kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 10 Nopember 2002 tarukan valas
 

APRESIASI


Tradisi Membuat Lupa Bertanya?

Sudahkah kau berenang hari ini?
Di tepian mana kau telah sampai?
Jika pokok-pokok di seberang itu begitu indahnya
Panjat dan petiklah
Tapi jangan lupakan kerut dan duri halus yang menghiasi
Jangan pula terlalu sering kau petik
Apalagi di tiap kelahiran
Sebab takkan muncul lagi ketakjuban
Karena telah jadi tradisi
Dan tradisi membuat kita lupa untuk bertanya.

BENARKAH tradisi membuat kita lupa bertanya? Paling tidak bertanya pada diri sendiri. Tentang artinya bagi diri ataupun semesta luar diri. Pertanyaan itu begitu menggelitik saya. Apalagi ketika ada seorang teman yang mengatakan saya jauh dari tradisi. Tradisi merupakan sebuah adat kebiasaan yang turun-temurun. Bali (khususnya) yang begitu kuat dengan tradisi dalam kehidupan masyarakatnya sampai-sampai tradisi menjelma menjadi kebenaran bagi masyarakat, menjadi simbol-simbol yang ingin dipertahankan dengan dalih agar tak kehilangan identitas diri apalagi di tengah gemuruh pariwisata. Padahal perlahan namun pasti kebudayaan transisi yang menyelubungi hampir sebagian besar masyarakat telah menjadikan tradisi tersebut tawar tanpa rasa.

Jika saja pada masyarakat Bali tidak membanggakan konsep mula keto, tentu sebuah tradisi akan menjadi amat menarik untuk diinovasikan tanpa harus tercerabut dari akarnya. Seringkali pemberi sebuah tradisi hanya mewariskan pengabdian dan pengikatan tanpa batas, tanpa mau memberikan pemahaman dan intinya. Inilah yang harus diperbaiki.

Tiap generasi memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Jika pemahaman dan konsep dasar sebuah tradisi turut pula diwariskan pada generasi berikutnya, maka tidak akan sampai sebuah tradisi menjadi tawar apalagi tanpa rasa, hanya bertahan pada bentuk. Mungkin bentuk tradisi tersebut akan berbeda dari satu generasi ke generasi lainnya, tetapi makna dan rasanya akan tetap sama. Bukan hanya itu, generasi berikutnya tidak akan berbondong-bondong untuk pergi dari tradisi sebab tak menemukan diri di dalamnya. Menganggapnya hanya bagian dari masa lalu, hanya sebuah kenangan, tidak lebih. Ambil contoh tradisi ngaben pada masyarakat Hindu di Bali, dengan segala atribut upacaranya, dimana konsep dasarnya adalah untuk lebih memudahkan pengembalian unsur yang ada dalam tubuh manusia kembali ke asalnya. Tetapi kecenderungan sekarang menjadi ajang untuk menunjukkan derajat sosial sebuah keluarga, dimana makin besar dan mewah upacaranya maka makin tinggi derajat sosialnya. Apakah ini sesuatu hal yang menyedihkan atau malah menggembirakan? Lalu apa maknanya? Jika sebuah keluarga tidak memiliki biaya untuk membuat upacara sesuai dengan keinginannya tersebut maka ditunda dulu hingga dana terkumpul meskipun sampai bertahun-tahun lamanya. Sampai alam lebih dulu mengembalikan unsurnya. Itu hanya sebuah contoh kecil saja.

Hal lain yang lebih memprihatinkan adalah tindakan anarki yang dilakukan dengan dalih menjaga adat dan tradisi yang ingin diselewengkan. Berapa banyak desa-desa hancur karena kasus adat? Tidak cukupkah itu sebagai pelajaran untuk kita semua bagaimana sebuah pemahaman lebih penting artinya dibandingkan hanya sekedar pengikatan tanpa batas? Jika telah sampai pada pemahaman akan sebuah makna maka masyarakat akan siap untuk menerima pluralitas yang terjadi. Kecenderungan yang terjadi sekarang dalam tradisi adalah begitu takutnya orang akan perbedaan. Perbedaan itu bukan dipandang sebagai bagian dari proses kreatif tanpa lepas dari makna sesungguhnya, tetapi malah perbedaan dipandang dengan kecurigaan dan vonis tak sesuai dengan tradisi.

Menghadapi sebuah era yang disebut-sebut erat postmodernis dimana selalu dituntut kepiawaian untuk berimajinasi dan membuat kreatifitas sehingga dapat muncul sebuah permainan baru, menurut istilah Faruk, tanpa lepas dari akarnya. Tentu pikiran di atas tidak dapat dipertahankan. Jika memandang bahwa komunikasi lokal, dalam hal ini saya kaitan dengan tradisi tersebut harus dipahami kembali dengan sungguh-sungguh. Seperti yang ditulis Faruk dalam sebuah bukunya bahwa komunitas lokal di sini membutuhkan tidak hanya kemampuan untuk mengakui kembali, menghargai kembali, dan menguasai kembali aturan lain yang berlaku dalam lokalisasinya, melainkan juga kemampuan untuk menguasai aturan main yang tidak terdapat di dalamnya. Kiranya hal inilah yang paling relevan untuk kita kembangkan saat sekarang ini setelah daerah kita diguncangkan dari segala puja-puji yang memabukkan. Sebuah konsep kesadaran kemudian mesti dikembangkan. Kesadaran untuk menerima pluralisme yang pasti terjadi. Pluralisme kemudian menuntut toleransi yang merupakan bagian satu sama lain bukan pembedaan. Menghargai hasil imajinasi dan kreativitas orang lain ataupun daerah lain dengan keindahannya.

Kembali, bagaimana mesti menjaga tradisi kalau kita tak pernah tahu apa yang mesti dijaga? Kita kemudian akan selalu menjadi penonton yang baik, yang bangga dengan segala puja-puji untuk sesuatu yang tak pernah kita pahami dan setelah sebuah ledakan mengguncang tidur lelap kita, hanya air mata yang telah basi yang kemudian bisa kita berikan. Semoga ini hanya ketakutan saya. Sebab bagaimanapun hari ini tetap adalah bagian dari hari kemarin. Entah itu dengan harapan atau ketidaktahuan.

Dengan teropong Galilei
kulihat bintang mati
kulihat planet-planet putih
menyisihkan diri

Kulihat juga cakrawala hitam
bergerak seperti malam
dalam burung ketinggalan
dalam hujan menggeram

''Anakku''
''Bapak''.
''Mungkin aku melihatmu''
''Tidak, Bapak''.

(Sajak Goenawan Mohamad, dengan judul Buat H.J).

Ni Putu Vivi Lestari


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com