengan diskotek, dari warung menjadi kafe, dari pijat pinggir pantai sampai dengan spa, bunggy jump, hingga sling shoot. Akibatnya, Kuta bagaikan miniatur atau laboratorium arsitektur yang sangat kaya dengan berbagai ragam corak ke-Bali- annya yang sedang mencari pengakuan untuk sebuah identitas melalui pertumbuhan dan perkembangan fasilitas-fasilitas baru seperti itu.

Dalam hubungannya terhadap perubahan sikap masyarakat lokal terhadap pengembangan pariwisata di daerahnya, menurut Doxey, disebutkan sbb.: (1) euphoria, (2) apathy, (3) annoyance, dan (4) antagonism. Sikap yang kurang terpuji adalah annoyance -- tahap dimana kejengkelan/gangguan sudah mendekati tahap kejenuhan, sehingga masyarakat lokal merasa khawatir terhadap industri pariwisata, dan pembuat kebijakan berupaya memecahkannya dengan meningkatkan infrastruktur dan bukannya membatasi pertumbuhan. Sedangkan antagonism menunjukkan tingkat dimana kejengkelan masyarakat lokal dikemukakan secara terbuka. Wisatawan dipandang sebagai pembuat masalah, perencanaan diperbaiki, promosi ditingkatkan, untuk menutupi merosotnya reputasi daerah tujuan wisata tersebut. Sikap semaam ini pada dekade akhir ini muncul ketika Tanah Lot, Serangan, Padang Galak, akan dibangun.

Mencermati kejadian dan kemungkinan yang akan berkembang, maka peranan arsitektur dalam merancang ruang pada lingkungan alaminya hendaknya berpihak pada budaya dan kepentingan serta memberdayakan masyarakat lokal. Terlebih-lebih lagi bahwa pada lahan yang makin sempit jangan sampai mereka kehilangan ruang-ruang sosialnya, bahkan dapat memangsa ruang ataupun bangunan warisan budayanya.

Ruang Publik
Khusus menyikapi kejadian pasca Oktober Kelabu yang menelan korban jiwa dan material yang sangat menggenaskan, maka tindakan awal yang dikibarkan dan disepakati adalah recovery di segala bidang. Sebagai peringatan kejadian tersebut, perlu dibangun sebuah ruang publik yang dilengkapi dengan tanda berupa dinding atau pilar, atau monumen, dan lainnya untuk mengenang kejadian biadab tersebut. Ruang publik ini dapat menjadi tujuan menarik baru dari sisi pariwisata tentang bagaimana masyarakat Bali, Kuta khususnya, menghargai hak untuk hidup bagi siapa saja.

Ketika hal tersebut harus dilakukan, maka perlu diadakan penataan ulang terhadap sistem dan disain dari pejalan kaki yang aman, indah, nyaman, dan mengarahkan ke lokasi monumen tersebut dengan hubungan-hubungannya. Bila memungkinkan bangunlah sebuah plaza sekaligus sebagai pusat atau titik kota baru antara Kuta dan Legian.

* Putu Rumawan Salain


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com