kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 16 April 2008

 Ajeg Bali


Memohon Jatuhnya Hujan
 

Varsikamscaturo nasanyatha.
Indro ''bhipravasati,
tathbahivarsetman rastra kamair
indravratam caran.
(Manawa Dharmasastra.IX.304).
 

Maksudnya:
Laksana Dewa Indra yang menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan pada musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Indra menurunkan kemakmuran untuk kerajaan.

KEBERADAAN Pura Luhur Jati Luwih di Desa Pakraman Sarin Bhuwana, Desa Wana Giri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan adalah salah satu Pura Jajar Kemiri atau Prasanak dari Pura Luhur Batukaru. Pura Luhur Jati Luwih ini bukan Pura Luhur Jati Luwih kawitan warga Bujangga Waisnawa yang berada di Kecamatan Penebel. Pura Batukaru adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa dalam fungsi beliau sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Sang Hyang Tumuwuh itu Tuhan yang dipuja oleh umat Hindu di Bali untuk memotivasi dirinya untuk memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu adalah ciptaan Tuhan.

Tumbuhan itu bukan semata sebagai sarana untuk dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai bahan makanan maupun digunakan sebagai sarana hidup di luar makanan. Tumbuh-tumbuhan itu juga sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan yang berhak hidup saling berkontribusi secara timbal balik pada sesama ciptaan Tuhan. Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan dengan populasi yang memadai maka berbagai unsur alam dan makhluk hidup di bumi ini tidak bisa berfungsi dengan baik dan benar.

Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan hutan yang kuat dan besar yang di Bali disebut tanem tuwuh, maka tanah hutan dan gunung tidak bisa menampung air yang jatuh dari langit. Demikian juga kalau hutan itu gundul tanpa tumbuh-tumbuhan maka hujan juga sulit untuk turun dari langit. Kalau sudah telanjur seperti itu maka bencana kekeringan pun akan berlanjut.

Konon gurun pasir di Etiopia diawali oleh pengundulan hutan yang ganas. Kalau sudah telanjur seperti itu maka akan tidak mungkin menghutankan kembali suatu gurun pasir yang sudah telanjur.

Demikian juga keberadaan Pura Luhur Jati Luwih di Desa Wana Giri Kecamatan Selemadeg ini diawali oleh kemarau panjang. Atas keprihatinan penduduk, maka Tuhan memberikan sinyal sebagai peringatan di mana ada penduduk yang sedang berburu diberikan penampakan gaib. Di Bali disebut kawehan. Dengan melihat sawah dengan padi menguning sampai ada orang gaib memberikan penduduk yang kawehan itu bibit padi gaga untuk ditanam di daerah sawah tadah hujan. Hal ini diceritakan dalam mitologi keberadaan Pura Luhur Jati Luwih tersebut.

Awal nama Pura Jati Luwih ini adalah Pura Sarin Bhuwana yang artinya sari-sarinya bumi. Salah satu sarinya bumi ini adalah padi. Padi itu akan ada tumbuh apabila ada hujan yang turun. Hujan yang turun itu akan berguna apabila tumbuh-tumbuhan yang diturunkan oleh Sang Hyang Tumuwuh di bumi ini tidak dirusak oleh manusia untuk memenuhi kepentingan sesaat. Sejak ada umat yang kawehan itu munculah kesadaran umat untuk mendirikan suatu pelinggih sederhana sebagai sarana pemujaan untuk memohon jatuhnya hujan.

Sejak itu hujan turun sangat teratur. Selanjutnya pura itu disebut Pura Luhur Jati Luwih. Puri Tabanan dengan keluarga menjadi terpanggil untuk menata pura tersebut bersama umat Hindu di sekitarnya, sehingga pura menjadi semakin lengkap seperti dewasa ini. Keberadaan pura tersebut menjadi semakin kuat untuk memotivasi umat untuk melakukan upaya-upaya sekala dan niskala agar hujan terus turun dan tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat hidup subur. Dengan suburnya sebagai bahan makanan yang terpokok di Bali maka kesejahteraan masyarakat dapat terjamin.

Yang perlu direnungkan menyangkut keberadaan Pura Luhur Jati Luwih atau Pura Sarin Bhuwana ini adalah menyangkut hubungan Puri Tabanan dengan masyarakat sekitar dalam memelihara eksistensi pura tersebut sebagai Pelinggih Hyang Pemuteran Danu dan ada pelinggih untuk pemujaan Ratu Manik Galih. Hyang Pemuteran Danu itu adalah pemujaan untuk Dewi Danu sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam menjaga dinamika air agar selalu stabil memberikan kehidupan pada seluruh makhluk hidup penghuni bumi ini.

Air laut menguap menjadi mendung, mendung jatuh menjadi hujan. Hujan jatuh di gunung dengan hutannya yang lebat. Dari proses tersebut maka terbentuklah mata air seperti danau dan sungai-sungai mengalirkan air ke dataran yang lebih rendah. Dari proses mata air itulah dapat menimbulkan kesuburan tanaman sebagai unsur yang amat utama dalam menjaga kehidupan di bumi ini.

Kewajiban umat manusia adalah menjaga proses alam itu agar jangan terganggu. Untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga proses air sebagai unsur alam itu maka Tuhan dipuja sebagai Hyang Pemuteran Danu. Ini adalah metode yang ditempuh oleh leluhur umat Hindu di Bali agar jangan mengganggu proses alam menurut hukum Rta.

Dewasa ini perlindungan proses air sebagai unsur alam yang utama itu perlu lebih ditanamkan kembali agar semakin tumbuh adanya kesadaran untuk menjaga air. Tentunya cara melindungi air dengan cara-cara ilmiah dan norma hukum tetap dilangsungkan. Pemujaan Tuhan sebagai Hyang Pemuteran Danu sebagai pemberi landasan moral dan mental sehingga berbagai godaan dalam penggunaan air dengan tujuan hanya mencari keuntungan sesaat dan sepihak dapat dicegah sedini mungkin.

Adanya Pelinggih sebagai pemujaan Ratu Manik Galih adalah sebagai suatu upaya spiritual untuk menumbuhkan kesadaran dalam memelihara tumbuhan seperti padi agar diproduksi dan didistribusikan secara baik dan adil. Jangan ada yang borong padi saat panen terus ditimbun dan saat paceklik dijual dengan harga berlipat ganda. Ini artinya keberadaan padi dijadikan media untuk merugikan orang banyak.

Padi diciptakan Tuhan adalah untuk memberi kehidupan yang sejahtera pada umat manusia. Menggunakan padi sebagai sarana untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak jujur dan merugikan orang banyak tentunya dosa besar. Padi adalah salah satu hasil alam yang berfungsi amat strategis, karena ia sebagai bahan makanan yang paling pokok. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Galih di Pura Luhur Jati Luwih adalah sebagai suatu motivasi spiritual agar padi sebagai bahan makanan pokok jangan dijadikan sarana berbuat merugikan masyarakat luas untuk keuntungan diri sendiri.

* I Ketut Gobyah

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)