Tradisi
Membuat Lupa Bertanya?
Sudahkah kau berenang
hari ini?
Di tepian mana kau telah sampai?
Jika pokok-pokok di seberang itu begitu indahnya
Panjat dan petiklah
Tapi jangan lupakan kerut dan duri halus yang menghiasi
Jangan pula terlalu sering kau petik
Apalagi di tiap kelahiran
Sebab takkan muncul lagi ketakjuban
Karena telah jadi tradisi
Dan tradisi membuat kita lupa untuk bertanya.
BENARKAH
tradisi membuat kita lupa bertanya? Paling tidak bertanya pada
diri sendiri. Tentang artinya bagi diri ataupun semesta luar
diri. Pertanyaan itu begitu menggelitik saya. Apalagi ketika ada
seorang teman yang mengatakan saya jauh dari tradisi. Tradisi
merupakan sebuah adat kebiasaan yang turun-temurun. Bali (khususnya)
yang begitu kuat dengan tradisi dalam kehidupan masyarakatnya
sampai-sampai tradisi menjelma menjadi kebenaran bagi masyarakat,
menjadi simbol-simbol yang ingin dipertahankan dengan dalih agar
tak kehilangan identitas diri apalagi di tengah gemuruh
pariwisata. Padahal perlahan namun pasti kebudayaan transisi
yang menyelubungi hampir sebagian besar masyarakat telah
menjadikan tradisi tersebut tawar tanpa rasa.
Jika saja pada masyarakat
Bali tidak membanggakan konsep mula keto, tentu sebuah tradisi
akan menjadi amat menarik untuk diinovasikan tanpa harus
tercerabut dari akarnya. Seringkali pemberi sebuah tradisi hanya
mewariskan pengabdian dan pengikatan tanpa batas, tanpa mau
memberikan pemahaman dan intinya. Inilah yang harus diperbaiki.
Tiap generasi memiliki
kebenarannya sendiri-sendiri. Jika pemahaman dan konsep dasar
sebuah tradisi turut pula diwariskan pada generasi berikutnya,
maka tidak akan sampai sebuah tradisi menjadi tawar apalagi
tanpa rasa, hanya bertahan pada bentuk. Mungkin bentuk tradisi
tersebut akan berbeda dari satu generasi ke generasi lainnya,
tetapi makna dan rasanya akan tetap sama. Bukan hanya itu,
generasi berikutnya tidak akan berbondong-bondong untuk pergi
dari tradisi sebab tak menemukan diri di dalamnya. Menganggapnya
hanya bagian dari masa lalu, hanya sebuah kenangan, tidak lebih.
Ambil contoh tradisi ngaben pada masyarakat Hindu di Bali,
dengan segala atribut upacaranya, dimana konsep dasarnya adalah
untuk lebih memudahkan pengembalian unsur yang ada dalam tubuh
manusia kembali ke asalnya. Tetapi kecenderungan sekarang
menjadi ajang untuk menunjukkan derajat sosial sebuah keluarga,
dimana makin besar dan mewah upacaranya maka makin tinggi
derajat sosialnya. Apakah ini sesuatu hal yang menyedihkan atau
malah menggembirakan? Lalu apa maknanya? Jika sebuah keluarga
tidak memiliki biaya untuk membuat upacara sesuai dengan
keinginannya tersebut maka ditunda dulu hingga dana terkumpul
meskipun sampai bertahun-tahun lamanya. Sampai alam lebih dulu
mengembalikan unsurnya. Itu hanya sebuah contoh kecil saja.
Hal lain yang lebih
memprihatinkan adalah tindakan anarki yang dilakukan dengan
dalih menjaga adat dan tradisi yang ingin diselewengkan. Berapa
banyak desa-desa hancur karena kasus adat? Tidak cukupkah itu
sebagai pelajaran untuk kita semua bagaimana sebuah pemahaman
lebih penting artinya dibandingkan hanya sekedar pengikatan
tanpa batas? Jika telah sampai pada pemahaman akan sebuah makna
maka masyarakat akan siap untuk menerima pluralitas yang terjadi.
Kecenderungan yang terjadi sekarang dalam tradisi adalah begitu
takutnya orang akan perbedaan. Perbedaan itu bukan dipandang
sebagai bagian dari proses kreatif tanpa lepas dari makna
sesungguhnya, tetapi malah perbedaan dipandang dengan kecurigaan
dan vonis tak sesuai dengan tradisi.
Menghadapi sebuah era
yang disebut-sebut erat postmodernis dimana selalu dituntut
kepiawaian untuk berimajinasi dan membuat kreatifitas sehingga
dapat muncul sebuah permainan baru, menurut istilah Faruk, tanpa
lepas dari akarnya. Tentu pikiran di atas tidak dapat
dipertahankan. Jika memandang bahwa komunikasi lokal, dalam hal
ini saya kaitan dengan tradisi tersebut harus dipahami kembali
dengan sungguh-sungguh. Seperti yang ditulis Faruk dalam sebuah
bukunya bahwa komunitas lokal di sini membutuhkan tidak hanya
kemampuan untuk mengakui kembali, menghargai kembali, dan
menguasai kembali aturan lain yang berlaku dalam lokalisasinya,
melainkan juga kemampuan untuk menguasai aturan main yang tidak
terdapat di dalamnya. Kiranya hal inilah yang paling relevan
untuk kita kembangkan saat sekarang ini setelah daerah kita
diguncangkan dari segala puja-puji yang memabukkan. Sebuah
konsep kesadaran kemudian mesti dikembangkan. Kesadaran untuk
menerima pluralisme yang pasti terjadi. Pluralisme kemudian
menuntut toleransi yang merupakan bagian satu sama lain bukan
pembedaan. Menghargai hasil imajinasi dan kreativitas orang lain
ataupun daerah lain dengan keindahannya.
Kembali, bagaimana mesti
menjaga tradisi kalau kita tak pernah tahu apa yang mesti dijaga?
Kita kemudian akan selalu menjadi penonton yang baik, yang
bangga dengan segala puja-puji untuk sesuatu yang tak pernah
kita pahami dan setelah sebuah ledakan mengguncang tidur lelap
kita, hanya air mata yang telah basi yang kemudian bisa kita
berikan. Semoga ini hanya ketakutan saya. Sebab bagaimanapun
hari ini tetap adalah bagian dari hari kemarin. Entah itu dengan
harapan atau ketidaktahuan.
Dengan teropong Galilei
kulihat bintang mati
kulihat planet-planet putih
menyisihkan diri
Kulihat juga cakrawala
hitam
bergerak seperti malam
dalam burung ketinggalan
dalam hujan menggeram
''Anakku''
''Bapak''.
''Mungkin aku melihatmu''
''Tidak, Bapak''.
(Sajak Goenawan Mohamad,
dengan judul Buat H.J).
Ni Putu Vivi
Lestari
|