kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Kawasan Kuta

Hongsui, Arsitektur Ekletis, hingga ''Chopin Larung''

Menurut analisis hongsui, daerah bagian selatan pulau Bali konon memiliki karakter chi tersendiri. Kawasan Kuta, menurut kajian hongsui, ternyata merupakan daerah yang paling cepat bergejolak, arus yang ada tidak pernah tetap, cepat berubah, pusat spekulasi yang tinggi dan menuntut perhatian yang sigap. Benarkah karena karakter chi di kawasan Kuta demikian, orang menjadi terpancing untuk mengguncangnya dengan bom? Lalu, dari wujud-wujud arsitektural yang dapat dilihat di sepanjang Jalan Legian, dapat dikelompokkan ke dalam arsitektur yang mengembangkan konsep ekletisisme. Apa pula paham ekletik arsitektur ini pada kawasan Kuta?

HONGSUI atau yang disebut geomancy oleh orang barat, merupakan salah satu bentuk pengetahuan dari kebudayaan Cina yang banyak diminati beberapa tahun belakangan ini. Secara harfiah, Hongsui atau Fengsui menurut dialek Mandarin, berarti angin dan air. Dua unsur ini dianggap sebagai dua kekuatan alam yang senantiasa mengalir dan mengukir wajah alam, beserta peruntungan manusia yang menghuni pelosok bumi ini.

Mempelajari Hongsui, berarti orang akan diajak untuk memahami seni hidup dan keharmonisan dengan alam, sehingga seseorang bisa mendapatkan banyak keuntungan, ketenangan dan kemakmuran dari keseimbangan yang sempurna dengan alam. Untuk mencapai hal ini, maka akan dilakukan analisis terhadap titik atau garis yang ada di permukaan bumi. Di Bali, pengetahuan ini dapat disetarakan dengan astabumi. Sedangkan Hongsui yang berkaitan dengan pedoman perencanaan bangunan, konstruksi, dan seterusnya, dapat disetarakan dengan astakosali. Menurut hasil analisis yang pernah dilakukan ahli Hongsui Ronal Hikari pada 1995, dapat disimpulkan bahwa pulau Bali adalah pulau kemakmuran, kesuburan, pusat penghasilan dan tempat perlindungan yang aman dan sentosa bagi penduduk pulau Bali. Pulau Bali yang bentuknya seperti ayam bertelur, memiliki aliran energi (chi) yang terpusat di tengah-tengah daerah pegunungan (sekitar Puncak Mangu, Bedudul) dan bersifat mulia. Chi ini disebutkan mengalir dari arah barat dan dari utara ke selatan, sehingga daerah selatanlah yang merupakan penerima chi terbesar. Semua chi yang ditampung di daerah selatan, disalurkan lagi ke daerah yang lain.

Tetapi daerah bagian selatan pulau Bali, ternyata juga memiliki karakter chi tersendiri. Kawasan Kuta yang berada di bagian "tulang kaki" (tempat taji) pulau Bali, menurut kajian Hongsui, ternyata merupakan daerah yang paling cepat bergejolak, arus yang ada tidak pernah tetap, cepat berubah, pusat spekulasi yang tinggi dan menuntut perhatian yang sigap. Di kawasan inilah paling tepat untuk meraup keuntungan dalam usaha, tetapi sekaligus merupakan tempat yang paling cepat membuat modal usaha yang dimiliki habis. Mungkinkah karena karakter chi di kawasan Kuta demikian, orang menjadi terpancing untuk mengguncangnya dengan bom?

Apabila bergeser sedikit ke selatan ke bagian kaki pulau Bali, kajian Hongsui menyimpulkan, merupakan kawasan yang bisa menjadi awal atau langkah pengendalian segala jenis usaha dan juga segala keputusan yang bersifat "perlindungan" maupun "ketegangan" dalam menghasilkan kemakmuran bagi seluruh penduduk dan pendatang di pulau Bali. Jika landasannya baik, maka usaha apapun yang dilakukan pasti akan berhasil. Tetapi bila dasar pijakannya kurang baik, maka selalu akan ada hambatan atau mungkin gagal sama sekali.

Arsitektur Eklektik
Berdasarkan apa yang bisa dilihat di sepanjang Jalan Legian Kuta, orang akan bisa menyaksikan display arsitektur aneka bentuk dan desain. Apabila melewati jalan ini malam hari, orang seperti tidak berada di Bali. Sebab, pernak-pernik lampu yang menyinari bangunan dan bahan bangunannya sangat mengubah pandangan secara psikis, sehingga memberi kesan Jalan Legian tidak memiliki atmosfir Bali.

Dari wujud-wujud arsitektural yang dapat dilihat di sepanjang Jalan Legian, dapat dikelompokkan ke dalam arsitektur yang mengembangkan konsep ekletisisme. Paham ekletik merupakan konsep arsitektur yang memiliki kesadaran untuk mengungkapkan tata hubungan "bentuk" dan "isi", tanpa melupakan sejarah dan kebudayaan. Konsep arsitektur ini muncul pada dekade 1970-an, di masa peralihan dari arsitektur modern ke konsep post modern. Saat itu arsitektur modern tengah kehilangan pamor, akibat kurang memperhatikan kehidupan manusia secara realistis. Kejenuhan terhadap arsitektur modern terjadi, karena konsepnya terlalu logis dan rasional, serta kurang memperhatikan nilai-nilai sosial masyarakat. Konsep ekletisme dalam arsitektur kemudian banyak diminati dan dikembangkan oleh kelompok arsitek post modern, yang gejalanya sudah mulai terlihat sejak Le Corbusier membangun gereja di Ronchamp, Prancis, yang menyimpang dari gaya internasional.

Menurut budayawan Mangunwijaya (alm.), karakter bangsa Indonesia nampaknya sangat cocok dengan konsep ekletisisme. Sebab, bangsa Indonesia suka memilih unsur-unsur terbaik dari suatu budaya kemudian dipadukan dengan budaya lain, untuk dikembangkan ke dalam wujud arsitektural yang dapat memberikan kepuasan batinnya. Demikian pula halnya dengan display arsitektur di sepanjang Jalan Legian, Kuta. Beberapa arsitektur pertokoan, restoran, kafe, nampak banyak memadukan unsur-unsur arsitektur tradisional Bali dengan unsur-unsur budaya luar Bali, serta mengemasnya lagi dengan produk-produk teknologi modern.

Meskipun ada juga yang mencoba yang menerapkan konsep metafor, yang merupakan konsep ungkapan bentuk suatu benda dalam arsitektur. Hal ini bisa dilihat pada bentuk restoran dengan wujud arsitektural perahu layar. Konstruksinya pun sebagian didesain seperti perahu layar, sehingga bila orang duduk di dalam ruangannya terkadang bisa bergoyang seperti di atas perahu layar.

Terjadinya berbagai variasi wujud arsitektural yang dilengkapi dengan kemasan produk-produk teknologi modern di sepanjang Jalan Legian, nampaknya terjadi karena arsitek-arsitek yang memajang karyanya di sepanjang Jalan Legian berlatar belakang pendidikan yang berbeda-beda dan berasal dari bermacam-macam tradisi budaya. Atau setidaknya, gagasan arsitekturalnya datang dari kolega bisnisnya atau orang asing, yang kemudian diwujudkan oleh arsitek lokal. Konsep karya-karya arsitektur di sepanjang Jalan Legian dapat dikatakan mengembangkan ekletisisme yang betul-betul bebas pilihan dan kompleks. Hal ini bisa terjadi karena begitu banyaknya informasi lintas budaya dan kepentingan masuk ke kawasan wisata Kuta, yang sudah memperlihatkan multi-etnik. Ekletisisme di sini memang bukan sekadar memilih dan meramu menjadi suatu wujud baru, tetapi juga benar-benar mengolah elemen-elemen bangunan yang ada, sehingga bisa dikelompokkan ke dalam ekletisisme radikal.

Chopin Larung
Memang tak hanya orang asing tertarik dengan Kuta, seniman sekelas Guruh Soekarnoputra bahkan sempat menciptakan lagu tentang kehidupan wisata di Kuta. Hal itu tersirat dari lagu "Chopin Larung" yang diciptakan Guruh pada dekade 1970-an -- termuat dalam album Guruh Gipsy.

Lewat lagu "Chopin Larung" yang dinyanyikan Chrisye, Guruh mengisahkan kehidupan pariwisata dari pantai, Legian, sampai Kayuaya (kini Hotel Oberoi). Ada nada prihatin yang disampaikan Guruh terhadap dampak negatif dari pariwisata, seperti masalah narkotika. Hal ini disampaikan lewat kalimat simbolik, "anak lacur melalung ngadolin ganja". Kemudian apabila pergaulan dengan orang asing tidak dilakukan dengan selektif, maka akan bisa merusak seni budaya. Guruh juga mengingatkan, agar masyarakat Kuta tidak lupa dengan Widhi (Tuhan). Sebab kalau itu terjadi, "tan urungan jagi manemu sengkala" (tak urung bakal bisa menemui malapetaka). Kemudian pada syair penutup, Guruh mengajak nyama braya (saudara-saudara) ring Bali, agar jangan sampai melupakan kewaspadaan.

Tetapi di tengah buaian pariwisata dan sanjungan terhadap Bali, semua seakan menjadi lengah sehingga suratan takdir tak bisa dihindari. Kuta akhirnya menjadi sasaran peledakan bom. Semua pihak tersentak. Kini, orang memang harus percaya pada analisis Hongsui yang pernah dilakukan Ronal Hikari (Bali Post, 26 Maret 1995). Dan orang juga harus mendengar suara keprihatinan seniman lewat saran musikalnya, seperti yang dilakukan Guruh Soekarnoputra lewat "Chopin Larung" atau lagu "Kembalikan Baliku" (yang dulu sempat dilecehkan pejabat dengan mengatakan "Bali yang mana harus dikembalikan?") Kini, semua penduduk Bali memang harus introspeksi diri.

* Gede Mugi Raharja


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com