Kepuasan
tenaga
kerja tidak
mutlak
dipengaruhi oleh
gaji
semata. Banyak
faktor yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
tenaga kerja.
Di
antaranya adalah
kesesuaian
pekerjaan,
kebijakan
organisasi,
termasuk
kesempatan
untuk
berkembang, lingkungan
kerja
dan perilaku
atasan.
---------------------
Produktivitas
dan
Insentif Nonfinansial
Oleh
Luh Kd.
Budi Martini, S.E., M.M.
PRODUKTIVITAS
kerja
sumber daya
manusia (SDM) Indonesia
tergolong
rendah.
Berdasarkan survai
internasional,
saat
ini Indonesia masuk
peringkat 137
dari 147
negara yang
disurvai.
Menakertrans
Erman
Suparno mengungkapkan
hal
tersebut pada
pertemuan
kepala-kepala
organisasi
produktivitas
nasional (NPO)
di
kawasan Asia Pasifik
yang ke-47 (47th Workshop Meeting of Heads of
NPOs)
di Hotel Inna Grand Bali Beach
Sanur,
Selasa (6/3) lalu
(Bali Post, 7/3).
------------------------
Diakui
oleh
Menakertrans bahwa
tiap-tiap
negara
memiliki faktor
produktivitas yang
berbeda,
dan
produktivitas serta
kualitas SDM
dipengaruhi
oleh
faktor budaya.
Seperti
di Indonesia, budaya
masyarakat yang
berbeda-beda
menyebabkan
produktivitas
di
masing-masing daerah
berbeda pula.
Namun
karena produktivitas
dewasa
ini menjadi
hal yang
penting,
maka SDM Indonesia
harus
bisa mengejar
produktivitas
tersebut,
terlebih
ada
wacana bahwa
gaji
pekerja kemungkinan
akan
didasarkan pada
produktivitas,
bukan
semata upah minimum
regional (UMR).
Saling
Ketergantungan
Dalam
manajemen
sumber
daya manusia,
sangat
jelas dinyatakan
bahwa
tenaga kerja
dan
perusahaan merupakan
dua hal
yang tidak
bisa
dipisahkan. Tenaga
kerja
memegang peran
sangat
penting dalam
menjalankan
roda
kehidupan perusahaan.
Apabila
tenaga kerja
memiliki
produktivitas
dan
motivasi kerja yang
tinggi,
maka laju
roda
perusahaan pun akan
berjalan
kencang, yang
akhirnya
akan
menghasilkan kinerja
yang baik
bagi
perusahaan. Di
sisi lain,
bagaimana
mungkin
roda perusahaan
berjalan
baik,
kalau tenaga
kerjanya
bekerja
tidak produktif, yang
berarti
tenaga kerja
tidak
memiliki semangat
kerja yang
tinggi,
tidak ulet
dalam
bekerja dan
memiliki moral yang
rendah.
Tentu hal
itu
merupakan tugas
manajemen
perusahaan,
harus
selalu dan
terus-menerus
mengupayakan agar
tenaga
kerjanya memiliki
semangat
kerja
dan moral yang tinggi
serta
ulet dalam
bekerja.
Berdasarkan
berbagai
kajian,
biasanya tenaga
kerja yang
puas
dengan apa yang
diperolehnya
dari
perusahaan akan
memberikan
lebih
dari apa yang
diharapkan
dan ia
akan
terus berusaha
memperbaiki
kinerjanya.
Sebaliknya
tenaga
kerja yang kepuasan
kerjanya
rendah,
cenderung melihat
pekerjaan
sebagai
hal yang menjemukan
dan
membosankan, sehingga
ia
bekerja dengan
terpaksa
dan
tidak seius.
Karena
itu merupakan
keharusan
bagi
perusahaan mengenali
faktor-faktor
apa
saja yang membuat
tenaga
kerja puas
bekerja
di perusahaan,
sehingga
dengan
tercapainya kepuasan
tenaga
kerja produktivitas
pun akan
meningkat.
Selama
ini
banyak perusahaan
memiliki
keyakinan
bahwa
di tataran
manajemen level
menengah (midle
management), faktor
pendapatan,
gaji
atau salary (insentif
finansial)
merupakan
faktor
utama yang mempengaruhi
kepuasan
tenaga
kerja, sehingga
ketika
perusahaan merasa
sudah
memberikan gaji yang
cukup,
perusahaan merasa
bahwa
tenaga kerjanya
sudah
puas. Padahal
sebenarnya
kepuasan
tenaga
kerja tidak
mutlak
dipengaruhi oleh
gaji
semata. Banyak
faktor yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
tenaga kerja.
Di
antaranya adalah
kesesuaian
pekerjaan,
kebijakan
organisasi
termasuk
kesempatan
untuk
berkembang, lingkungan
kerja
dan perilaku
atasan.
Dari berbagai
kajian yang
pernah
ada, ternyata
gaji
menempati urutan yang
4-6 dari
faktor-faktor yang
mempengaruhi
kepuasan
kerja
tenaga kerja,
dan
dari kesemua
faktor yang
mempengaruhi
tingkat
kepuasan tenaga
kerja,
kesempatan untuk
berkembang
merupakan
faktor yang
sering
muncul dan
dikemukakan
oleh
tenaga kerja
sebagai
kriteria kepuasan
kerja
mereka. Maksudnya
adalah
sebagian besar
tenaga
kerja mengatakan
tidak
puas lebih
karena
mereka merasa
tidak
pernah atau
bahkan
tidak ada
peluang
untuk berkembang
atau
dikembangkan oleh
perusahaan.
Sehingga
mereka
merasa seolah-olah
tidak
ada perhatian
dari
perusahaan tentang
karier
mereka. Terkadang
hal ini
membuat
mereka frustrasi
dan
berakibat pada
demotivasi.
Teori
Maslow
tentang kebutuhan
manusia
melihat dari
hierarki
kebutuhan
manusia, yang
menyimpulkan
bahwa
kompensasi atau
penghargaan yang
diberikan
kepada
tenaga kerja
dalam
bentuk material, dalam
hal ini
gaji,
merupakan kebutuhan
manusia
atau tenaga
kerja yang
terendah.
Menurut
Maslow, jenjang
kebutuhan
manusia
sebagai tenaga
kerja
dari yang terendah
hingga yang
tertinggi
adalah physiological needs (kebutuhan
fisiologis/dasar/pokok),
safety needs (kebutuhan
akan
rasa aman),
social/affiliation needs (kebutuhan
untuk
bersosialisasi), esteem needs (kebutuhan
harga
diri), dan
self-actualization needs (kebutuhan
aktualisasi
diri). Dari
tingkat
kebutuhan manusia
menurut
Maslow tersebut,
kompensasi
dalam
bentuk sentuhan
emosional (insentif
non finansial)
merupakan level yang
lebih
tinggi dibandingkan
kebutuhan
fisik/dasar. Level
tertinggi
yaitu self-actualization
needs (kebutuhan
aktualisasi
diri)
membuktikan bahwa
tenaga
kerja lebih
senang
apabila diberi
kesempatan
untuk
mengembangkan diri
dan
diakui oleh
perusahaan. Hal
ini
sejalan dengan
hasil
penelitian, bahwa
tenaga
kerja ingin
mendapat
kesempatan
berkembang
dan
menunjukkan kemampuannya.
Biasanya
untuk
lebih meyakini
bahwa
kesempatan berkembang
merupakan
faktor
utama bagi
kepuasan
kerja
tenaga kerja,
kita
dapat membandingkan
tingkat
kepuasan tenaga
kerja
baru dan
tenaga
kerja lama di
perusahaan.
Tenaga
kerja baru
cenderung
mempunyai
tingkat
kepuasan lebih
tinggi
dibandingkan tenaga
kerja yang
masa
kerjanya lebih lama.
Hal ini
dikarenakan, umumnya
tenaga
kerja baru
mendapatkan
perhatian
lebih
dari manajemen,
terutama
dari
atasannya langsung.
Perhatian
lebih
ini dikarenakan
sebagai
tenaga kerja
baru,
tentu pihak
manajemen
akan
menjelaskan tanggung
jawab
dan tugas
mereka.
Sehingga terjalin
komunikasi
antara
atasan dan
bawahan. Hal
ini
membuat mereka
merasa
diperhatikan dan
bersemangat
untuk
bekerja. Bahkan
tidak
sedikit tenaga
kerja
baru yang mendapatkan
beberapa training
untuk
menunjang tugasnya
di awal
masa
kerja.
Sementara
itu,
tenaga kerja lama
yang sudah
bekerja
dalam kurun
waktu
tertentu, akan
merasakan
kejenuhan.
Mereka
menginginkan adanya
perubahan
dan
tantangan baru
dalam
pekerjaannya. Tantangan
ini
mencakup sisi
besarnya
tanggung
jawab
atau mungkin
jenis
pekerjaan. Ketika
perusahaan
tidak
memberikan kesempatan
kepada
mereka untuk
berkembang,
hal ini
akan
membuat mereka
demotivasi,
malas
bekerja dan
produktivitasnya
turun.
Apabila perasaan
ini
dirasakan oleh
sebagian
besar
tenaga kerja lama,
bisa
dibayangkan betapa
rendahnya
tingkat
produktivitas perusahaan
secara
keseluruhan. Bila
hal ini
terus
dibiarkan tentu
perusahaan
akan
merugi.
Penulis,
dosen PNS
Kopertis VIII
dpk Fak.
Ekonomi Univ.
Mahasaraswati
Denpasar
--------------------
*
Tenaga
kerja memegang
peran
sangat penting
dalam
menjalankan roda
kehidupan
perusahaan.
*
Kepuasan
tenaga
kerja dipengaruhi
oleh
banyak faktor.
*
Kompensasi
dalam
bentuk sentuhan
emosional (insentif
non finansial)
merupakan level yang
lebih
tinggi dibandingkan
kebutuhan
fisik/dasar. Level
tertinggi
yaitu self-actualization
needs (kebutuhan
aktualisasi
diri).