Kawasan Kuta
Hongsui, Arsitektur
Ekletis, hingga ''Chopin Larung''
Menurut analisis hongsui,
daerah bagian selatan pulau Bali konon memiliki karakter chi
tersendiri. Kawasan Kuta, menurut kajian hongsui, ternyata
merupakan daerah yang paling cepat bergejolak, arus yang ada
tidak pernah tetap, cepat berubah, pusat spekulasi yang tinggi
dan menuntut perhatian yang sigap. Benarkah karena karakter chi
di kawasan Kuta demikian, orang menjadi terpancing untuk
mengguncangnya dengan bom? Lalu, dari wujud-wujud arsitektural
yang dapat dilihat di sepanjang Jalan Legian, dapat
dikelompokkan ke dalam arsitektur yang mengembangkan konsep
ekletisisme. Apa pula paham ekletik arsitektur ini pada kawasan
Kuta?
HONGSUI
atau yang disebut geomancy oleh orang barat, merupakan salah
satu bentuk pengetahuan dari kebudayaan Cina yang banyak
diminati beberapa tahun belakangan ini. Secara harfiah, Hongsui
atau Fengsui menurut dialek Mandarin, berarti angin dan air. Dua
unsur ini dianggap sebagai dua kekuatan alam yang senantiasa
mengalir dan mengukir wajah alam, beserta peruntungan manusia
yang menghuni pelosok bumi ini.
Mempelajari Hongsui,
berarti orang akan diajak untuk memahami seni hidup dan
keharmonisan dengan alam, sehingga seseorang bisa mendapatkan
banyak keuntungan, ketenangan dan kemakmuran dari keseimbangan
yang sempurna dengan alam. Untuk mencapai hal ini, maka akan
dilakukan analisis terhadap titik atau garis yang ada di
permukaan bumi. Di Bali, pengetahuan ini dapat disetarakan
dengan astabumi. Sedangkan Hongsui yang berkaitan dengan pedoman
perencanaan bangunan, konstruksi, dan seterusnya, dapat
disetarakan dengan astakosali. Menurut hasil analisis yang
pernah dilakukan ahli Hongsui Ronal Hikari pada 1995, dapat
disimpulkan bahwa pulau Bali adalah pulau kemakmuran, kesuburan,
pusat penghasilan dan tempat perlindungan yang aman dan sentosa
bagi penduduk pulau Bali. Pulau Bali yang bentuknya seperti ayam
bertelur, memiliki aliran energi (chi) yang terpusat di
tengah-tengah daerah pegunungan (sekitar Puncak Mangu, Bedudul)
dan bersifat mulia. Chi ini disebutkan mengalir dari arah barat
dan dari utara ke selatan, sehingga daerah selatanlah yang
merupakan penerima chi terbesar. Semua chi yang ditampung di
daerah selatan, disalurkan lagi ke daerah yang lain.
Tetapi daerah bagian
selatan pulau Bali, ternyata juga memiliki karakter chi
tersendiri. Kawasan Kuta yang berada di bagian "tulang
kaki" (tempat taji) pulau Bali, menurut kajian Hongsui,
ternyata merupakan daerah yang paling cepat bergejolak, arus
yang ada tidak pernah tetap, cepat berubah, pusat spekulasi yang
tinggi dan menuntut perhatian yang sigap. Di kawasan inilah
paling tepat untuk meraup keuntungan dalam usaha, tetapi
sekaligus merupakan tempat yang paling cepat membuat modal usaha
yang dimiliki habis. Mungkinkah karena karakter chi di kawasan
Kuta demikian, orang menjadi terpancing untuk mengguncangnya
dengan bom?
Apabila bergeser sedikit
ke selatan ke bagian kaki pulau Bali, kajian Hongsui
menyimpulkan, merupakan kawasan yang bisa menjadi awal atau
langkah pengendalian segala jenis usaha dan juga segala
keputusan yang bersifat "perlindungan" maupun "ketegangan"
dalam menghasilkan kemakmuran bagi seluruh penduduk dan
pendatang di pulau Bali. Jika landasannya baik, maka usaha
apapun yang dilakukan pasti akan berhasil. Tetapi bila dasar
pijakannya kurang baik, maka selalu akan ada hambatan atau
mungkin gagal sama sekali.
Arsitektur
Eklektik
Berdasarkan apa yang bisa dilihat di sepanjang Jalan Legian Kuta,
orang akan bisa menyaksikan display arsitektur aneka bentuk dan
desain. Apabila melewati jalan ini malam hari, orang seperti
tidak berada di Bali. Sebab, pernak-pernik lampu yang menyinari
bangunan dan bahan bangunannya sangat mengubah pandangan secara
psikis, sehingga memberi kesan Jalan Legian tidak memiliki
atmosfir Bali.
Dari wujud-wujud
arsitektural yang dapat dilihat di sepanjang Jalan Legian, dapat
dikelompokkan ke dalam arsitektur yang mengembangkan konsep
ekletisisme. Paham ekletik merupakan konsep arsitektur yang
memiliki kesadaran untuk mengungkapkan tata hubungan "bentuk"
dan "isi", tanpa melupakan sejarah dan kebudayaan.
Konsep arsitektur ini muncul pada dekade 1970-an, di masa
peralihan dari arsitektur modern ke konsep post modern. Saat itu
arsitektur modern tengah kehilangan pamor, akibat kurang
memperhatikan kehidupan manusia secara realistis. Kejenuhan
terhadap arsitektur modern terjadi, karena konsepnya terlalu
logis dan rasional, serta kurang memperhatikan nilai-nilai
sosial masyarakat. Konsep ekletisme dalam arsitektur kemudian
banyak diminati dan dikembangkan oleh kelompok arsitek post
modern, yang gejalanya sudah mulai terlihat sejak Le Corbusier
membangun gereja di Ronchamp, Prancis, yang menyimpang dari gaya
internasional.
Menurut budayawan
Mangunwijaya (alm.), karakter bangsa Indonesia nampaknya sangat
cocok dengan konsep ekletisisme. Sebab, bangsa Indonesia suka
memilih unsur-unsur terbaik dari suatu budaya kemudian dipadukan
dengan budaya lain, untuk dikembangkan ke dalam wujud
arsitektural yang dapat memberikan kepuasan batinnya. Demikian
pula halnya dengan display arsitektur di sepanjang Jalan Legian,
Kuta. Beberapa arsitektur pertokoan, restoran, kafe, nampak
banyak memadukan unsur-unsur arsitektur tradisional Bali dengan
unsur-unsur budaya luar Bali, serta mengemasnya lagi dengan
produk-produk teknologi modern.
Meskipun ada juga yang
mencoba yang menerapkan konsep metafor, yang merupakan konsep
ungkapan bentuk suatu benda dalam arsitektur. Hal ini bisa
dilihat pada bentuk restoran dengan wujud arsitektural perahu
layar. Konstruksinya pun sebagian didesain seperti perahu layar,
sehingga bila orang duduk di dalam ruangannya terkadang bisa
bergoyang seperti di atas perahu layar.
Terjadinya berbagai
variasi wujud arsitektural yang dilengkapi dengan kemasan
produk-produk teknologi modern di sepanjang Jalan Legian,
nampaknya terjadi karena arsitek-arsitek yang memajang karyanya
di sepanjang Jalan Legian berlatar belakang pendidikan yang
berbeda-beda dan berasal dari bermacam-macam tradisi budaya.
Atau setidaknya, gagasan arsitekturalnya datang dari kolega
bisnisnya atau orang asing, yang kemudian diwujudkan oleh
arsitek lokal. Konsep karya-karya arsitektur di sepanjang Jalan
Legian dapat dikatakan mengembangkan ekletisisme yang
betul-betul bebas pilihan dan kompleks. Hal ini bisa terjadi
karena begitu banyaknya informasi lintas budaya dan kepentingan
masuk ke kawasan wisata Kuta, yang sudah memperlihatkan multi-etnik.
Ekletisisme di sini memang bukan sekadar memilih dan meramu
menjadi suatu wujud baru, tetapi juga benar-benar mengolah
elemen-elemen bangunan yang ada, sehingga bisa dikelompokkan ke
dalam ekletisisme radikal.
Chopin Larung
Memang tak hanya orang asing tertarik dengan Kuta, seniman
sekelas Guruh Soekarnoputra bahkan sempat menciptakan lagu
tentang kehidupan wisata di Kuta. Hal itu tersirat dari lagu
"Chopin Larung" yang diciptakan Guruh pada dekade
1970-an -- termuat dalam album Guruh Gipsy.
Lewat lagu "Chopin
Larung" yang dinyanyikan Chrisye, Guruh mengisahkan
kehidupan pariwisata dari pantai, Legian, sampai Kayuaya (kini
Hotel Oberoi). Ada nada prihatin yang disampaikan Guruh terhadap
dampak negatif dari pariwisata, seperti masalah narkotika. Hal
ini disampaikan lewat kalimat simbolik, "anak lacur
melalung ngadolin ganja". Kemudian apabila pergaulan dengan
orang asing tidak dilakukan dengan selektif, maka akan bisa
merusak seni budaya. Guruh juga mengingatkan, agar masyarakat
Kuta tidak lupa dengan Widhi (Tuhan). Sebab kalau itu terjadi,
"tan urungan jagi manemu sengkala" (tak urung bakal
bisa menemui malapetaka). Kemudian pada syair penutup, Guruh
mengajak nyama braya (saudara-saudara) ring Bali, agar jangan
sampai melupakan kewaspadaan.
Tetapi di tengah buaian
pariwisata dan sanjungan terhadap Bali, semua seakan menjadi
lengah sehingga suratan takdir tak bisa dihindari. Kuta akhirnya
menjadi sasaran peledakan bom. Semua pihak tersentak. Kini,
orang memang harus percaya pada analisis Hongsui yang pernah
dilakukan Ronal Hikari (Bali Post, 26 Maret 1995). Dan orang
juga harus mendengar suara keprihatinan seniman lewat saran
musikalnya, seperti yang dilakukan Guruh Soekarnoputra lewat
"Chopin Larung" atau lagu "Kembalikan Baliku"
(yang dulu sempat dilecehkan pejabat dengan mengatakan
"Bali yang mana harus dikembalikan?") Kini, semua
penduduk Bali memang harus introspeksi diri.
* Gede Mugi
Raharja
|