Pemilu
Filipina, Enam
Tewas
Filipina -
Meski
berbulan-bulan
diwarnai
kekerasan yang
menyebabkan 120
orang
tewas, Filipina akhirnya
menggelar
pemilu
sela untuk
memilih
wakil lokal
dan
kongres, Senin (14/5)
kemarin.
Pemilu
ini
berpengaruh sangat
kecil
atas kekuasaan
Presiden Gloria Arroyo, yang
sempat
berjuang mengatasi
dua kali impeachment
atas
tuduhan sudah
bertindak
curang
dalam pemilu
presiden
tiga
tahun silam.
Jutaan
pemilih
kemarin akan
menentukan 275
anggota House of
Representatives (DPR), setengah
dari 24
kursi Senat
dan 17.000
wakil-wakil
daerah
di negara yang
tingkat
kemiskinan serta
korupsinya
masih
tinggi. Kasus
penyogokan
suara
dilaporkan terjadi
di
mana-mana
Pemilu
kemarin
juga tidak
lepas
dari drama setelah
120 orang
meregang
nyawa
akibat kekerasan
dalam
masa kampanye.
Enam
korban tewas
ketika
ingin memberikan
suaranya.
Beberapa TPS
mendapat
serangan
di dua
tempat
berbeda dan
polisi
juga mengungkapkan
beberapa
kotak
surat suara
dicuri.
Ketua
komisi
pemilu Benjamin Abalos
mengatakan
secara
umum masyarakat yang
menghadiri
pemilu
berjumlah antara 70
hingga 80
persen,
dan kekerasan
hanya
terjadi di
beberapa
wilayah
negara.
Polisi
sebelumnya
juga
sudah memberikan
peringatan
terhadap
para
gerilyawan komunis,
yang terus
mengadakan
pemberontakan
selama
hampir empat
dekade,
menyiapkan serangan
besar
untuk mengacaukan
jalannya
pemilu.
Namun, semua
kekhawatiran
tersebut
tidak
terjadi, deputi
direktur
polisi
Avelino menyimpulkan
situasinya
cukup
bagus dan
secara
keseluruhan berjalan
dengan
damai.
Menanggapi
jalannya
pemilu,
Presiden Arroyo menolak
untuk
memberikan komentar.
Ia
hanya menjabat
tangan
para pemilih
dan
mencium beberapa
bayi
saat ikut ''antre''
untuk
mencoblos di
wilayah
Lubau Utara
ibu
kota Manila.
Setelah
terungkap
pernah
mengadakan kontak
dengan
pejabat pemilu
sebelum
penghitungan surat
suara
pemilu presiden
tahun 2004,
Presiden Arroyo
terus
menghadapi waktu yang
sulit.
Pihak
internasional
sebenarnya
memberikan
tanggapan
serius
atas semua
gelombang
kekerasan yang
menyebabkan
ratusan
korban jatuh. PBB
awal
tahun ini
mengatakan
peran
militer setempat
tumpah
tindih mengenai
tugasnya
dalam
melihat kekacauan
yang terjadi.
(ton/afp)