Memohon Jatuhnya Hujan
Varsikamscaturo nasanyatha.
Indro ''bhipravasati,
tathbahivarsetman rastra kamair
indravratam caran.
(Manawa Dharmasastra.IX.304).
Maksudnya:
Laksana Dewa Indra yang menurunkan hujan yang berlimpah
selama empat bulan pada musim hujan, demikianlah raja
menempati kedudukan bagaikan Indra menurunkan kemakmuran
untuk kerajaan.
KEBERADAAN
Pura Luhur Jati Luwih di Desa Pakraman Sarin Bhuwana,
Desa Wana Giri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan adalah
salah satu Pura Jajar Kemiri atau Prasanak dari Pura
Luhur Batukaru. Pura Luhur Jati Luwih ini bukan Pura
Luhur Jati Luwih kawitan warga Bujangga Waisnawa yang
berada di Kecamatan Penebel. Pura Batukaru adalah pura
untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa dalam fungsi
beliau sebagai Sang Hyang Tumuwuh. Sang Hyang Tumuwuh
itu Tuhan yang dipuja oleh umat Hindu di Bali untuk
memotivasi dirinya untuk memahami bahwa tumbuh-tumbuhan
itu adalah ciptaan Tuhan.
Tumbuhan itu bukan semata sebagai sarana untuk
dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai bahan makanan
maupun digunakan sebagai sarana hidup di luar makanan.
Tumbuh-tumbuhan itu juga sebagai makhluk hidup ciptaan
Tuhan yang berhak hidup saling berkontribusi secara
timbal balik pada sesama ciptaan Tuhan. Tanpa adanya
tumbuh-tumbuhan dengan populasi yang memadai maka
berbagai unsur alam dan makhluk hidup di bumi ini tidak
bisa berfungsi dengan baik dan benar.
Tanpa adanya tumbuh-tumbuhan hutan yang kuat dan besar
yang di Bali disebut tanem tuwuh, maka tanah hutan dan
gunung tidak bisa menampung air yang jatuh dari langit.
Demikian juga kalau hutan itu gundul tanpa
tumbuh-tumbuhan maka hujan juga sulit untuk turun dari
langit. Kalau sudah telanjur seperti itu maka bencana
kekeringan pun akan berlanjut.
Konon gurun pasir di Etiopia diawali oleh pengundulan
hutan yang ganas. Kalau sudah telanjur seperti itu maka
akan tidak mungkin menghutankan kembali suatu gurun
pasir yang sudah telanjur.
Demikian juga keberadaan Pura Luhur Jati Luwih di Desa
Wana Giri Kecamatan Selemadeg ini diawali oleh kemarau
panjang. Atas keprihatinan penduduk, maka Tuhan
memberikan sinyal sebagai peringatan di mana ada
penduduk yang sedang berburu diberikan penampakan gaib.
Di Bali disebut kawehan. Dengan melihat sawah dengan
padi menguning sampai ada orang gaib memberikan penduduk
yang kawehan itu bibit padi gaga untuk ditanam di daerah
sawah tadah hujan. Hal ini diceritakan dalam mitologi
keberadaan Pura Luhur Jati Luwih tersebut.
Awal nama Pura Jati Luwih ini adalah Pura Sarin Bhuwana
yang artinya sari-sarinya bumi. Salah satu sarinya bumi
ini adalah padi. Padi itu akan ada tumbuh apabila ada
hujan yang turun. Hujan yang turun itu akan berguna
apabila tumbuh-tumbuhan yang diturunkan oleh Sang Hyang
Tumuwuh di bumi ini tidak dirusak oleh manusia untuk
memenuhi kepentingan sesaat. Sejak ada umat yang kawehan
itu munculah kesadaran umat untuk mendirikan suatu
pelinggih sederhana sebagai sarana pemujaan untuk
memohon jatuhnya hujan.
Sejak itu hujan turun sangat teratur. Selanjutnya pura
itu disebut Pura Luhur Jati Luwih. Puri Tabanan dengan
keluarga menjadi terpanggil untuk menata pura tersebut
bersama umat Hindu di sekitarnya, sehingga pura menjadi
semakin lengkap seperti dewasa ini. Keberadaan pura
tersebut menjadi semakin kuat untuk memotivasi umat
untuk melakukan upaya-upaya sekala dan niskala agar
hujan terus turun dan tumbuh-tumbuhan terutama padi
dapat hidup subur. Dengan suburnya sebagai bahan makanan
yang terpokok di Bali maka kesejahteraan masyarakat
dapat terjamin.
Yang perlu direnungkan menyangkut keberadaan Pura Luhur
Jati Luwih atau Pura Sarin Bhuwana ini adalah menyangkut
hubungan Puri Tabanan dengan masyarakat sekitar dalam
memelihara eksistensi pura tersebut sebagai Pelinggih
Hyang Pemuteran Danu dan ada pelinggih untuk pemujaan
Ratu Manik Galih. Hyang Pemuteran Danu itu adalah
pemujaan untuk Dewi Danu sebagai manifestasi Dewa Wisnu
dalam menjaga dinamika air agar selalu stabil memberikan
kehidupan pada seluruh makhluk hidup penghuni bumi ini.
Air laut menguap menjadi mendung, mendung jatuh menjadi
hujan. Hujan jatuh di gunung dengan hutannya yang lebat.
Dari proses tersebut maka terbentuklah mata air seperti
danau dan sungai-sungai mengalirkan air ke dataran yang
lebih rendah. Dari proses mata air itulah dapat
menimbulkan kesuburan tanaman sebagai unsur yang amat
utama dalam menjaga kehidupan di bumi ini.
Kewajiban umat manusia adalah menjaga proses alam itu
agar jangan terganggu. Untuk mengingatkan umat agar
senantiasa menjaga proses air sebagai unsur alam itu
maka Tuhan dipuja sebagai Hyang Pemuteran Danu. Ini
adalah metode yang ditempuh oleh leluhur umat Hindu di
Bali agar jangan mengganggu proses alam menurut hukum
Rta.
Dewasa ini perlindungan proses air sebagai unsur alam
yang utama itu perlu lebih ditanamkan kembali agar
semakin tumbuh adanya kesadaran untuk menjaga air.
Tentunya cara melindungi air dengan cara-cara ilmiah dan
norma hukum tetap dilangsungkan. Pemujaan Tuhan sebagai
Hyang Pemuteran Danu sebagai pemberi landasan moral dan
mental sehingga berbagai godaan dalam penggunaan air
dengan tujuan hanya mencari keuntungan sesaat dan
sepihak dapat dicegah sedini mungkin.
Adanya Pelinggih sebagai pemujaan Ratu Manik Galih
adalah sebagai suatu upaya spiritual untuk menumbuhkan
kesadaran dalam memelihara tumbuhan seperti padi agar
diproduksi dan didistribusikan secara baik dan adil.
Jangan ada yang borong padi saat panen terus ditimbun
dan saat paceklik dijual dengan harga berlipat ganda.
Ini artinya keberadaan padi dijadikan media untuk
merugikan orang banyak.
Padi diciptakan Tuhan adalah untuk memberi kehidupan
yang sejahtera pada umat manusia. Menggunakan padi
sebagai sarana untuk menguntungkan diri sendiri dengan
cara-cara yang tidak jujur dan merugikan orang banyak
tentunya dosa besar. Padi adalah salah satu hasil alam
yang berfungsi amat strategis, karena ia sebagai bahan
makanan yang paling pokok. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu
Manik Galih di Pura Luhur Jati Luwih adalah sebagai
suatu motivasi spiritual agar padi sebagai bahan makanan
pokok jangan dijadikan sarana berbuat merugikan
masyarakat luas untuk keuntungan diri sendiri.
*
I Ketut Gobyah