Nilai
Kehidupan
di
Balik Pura
Bukit
Jati
Di
Pura
Bukit Jati
di Desa
Samplangan,
Gianyar
terdapat banyak
pelinggih.
Ada
pelinggih
utama
dan ada yang
pelengkap.
Secara
umum di
setiap
tempat pemujaan Hindu
di Bali
selalu ada
pelinggih
untuk
Dewa Pratistha
dan ada
pelinggih
untuk
Atma Pratistha.
Pelinggih
untuk
Dewa Pratistha
adalah
pelinggih untuk
memuja
para Dewa
manifestasi
Tuhan.
Pelinggih Atma
Pratistha
tempat
pemujaan roh
suci
leluhur dengan
fungsi
Tuhan yang dipuja.
Nilai-nilai
kehidupan
seperti
apa yang tersirat
di
balik Pura
Bukit
Jati itu?
============================================================
Fungsi
Tuhan yang
menjadi
jiwa Bhur
Loka
disebut Dewa
Siwa. Yang
menjiwai
Bhuwah
Loka disebut
Sada
Siwa. Disebut
Parama
Siwa adalah
Tuhan yang
menjadi
jiwa Swah
Loka.
Demikian seterusnya
Tuhan Yang
Maha
Esa itu
dipuja
dalam ribuan
nama
Dewa. Karena
memang
Tuhan itu
Mahakuasa
dan
Maha Ada.
Di
Pura
Bukit Jati,
Tuhan
dipuja dalam
berbagai
fungsi
dengan berbagai
manifestasinya.
Menurut
nama-nama pelinggih
yang ada
di Pura
Bukit
Jati itu
menandakan
bahwa
pemujaan Tuhan
di Pura
Bukit
Jati bertujuan
memotivasi
berbagai
aspek
kehidupan. Dalam
tradisi Hindu
di Bali
pemujaan Tuhan
didayagunakan
untuk
memotivasi berbagai
aspek
kehidupan agar hidup
itu
diselenggarakan dengan
memulainya
dan
memohon tuntunan
Hyang
Widhi. Tentunya
hal ini
amat
tergantung pada
kecerdasan
umat
menerjemahkan simbol-simbol
sakral
pemujaan itu
ke
dalam kehidupannya
sehari-hari.
Misalnya
adanya
arca Jalandwara
Makara
adalah untuk
memotivasi
pemeliharaan
kesucian
dan
kelancaran air dengan
melindungi
sumber-sumbernya
dari
pencemaran dari
perilaku
oknum yang
ceroboh
pada kedudukan air
dalam
kehidupan ini.
Pelinggih
Padma
dan Meru
sebagai
pemujaan pada
Tuhan
sebagai Sada
Siwa
dan roh
suci
leluhur.
Dalam
Wrehaspati
Tattwa
dinyatakan bahwa
Pelinggih
Padmasana
sebagai
stana pemujaan
Tuhan
sebagai Sada
Siwa
yaitu Tuhan
sebagai
jiwa alam
Bhuwah.
Demikian pula adanya
pelinggih Ida
Batara
Puncak, ada
Gedong
Lebah ada
Pelinggih Ida
Batara
Segara. Hal ini
mengingatkan
kita
pada sistem
pemujaan
Tuhan
sebelum Mpu
Kuturan
menjadi Bhagawanta
Kerajaan
di Bali
ada tiga
tempat
pemujaan yaitu:
Pura
Segara, Pura
Penataran
dan
Pura Puncak.
Melihat
adanya
Pelinggih Ida Batara
Segara,
adanya Gedong
Lebah
amat identik
dengan
keberadaan Pura
Penataran
dan
adanya Pelinggih Ida
Batara
Puncak. Tiga
tempat
pemujaan pada
Tuhan
ini memotivasi
umat Hindu
di Bali agar
tidak
melakukan perbuatan
yang dapat
merusak Tri
Bhuwana.
Lebih
khusus lagi
untuk
di Bali dengan
memuja
Tuhan dengan
simbol
sakral di
pelinggih
Segara,
pelinggih Gedong
Lebah
dan pelinggih
Puncak
berarti umat
di Bali
dimotivasi untuk
memelihara
kelestarian
segara,
dataran rendah
dan
daerah perbukitan
serta
pegunungan.
Dengan
berfungsinya
sumber-sumber
alam
tersebut secara
terpadu
kehidupan di Bali
ini
akan berlangsung
dengan
baik, benar
dan
wajar. Apalagi
di
bagian luar
atau
jaba sisi
dari
Pura Bukit
Jati
ini ada
Pancoran. Hal
ini
sebagai kelanjutan
dari
konsep pemeliharaan
air agar senantiasa
terus
mengalir tanpa
tercemar yang
disimbolkan
dengan
adanya arca
Jalandwara.
Pancoran
itu ada
di jaba
sisi.
Berarti air yang mengalir
itu
hendaknya untuk
memenuhi
kebutuhan
masyarakat
luas,
bukan untuk
golongan
masyarakat
kelas
atas saja.
Demikian
juga
Pelinggih Pesamuan
yang berada
di
bagian tengah
di
Utama Mandala
di
depan Pelinggih
Gedong
dan Meru.
Dalam
prosesi upacara
terutama
saat
upacara piodalan
di pura,
fungsi
Balai Pesamuan
itu
sebagai media simbolis
Ida Batara
tedun
menerima persembahan
upacara
piodalan dari
umat
dan juga
sebagai
simbol Ida Batara
Ngeluhur
kembali
ke stananya
di
Padma, Meru
dan
Gedong.
Pesamuan
juga
berarti pertemuan
atau
juga berarti
bermusyawarah.
Melalui
Pelinggih Pesamuan
ini
umat hendaknya
termotivasi
untuk
senantiasa bermusyawarah
dalam
memutuskan sesuatu
terutama yang
menyangkut
orang
banyak. Ini
berarti
lewat Pelinggih
Pesamuan
tersebut
umat Hindu
di Bali
dimotivasi untuk
hidup
bersama secara
demokratis.
Secara
ritual memang
disimbolkan
bahwa
semua Ida Batara
mengadakan
pesamuan
di
Pelinggih Pesamuan
saat
upacara piodalan
dalam
rangka menerima
persembahan
saat
upacara dan
melimpahkan
sweca
atas baktinya
umat
pada Ida Batara,
terutama
saat
upacara piodalan
tersebut.
Itulah
fungsi simbolis
dari
Pelinggih Pesamuan.
Di
sebelah
timur dari
Pelinggih
Pesamuan
ada
Pelinggih untuk Ida
Batara
di Gunung
Agung.
Gunung Agung
sebagai
simbol hulunya Bali
atau
dinyatakan dalam
lontar
bahwa Besakih
Pinaka
Huluning Bali Rajya.
Meskipun
Pura
Bukit Jati
ada di
pusat
Kerajaan Linggarsa
Pura
maka lewat
pemujaan
di
Pelinggih Gunung
Agung
itu diingatkan agar
umat di
Bali tidak
lupa
pada hulu
atau
kepalanya Pulau Bali
simbol
Padma Bhuwana.
Pura
Besakih
adalah tergolong
Pura
Rwa Bhineda
dan
Pura Besakih
sendiri
sebagai Purusa
dan
Pura Batur
sebagai
Pura Pradana-nya.
Purusa
artinya jiwa
atau
hidup. Umumnya
pura di
Bali senantiasa
memiliki
Pelinggih
Penyawangan
ke
Gunung Agung
dan
Gunung Batur.
Ini
melambangkan bahwa
dalam
hidup ini
manusia
haruslah berupaya
menyeimbangkan
pembangunan
kehidupan
jiwa
dan raga atau
Purusa
dan Pradana.
Di
Pura
Bukit Jati
terdapat
juga
Pelinggih Manjangan
Saluwang,
bahkan
ada dua
yaitu
terletak di
deretan
timur di
Utama
Mandala sebelah
selatan
Gedong Lebah.
Ada
juga di
deretan
utara di
barat
Pelinggih Pesamuan.
Pelinggih
Manjangan
Saluwang
itu
umumnya diyakini
sebagai
pemujaan pada
Mpu
Kuturan yaitu
orang
suci yang sebelumnya
menjabat
sejenis
perdana menteri
kerajaan
pada
abad ke-11 Masehi.
Hal ini
menggambarkan bahwa
di Pura
Bukit
Jati ada
suatu
motivasi untuk
mendidik
generasi
penerus agar
tidak
melupakan jasa-jasa
mulia
leluhur di
masa
lampau. Lebih-lebih
terhadap
Mpu
Kuturan yang amat
besar
jasanya pada
proses
penerapan ajaran
Hindu di Bali
pada
zamannya. Apa yang
beliau
warisi sampai
sekarang
tidak
lekang oleh
dinamika
zaman.
Beliaulah yang dapat
disebut
hidup tanpa
napas
sebagaimana dinyatakan
dalam
kitab Sarasamuscaya.
Kalau
kita senantiasa
berbuat
melawan dharma dalam
hidup
ini disebut
mayat
bernapas. *
wiana